Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 4 -SERANGAN AWAL (2)
Kesadaran Arta kembali dengan rasa sakit yang berdenyut di belakang kepalanya. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi kenyamanan, melainkan bau debu yang menyesakkan.
Ia membuka matanya perlahan, menemukan dirinya terbaring di atas sofa di ruang tamu kediaman Elian. Ruangan yang tadinya begitu megah dan hangat, kini tertutup lapisan debu tebal.
Beberapa kaca jendela pecah berserakan di lantai, dan dinding dinding temboknya yang kokoh kini di penuhi retakan hingga terkelupas.
"Arta? Kau sudah bangun?" Suara itu terdengar parau.
Arta menoleh dan melihat Elian duduk di sampingnya. Wajah pahlawan itu kotor oleh debu, dan zirah peraknya yang mengilap kini dipenuhi goresan halus.
"Elian... Apa yang-" Arta mencoba duduk, namun seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ingatannya kembali seperti hantaman palu. Langit merah, laser yang menghujani atmosfer, dan istana yang runtuh. "Bagaimana keadaan orang orang?"
Elian hanya terdiam, matanya menatap lantai dengan tatapan kosong yang belum pernah Arta lihat sebelumnya. Keheningan itu adalah jawaban yang paling mengerikan.
Dengan memaksakan diri, Arta berdiri meski kakinya terasa seperti jeli. Ia berjalan sempoyongan menuju jendela besar yang menghadap ke arah ibu kota. Begitu matanya menangkap pemandangan di luar, Arta terkesiap hingga hampir lupa cara bernapas.
Ibu kota yang indah kini berubah menjadi lautan api dan asap hitam. Menara-menara penyihir yang dulunya berdiri angkuh kini patah menjadi dua.
Di kejauhan, bagian timur istana benar-benar hilang, hanya menyisakan kerangka bangunan yang membara. Suara sirine darurat dan teriakan jauh terdengar seperti simfoni kematian.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Arta. Napasnya mulai pendek dan cepat. Serangan panik mulai mencengkeram dadanya.
"Kita sedang mengevakuasi sebanyak mungkin orang di seluruh kota, tapi korban jiwa..." Elian tidak melanjutkan kalimatnya.
Arta jatuh terduduk di bawah jendela, memandangi tangannya yang bergetar. "Aku Kepala Penelitian, Elian. Aku penyihir terbaik yang mereka miliki," ucap Arta dengan suara yang pecah.
"Aku punya semua data tentang Nebula. Aku punya alat pendeteksi sihir yang paling mutakhir. Tapi kenapa aku tidak tahu?! Kenapa aku tidak melihat serangan itu datang?!"
"Arta, ini bukan salahmu. Itu senjata yang belum pernah kita lihat-"
"TIDAK!" Arta berteriak, air mata mulai mengalir deras membasahi debu di pipinya. "Ini salahku! Aku terlalu sombong dengan gelarku. Aku terlalu sibuk menikmati teh dan memikirkan seleksi anggota sementara maut sudah berada di atas kepala kita! Kalau saja aku lebih teliti, kalau saja aku tidak kompeten seperti ini, mungkin ribuan orang itu masih hidup!"
Rasa bersalah itu menumpuk, menekan pundak Arta hingga ia merasa tercekik. Ia membayangkan wajah-wajah peserta seleksi di aula kemarin—wajah-wajah penuh harapan yang kini mungkin sudah tertimbun puing. Tanggung jawab yang diberikan Kaisar kepadanya kini terasa seperti kutukan yang membakar jiwanya.
"Aku gagal," rintih Arta sambil menjambak rambutnya sendiri. "Aku hanya seorang anak kecil yang bermain dengan sihir sementara dunia nyata sedang dihancurkan. Aku tidak berguna, Elian. Aku benar-benar tidak kompeten."
Elian mencoba memeluknya untuk menenangkan, tetapi Arta hanya bisa menatap kosong ke arah reruntuhan di luar. Di dalam benaknya, setiap kepulan asap yang naik dari kota adalah bukti kegagalannya yang tak termaafkan. Cahaya di matanya meredup, digantikan oleh kegelapan trauma yang mulai berakar dalam.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat