Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dia atau aku yang pergi
“Dewi, bangun, Dewi.” Nanda menggoyang-goyangkan tubuh Dewi pelan.
“Hmmm…” Dewi hanya mengeram, tubuhnya berguling kecil, masih enggan membuka mata.
Nanda tersenyum tipis. Ia beranjak ke dapur, mengambil ayam goreng buatan Amira yang masih hangat, lalu kembali ke kamar Dewi. Aroma gurih itu sengaja ia dekatkan ke hidung cucunya.
Sementara itu, di kamar mandi, Amira sedang memandikan Arjuna. Ia menyabuni kepala anak sulungnya dengan hati-hati, seolah takut menyakiti.
Di kamar, hidung Dewi mulai bergerak-gerak. Alisnya sedikit berkerut, lalu perlahan tubuhnya bangkit, walau matanya masih terpejam.
“Hmmm… enak sekali,” ucap Dewi, tangannya meraba-raba ke depan, mencoba meraih sesuatu.
Namun, tangannya hanya menyentuh udara.
Karena tidak mendapatkan apa yang ia cari, Dewi akhirnya membuka mata.
“Nenek, tadi aku mimpi ada ayam goreng lezat sekali.”
“Kamu bukan mimpi, ini beneran.”
“Mama nek, mana?” tanya Dewi, celingukan.
“Mana apanya?”
“Ayam gorengnya.”
“Bangun dulu dan mandi sana.”
Dewi cemberut. “Ayam dulu aja, baru mandi.”
“Enggak bisa. Mandi dulu, baru makan.”
“Ih, dasar pelit,” gerutu Dewi, tapi ia tetap bangkit. Dengan langkah kecil, ia mulai membereskan kamarnya.
Tak lama kemudian, Amira keluar dari kamar mandi bersama Arjuna. Rambut Arjuna masih basah, wajahnya tampak lebih segar, meski tubuhnya tetap kurus.
Amira melihat ke arah Dewi yang dengan cekatan merapikan seprai dan menyusun bantal. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya.
“Dewi tumbuh dengan baik,” pikirnya. “Ibu merawatnya dengan penuh kasih.”
“Neek, aku mimpi berantem sama zombie. Aku gigit dia dan aku banting dia, Nek.”
Nanda hanya menggelengkan kepala.
“Dewi, kamu tidak mimpi. Kamu hampir saja memutuskan tangan kakak kamu,” batinnya, tapi ia hanya diam.
“Cepatlah, Dewi,” ucap Nanda.
“Oke, oke.”
Dewi mempercepat gerakannya. Seprai dirapikan, bantal disusun rapi.
“Selesai,” ucapnya bangga. “Sekarang mana ayamnya?”
“Mandi dulu sana.”
“Pelit amat sih,” gerutunya lagi, lalu mengambil handuk dan sabun, keluar menuju kamar mandi.
Amira berdiri diam sejenak. Ia merasa bangga, tapi juga perih. Anak yang tumbuh baik itu… tidak mengenalnya.
“Neek, kenapa dia ada di sana?” suara Dewi tiba-tiba terdengar dari arah kamar mandi. Tatapannya sinis mengarah ke Amira.
“Dewi, dia ibu kamu. Yang sopan kamu,” tegur Nanda.
“Ibu?” gumam Dewi. “Ibuku bukan dia. Dia itu Satpol PP… usir saja dia.”
“Dewi, sudah. Mandi dulu sana.”
“Nek, usir dia,” kata Dewi sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Suasana mendadak hening.
Nanda menoleh ke arah Amira. “Kamu harus sabar dengan Dewi. Dia baik, kok, orangnya.”
Amira menunduk pelan. Hatinya seperti ditusuk.
Wajar… sangat wajar.
Ia meninggalkan Dewi sejak usia satu tahun. Dan saat bertemu kembali, yang Dewi lihat justru dirinya menampar Nanda.
“Ya, Mah… aku akan sabar,” ucap Amira lirih.
Ia melangkah ke dapur, mulai menyiapkan makanan. Arjuna mengikuti di belakangnya, langkahnya pelan, kepalanya tertunduk.
“Kamu di sini saja, Juna,” ucap Nanda.
Arjuna berhenti. Tangannya meremas satu sama lain. Tubuhnya sedikit gemetar.
“Kamu itu anak lelaki. Jangan menundukkan kepala seperti itu. Sini kamu,” kata Nanda tegas.
Arjuna justru semakin diam.
“Kesanalah, Nak. Temui nenek kamu,” ucap Amira lembut.
Arjuna menurut. Ia berjalan pelan mendekat, tapi pandangannya tetap tertuju ke lantai.
“Kamu sayang sama Dewi?” tanya Nanda.
