Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di kamar kosnya yang sempit, Tria mendadak merasa pasokan udara di sekitarnya menipis. Wajahnya yang beberapa jam lalu dipenuhi senyum puas, kini berubah pucat pasi bak mayat. Tubuhnya bergidik ngeri, gemetar hebat hingga ponsel di genggamannya hampir saja merosot ke lantai.
Sebuah surel resmi dan pesan instan berlogo firma hukum papan atas baru saja masuk ke ponselnya.
SURAT PERINGATAN RESMI & PANGGILAN HUKUM
Atas Dugaan Tindakan Pencemaran Nama Baik, Penyebaran Berita Bohong (Hoaks), dan Pelanggaran Privasi Tanpa Izin melalui Media Elektronik sebagaimana diatur dalam UU ITE.
Di bawah surat digital itu, tertera nama besar keluarga Rindu sebagai pihak pelapor, lengkap dengan tanda tangan tim pengacara kelas kakap yang biasa menangani kasus-kasus konglomerat.
Tria membekap mulutnya sendiri, air matanya langsung menetes karena rasa takut yang teramat sangat. Dunianya serasa runtuh dalam sekejap.
Akun gosip yang tadi sore ia gunakan untuk menyebarkan foto itu bahkan sudah hilang tanpa jejak, namun hukum ternyata bergerak jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
"Nggak... nggak mungkin... Cuma gara-gara foto itu?!" bisik Tria dengan suara parau yang bergetar.
Pikiran Tria langsung melayang pada ancaman dingin Rindu di koridor kolam renang tadi sore. Ternyata cewek kaya itu benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Rindu langsung mengerahkan kekuasaan keluarganya untuk menjebloskan Tria ke dalam sel malam ini juga.
"Sialan lo, Rin! Lo bener-bener gila ya demi belain cowok mokondo kayak Kenzo?!" umpat Tria di sela tangis ketakutannya.
Di dalam otaknya yang mulai buntu, Tria masih sangat meyakini bahwa Kenzo hanyalah pelatih miskin yang beruntung karena mendapat pembelaan dari atlet kayanya. Ia sama sekali belum menyadari bahwa intervensi siber yang menghapus akun gosip itu sebenarnya datang dari tim IT milik keluarga Kenzo sendiri.
Tria benar-benar tidak tahu bahwa di balik surat tuntutan keluarga Rindu yang sedang ia tangisi, ada kekuatan raksasa lain milik Kenzo yang juga sedang bersiap menggulungnya tanpa ampun.
Belum sempat Tria meredakan tangis ketakutannya akibat surat tuntutan hukum dari keluarga Rindu, ponselnya kembali bergetar hebat. Kali ini, sebuah notifikasi dari forum diskusi utama kampus memunculkan sebuah unggahan video yang langsung viral dalam hitungan detik.
Tria dengan cepat menghapus air matanya dan membuka video tersebut. Video itu merupakan rekaman CCTV kualitas tinggi dari area kolam renang kampus sore tadi. Sudut pandangnya sangat jelas, merekam seluruh kejadian dari awal tanpa ada potongan sama sekali.
Di dalam video terlihat Rindu yang sedang berenang tiba-tiba gerakannya mendadak kacau, memukul air dengan panik sebelum akhirnya mulai tenggelam di meter ke-70. Sedetik kemudian, kamera menangkap pergerakan Kenzo. Tanpa ragu, tanpa melepas sepatu ataupun kemeja flanelnya, Kenzo langsung melompat badai ke dalam air demi menyelamatkan atletnya. Rekaman itu memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana Kenzo mendekap Rindu dari belakang, menenangkan gadis itu yang sedang syok, lalu membantunya ke tepi kolam dengan penuh profesionalisme sebagai seorang pelatih.
Video CCTV itu dilengkapi dengan caption resmi dari pihak pengelola fasilitas olahraga kampus:
[KLARIFIKASI RESMI]: REKAMAN CCTV INSIDEN LATIHAN SORE INI
Menanggapi fitnah dan berita bohong yang sempat disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab mengenai hubungan Pelatih Kenzo dan Atlet Rindu, berikut kami lampirkan bukti rekaman CCTV utuh. Kejadian di dalam kolam murni merupakan tindakan penyelamatan darurat (first aid) yang dilakukan Pelatih Kenzo saat Atlet Rindu mengalami serangan panik medis (panic attack) di tengah lintasan. Pihak kampus bersama tim hukum keluarga korban saat ini sedang memproses hukum oknum penyebar fitnah pertama.
Kolom komentar langsung meledak, namun kali ini arah angin berbalik 180 derajat menargetkan Tria.
"Gila! Itu mah murni nyelamatin nyawa orang! Yang ngefoto terus bikin narasi mesum bener-bener iblis!"
"Respect buat Coach Kenzo, gercep banget langsung lompat gak mikirin baju-baju basah."
"Mantan pacarnya yang berinisial T itu sakit hati banget kayaknya ya sampai mau nge-fitnah sekutu kayak gini? Siap-siap pakai baju oren sih ini."
Melihat video dan komentar-komentar tersebut, Tria langsung melemparkan ponselnya ke kasur. Tubuhnya lemas tak bertulang, merosot ke lantai dengan wajah sepucat kertas. Bukti video CCTV itu tidak hanya membersihkan nama Kenzo dalam sekejap, tapi juga mengunci mati nasib Tria. Kini seluruh kampus tahu bahwa dialah pelaku fitnah keji tersebut, dan tidak ada lagi celah baginya untuk mengelak dari jerat hukum.
**
Di tempat lain, di dalam kamar mewahnya, Rindu duduk di tepi kasur sambil menatap layar laptop dengan binar mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa takjub. Video klarifikasi CCTV itu baru saja selesai ia tonton untuk yang ketiga kalinya.
"Gila... gercep banget," gumam Rindu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bangga.
Rindu awalnya mengira pergerakan tim hukumnya yang akan menjadi penentu malam ini. Namun, melihat bagaimana video CCTV internal kampus yang biasanya butuh birokrasi rumit untuk diakses bisa keluar dan diunggah dengan kualitas sebersih itu dalam hitungan menit, Rindu tahu betul ini adalah kerjaan tim IT raksasa milik keluarga Elvaro atas perintah Kenzo.
Tindakan Kenzo yang langsung mengunggah video utuh tanpa potongan adalah langkah skakmat yang super elegan. Cowok itu tidak perlu membalas makian dengan makian, cukup dengan menyodorkan fakta visual yang langsung membungkam mulut netizen kampus sekaligus menghancurkan narasi busuk yang dibangun Tria.
Rindu menyandarkan punggungnya ke bantal, memandangi foto profil kontak Kenzo di ponselnya. Rasa bangga perlahan menjalar di dadanya. Pelatihnya bukan cuma seorang legenda hidup di dalam air, tapi juga pria yang tahu persis bagaimana cara melindungi atletnya di luar kolam dengan cara yang sangat berkelas.
Dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, Rindu mengetik sebuah pesan baru untuk Kenzo.
Rindu: Klarifikasi yang cerdas, Coach. Taktik lo buat ngebongkar fitnah bener-bener sekelas atlet olimpiade. Tapi tetep aja... besok jangan telat, atau gantian gue yang hukum lo nambah lap!
Di balkon kosannya yang tenang, Kenzo baru saja menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin saat ponsel di atas meja kayu kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sebaris pesan singkat dari nama yang kini sudah ia simpan dengan benar: **Rindu (Ratu Lintasan)**.
Kenzo membaca pesan itu. Sepasang matanya menatap lekat kalimat *“Taktik lo buat ngebongkar fitnah bener-bener sekelas atlet olimpiade,”* lalu beralih ke bagian akhir di mana Rindu balik mengancam akan menghukumnya besok pagi.
Sebuah senyum tipis, namun kali ini sarat akan rasa hangat, terukir di wajah Kenzo. Sifat gengsi dan ketus cewek itu ternyata sama sekali tidak berkurang, bahkan setelah tahu siapa identitas aslinya. Tapi justru itu yang membuat Kenzo tertarik Rindu tidak mendadak manis atau canggung padanya hanya karena tahu dia seorang Elvaro atau mantan juara dunia. Kenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, jemarinya bergerak lincah di atas layar untuk membalas pesan tersebut.
Coach Kenzo: Wah, berani ya ngancem pelatih sendiri? 😄 Lagian, tugas pelatih itu emang ngelindungin atletnya, Rin. Baik dari ombak di kolam, maupun dari 'ombak' di luar kolam.
Kenzo menjeda ketikannya sebentar, menatap langit malam kampus yang kini terasa jauh lebih tenang setelah badai drama sore tadi berhasil ia jinakkan. Ia lalu menambahkan satu baris kalimat lagi sebelum menekan tombol kirim.
