Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Rencana Kafeela
"Aku sedang melihat pohon durian itu. Lagipula aku tidak ngantuk. Masa iya, masih siang aku ngantu?" kilah Anata menyembunyikan rasa takutnya tadi saat ia sekilas melihat bayang hitam melewati kamarnya.
"Oh...Kalau kamu lelah, kamu tiduran saja. Abang mau pergi dulu, ada hal penting sebentar," balas Kafeela seraya beranjak.
"Itu, gaun pengantinnya, apa perlu bantuan Abang untuk membukanya?" Kafeela kembali membalikan badan, sebab Anata masih memakai gaun pengantin.
"Nggak, biar aku sendiri yang buka. Aku bisa," tolak Anata sambil mengangkat tangannya.
"Ya sudah, abang pergi dulu, ya. Hanya sebentar kok." Kafeela segera berlalu dan meninggalkan Anata yang masih merasa aneh dengan kamar yang baru ia tempati.
"Kak...."
Kafeela menghentikan langkah, lalu perlahan menoleh seraya mengerungkan keningnya dalam. Ia seperti mengingatkan Anata yang dahulu, ketika memanggilnya Kakak.
"Kamu memanggil Abang?"
Anata langsung menggeleng ragu, ia merasa sudah keceplosan memanggil Kafeela. Padahal kalau bisa, Anata ingin meminta Kafeela jangan pergi, tapi ia terlanjur gengsi.
"Enggak," susulnya.
"Abang pikir kamu manggil. Ya sudah, kamu masuk kamar saja. Sepertinya kamu lelah."
Anata mengangguk. "Di rumah ini, apa sudah ada Bi Neni?" Pertanyaan Anata sontak menahan langkah Kafeela.
"Bi Neni akan datang, tapi sore nanti," jawab Kafeela sembari menatap Anata heran.
"Sayang, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Oh...eng~enggak. Ya sudah, kalau kamu mau pergi, pergi saja. Aku mau masuk kamar," pungkas Anata seraya masuk ke dalam dan menutup pintu.
Kafeela berdiri sejenak, ia merasa heran dengan sikap aneh Anata.
Anata duduk di tepi ranjang, pikirannya masih pada bayangan hitam tadi. "Kak Kafee...eh Bang Kafee, akhhhh... persetan dengan sebutan dia apa. Terus dia mau pergi ke mana? Kenapa pas dia pergi, rumah ini terasa angker. Padahal ini siang. Apa tadi hanya halusinasi aku saja?"
Anata gelisah, meskipun ia masih dibayangi rasa takut, ia mencoba menaiki ranjang dan berbaring. Tidak peduli gaun pengantin yang masih melekat di badan, yang jelas dia ingin tidur sejenak, sebab dari kemarin setelah resepsi sampai tiba pedang pora, Anata belum istirahat yang cukup.
Kini ia sangat lelah dan ngantuk.
"Semoga sekarang bisa tidur," gumamnya berharap.
Anata mulai memejamkan matanya. Satu menit dua menit tiga menit.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar diketuk, Anata langsung membuka matanya dan mendongak. "Siapa, apa dia tidak jadi pergi?"
Tok...tok.
Ketukan itu kembali terdengar, tapi hanya dua kali.
"Siapa sih. Kak Kafee atau siapa? Bikin tidur orang terganggu saja." Anata ngedumel, namun ia bangkit dan berjalan menuju pintu.
Perlahan pintu kamar dibuka. Namun, ketika daun pintu itu terbuka lebar, Anata tidak menemukan siapa-siapa. Hanya hembusan angin yang terasa menerpa kuat tepat di wajahnya.
"Ihhh, siapa sih? Barusan angin apaan, kuat banget?" Anata langsung menutup pintu kamar kuat-kuat, lalu menaiki ranjang dan meraih selimut yang ia gunakan untuk menutupi sekujur tubuhnya dari kaki sampai kepala.
"Kok seram sih? Mana Kak Kafee pergi lagi. Kenapa dia mesti pergi? Dasar memang sok sibuk," dumelnya berusaha membuang sisa rasa takut barusan.
Ketukan itu, sudah tidak Anata dengar lagi. Tapi, perasaannya saat ini benar-benar dilanda takut.
Tok
Tok
Tok
Jantung Anata seakan mau copot, ketukan itu kembali datang. Kali ini dia tidak akan membukakan pintu itu. Ia yakin kalau yang mengetuk tadi adalah orang iseng atau bahkan orang jahat.
"Aku tidak akan membuka pintu itu. Aku takut," gumamnya dengan tubuh gemetar.
Tok, tok.
Tiba-tiba ketukan itu terulang kembali, ini membuat Anata semakin menenggelamkan diri di bawah selimut. Air matanya kini mulai menggenang di pelupuk mata.
"Ya Tuhan, aku takut banget."