Pertanyaan sederhana itu membuat tubuh Arjuna menegang. Nafasnya tertahan. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap Nanda dengan mata takut.
“Aku sayang sama Dewi… sayang banget. Tolong jangan apa-apakan Dewi. Aku akan menuruti apa pun kata nenek.”
Itu kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan.
Nanda terdiam sejenak. Hatinya mencelos.
Kalimat itu bukan jawaban seorang anak. Itu… seperti permohonan seorang tahanan.
“Kenapa kamu terus menundukkan kepala? Kamu itu lelaki. Kalau kamu sayang sama Dewi, kamu tidak boleh menundukkan kepala,” ucap Nanda.
Arjuna mengangguk, tapi kepalanya tetap menunduk.
“Kenapa masih menundukkan kepala kamu?”
“Aku akan nurut, Nek… aku akan nurut,” ucap Arjuna terburu-buru.
“Kenapa kamu?”
Arjuna tidak menjawab. Ia takut.
Dulu, saat bersama Ambar, ia tidak boleh menatap wajah orang dewasa. Sedikit saja berani, tamparan akan mendarat di pipinya.
“Angkat kepala kamu,” kata Nanda tegas.
Arjuna berbisik, hampir tak terdengar, “Tapi nenek tidak tampar Juna, kan?”
Nanda menghela napas panjang.
“Siapa yang akan menampar kamu? Aku tidak akan membiarkan cucuku ditampar orang lain. Kalau ada yang berani, aku yang akan menamparnya sepuluh kali.”
Perlahan, Arjuna mengangkat kepalanya.
Matanya sayu. Tapi untuk pertama kalinya… ia berani.
“Nah, seperti itu. Mulai sekarang, kepada siapa pun, kamu harus menegakkan kepala kamu. Sekali kamu tunduk, orang akan dengan mudah menginjak kamu.”
Arjuna mengangguk.
“Kamu harus sabar dengan Dewi. Kamu kakaknya. Kamu harus bisa melindungi dia.”
Arjuna kembali mengangguk.
“Bagus. Sekarang tunggu di sini.”
Tak lama kemudian, Dewi keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Ia masuk ke kamar, lalu keluar lagi sudah berpakaian rapi—kaus longgar dan celana pendek.
Tubuhnya besar untuk anak seusianya.
Dewi melihat Arjuna.
Arjuna tersenyum.
“Senyum-senyum sendiri enggak jelas banget sih…,” kata Dewi.
“Dewi, jangan begitu. Dia itu kakak kamu,” tegur Nanda.
Dewi tidak menjawab. Ia melihat tangannya yang besar, lalu menatap Arjuna.
“Dia bukan kakakku. Harusnya kakakku kayak aku, gemuk.”
Nanda menggeleng.
“Nanti dia juga gemuk seperti kamu.”
Dewi terdiam, berpikir keras.
“Nek, kenapa aku bisa gemuk, Nek? Padahal makanku biasa saja.”
Nanda menahan senyum.
“Karena kamu pintar dan menggemaskan. Makanya kamu gemuk dan sehat.”
“Oh begitu ya… berarti dia bodoh ya, Nek? Makanya dia kurus.”
Nanda langsung menyesal.
“Dia tidak bodoh. Dia kurus karena kurang makan.”
“Oh… begitu ya…,” gumam Dewi.
Ia menatap Arjuna dengan mata sipitnya yang hampir hilang karena pipinya yang chubby.
“Kamu harus banyak makan biar pintar. Kalau masih kurus, nanti aku kasih ke anjing, ya. Anjing itu galak, suka tulang.”
“Dewi,” tegur Nanda.
Dewi hanya tersenyum.
Tiba-tiba hidungnya mendengus.
“Nek, makanan apa ini? Harum sekali.”
“Itu masakan ibu kamu, Dewi. Ayo kita makan.”
“Ibuku bukan dia, Nek. Dia itu jahat.”
“Tidak boleh ngomong begitu. Ibu kamu hanya salah paham. Ibu kamu baik, kok.”
“Iya… Mamah baik, kok, Dek,” ucap Arjuna pelan.
Dewi menoleh tajam.
“Dia bukan ibuku. Nenek, kenapa dia masih tinggal di sini? Kenapa enggak nenek usir?”
“Sayang, dia ibu kamu. Dan sekarang kita akan tinggal bersama selamanya.”
“Sudah kubilang dia bukan ibuku. Kalau nenek enggak mau usir dia… aku yang mau pergi.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi cukup untuk membuat dada Amira sesak.
Di dapur, tangan Amira berhenti bergerak.
Minyak masih mendesis pelan.
Namun hatinya… seperti berhenti di tempat.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