Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 11: Reuni dan Kenangan
Di siang hari, ketiga keluarga dari fraksi berbeda berkumpul di meeting room.
"Jadi, kenapa kau mengumpulkan kita disini, Luna?"
Seorang pria yang memiliki rambut high and tight berwarna coklat, sepasang mata berwarna coklat muda, memiliki paras tampan dan postur tubuh yang biasa mulai dari; tinggi sekitar 168 cm, bertubuh sedang tanpa ada otot tangan, perut dan kaki dibalik pakaian bangsawan berwarna serba hitam yang panjang dengan celana bahan yang warnanya serupa, Edi menatap ke mata crimson milik Luna.
Didepan Edi yang terdapat meja panjang dibentuk menjadi kotak terlihat Luna yang duduk meletakkan kedua tangannya di pahanya dengan gaun merah sepanjang mata kaki, ia menatap ke Edi dengan wajah serius.
"Aku kemari ingin menuruti keinginan putriku, Alice."
"Keinginan putrimu?" Sela Lisa, wanita berambut long layer berwarna ungu gelap, sepasang mata berwarna keemasan, memiliki paras cantik dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 172 cm, bertubuh sedang namun pinggang ramping, berdada besar berukuran F Cup, pinggul yang menggoda yang sangat menonjol yang duduk disebelah kiri dari Luna sedangkan sebelah kanan dari Edi yang menatap ke Luna dengan wajah penasaran.
Luna menganggukkan kepalanya, ia menatap mata keemasan milik Lisa tanpa memperlihatkan keraguan sedikitpun.
"Putriku ingin berkenalan dengan putrimu dan putra Edi, siapa tahu mereka bisa berteman satu sama lain."
"Hmmm...."
Memegang dagunya, Edi diam dalam waktu yang cukup lama.
Menurutnya, ini bisa jadi kesempatan untuk putranya, Ken, untuk bisa mengakrabkan diri dengan Alice agar mereka bisa menjalin hubungan yang lebih baik sesuai keinginan Edi. Dengan begitu, tak hanya mendapatkan posisi sebagai putra mahkota untuk menjadi penerus Raja Arga, Ken juga bisa menjadikan Alice sebagai Ratu di Kerajaan Thijam di masa mendatang.
Bila itu terjadi, tak hanya kekuasaan yang digenggamnya tapi juga kekayaan didapatnya dengan mudah agar ia bisa hidup tenang, tanpa perlu melakukan kerja keras seperti yang dilakukannya sekarang.
"Pria itu... ia selalu menjijikan."
Ada rasa jijik dari ekspresi Lisa yang menatap ke Edi yang sempat terkekeh pelan dalam merenung, menduga kalau sesuatu yang buruk dipikirkannya saat ini.
Tersenyum pahit melihat sikap Edi yang aneh, tatapan mata crimson Luna beralih ke Lisa untuk membuat topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong Lisa, bagaimana karirmu akhir-akhir ini?"
"Karirku yang mana? High Wizard atau Alchemist?"
Dengan senyum nakal di wajahnya, Lisa menatap ke Luna dengan menyipitkan mata untuk mengetahui perkataannya padanya.
"Yah, kalau kamu tidak keberatan, aku tidak masalah."
"Baiklah," angguk Lisa yang tidak keberatan siap untuk menjelaskan pada Luna.
"Untuk karirku sebagai High Wizard, bisa dikatakan kalau aku masih dikirimkan surat oleh mereka, The Higher, untuk pertemuan meskipun aku sudah meninggalkan hal tersebut untuk mengurus putriku, Eri."
Mengangguk pada penjelasan Lisa, tatapan mata Luna tetap menatap mata keemasan Lisa saat ini dengan wajah penasaran dari ekspresinya.
"Bagaimana dengan karirmu sebagai Alchemist?"
"Oh, mengenai itu...." seringai senyuman melebar di bibirnya, Lisa tetap memasang wajah menggoda selagi menatap ke mata crimson milik Luna. "Bisa dikatakan semuanya cukup baik, lebih baik ketika banyak pesanan obat diminta langsung dariku."
"Luar biasa," terkagum atas kehebatan Lisa, dengan menepuk kedua tangannya dengan wajah bahagia memperlihatkan seberapa senang Luna pada kabar temannya, Lisa.
"Ngomong-ngomong Luna, kapan kau ingin kita adakan pertemuan dengan anak kita?"
"Hmmm...."
Berpikir sejenak, Luna ingin tahu kapan ia mengadakan pertemuan dengan anak mereka agar tidak terlalu buru-buru untuk memaksa mereka saling mengenal satu sama lain.
Jika diadakan dengan terburu-buru, Luna yakin kalau putrinya, Alice senang namun ia tidak tahu bagaimana perasaan untuk anak lain seperti putra Edi maupun putri Lisa, berharap paksaan tersebut tidak membuat mereka tidak nyaman.
Jika diadakan nanti, Luna harus memilih kapan yang tepat untuk bisa diadakan pertemuan langsung dengan anak mereka supaya mereka bisa langsung akrab satu sama lain, tanpa ada paksaan dan tanpa tidak nyaman.
"Bagaimana kalau kita ada seminggu lagi? Dengan begitu, anak-anak kita akan menyiapkan diri lebih baik dari sekarang untuk saling mengenal satu sama lain."
"Ya, itu ide bagus."
"Aku tidak masalah. Asalkan mereka dapat bermain bersama, itu memudahkan pekerjaan kita sebagai orang tua mereka."
Luna sependapat dengan Edi yang merasa kalau anaknya harus bermain dengan anak lain dari Keluarga Yamada dari Edi dan Christina dari Lisa, itu bertujuan untuk Alice tidak berpikiran dewasa yang membuat Luna merasa takut atas pola pikir sekaligus sikap putrinya.
Dengan begitu, Alice takkan lagi memiliki sikap yang sama seperti yang Luna ketahui dan akan menikmati kehidupan masa kecilnya sebagai teman dari kedua anak dari sahabatnya, Edi dan Luna yang memiliki anak Ken dan Eri.
"Lupakan tentang itu."
Tatapan sinis diperlihatkan Lisa yang mata keemasan melirik kearah mata coklat muda milik Edi, dengan seringai nakal di bibirnya.
"Jangan bilang kalau kamu ingin putramu berkenalan dengan putrinya Luna agar kamu bisa memanfaatkan kedekatan mu dengannya?"
"Ah...."
Seketika kedua pipi Edi merah merona, ia tersentak kaget yang berdiri karena tidak menyangka kalau Lisa dapat membaca pemikirannya kalau ia menyukai Luna selama ini, hanya saja tidak dinyatakan melainkan dipendam untuknya sendiri.
"Tuh, kan? Wajahmu langsung memerah."
Rasa ingin menggoda didalam diri Lisa lebih tinggi, ia tetap melakukannya untuk membuat Edi menyatakan perasaan pada Luna saat ini agar tidak dipendam meskipun ia tahu kalau Edi akan membencinya nanti karena menggodanya.
"Lisa!"
Berbeda dengan Edi, Luna tidak berpikir kalau temannya menyukainya diam-diam tanpa menyatakan perasaan padanya, berpikir kalau sikap nakal dan menggoda Lisa benar-benar kelewatan membuat Lisa hanya menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku mengerti."
Dengan mengangkat kedua pundaknya sambil mengatakannya dengan nada acuh, Lisa memasang wajah sedih karena tidak bisa menggoda Edi lebih jauh lagi karena kepolosan Luna, temannya yang tidak ada batasannya.
"Maaf, aku berlebihan."
Selesai mengatur nafasnya untuk tidak merasakan jantungnya berdebar-debar lagi, Edi kembali tenang lalu mengangguk tanpa memikirkan perkataan Lisa padanya tadi.
"Tidak apa-apa."
"Tsk... wanita itu... ia benar-benar menjengkelkan."
Memalingkan wajahnya kebelakang, ada rasa jengkel dan benci atas sikap Lisa terhadapnya membuat Edi ingin sekali membunuhnya dengan anak buahnya agar tidak mengganggunya saat ini.
Tapi, ia tahu betul kalau membunuh Lisa sama seperti bunuh diri karena pencapaian Lisa melebihi siapapun di istana ini sejak ia menjadi High Wizard dan Alchemist, membuat Edi berpikir kalau ia tidak bisa membuang anak buahnya yang berguna untuknya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Edi. Kamu pasti membenciku karena aku menggodamu, bukan?"
Dengan senyum nakal yang menatap Edi dengan wajah menggoda, menurut Lisa itu benar-benar menyenangkan untuk meledek pria kikuk seperti Edi untuk jujur pada perasaannya agar terasa lega.
Tapi, bukannya jujur malah dipendam membuat Lisa tidak dapat memahami kenapa Edi bersikeras untuk tidak mau mengatakannya.
"Padahal kamu bisa mengatakannya, tapi kamu malah enggan ya."
