Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Batas yang menipis
Para tamu berdiri santai dengan gelas di tangan. Musik jazz mengalun pelan memenuhi lounge privat hotel bintang lima dimana acara dilangsungkan. Percakapan bisnis terdengar di mana-mana, dibungkus tawa halus dan bahasa tubuh penuh perhitungan.
Percakapan mereka meredup saat Rendra datang bersama Thalia. Semua pandangan tertuju pada mereka, persis seperti yang Rendra inginkan.
Tangan Rendra melingkar di pinggang istrinya, menarik sang istri lebih rapat ke tubuhnya.
“Kamu lihat?” bisiknya. “Aku bilang juga apa. Gaun ini sempurna.”
Thalia tidak menjawab.
Ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca. Gaun merah itu memang membuatnya terlihat menonjol di tengah warna-warna gelap para tamu lain. Seperti bunga yang sengaja diletakkan di atas meja untuk menarik perhatian.
Rendra membawanya menemui beberapa orang. Memperkenalkan Thalia dengan bangga. Namun, saat seorang investor wanita bertanya apakah Thalia benar-benar menikmati menjadi ibu rumah tangga, dan Thalia memberikan jawaban, “Saya sedang memikirkan untuk kembali bekerja.”
Rendra menoleh dengan gerakan cepat menatap istrinya dengan ekspresi keberatan yang dibungkus senyuman.
Investor wanita tersenyum, merasa tertarik. “Oh ya? Bidang apa?”
“Sebelumnya, saya seorang konsultan bisnis. Mungkin saya akan kembali ke bidang itu sebagai permulaan," jawab Thalia.
“Menarik. Wanita seperti Anda sangat sayang kalau hanya berada di rumah,” dia berkomentar.
Thalia merasakan tangan Rendra menekan pinggangnya lebih kuat, namun ia tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. “Saya juga mulai berpikir demikian”
Sama seperti di pesta malam sebelumnya, suasana pesta tiba-tiba berubah. Beberapa orang menoleh ke arah pintu masuk. Dan Thalia sudah bisa menebak siapa yang datang tanpa melihat.
Arkana Dirgantara.
Pria itu masuk dengan setelan hitam dan kemeja gelap, tanpa dasi. Penampilannya berbeda dari Rendra yang selalu tampak terlalu rapi untuk membuktikan sesuatu. Arkana terlihat seperti seseorang yang tidak perlu berusaha menjadi pusat perhatian, karena pusat perhatian itu otomatis bergerak ke arahnya.
Arkana menyapa beberapa tamu dengan anggukan singkat. Sikapnya tenang. Tatapannya dingin. Wibawanya memenuhi ruangan tanpa suara.
Dan tanpa bisa dicegah, pandangan keduanya bertemu.
Arkana tidak menatap gaun merah yang Thalia kenakan, melainkan ke wajah wanita itu dan menemukan ketidaknyamanan yang begitu kentara. Tanpa sadar, satu tanganya terkepal di sisi tubuhnya. Ada rasa tidak rela yang entah dari mana datangnya melihat perlakuan Rendra terhadap Thalia.
Rendra membawa langkahnya mendekat pada Arkana, menyapa Arkana dengan senyum di bibir tanpa menurunkan tangannya dari pinggang Thalia.
Hal itu tak bertahan lama ketika Arkana beralih membalas sapaan tamu lain yang menjadi relasi bisnis pria itu. Begitu pula dengan Rendra yang menyapa investor lain yang hadir.
Hingga, setelah beberapa menit berlalu, Thalia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Ia menarik lengan jas suaminya, membuat suaminya menoleh dan segera mendekatkan bibirnya di telinga Rendra saat pria itu berbincang dengan pria berjas di depan mereka.
"Aku perlu ke toilet sebentar," ucap Thalia.
Alis Rendra bertaut. "Sekarang?"
"Sebentar saja," ucap Thalia.
Rendra menghembuskan napas pelan, kentara menahan kesal. "Jangan terlalu lama."
Thalia mengangguk cepat, segera melepaskan diri dari suaminya dengan berjalan menjauh. Namun, ia tidak menuju toilet seperti yang ia katakan, melainkan ke balkon yang dipisahkan dengan pintu kaca.
"Haahh..."
Thalia menghembuskan napas panjang setelah menutup pintu kaca di belakangnya dan melangkah mendekat ke pagar balkon.
Balkon itu cukup sepi. Hanya ada beberapa pot tanaman tinggi, pagar kaca, dan pemandangan kota yang terbentang jauh di bawah. Lampu-lampu gedung tampak seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.
Angin malam menyentuh bahunya yang terbuka, membuat kulitnya sedikit meremang, namun tidak cukup untuk membuat ia segera beranjak.
Ia menunduk, menatap gaun merah itu.
Cantik.
Tapi bukan dirinya.
“Atau mungkin aku memang sudah lupa seperti apa diriku,” gumamnya getir.
Pintu balkon tiba-tiba terbuka, membuat Thalia menoleh cepat hanya untuk menemukan sosok Arkana berdiri di ambang pintu.
“Nyonya Thalia, apa yang sedang Anda lakukan di sini?” tanya Arkana.
"Saya hanya butuh udara segar." jawab Thalia tersenyum. "Anda sendiri?"
Arkana menutup pintu balkon di belakangnya, lalu melangkah mendekat ke pagar pembatas balkon dan berdiri beberapa langkah di samping Thalia.
“Udara di luar terlalu dingin untuk gaun seperti itu,” ucap Arkana tanpa memberikan jawaban.
Thalia tersenyum. “Saya hanya butuh udara.”
“Dengan bahu terbuka di tengah angin malam?” sambut Arkana.
“Saya tidak berpikir sejauh itu,” sahut Thalia.
“Suamimu juga tidak.”
Kalimat itu membuat Thalia diam, ia menoleh ke arah Arkana yang kini tengah menatapnya tanpa adanya kilat penyesalan meski sudah mengucapkan kalimat yang membuat suasana tidak nyaman.
“Bapak tidak seharusnya bicara tentang suami saya,” tegur Thalia halus.
“Dan suamimu tidak seharusnya membiarkanmu berdiri di sana dengan wajah seperti ingin menghilang,” balas Arkana tanpa jeda.
Napas Thalia tertahan, netranya mengunci wajah Arkana selama beberapa saat, dan segera memalingkan wajah ke arah kota yang terbentang di depan mereka.
“Bapak salah paham,” ucap Thalia
“Saya jarang salah membaca ketidaknyamanan seseorang,” jawab Arkana.
Jawaban itu membuat Thalia kembali menoleh hingga pandangan keduanya kembali bertemu. Keheningan menyelimuti keduanya dalam jeda yang terasa begitu panjang sampai Thalia memutus pandangan lebih dulu.
“Sebaiknya Bapak kembali ke dalam,” ucap Thalia kembali membangun dinding pertahannya. "Bukan tidak mungkin relasi bisnis Anda mencari Anda."
“Sebentar lagi.” jawab Arkana mengikis jarak seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Thalia.
Thalia membeku, waktu seolah berhenti berputar. Kain hangat itu kini menutupi kulitnya yang diterpa angin malam, membawa aroma samar yang langsung mengelilinginya. Kayu dan hujan, aroma menenangkan yang bahkan tidak ada di dalam diri suaminya. Ia bahkan sempat menahan napas saat Arkana berdiri terlalu dekat dengannya.
"A-anda tidak perlu-"
"Anggap itu sebagai fasilitas kantor," potong Arkana cepat, menahan jasnya tetap berada di bahu Thalia.
Thalia terdiam. Tangannya sudah menyentuh jas Arkana, namun gerakan menurunkan jas itu justru tidak ada. Satu sisi hatinya mengingatkan ini salah, tapi sisi lain hatinya ia merindukan sesuatu yang sudah lama hilang dalam pernikahannya bersama Rendra.
“Terima kasih,” ucap Thalia pelan.
Arkana tidak menjawab. Tatapannya turun sebentar ke jas yang menutupi tubuh Thalia, lalu kembali ke wajah Thalia.
“Suamimu terlalu sibuk untuk menyadari betapa berharganya dirimu.”
Kalimat itu membuat jantung Thalia berhenti berdetak. Netranya menatap manik Arkana dengan keterkejutan yang gagal ia kendalikan.
