NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Bayangan

Pewaris Dalam Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Persahabatan / Action / Romantis
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Hime_Hikari

Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Jejak yang Tersingkap

Sejak hari itu, sejak nama Ren Hirano terdengar di kelas, suasana di sekitar Kenji berubah.

Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Yuto dan Akira, dua sahabat yang selama ini mengenal Kenji sebagai anak yang pendiam dan penurut, mulai melihat sisi lain dari dirinya sisi yang belum pernah muncul sebelumnya.

Pagi itu, Kenji duduk di bangku taman sekolah, matanya menatap kosong ke arah lapangan.

Ren berjalan melewati koridor, senyumnya tetap ramah, tapi setiap kali pandangan mereka bertemu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan semacam ketegangan yang menular ke udara.

“Ken, kamu kenal dia sebelumnya?” tanya Akira hati-hati, duduk di sebelahnya.

Kenji tak langsung menjawab. “Siapa?”

“Ren. Anak baru itu. Dari kemarin kamu kayak ... beda kalau liat dia.”

Kenji menoleh perlahan, menatap temannya itu dengan mata datar. “Tidak. Cuma, kayaknya aku pernah dengar nama itu.”

Nada suaranya tenang, tapi Yuto yang duduk di sisi lain bisa merasakan sesuatu dari cara Kenji bicara  nada penuh beban, seperti menyembunyikan sesuatu yang besar.

“Ken, kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Yuto kemudian. “Kalau ada masalah, cerita aja. Kita teman kamu.”

Kenji menunduk, menggenggam kalung kecil di lehernya. “Kadang, nggak semua hal bisa diceritakan, Yuto.”

Ia berdiri pelan, menghela napas. “Tapi aku janji, kalau semua sudah jelas aku akan menceritakan pada waktunya.”

Hari-hari berikutnya terasa aneh. Kenji sering datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya, dan pulang lebih larut. Kadang, Yuto melihatnya berbicara dengan seseorang di luar pagar sekolah  pria berbadan besar berpakaian hitam yang wajahnya tak asing baginya. Setiap kali mereka coba mendekat, Kenji selalu menghindar.

Suatu sore, saat hujan baru saja berhenti, Yuto dan Akira memutuskan untuk mengikutinya diam-diam. Mereka tahu ini berisiko, tapi rasa penasaran dan kekhawatiran lebih besar dari ketakutan.

“Yuto, kamu yakin ini ide bagus?” bisik Akira sambil menutupi kepala dengan jaket.

Yuto menunduk di balik tembok pagar. “Aku cuma pengen tahu dia kenapa. Kita udah sahabatan bertahun-tahun, tapi akhir-akhir ini dia kayak orang asing.”

Dari kejauhan, mereka melihat Kenji masuk ke dalam mobil hitam dengan kaca gelap.

Tanpa pikir panjang, keduanya memanggil ojek dan mengikuti mobil itu. Mobil melaju melewati jalan-jalan kota Tokyo yang mulai gelap, hingga akhirnya berhenti di depan gerbang besar bergaya Jepang kuno. Pagar tinggi dengan simbol naga di tengahnya dan beberapa pria bersetelan hitam berjaga di depan.

Akira menelan ludah. “Tempat apa ini? Jangan bilang … rumah Kenji?”

Yuto mengangguk pelan. “Aku kira dia anak biasa.”

Mereka bersembunyi di balik pepohonan, memperhatikan mobil itu masuk melewati gerbang. Dari celah, mereka bisa melihat sedikit bagian halaman dalam bangunan besar, taman batu, dan lampion gantung yang menerangi jalan masuk. Namun yang paling mencolok adalah jumlah penjaga bersenjata di sekitar rumah itu.

“Kenji tinggal di sini?” bisik Akira.

“Kalau iya, berarti semua luka di badannya ... bukan kebetulan.” Suasana seketika menjadi tegang, saat mereka hendak mundur, terdengar suara langkah cepat dari belakang.

“Siapa kalian?” Dua pria bersetelan hitam muncul dari balik pagar, menodongkan senjata.

Yuto membeku di tempat, sementara Akira refleks mengangkat tangan. “Tunggu! Kami bukan pencuri! Kami cuma temannya Kenji!”

Salah satu pria menyipitkan mata. “Teman?” Tanpa banyak bicara, mereka langsung menangkap keduanya.

Yuto berusaha melepaskan diri. “Hei! Lepasin! Kami nggak salah apa-apa!”

Cengkeraman tangan penjaga terlalu kuat. Dalam hitungan detik, dua sahabat itu sudah diseret melewati halaman depan rumah besar itu. Lampion bergoyang ditiup angin, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu. Langkah kaki mereka menggema di lantai batu. Hujan mulai turun lagi, membasahi tanah  dan membuat ketegangan semakin pekat.

Sementara itu, di dalam rumah, Kazuma tengah duduk di ruang kerjanya bersama Ryo. Di meja mereka tergeletak beberapa berkas dan foto lama.

“Ren Hirano,” kata Kazuma lirih. “Anak itu akhirnya muncul juga.”

Ryo menatapnya serius. “Kau yakin dia cucu Daisuke Hirano?”

Kazuma mengangguk pelan. “Wajahnya sama. Tatapan matanya pun sama seperti dulu. Aku tahu darah Hirano kalau melihatnya.”