Sementara di luar kamar, Kafeela berdiri tidak sabar, menunggu pintu dibuka oleh istrinya.
"Apa di benar-benar tertidur? Dia pasti menahan lapar, karena dari tadi belum makan," gumamnya was-was. "Ya sudah kalau dia tidur, sebaiknya makanannya buat nanti saja."
Anata langsung bangkit, barusan ia mendengar dengan samar, tapi suara itu mirip suaminya.
"Itu suara dia, kan?" Anata benar-benar bangkit dan menghampiri pintu.
Pintu terbuka, dan benar saja yang barusan mengetuk adalah Kafeela. Punggung Kafeela mulai menjauh dan Anata memanggilnya.
"Ba~Bang...."
Kafeela menahan langkahnya dan menoleh. Senyum tipis terbit di sana. Ia senang bukan main ketika melihat Anata gelisah dan seperti menyimpan rasa takut.
"Sayang. Akhirnya kamu buka pintu juga. Abang pikir kamu benar-benar tidur. Abang hanya mau ajak kamu makan. Abang dikirim makanan dari Mama. Sejak pagi kamu belum sempat makan. Sebaiknya kamu makan dulu, ya," ajaknya lega dan berharap Anata mau diajak makan.
Anata berpikir sejenak. Tanpa dia rencanakan, tiba-tiba saja perutnya bersuara dan sangat memalukan.
"Keokkk...."
Wajah Anata merah seketika, dengan mulut sedikit menganga, karena ia tidak menduga perutnya bakal bersuara seperti barusan. Memalukan saja.
Kafeela tersenyum penuh kemenangan, dia yakin Anata tidak mungkin menolaknya.
Akhirnya Anata mengangguk dan mengikuti Kafeela makan siang. Inilah makan siang pertama kali mereka berdua, setelah resmi jadi suami istri. Rasa gengsinya terpaksa ia buang jauh-jauh.
Siang beranjak malam. Anata dan Kafeela sudah melewati makan malam berdua. Meskipun suasana di meja makan masih canggung.
Anata sudah lebih dulu menaiki tangga. Tapi, saat matanya tertuju pada kamarnya di ujung lorong lantai atas itu, kakinya mendadak tertahan.
Rasa takut itu kembali menghantuinya. Kakinya yang tadi akan tertuju ke kamar itu, mendadak terkunci.
"Sayang, kamu melamun?"
Anata tersentak, lalu spontan menoleh ke arah suara dan memeluk Kefeela sangat erat.
"Abang, a~aku takut...." ucapnya bergetar. Posisi tangannya melingkar tepat di leher Kefeela.
Kafeela tersenyum sekilas lalu kembali serius. "Takut? Takut kenapa?" Kafeela mengerungkan kening dalam.
"Akhhh...ihhh...kenapa pakai meluk segala?" gerutunya, seperti baru tersadar. Anata sontak melepas pelukannya.
"Abang nggak tahu, barusan kamu tiba-tiba meluk Abang dan bilang kalau kamu takut," terang Kafeela.
Anata terlihat sangat malu, bisa-bisanya dia meluk Kafeela.
"Kamu beneran mau tidur di kamar itu sendirian?" tanya Kafeela tiba-tiba.
Anata mengangguk yakin, meskipun kamar itu dari jauh saja sudah terlihat angker, tapi ketika Bi Neni sudah berada di rumah ini, Anata memberanikan diri tidur di kamar pilihannya tadi.
Setelah itu, ia langsung berjalan menuju kamarnya. Kafeela menatapnya dan mulai menghitung, sampai berapa lama Anata akan bertahan di dalam kamar itu.
Setelah Anata pergi, Kafeela pun beranjak ke kamarnya. Kamar yang sudah ia persiapkan sedemikian rupa menyambut Anata istrinya. Namun sayang, Anata memilih tidur sendiri.
Kafeela mulai merebahkan tubuhnya. Ranjang itu bergerak sesuai pergerakan tubuhnya. Kafeela menatap langit-langit rumah, malam yang harusnya hangat dan sebagai malam pengantin, nyatanya ia harus sendiri dan pisah kamar dengan istrinya.
Sepuluh menit berlalu, suara dentuman seperti pintu dibanting terdengar sayup-sayup di luar kamarnya.
Kafeela menyunggingkan senyum, seakan tahu sesuatu.
Tok tok tok.
"Abangggg...buka pintu...aku mohon...."
Suara Anata memohon dari luar pintu kamar, berhasil membuat Kafeela tersenyum dan bangkit. Ia gembira karena siasatnya berhasil.
"Yes...."
"Abang, aku mohon, izinkan aku tidur di sini. Di sofa juga tidak apa-apa. Aku tidak mau di kamar itu, kamar itu ada hantunya," mohonnya dengan memelas dan muka pias.
Kafeela tersenyum penuh kemenangan, rencananya ternyata berhasil.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu