NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Harus Bergerak Cepat

"Kalau begitu biarkan aku mendekatinya."

Hening sesaat. Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Silakan."

Arka menaikan alis.

"Mudah sekali."

"Memangnya harus sulit."

"Hm."

Arka memperhatikan wajah sahabatnya. Tetap tenang, tetap datar, tetap sulit dibaca. Tetapi itu justru membuatnya semakin yakin.

"Kalau aku mengajaknya makan siang?"

"Terserah."

"Kalau aku mengirimkannya bunga?"

"Terserah."

"Kalau aku mengajaknya kencan?"

Kali ini Evan langsung menatapnya.

"Kamu sedang tidak ada pekerjaan?" Tanya Evan datar, dan Arka terkekeh.

"Aku hanya penasaran."

"Penasaran apa?"

"Seberapa lama kamu akan berpura-pura tidak peduli."

Evan menghela napas.

"Kamu terlalu banyak waktu luang."

"Bukan." Arka menggeleng. "Aku hanya mengenalmu terlalu lama, aku tahu kamu menyukainya."

"Tidak."

Jawaban yang cepat, sangat cepat dan Arka langsung tersenyum.

"Kamu tahu?"

"Apa?"

"Orang yang benar-benar tidak suka biasanya tidak menjawab secepat itu."

Evan hanya terdiam.

"Tebakkan ku benar bukan?" Evan tetap diam, kali ini ia tidak merespon sahabatnya itu.

Arka berdiri dari sofa, lalu melangkah mendekat ke meja Evan.

"Aku berhenti mengganggumu."

"Terdengar bagus."

"Tapi kalau nanti aku benar-benar mendekati Shana..."

Evan mengangkat kepala dan Arka tersenyum jahil.

"... jangan marah."

Lalu ia tertawa dan menarik kursi di hadapan Evan.

"Kita mulai bahas proyek."

Untuk pertama kalinya sejak datang, Arka akhirnya membuka map kerja yang dibawanya. Semantara Evan menatap kembali dokumen di hadapannya.

Tapi entah kenapa, fokusnya tidak lagi sepenuhnya pada pekerjaan. Karena satu kalimat Arka masih terngiang di kepala Evan.

"Kalau nanti aku benar-benar mendekati Shana..."

Dan Evan sama sekali tidak menyukai kemungkinan itu.

Sementara di lantai yang sama. Shana langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja.

Via yang sedari tadi memperhatikannya langsung mendekat.

"Kamu kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kamu kelihatan seperti habis lari maraton."

"Memangnya separah itu?"

"Parah."

Via menarik kursi di sampingnya.

"Jadi?"

"Tidak ada apa-apa."

Via mendengus.

"Pasti ada apa-apa."

"Tidak."

"Yakin."

"Ya, aku baik-baik saja." Shana mencoba tersenyum di depan sahabatnya itu.

"Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama."

"Boleh."

"Oke, kalau begitu sampai ketemu nanti." Via bangkit dari duduknya dan perlahan meninggalkan shana sendiri lagi.

Shana menghela napas panjang, ia teringat kembali saat ia bersama Evan tadi, ia teringat saat Ia tak sengaja mendengar percakapan antara Evan dengan neneknya dan ia juga teringat saat seorang pria bernama Akra tiba-tiba muncul menggodanya.

"Fokus, Shana.. Fokus." Gumamnya pelan.

***

Setelah Arka pergi, ruangan kembali sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki di luar yang terdengar samar.

Evan menatap dokumen di depannya. Lalu membalik halamannya. Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa dirinya bahkan tidak membaca satu kata pun.

Pikirannya justru kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu.

Pada tangan Shana yang menjabat tangan Arka. Pada senyum Arka yang memandang wajah Shana. Pada ucapan Arka yang memuji sosok Shana.

Evan meletakkan penanya. Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul.

"Aku harus bergerak cepat."

Kalimat itu ke luar begitu saja dari bibir Evan. Ia sendiri sempat terdiam setelah mengucapkannya.

Bergerak cepat? Sejak kapan ia berpikir seperti itu?

Evan menutup dokumen di depannya, lalu ia mengeser kursi dan berdiri. Tanpa ragu ia melangkah ke luar ruang kerjanya. Melangkah menuju Shana siang itu.

"Shana, saya lapar."

Shana yang sedang merapikan dokumen langsung mengangkat kepala.

"Maaf, Pak? "

"Ayo, Kita makan."

Shana berkedip beberapa kali.

"Tapi, saya sudah..."

"Ini perintah."

"Sekarang, Pak?"

"Ya..."

Shana menatap Evan seolah sedang memastikan atasannya tidak sedang bercanda. Sejak kapan makan siang bersama atasannya itu menjadi sebuah perintah. Sayangnya, wajah Evan terlalu serius untuk dianggap bercanda.

"Baik, Pak."

Shana buru-buru mengambil tas dan ponselnya lalu mengikuti Evan ke luar kantor.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil. Shana seperti biasa duduk di samping Evan. Dengan segera ia membuka ponselnya karena ia teringat dengan Via.

Sementara itu, Evan yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah layar ponsel milik Shana. Lalu kembali fokus ke jalan dan beberapa detik kemudian ia kembali melirik lagi.

Shana masih sibuk mengetik, jarinya bergerak cepat. Kadang Shana tersenyum saat membaca pesan yang diterimanya.

Evan mengernyit, siapa yang sedang ia hubungi? Entah kenapa nama Arka muncul di kepalanya.

Bukankah pria itu tadi bilang ingin mendekati Shana?

Jangan-jangan. . .

Tidak...

Mustahil, mereka bahkan baru berkenalan. Evan kembali melirik. Lalu menggenggam setir sedikit lebih erat.

"Sedang menghubungi siapa?" Tanya Evan tiba-tiba.

Shana langsung mengangkat kepala.

"Hah."

"Pesan."

"Oh."

Shana melihat ponselnya.

"Via."

Evan terdiam, lalu tersenyum tipis.

"Oh."

Hanya satu kata, namun entah kenapa jawaban itu terdengar sedikit aneh.

"Kami tadinya mau makan siang bersama."

"Oh."

Shana melirik Evan, kenapa bosnya ini hanya bisa berkata oh.

Beberapa detik kemudian, ponsel Shana bergetar kembali. Sebuah pesan diterimanya.

Shana langsung membacanya laku tertawa kecil. Evan kembali melirik.

"Kali ini siapa?"

Shana menoleh.

"Masih Via, Pak."

Evan kembali fokus ke jalan.

"Bagus."

Kini giliran Shana yang bingung. Bagus apanya? Ia bahkan tidak tahu apa yang dinilai bagus oleh pria di sampingnya itu.

Sementara Evan, diam - diam merasa jauh lebih tenang. Dan itu membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri. Karena ia baru saja cemburu pada sesuatu yang bahkan tidak terjadi.

Sedangkan Shana dibuat berpikir. Sejak kapan bosnya begitu penasaran dengan siapa dirinya saat ini berkirim pesan. Kenapa dia harus peduli.

Ohh.. apa karena Shana terlalu fokus dengan ponselnya? Apa karena ia terlalu sibuk membalas pesan, hingga mengabaikan bosnya?

Kemungkinan itu terdengar jauh lebih masuk akal. Namun sebelum Shana sempat memikirkannya lebih jauh, layar ponselnya tiba-tiba menyala.

Sebuah nomor tak dikenal menelepon. Shana mengernyit.

"Siapa ya?"

"Hm." Evan melirik sekilas.

"Nomor tidak dikenal."

Ponsel itu terus berdering, Shana hendak mengangkatnya. Namun sebelum sempat menekan tombol hijau, suara Evan terdengar.

"Jangan."

Shana langsung menoleh.

"Hah."

"Matikan saja."

Shana berkedip bingung.

"Kenapa, Pak?"

"Nomor tidak dikenal."

"Iya."

"Bisa jadi penipuan."

Shana menatap Evan beberapa detik, alasan itu terdengar masuk akal. Meski entah kenapa cara Evan mengatakannya terdengar sedikit terburu-buru.

"Oh.." Shana menekan tombol tolak kemudian. Panggilan itu berhenti.

Evan diam-diam menghembuskan napas lega lagi. Sayanganya ketenangan itu hanya bertahan lima detik. Karena nomor yang sama kembali menghubungi Shana. Shana kembali menatap layar.

"Pak, dia menelepon lagi."

"Matikan."

"Lagi...? "

"Ya..."

"Tapi kalau penting."

"Tidak penting."

Shana menatap Evan dengan heran.

"Bagaimana bapak bisa tahu ini tidak penting?"

Evan terdiam, beberpa detik. Lalu menjawab dengan tenang.

"Intuisi."

Shana hampir tertawa. Namun karena penasaran, ia tetap mengangkat panggilan itu.

"Halo."

Beberapa detik kemudian wajah Shana berubah.

"Oh Bu Rina."

Setelah beberap menit, Shana mengakhiri pembicaraannya itu.

Evan langsung menoleh. "Siapa?"

"Bu Rina, pemilik laundry."

"Oh."

"Dia bilang pakaian saya sudah selesai dicuci."

"Oh."

lagi-lagi Evan hanya berkomentar oh, membuat Shana terdiam kemudian.

Kenapa Evan aneh sekali hari ini? Itulah yang ada dipikiran Shana saat itu

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!