Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12- Garis Yang Mulai Kabur
Bara menyodorkan gelasnya. Air di dalamnya masih utuh, belum sempat ia sentuh.
Walau cahaya remang, ia bisa melihat Naya tidak baik-baik saja. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat dada Bara terasa sesak. Ia ingin peduli, tapi bingung harus bergerak seperti apa. Akhirnya ia memilih diam, berbalik, dan kembali ke kamarnya.
Tapi di dalam kamar, tidur menolak datang.
Pikiran Bara terus kembali ke Naya. Dan kepada ingatannya saat di Surabaya, bayangan Arkan dan Dewi, dan tadi tatapan Naya yang kosong, matanya yang merah, tangannya yang mengepal seperti menahan sesuatu agar tidak pecah. Gambar itu berputar tanpa henti.
Jam satu lewat tiga puluh, Bara bangkit. Ia duduk di pinggir ranjang, lalu berdiri di depan pintu, gagang pintu sudah dalam genggamannya. Kakinya ingin melangkah keluar.
Tapi otaknya menahan.
Aku cuma adik iparnya. Nggak boleh lewat batas.
Tapi hatinya melawan.
Kalau dia kenapa-kenapa gimana?
Pikiran dan hati bertabrakan. Dan malam itu, Bara memilih melanggar batas, pelan-pelan.
Langkahnya naik ke lantai atas terasa berat, seperti menyeret rantai. Ia memikirkan kalimat apa yang harus diucapkan, tapi tidak menemukan satu pun yang pas.
Sampai di depan kamar Naya, ia menghela napas. Matanya melirik kanan kiri, memastikan tidak ada yang melihat. Lalu ia mengetuk pintu, pelan.
Agak lama, pintu terbuka.
Tanpa banyak bicara, Bara masuk. Pintu ia tutup perlahan di belakangnya, dan suara klik kecil itu terdengar terlalu keras di tengah sunyi.
Naya terkejut. Sangat terkejut. Apalagi Bara langsung masuk tanpa permisi.
Dadanya langsung sesak. Ia takut kalau ada orang rumah yang tahu. Takut Ibu Desy bangun dan melihat Bara ada di kamarnya. Bara itu adik iparnya. Ada garis yang tidak boleh dilewati, dan sekarang garis itu sedang diinjak.
Tangannya sudah menggenggam gagang pintu, siap membukanya dan menyuruh Bara keluar. Nada suaranya naik, tertahan.
“Kamu ngapain masuk aja tanpa izin?!”
Bara menutup pintu pelan. “Aku ada maksud lain masuk ke sini. Bukan buat macam-macam.”
Naya tidak percaya. Ia mengomeli Bara, menyebut soal etika, soal batas antara adik ipar dan kakak ipar, soal bagaimana kelakuannya bisa menghancurkan semuanya kalau ketahuan.
Bara tidak menjawab panjang. Ia melangkah mendekat, lalu menutup mulut Naya dengan telapak tangannya.
“Jangan keras-keras. Nanti Mama bangun.”
Suaranya rendah, tapi tegas.
Setelah itu Bara menarik Naya, mendudukkannya di pinggir ranjang. Ia jongkok di hadapannya, menatap langsung ke matanya.
“Aku datang buat ngasih tahu sesuatu yang aku tahu,” kata Bara pelan.
“Aku lihat Arkan waktu di Surabaya. Dia sama Dewi,” kata Bara pelan.
Naya tidak terkejut. Ia sudah tau, dari panggilan waktu Arkan berkata ingin dinas luar kota dan terakhir tawa Dewi di telepon tadi. Ia sudah tahu. Yang keluar dari mulutnya bukan jeritan, tapi tawa hambar.
“Keluar,” bisiknya sambil menarik tangan Bara, menyeretnya ke arah pintu.
Tapi di luar dugaan, Bara tidak mundur. Ia malah melangkah maju, menghimpit Naya ke dinding. Jarak mereka jadi terlalu dekat. Napas Bara menyentuh pelipis Naya.
Lalu ia berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar
“Mereka pernah pacaran dulu.”
Dada Naya seperti ditinju.
Sebelum Naya bisa menjawab, Bara sudah membuka pintu dan keluar. Pelan. Tanpa menoleh.
Pintu tertutup. Sunyi.
Naya mematung di tempat. Beberapa detik ia tidak bergerak. Lalu buliran bening jatuh dari matanya. Sakit yang selama ini ia tahan, sesak yang ia bungkus rapi, akhirnya pecah juga.
...---...
Malam berlalu dengan berat, seperti selimut basah yang menempel di dada. Mata Naya tidak bisa terpejam sampai fajar mulai mengintip dari celah jendela.
Jam lima pagi ia bangun, turun ke lantai bawah untuk minum air. Setelahnya ia kembali ke kamar, mandi cepat, lalu masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Bersamaan dengan itu, Bara melintas di depan pintu dapur. Tapi itu bukan Bara yang semalam menyelinap masuk ke kamarnya. Ini Bara yang dingin, yang tidak menoleh, tidak melirik, seolah tidak melihatnya sama sekali.
Sikapnya aneh pagi itu. Seperti malam tadi tidak pernah terjadi.
Naya tidak tahu kalau Bara sedang takut. Takut kalau ada orang rumah yang sadar ia sudah mengenal Naya sejak awal. Jauh sebelum Arkan.
Sarapan selesai. Bara duduk di ruang tengah, menatap layar laptop, jari-jarinya mengetik cepat. Matanya fokus, wajahnya datar.
Tak lama, Ibu Desy keluar dari kamar sudah lengkap dengan pakaian olah raga. “Mama mau ke rumah Bu Lina dulu ya, mau joging bareng" pamitnya.
Pintu depan tertutup.
Kini di rumah itu hanya ada Bara dan Naya. Dan di antara mereka, diam yang terasa terlalu nyaring.
Naya melewati Bara yang masih fokus pada layar laptop di ruang tengah. Sekilas ia melirik ke arahnya, berharap ada respon, tapi Bara tetap diam. Wajahnya datar, matanya tidak bergeser.
Sampai langkah Naya sudah agak jauh, suara Bara tiba-tiba memecah sepi.
“Aku gak nyangka kamu bisa nikah sama Mas Arkan.”
Kalimat itu menghantam punggung Naya. Langkahnya jadi berat, seperti ada beban yang tiba-tiba diikat di pergelangan kaki. Dadanya berdetak kencang, liar, seolah Bara baru saja mengakui sesuatu yang tidak boleh ia akui.
Nada suara Bara terdengar bukan sekadar heran. Lebih seperti tidak terima. Seperti ada luka lama yang menganga setiap kali ia melihat Naya berdiri sebagai istri kakaknya.
Naya berhenti. Tapi ia tidak berbalik.
Bara meletakkan laptop di meja. Ia berdiri, mengambil satu langkah tepat di belakang Naya.
“Mas Arkan gak pantes buat kamu, Nay. Dia—”
Belum selesai, Naya sudah membentak, dan berbalik badan menatap lelaki itu, suaranya bergetar menahan marah.
“Kamu kenapa, Bar? Kamu aneh. Kamu yang dulu dan kemarin diam, pura-pura gak kenal sama aku. Tapi sekarang kamu bersikap seolah paling kenal sama aku. Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Bar!”
Kata-katanya keluar cepat, tajam, seperti pisau yang ia lempar buat menjaga jarak.
Setelah itu Naya berlari ke kamar. Pintu ia tutup lebih keras dari yang ia mau. Tapi begitu sampai di dalam, matanya basah. Air mata yang ia tahan sejak semalam akhirnya jatuh lagi.