Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONFRONTASI DI BAWAH PANJI MILITER
Suasana di depan gerbang utama markas mendadak mencekam. Sebuah sedan hitam mewah dengan plat nomor khusus terparkir angkuh di antara truk-truk logistik militer yang berdebu. Dari dalamnya keluar seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan barak. Itulah Aditama Atharrazka, pria yang suaranya bisa membuat bursa saham bergejolak, namun kehadirannya di sini hanya membuat rahang Ghazali mengeras.
---
Keyra berdiri di ambang pintu klinik, memegang stetoskop dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa melihat dari kejauhan bagaimana Ghazali berjalan tegap menuju gerbang. Meskipun baru sembuh dari demam, langkah Kapten itu tidak goyah sedikit pun. Di belakangnya, Bastian tampak bersiaga dengan wajah serius.
"Ghazali! Apa-apaan penampilanmu ini?" suara Aditama menggelegar, cukup keras untuk membuat beberapa prajurit yang sedang latihan menoleh. "Sakit? Kamu terlihat pucat. Inikah kehidupan yang kamu banggakan? Tidur di barak sempit dan jatuh sakit karena mengurus logistik yang bukan levelmu?"
Ghazali berhenti tepat dua meter di depan ayahnya. Ia memberikan hormat militer yang sempurna, sebuah tindakan yang justru tampak seperti tamparan bagi Aditama. "Izin, Tuan Aditama. Anda berada di area militer aktif. Jika tidak ada keperluan dinas yang mendesak, silakan tinggalkan tempat ini."
"Jangan bicara soal aturan militer padaku! Aku datang ke sini karena Clarissa mengadu bahwa kamu menampung perempuan sembarangan di paviliunmu!" Aditama melangkah maju, menunjuk ke arah barisan paviliun perwira. "Kamu menolak perjodohan dengan alasan ingin mengabdi, tapi ternyata kamu hanya ingin bebas bermain-main dengan mahasiswa magang?"
Keyra yang mendengar namanya diseret-seret, merasa darahnya mendidih. Ia tidak tahan lagi. Tanpa mempedulikan larangan Ziva, Keyra melangkah keluar dari klinik dan berjalan cepat menuju pusat keributan.
"Maaf, saya rasa ada kesalahpahaman di sini," suara Keyra memecah ketegangan. Ia berdiri di samping Ghazali, menatap pria tua di depannya dengan tatapan berani.
"Keyra, kembali ke klinik," perintah Ghazali dengan suara rendah yang penuh penekanan.
"Tidak, Kapten. Nama saya dibawa-bawa, jadi saya punya hak bicara," bantah Keyra cepat. Ia menoleh pada Aditama. "Saya mahasiswa magang medis yang Anda maksud. Dan kalau Anda ingin tahu, semalam Kapten Ghazali hampir pingsan karena kelelahan menjaga pangkalan ini tetap berjalan setelah badai. Dia tidak bermain-main. Dia sedang menjalankan tugas yang tidak akan pernah Anda pahami dari balik meja kantor yang nyaman."
Aditama menyipitkan mata, menatap Keyra dengan hinaan yang nyata. "Jadi ini gadisnya? Berani sekali mulutnya. Ghazali, inikah seleramu sekarang? Seorang mahasiswi yang tidak tahu tata krama?"
"Dia benar," potong Ghazali tiba-tiba. Suaranya tenang namun tajam seperti sembilu. "Dia benar bahwa Anda tidak akan pernah paham. Di sini, nyawa manusia tidak diukur dengan angka di atas kertas. Keyra menyelamatkan saya semalam, bukan sebagai perempuan simpanan, tapi sebagai petugas medis yang berdedikasi. Sesuatu yang Maya butuhkan lima tahun lalu tapi tidak Anda izinkan karena sibuk dengan kontrak bisnis."
Mendengar nama Maya disebut, wajah Aditama berubah menjadi merah padam. Ia hendak melayangkan tangan, namun Ghazali dengan cepat menangkap pergelangan tangan ayahnya. Kekuatan fisik Ghazali yang terlatih membuat Aditama tak berkutik.
"Jangan pernah mencoba melakukan kekerasan di markas saya," bisik Ghazali, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Bastian, kawal Tuan Aditama keluar sekarang juga. Jika beliau menolak, gunakan protokol pengusiran paksa bagi warga sipil yang mengganggu ketertiban."
Bastian segera bergerak maju. Aditama, dengan sisa harga dirinya yang terluka, melepaskan tangannya dengan kasar. "Kamu akan menyesal, Ghazali! Kamu akan memohon untuk kembali ke perusahaan saat aku mencabut semua dukungan politik untuk markas ini!"
"Silakan dicoba," jawab Ghazali dingin.
Setelah mobil mewah itu pergi dengan deru mesin yang angkuh, suasana hening menyelimuti area gerbang. Prajurit yang tadinya menonton segera kembali ke aktivitas masing-masing saat melihat tatapan maut Ghazali.
Ghazali berbalik, menatap Keyra yang masih berdiri dengan napas memburu karena emosi. "Kamu benar-benar tidak bisa diam, ya?"
Keyra mendongak, menantang mata elang itu. "Saya tidak suka orang baik dihina oleh orang yang hanya mementingkan uang."
Ghazali terdiam cukup lama. Perlahan, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menghukum, melainkan untuk merapikan kerah jas Keyra yang sedikit miring akibat ia berlari tadi.
"Terima kasih sudah membela saya, Keyra. Tapi mulai sekarang, urusan dengan keluarga saya adalah urusan saya. Saya tidak ingin kamu dalam bahaya," ucap Ghazali, suaranya kini jauh lebih lembut.
Keyra merasakan wajahnya memanas lagi. "Saya tidak takut bahaya, Kapten. Saya lebih takut kalau Kapten kembali jadi Kulkas gara-gara pria tua itu."
Ghazali hampir saja tersenyum, sebuah pemandangan langka yang hanya bisa dilihat oleh Keyra. "Kembali ke klinik. Pasienmu sudah menunggu."
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....