Coach Kenzo: Udah malam, buruan tidur. Istirahatin pikiran lo. Besok jam 8 pagi gue tunggu di tepi lintasan. Kita lihat siapa yang bakal dihukum nambah lap.
Malam yang tadinya penuh ketegangan gara-gara skandal medsos, kini malah berubah menjadi sesi obrolan hangat yang mengalir begitu saja melalui ruang obrolan mereka. Kenzo dan Rindu akhirnya larut dalam aksi saling berbalas pesan hingga larut malam.
Gengsi besar khas Rindu bertemu dengan sifat tengil nan santai milik Kenzo ternyata menjadi kombinasi yang pas.
Rindu:Gak usah sok puitis pakai bawa-bawa ombak segala deh, Coach. Lagian lo dapet akses CCTV kampus secepat itu pakai orang dalem ya? Jangan bilang lo ngeretas sistem kampus?
Coach Kenzo: Hush, sembarangan! Gini-gini gue warga negara yang taat hukum ya. Gak perlu diretas, pihak kampus cuma 'sangat kooperatif' aja kalau nama baik fasilitas mereka terancam ikut jelek. 😉
Rindu: Halah, bilang aja lo pakai nama bokap lo kan? Elvaro. Gue bener-bener gak nyangka ya, legenda renang dunia malah nyasar jadi pelatih pribadi gue yang gajinya gak seberapa dibanding aset keluarga lo.
Coach Kenzo: Wah, udah kepoin profil gue sampai ke akar-akar nih? Terharu gue. Tapi serius, Rin, di kolam itu gue cuma Kenzo pelatih lo, bukan yang lain. Dan soal gaji... tenang aja, kan tadi lo sendiri yang bilang di depan Tria kalau duit lo lebih dari cukup buat melihara pelatih kayak gue? Gue pegang omongan lo ya, Bos. Hahaha.
Rindu: Kenzzoooo! Itu kan gue cuma refleks biar mantan lo itu mingkem! Gak usah dibahas lagi bisa gak?! Mending lo siapin materi latihan besok.
Coach Kenzo: Iya, iya, galak amat sih. Materi besok udah siap kok. Tapi syaratnya lo harus tidur sekarang. Atlet nasional gak boleh begadang cuma demi chatingan sama pelatihnya yang ganteng ini.
Rindu yang membaca pesan terakhir itu langsung melempar ponselnya ke bantal dengan wajah yang memerah sempurna. Ia menarik selimut sampai ke telinga, mencoba meredam senyum yang terus-menerus mengembang.
Sementara di balkon kosannya, Kenzo terkekeh pelan melihat status Rindu yang mendadak offline. Ia meletakkan ponselnya, kembali mengambil gitarnya, dan memetik sebuah nada santai dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Badai malam ini sudah lewat, dan besok pagi, lintasan kolam renang sudah menunggu mereka berdua.
**
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi, namun siluet Kenzo sudah membelah air kolam renang kampus yang masih sangat tenang. Gerakannya di dalam air begitu magis setiap kayuhan lengan dan dorongan kakinya terlihat sangat efisien, bertenaga, namun sama sekali tidak menimbulkan banyak riak. The Poseidon sedang kembali ke habitat aslinya.
Setelah menyelesaikan beberapa lap gaya bebas sebagai pemanasan, Kenzo memunculkan kepalanya ke permukaan. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan kedua tangan, lalu bersandar di tepi kolam, membiarkan tubuh tegapnya mengapung santai.
Suasana kolam pagi itu sangat sepi, hanya ada suara kecipak air yang perlahan menenang. Kenzo melirik jam dinding besar di atas lobi kolam masih jam 07.30 pagi.
Ia sengaja datang lebih awal. Selain karena ingin mengembalikan kebugaran fisiknya yang agak kaku setelah beberapa waktu absen dari latihan intensif, Kenzo juga ingin memastikan atmosfer kolam hari ini benar-benar steril dan kondusif untuk Rindu.
Kasus Tria semalam pasti menjadi obrolan hangat, dan ia tidak mau fokus atletnya terganggu oleh sisa-sisa drama itu. Kenzo bertumpu pada kedua tangannya, lalu melompat naik ke tepi kolam dengan sekali hentakan ringan. Tubuhnya yang atletis basah kuyup, memantulkan cahaya matahari pagi. Ia mengambil handuk putih yang tergantung di kursi pelatih, mengalungkannya di leher, lalu berjalan menuju deretan loker untuk mengambil papan klip latihannya.