Ryo mendengus. “Berarti cepat atau lambat, Kenji akan tahu semuanya.”

Belum sempat Kazuma menjawab, salah satu pengawal masuk dengan langkah tergesa. “Tuan Kazuma! Kami menangkap dua orang asing di sekitar gerbang!”

Kazuma mengangkat alis. “Asing?”

“Mereka mengaku teman Tuan Muda Kenji.” kata pengawal memberi laporan

Ryo menatapnya penasaran. “Teman sekolahnya?”

Kazuma berdiri perlahan, nada suaranya dingin. “Bawa mereka masuk.”

Yuto dan Akira diseret ke ruang tengah, dipaksa berlutut di lantai kayu yang mengkilap. Mereka berdua gemetar bukan karena dingin, tapi karena ketakutan. Ruangan itu besar dan sunyi, dengan hiasan pedang di dinding dan patung naga di sudut ruangan.

Pintu geser di depan mereka terbuka pelan. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam melangkah masuk, diikuti oleh sosok berambut perak dengan tatapan tajam  Kazuma dan Ryo. Kazuma menatap dua anak itu dari atas, matanya gelap dan penuh wibawa.

“Siapa kalian?” suaranya rendah tapi tegas, membuat bulu kuduk berdiri.

Yuto langsung menunduk. “Kami … teman Kenji, Pak. Kami cuma khawatir.”

Akira ikut bicara, suaranya bergetar. “Kami nggak bermaksud masuk tanpa izin. Kami hanya ingin tahu dia kenapa selalu luka-luka.”

Ryo menatap mereka dengan mata menyipit. “Teman? Sejak kapan teman sekolah nekat menerobos rumah keluarga mafia?”

Kata itu  mafia  membuat keduanya menahan napas. Mereka saling pandang, kaget dan bingung, sementara otak mereka berusaha mencerna arti dari kata itu.

“Ma … mafia?” bisik Akira pelan.

Yuto menelan ludah. “Jadi selama ini Kenji …”

Tepat saat itu, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Seseorang membuka pintu ruang tengah. Kenji berdiri di sana, mengenakan pakaian hitam polos, rambutnya sedikit basah oleh hujan. Pandangan Kazuma dan Ryo beralih padanya.

Kenji tertegun melihat dua sahabatnya di lantai, lalu menatap para pengawal dengan marah.

“Mereka bukan musuh! Lepaskan mereka!” perintah Kenji.

Kazuma tetap diam, hanya mengamati ekspresi anaknya itu. Baru kali ini ia melihat Kenji semarah itu, tiba-tiba ia teringat waktu itu orang yang ditugaskan oleh Kazuma untuk mengawasi Kenji pernah mengatakan kalau ada dua orang yang selalu membantu Kenji.

“Mereka mengikuti kamu, Kenji,” katanya pelan. “Mereka sudah tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”

“Kalau mereka tahu,” jawab Kenji cepat, “itu karena aku nggak cukup pintar untuk sembunyikan semuanya.”

Ruangan hening. Kenji menatap dua sahabatnya, lalu berbalik menatap ke Kazuma, dan ia mendekat ke arah Kazuma dan juga Ryo.

“Mereka teman aku, Papa. Kalau mereka dihukum, aku juga akan ikut, ” kata Kenji.

Kazuma memejamkan mata sejenak, lalu memberi isyarat pada pengawal. “Lepaskan mereka.”

Yuto dan Akira langsung melepaskan napas lega, tetapi suasana belum benar-benar tenang. Kazuma berjalan pelan ke arah Kenji, matanya tajam namun penuh perasaan.

“Kau sudah mulai memilih jalanmu, Kenji. Tapi ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya,” kata Kazuma.

Kenji menatap ayahnya tanpa gentar. “Aku tahu, Ayah. Tapi aku nggak akan biarin orang lain terluka gara-gara aku.”

Kazuma tersenyum tipis  senyum yang entah bangga, entah khawatir, terlebih melihat anaknya sudah mulai agak terbuka dengannya.  “Mungkin darah ibumu lebih kuat dari yang kuduga.”

Tiba-tiba, salah satu pengawal masuk dengan wajah panik. “Tuan! Kami mendapat pesan dari markas lama! Ada simbol naga terbakar di depan gerbang!”

Ryo langsung menegang. “Simbol naga …? Itu tanda perang, Kazuma!”

Kazuma menatap ke luar jendela, hujan deras membasahi kaca. “Jadi, mereka akhirnya bergerak.”

Kenji menggenggam tangannya kuat-kuat. Di luar sana, kilat menyambar, menerangi bayangan seseorang yang berdiri di tepi jalan Ren Hirano, dengan payung hitam di tangannya, menatap rumah itu dari kejauhan. Senyum samar muncul di wajahnya.

“Sudah dimulai, Kenji Kazuma. Mari kita lihat … siapa yang jatuh lebih dulu.”

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torrr ku
Hime_Hikari: hallo kak di tunggu saja kak untuk update terbarunya
total 1 replies
putri baqis aina
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
Hime_Hikari: Terima kasih kak 😁😁
total 1 replies
Ryner
Author, kapan nih next chapter?
Hime_Hikari: Ditunnggu saja ya kak

Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!