Tidak seperti Edi, Lisa justru pernah menggoda Ren, suami dari Luna agar jatuh cinta padanya agar bisa memiliki ayah untuk Eri, putrinya sekaligus untuk merasakan cinta sekali lagi.
Tapi meskipun Lisa sudah berusaha keras dengan menggoda, merayu, dan manja pada Ren, Ren justru bersikap kasar dan dingin padanya seolah-olah Lisa tidak ada harga dirinya di matanya.
"Kenapa... kenapa kamu tidak mau menghargai apa yang kulakukan untuk mendapatkan dirimu?!"
Ren yang menggelengkan kepalanya yang teringat jelas dalam benak Lisa di masa lalu, ia menghela nafas panjang dengan wajah serius dan sorot mata tajam padanya.
"Itu karena kau wanita murahan! Seharusnya kau hargai dirimu, perasaanmu, dan masa depanmu! Bukan merayu dan merebut suami dari sahabatmu, Luna, istriku sendiri!"
Mendengar kata-kata itu membuat Lisa tersadar kalau usahanya sia-sia.
Padahal ia sudah mati-matian berjuang untuk mendapatkan cinta dari Ren meskipun harus merebut Ren dari Luna, temannya. Tapi bukannya berhasil, Lisa malah mendapat kemarahan dari Ren yang menceramahi-nya membuatnya hanya bisa terkekeh karena hidup itu ironis.
"Yah, banyak kenangan yang terjadi ya."
"Ya."
Luna yang tidak tahu kalau Lisa membayangkan tentang dirinya mendekati suaminya dibelakangnya, Luna hanya berpikir kalau temannya membayangkan kenangannya bersamanya sebagai sahabat tanpa ada rasa curiga.
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, tapi aku tahu kalau kau hampir saja membuat Luna sedih dan putus asa."
Menyipitkan mata menatap ke mata keemasan Lisa, dalam benak Edi menduga kalau Lisa nyaris melakukan tindakan buruk yang seharusnya tidak dilakukan oleh High Wizard di istana ini karena akan mencoreng nama baik keluarganya, Christina pada bangsawan lain.
Yah, meskipun Edi sendiri tidak peduli melainkan berharap Lisa benar-benar melakukan hal buruk agar Keluarga Christina menjadi buruk di kalangan bangsawan lain.
Jika itu berhasil, tak hanya Ren yang menjadi suami Lisa, Edi juga bisa menjadikan Luna sebagai istrinya. Tapi yah, hal tersebut tidak benar-benar berhasil membuat Edi kecewa atas tindakan Lisa yang berhenti melakukannya.
"Ah, benar."
Dengan satu tepukan tangannya, Edi dan Lisa menatap ke Luna yang tiba-tiba teringat sesuatu di masa lalu.
"Kalau tidak salah, kita punya pandangan pertama masing-masing terhadap satu sama lain, bukan?"
"Ya, kamu benar."
Teringat atas masa lalunya, bayangan atas Lisa disaat pertama kali melihat Luna teringat jelas dibenaknya.
•••••
Lisa POV
Hari itu, aku kebetulan sedang ingin keluar dari pintu belakang yang tidak sengaja melihat wanita yang memiliki wajah ceria dengan sikap ceroboh, ia membantu para maid mengangkut pakaian yang mereka cuci untuk dijemur.
Kenapa wanita itu membantunya? Bukankah ia adalah putri dari Raja Arga?
Aku yang penasaran mengikutinya karena ini pertama kalinya aku melihat ada wanita yang mengulurkan tangan pada para maid, membuatku ingin tahu kenapa ia melakukan hal merepotkan yang tidak ada keuntungannya.
Aku yang mengikuti mereka ke halaman belakang, aku melihat mereka membungkukkan badan mereka setengah derajat pada wanita berambut pirang yang membantu mereka memajang jemuran di tali yang terpasang di bambu yang tertancap di permukaan.
"Terimakasih banyak, Luna-sama."
"Tidak... aku yang seharusnya berterimakasih pada kalian karena aku bisa banyak belajar hal baru."
Rendah hati ya.
Aku ingin tahu kenapa Raja Arga tidak menjadikan putrinya sebagai penerus tahta.
Apakah karena putrinya belum siap untuk menjadi penerus tahta? Ataukah karena sesuatu yang lain yang tidak aku ketahui?
Yah, apapun itu... aku akan mencari tahu sendiri karena ini benar-benar menarik.
••••
Lisa yang awalnya tertarik pada Luna yang berbeda dari kalangan bangsawan lain terus-menerus mengikuti apa yang ia lakukan dalam kesehariannya.
