Terjebak menikah dengan Bos nya seorang tampan kaya raya, Ceo Persahaaan terbesar di Indonesia yang bernama Devian Emilio Alatas, membuat Amaora sang asistan bos mengalami hal hal yang diluar nalar. Sang bos yang Egois, Arogan dan sikapnya kepedean 1000% membuat Amaora tiap hari mengelus dada. Ternyata dibalik sifatnya, Devian Emilio Alatas memiliki hati yang tidak diketahui Amaora , yakni jatuh cinta terlalu dalam pada asisten nya tersebut. Akan kah Amaora sadar akan perasaan bosnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susi Rubianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
"Apa kau terharu?" Tanya Devian mengagetkan Maora.
"Kenapa bapak?" Tanya Maora terdiam ketika Devian menghadap ke arahnya.
"Bukankah kita sudah saling memaafkan. Bagaimana kalo kita merayakannya."
" Merayakannya? Apa yang dirayakan?" Tanya Maora bingung.
"Karna kita sudah baikan dan saling memaafkan. Saya ingin merayakannya." Kata Devian yang membuat Maora cekikikan melihat atasannya terlalu berlebihan.
"Maaf pak, tapi kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagaimana kalo kita merayakannya sambil bekerja." Ujar Maora membuat Devian bingung. Sesampai di ruang kerja, Maora duduk disamping Devian untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Devian berpikir sejenak dan kembali melihat Maora yang duduk di sampingnya.
"Apa ini yang di sebut merayakannya?" Ujar Devian yang melihat Maora menganggukkan kepalanya.
"Apa Bapak keberatan? Saya akan memesan spaghetti kesukaan Anda." Ujar Maora tersenyum manis.
" Tapi jika kita bekerja seperti ini. Ini sangat mengganggu konsentrasiku." Ujar Devian yang membuat Maora bertanya-tanya dalam hati.
" Maksud Bapak?"
" Kau sangat mengganggu pikiran dan jiwaku" Kata Devian yang melihat Maora tersenyum sinis dan bingung harus melakukan apa.
" Apa Anda mau minum sesuatu. Kopi, teh...?" Kata Maora gugup. Devian menunjuk secangkir kopi dan segelas teh yang sudah ada di meja kerjanya.
"Disini agak panas, saya akan membuka jendelanya." Lagi-lagi Devian memberitahu kalo jendela itu sudah terbuka. Maora ******* bibir mungilnya sembari berpikir.
" Kalo begitu, saya kerjakan di luar ya Pak. Sesudah selesai semua kita akan merayakannya." Kata Maora membereskan laporan-laporan dan membawanya pergi.
"Jika kau disini, aku hanya ingin memandangi wajah cantikmu Maora." Gerutu batin Devian melihat istrinya menutup pintu dengan senyum manisnya. Maora menghela nafas sembari menekukkan kedua tangannya.
" Kau sangat mengganggu hatiku." Kata -kata Devian yang membuat Maora tersenyum simpul dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Satu jam, dua jam mata Maora tak kuat menahan kantuk yang melanda. Devian menekan telepon berkali-kali untuk memanggil sekretarisnya tapi tak ada jawaban. Devian melangkah pergi menuju ruang kerja Maora.
"Kau sangat lelah istriku?" Tanya Devian membelai rambut Maora yang menutupi wajah cantiknya. Kicauan burung di pagi hari terasa begitu indah diiringi dengan angin semilir. Maora menutup wajah cantiknya yang terkena sinar matahari pagi.
"Ya Tuhan, aku ketiduran. Bagaimana laporan yang untuk rapat hari ini." Kata Maora terbangun dan mencari laporannya. Maora terdiam dan menatap seisi ruangan tersebut.
"Bukankah ini di ruang kerja pak Devian? Kenapa Aku bisa disini?" Tanya Maora mengingat kembali sebelum ia tertidur. Maora menutup mulutnya melihat Devian sudah rapi sembari berkaca.
"Apa yang terjadi?" Tanya Maora sembari memegang selimut yang masih menempel di dirinya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Devian menghampiri Maora yang masih setengah sadar.
"Kenapa bapak tak membangunkan saya. Bukankah sekarang ada meeting di pagi hari?" Tanya Maora.
"Kenapa saya harus membangunkan dirimu. Mandilah, satu jam lagi semua karyawan akan datang. Bukankah kau tak mau pernikahan kita di ketahui semua orang?"
"Tapi laporan untuk rapat hari ini, saya belum menyelesaikannya." Kata Maora cemberut.