"Setengah jam lagi," gumam Kenzo sambil tersenyum tipis, menatap pintu masuk kolam. "Kita lihat, si Ratu Lintasan datang dengan muka galak atau malah canggung setelah tahu semuanya semalam."
Tak... tak... tak...
Suara ketukan langkah sepatu Rindu menggema di area koridor kolam yang masih sepi. Ia berjalan dengan gaya andalannya dagu terangkat, tas olahraga tersampir di bahu, dan wajah yang sengaja dibuat "datang untuk bisnis" demi menutupi rasa canggung akibat obrolan chat semalam.
Begitu melangkah melewati pembatas lobi dan masuk ke area utama kolam, langkah kaki Rindu mendadak terkunci di lantai. Tepat beberapa meter di depannya, Kenzo sedang berdiri membelakanginya di dekat deretan kursi pelatih.
Cowok itu hanya mengenakan celana renang ketat sebatas lutut, dengan handuk putih yang sedang ia gosokkan acak ke rambut hitamnya yang basah kuyup. Saat Kenzo menggerakkan lengannya untuk mengeringkan rambut, otot-otot di punggung lebar dan bahunya tampak bergeser dengan sangat tegas di bawah siraman matahari pagi. Air kolam yang masih tersisa di kulitnya memantulkan cahaya, mempertegas setiap lekuk tubuh atletisnya yang sangat proporsional hasil dari latihan keras bertahun-tahun sebagai seorang juara dunia. Tidak ada lemak setitik pun, hanya otot kering yang padat dan atletis sempurna.
Rindu mendadak lupa cara bernapas selama beberapa detik. Matanya terpaku, dan tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Selama ini ia selalu melihat Kenzo memakai kaos longgar atau kemeja flanel kebesaran, jadi melihat fisik asli sang legenda dari dekat seperti ini benar-benar memberikan hantaman visual yang tidak main-main bagi pertahanan dirinya.
"Heh, Nona Rindu. Datang juga akhirnya. Mau berdiri di situ terus sampai siang?" Suara berat Kenzo memecah keheningan. Tanpa diduga, cowok itu tiba-tiba membalikkan badannya sambil menurunkan handuk ke leher, langsung menangkap basah tatapan melotot Rindu yang belum sempat dialihkan. Kenzo menyunggingkan senyum tengil andalannya, menyadari betul ekspresi syok sekaligus terpana di wajah atlet pribadinya itu.
Rindu dengan cepat menguasai dirinya. Ia menarik napas dalam, lalu menyunggingkan senyum sinis andalannya demi menutupi rona merah yang hampir menjalar ke pipinya. Dengan langkah tegap yang sengaja dibuat santai, ia berjalan mendekat ke arah pelatihnya.
"Mau sampai kapan jadi pelatih mokondo, Kak?" celetuk Rindu sambil meletakkan tas olahraganya di atas bangku dengan gerakan elegan.
Kenzo yang sedang menyampirkan handuk di lehernya langsung menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat sebelah, menatap Rindu dengan binar jenaka di matanya. "Tumben panggil 'Kak'?"
"Cih," Rindu mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Kenzo dari atas ke bawah. "Sebagai penghargaan aja. Sama yang TUA gak sopan kalau ngomong 'Gue-Lu', apalagi sama mantan atlet legend yang... yah, mungkin sebenarnya masih aktif."
Kenzo langsung terkekeh geli mendengar penekanan pada kata 'tua' yang diucapkan Rindu. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Rindu bisa mencium aroma segar air kolam dari tubuh cowok itu.
"Tua? Umur gue baru dua puluh lima, Nona Rindu. Masih sangat produktif kalau lo mau tahu," sahut Kenzo dengan nada tengilnya yang khas, namun matanya menatap Rindu dengan lekat. "Tapi oke, panggilan 'Kak' boleh juga. Terdengar lebih manis daripada 'Coach' yang lo ucapin pakai nada galak kayak biasanya."
Kenzo kemudian mengambil papan klip latihannya yang tergeletak di meja, lalu mengetuk pucuk kepala Rindu pelan dengan pulpennya.
"Karena lo udah tahu spek pelatih lo ini sekelas olimpiade, berarti lo juga harus tahu kalau porsi latihan hari ini gak bakal main-main. Siap-siap mental, Ratu Lintasan. Sekarang, buruan ganti baju. Lima menit lagi lo udah harus ada di dalam air."
—to be continue—