Awalnya Lisa memang meremehkan Luna karena tidak ada wibawanya sebagai bangsawan, terutama sebagai penerus tahta yang memiliki darah kerajaan, tapi setelah melihat tekadnya yang tidak putus melalui sorot matanya yang terus-menerus membantu para maid untuk melakukan pekerjaan mereka, Lisa berubah dari meremehkan menjadi respek padanya.
Ingatan itu terhenti dalam benaknya, membuat Lisa tersenyum saat mengenal Luna.
Andaikan dulu ia tidak kenal Luna, putri dari Raja Arga maka Lisa tidak mungkin bisa se-rileks sekarang melainkan tetap menjadi wanita nakal dan penggoda suami orang, serta memiliki kewibawaan tinggi sama seperti bangsawan lain setelah ia kehilangan arah tujuan sejak tidak merasakan cinta lagi dari suaminya yang mati, Vincent yang meninggalkannya seorang diri yang sudah ditanam benih olehnya waktu itu.
Berbeda dengan Lisa, Edi kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan Luna waktu itu.
•••••
Edi POV
"Hmmm...."
Saat aku mengitari lorong di lantai satu di area penginapan para maid, aku tidak sengaja melihat sosok wanita berambut pirang panjang, bermata crimson yang ceroboh dibalik sikapnya yang murah senyum.
Wanita itu... ia benar-benar tidak mencerminkan bangsawan di kastil ini, lebih seperti ia mencerminkan rakyat jelata yang tidak memiliki kedudukan di istana.
Aku yang melihatnya pertama kali tahu betul kalau wanita itu tidak mencerminkan kebangsawanan melainkan rakyat jelata yang bukannya memperlihatkan kewibawaan melainkan malah menolong para maid melakukan pekerjaan mereka.
Benar-benar konyol.
Daripada mempedulikannya, aku lebih baik pergi untuk berendam di kolam karena tidak ada gunanya untukku untuk memikirkannya.
•••••
Dua hari kemudian, Edi dipanggil ke Kamar Pribadi Raja yang tidak jauh dari kantor pribadi yang dimiliki oleh para bangsawan di Kerajaan Thijam sesuai perkataan dari salah satu dari kedua ksatria yang memberitahu ini padanya.
Begitu memasuki ruangan pribadi raja, Edi diperlihatkan Arga, pria yang memiliki penampilan tetap muda yang memiliki rambut taper fade berwarna coklat, beserta kumis dan janggut yang mirip seperti surai singa berwarna coklat juga, sepasang mata berwarna crimson, memiliki paras tampan meskipun di usianya yang tua dengan tubuh yang pas untuk proporsinya; tinggi sekitar 169 cm, bertubuh gemuk namun tidak gemuk berlebihan, duduk di singgasananya diatas beberapa anak tangga yang menatap ke Edi.
Disebelah Arga, Edi mengenal kalau pria itu adalah Gerald, penasihat raja, sedangkan wanita berambut pirang yang ada tidak jauh dari tahtanya bingung menatap ke Edi dengan wajah penasaran dalam diam.
"Ada apa, Yang Mulia?"
Daripada ia tetap diam didepan pintu ruangan pribadinya, Edi memilih berlutut dihadapannya sebelum Arga mengangkat tangannya menyuruhnya untuk kembali berdiri.
Edi yang kembali berdiri, tetap diam untuk mengetahui alasan Arga memanggilnya kemari.
"Kudengar kau tertarik untuk mengetahui putriku. Apa itu benar?"
"Putri Anda?"
Pandangan mata berwarna coklat muda mengarah ke arah sosok wanita berambut pirang yang berada disebelahnya membuat Edi terkejut atas pemberitahuan dari Raja.
"Ma-maafkan saya, Yang Mulia... saya pikir beliau adalah rakyat biasa jadi saya tidak mengira kalau beliau adalah putri anda."
Arga tidak mempermasalahkan pola pikir Edi dengan marah padanya malahan ia tertawa terbahak-bahak.
"Dia tertawa?"
Menatap sikap Yang Mulia yang tidak pernah dilihatnya, Edi bingung hanya bisa diam tanpa tahu sifat Arga seperti ini dihadapannya.
Beberapa saat kemudian, tawa terbahak-bahak berhenti. Arga yang memegang janggut tersenyum menatap ke Edi lalu Luna disebelahnya.
"Yah, itu wajar. Putriku terlihat lebih seperti rakyat jelata karena tidak menjunjung tinggi status kebangsawanannya."
"Yang Mulia!"
"Hahaha... aku hanya beritahu apa yang kau inginkan, putriku jadi seharusnya kau tidak masalah."