“Jangan berkata seperti itu,” ucap Thalia lirih.
“Kenapa?”
“Karena saya istri Rendra," jawab Thalia.
“Dan dia sendiri yang mendorongmu kepadaku," sahut Arkana.
Angin malam bergerak lembut di antara mereka. Jas Arkana terasa semakin hangat di bahu Thalia, namun tubuhnya justru menggigil saat jawaban itu mengoyak hatinya lebih dalam. Jawaban kebenaran yang selalu ia tutupi.
"Suamimu terlalu sibuk membangun namanya sendiri sampai lupa jika wanita yang berdiri di sampingnya bukan tangga untuk dia naiki."
“Bapak sebaiknya berhenti,” pinta Thalia.
"Dia menggandengmu seperti akses. Memamerkanmu seperti kartu undangan dan kau masih berdiri di sana, tersenyum, seolah itu tidak menghancurkanmu." sisi formal Arkana lenyap.
Air mata Thalia jatuh tanpa permisi, setiap kalimat yang Arkana ucapkan mengenai tepat di luka terdalam di hatinya yang selama ini ia kubur. "Saya mohon berhenti."
Arkana melangkah maju, membuat reflek Thalia menuntun wanita itu untuk mundur.
"Kalau kamu berharga baginya," suara Arkana berubah menjadi bisikan rendah. "Dia tidak akan membawamu kepadaku berulang kali."
Langkah Thalia terhenti, pinggangnya membentur pagar balkon, detik berikutnya kedua tangan Arkana mendarat di sisi Thalia, mengurungnya di antara kedua tangan Arkana.
"Anda salah paham, dia tidak-" suara Thalia tersangkut di tenggorokan.
"Aku seorang pria, Thalia. Tak sulit bagiku untuk melihat ambisi yang dia miliki, dan dia menggunakanmu untuk meraih ambisinya," potong Arkana.
"Itu tidak benar, Rendra hanya bekerja keras untuk-"
"Kau hanya belum melihat bukti nyatanya," potong Arkana lagi.
Thalia terdiam.
"Dia tidak sadar." Arkana menundukkan wajahnya, membuat wajah mereka sejajar dalam jarak yang teramat dekat. "Setiap kali dia mendorongmu mendekat, dia sedang menguji kesabaranku."
“Tidak ada yang salah dengan bekerja keras.” suara Arkana turun, rendah dan tajam. “Yang salah adalah saat seorang pria terlalu sibuk mengejar pintu besar sampai tidak sadar dia sedang kehilangan wanita yang seharusnya dia jaga.”
Pertahanan Thalia mulai retak. “Bapak tidak tahu apa-apa tentang pernikahan saya.”
“Benar.”
“Jadi jangan bicara seolah Bapak tahu,” ucap Thalia lagi.
“Tapi aku tahu satu hal." Arkana menjeda sejenak kalimatnya. "Kau kesepian bahkan saat suamimu berada tepat di sampingmu.”
Air mata Thalia kembali jatuh, namun kali ini ia tidak segera menghapus linang di pipinya. Lara yang selama ini ia tutup rapat ditelanjangi satu per satu oleh pria yang baru beberapa kali ia temui, dan ia tidak memiliki kata yang tepat untuk menyangkalnya. Perlahan, kepalannya menunduk dalam.
Arkana mengangkat tangannya, menyentuh dagu Thalia dan mengangkat wajah Thalia hingga pandangan keduanya kembali bertemu.
“Thalia..." Arkana maju setengah langkah, membuat tubuh keduanya nyaris saling menempel.
"Sejak aku melihatmu, aku sudah berusaha mengabaikanmu. Mengabaikanmu saat dia berbicara tajam padamu, mengabaikan saat dia menahan pinggangmu di depan semua orang, dan mengabaikan kenyataan bahwa aku ingin menarikmu dari sisinya sejak pertama kali melihatmu mengenakan gaun merah ini."
"P-pak..."
"Dan sekarang." Arkana mendekatkan wajahnya. Pandangannya turun sebentar ke bibir Thalia, kemudian kembali ke mata Thalia. "Aku tidak bisa mengabaikannya lagi."
. . . .
... ..
To be continued...