"Tetap saja... itu...."
Melihat ke sikap wanita disebelahnya, Edi merasa kalau wanita tersebut terlihat keberatan sekaligus malu saat Arga memberitahu sikapnya padanya yang belum dikenal oleh wanita itu.
Begitu keluar dari Ruangan Pribadi Raja, Edi dan Luna yang berbicara satu sama lain memulai kedekatan mereka sebagai teman dekat dari yang awalnya tidak saling mengenal menjadi kenal, membuat Edi benar-benar jatuh cinta pada Luna namun tidak ingin mengungkapkan karena tahu Lisa sudah memiliki tunangan.
Itu sebabnya Edi berjanji pada dirinya untuk melindungi Luna dari bayang-bayang agar siapapun yang berusaha untuk menyakitinya, ia akan langsung buat mereka menderita melebihi yang dirasakan oleh Luna.
Itulah janjinya pada dirinya agar ia tidak kehilangan Luna, orang yang dicintainya seperti istrinya yang mati meninggalkannya.
Ingatan tersebut disudahi oleh Edi, ia tersenyum atas betapa bodohnya ia berpikir kalau Luna dahulu merupakan rakyat jelata yang membuatnya hampir merendahkannya jikalau Arga tidak memberitahu padanya tentang putrinya, Luna.
•••••
Luna POV
Aku senang memiliki mereka berdua sebagai temanku.
Yah, meskipun awalnya aku melihat Lisa sebagai wanita penggoda yang suka menggoda siapapun yang ditemuinya, aku tetap tidak terpengaruh oleh rumor yang beredar dikalangan para bangsawan tentangnya.
Memang, aku akui Lisa memiliki proporsi tubuh yang lebih baik dariku yang bisa membuat orang lain menyukainya. Tapi, aku tidak peduli karena aku yakin kalau sahabatku tidak mungkin melakukannya pada suamiku, orang yang sudah hidup cukup lama untuk memahami dan mengenalku.
Berbeda dengan Lisa, untuk Edi sendiri aku rasa ia lebih kearah serius.
Saat pertama kali bertemu dengannya, ia selalu memiliki sikap kewibawaan sebagai bangsawan, tegas, dan selalu serius membuatku tidak yakin apakah bisa mendekatinya atau tidak. Tapi setelah mengenal cukup lama, aku mulai memahami Edi.
Awalnya ia memang serius, tegas dan memiliki kewibawaan sebagai bangsawan, tapi setelah mengenalnya ia cukup kikuk, tidak memahami sosialisasi yang membuatku perlahan-lahan mulai memahami dirinya yang menjadi lebih baik.
Aku tidak tahu apakah itu karena pengaruh dariku atau tidak, yang jelas Edi yang sudah baik padaku menandakan bahwa ia sudah berubah dari dirinya yang kikuk dan canggung menjadi mudah bersosialisasi, terutama rendah hati dan menolong padaku.
•••••
"Berbeda dengan Luna, aku malah tidak suka wanita itu."
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Keduanya saling bertukar pandang atas ketidaksukaan satu sama lain antara Lisa dan Edi membuat Luna yakin kalau mereka berdua mungkin akan bertengkar setiap kali bertemu.
"Semuanya, berhentilah bertengkar!"
"Tidak bisa!"
"Eh?"
Mendengar perkataan mereka yang keras secara serentak, Luna tidak menyangka kalau mereka bersikeras untuk bertengkar satu sama lain.
"Kenapa kau melihatku, Penyihir Nakal? Mungkinkah kau kesal karena kau tidak bisa mendapatkannya?"
"Tsk... kamu ini.... kamu bahkan tidak bisa mendapatkan hatinya untukmu, kamu benar-benar bodoh."
Keduanya yang mengerutkan kening mereka masing-masing, mereka berdiri menatap wajah dalam jarak dekat, melotot satu sama lain.
"Apa katamu?"
"Justru aku yang seharusnya bertanya, bodoh!"
"Kenapa mereka selalu bertengkar?"
Memegang keningnya karena tidak paham atas apa yang mereka ributkan, Luna hanya duduk selagi mencoba untuk mencari cara agar mereka berdamai tanpa perlu bertengkar satu sama lain.
"Siapapun tolong pisahkan mereka!"
Saking putus asa, Luna tidak bisa melakukan apapun berharap ada orang lain yang dapat memisahkan pertengkaran mereka yang beradu mulut.
Tapi, sayangnya tidak ada siapapun melainkan hanya ada Lisa dan Edi.