"Mandilah... Atau semua orang mengetahui semuanya." Ujar Devian memberi satu set baju kerja buat istrinya. Maora mengambil baju tersebut dan bergegas menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan Devian. Sehabis mandi wajah Maora berubah memerah melihat satu set bajunya lengkap dengan pakaian dalam untuknya. Setelah berganti baju Maora berjalan sembari melihat Devian membaringkan tubuhnya di sofa. Kedua tangan melipat di dada, tak mengurangi aura ketampanan Devian Alatas. Maora tersenyum melihat Devian mempersiapkan untuknya.
"Ya Tuhan, aku tak menyangka dia begitu perhatian." Ujar Maora membuka alat make up yang tergeletak di meja. Maora tersenyum haru sembari memandang Devian yang tertidur pulas. Dengan cepat Maora berdandan dan bergegas mengerjakan laporan untuk rapat hari ini. Lagi-lagi Maora terkejut melihat laporannya sudah selesai dan siap untuk rapat. Dengan langkah hati-hati Maora menghampiri Devian yang masih terlelap. Maora melipat selimut yang berserakan di lantai. Maora duduk disamping Devian terlihat begitu lelah.
"Kau benar-benar membuatku bingung pak?" Gerutu Maora dalam hati. Sesaat Devian terbangun dari tidurnya. Seakan seperti mimpi Devian melihat bidadari cantik seperti Maora duduk tersenyum di dekatnya.
"Bapak sudah bangun? Saya buatkan teh hangat untuk Anda." Kata Maora memberikan segelas teh untuknya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Devian meminum segelas teh hangat.
"Iya, mari saya pakaian dasi untuk Anda." Ujar Maora tersenyum simpul sembari memakaikan dasi untuk atasannya. Devian mengerling memandangi wajah cantik Maora yang satu centi dari wajahnya.
"Terimakasih ya pak, bapak selalu menolong saya."
"Sudah seharusnya seorang suami menolong dan melindungi istrinya. Let's go mereka pasti sudah menunggu." Ujar Devian pergi. Maora tersenyum senang sembari mengambil laporan dan berlari mengejar Devian. Setelah selesai rapat Maora mengajak Devian ke suatu permainan yang ada di dalam mall tersebut.
" Apa kau menginginkan semua boneka itu?" Tanya Devian melihat Maora mengotak-atik mesin capit boneka itu.
" Heem..."
"Saya akan membelikannya untukmu." Kata Devian menelpon pemilik mall tersebut.
"Tidak, saya ingin mendapatkannya dari tangan saya sendiri. Ini lebih seru." Ujar Maora. Devian melipat tangan di dadanya sembari melihat istrinya yang sangat payah memainkan mesin capit itu. Devian memperhatikan cara-cara tangan Maora menggunakan mesin capit itu.
"Geserlah saya pasti mendapatkannya." Kata Devian mengambil alih posisi Maora.
"Ini tidak mudah Pak,"
"Apa kau meremehkanku?" Ujar Devian yang membuat Maora terdiam. Apa yang dikatakan Maora benar, sangat tidak mudah untuk mendapatkannya.
"Jika kau ingin sekarang, saya akan membelikan semua permainan ini untukmu, termasuk mall ini."
"Tidak, saya tidak mau." Kata Maora terkejut melihat Devian berkata aku kamu.
"Kau tau? Mesin itu sangat menjengkelkan."
"Tapi saya sangat menyukainya pak."
"Kalo kau menyukainya, kenapa kau melarangku untuk membelinya?"
"Maaf pak, tapi saya ingin mendapatkannya dari tangan saya sendiri."
"Sudahlah, saya lapar." Kata Devian pergi meninggalkan Maora yang melambaikan tangan pada boneka tersebut. Devian hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah Maora yang aneh. Maora melihat Devian yang begitu serius sampai- sampai menganggurkan makanan yang ada di depannya.
"Pak, bukankah bapak lapar. Ayo di makan!" Kata Maora mengagetkan Devian.
"Baiklah," kata Devian memulai makan makanannya. Maora melirik Devian ketika Kak Vino menelponnya.
"Angkat saja, tak perlu sungkan." Kata Devian yang mengetahui Maora melihatnya.
"Iya kak, maaf Maora tidak bisa. Jadwal Maora padat."
"Apa kamu di larang oleh bossmu itu."kata -kata vino yang terdengar di telinga Devian.
"Tidak, memang pekerjaan Maora menumpuk. Nanti kita sambung lagi."kata Maora melihat Devian melihat bossnya berhenti makan. Entah kenapa Maora merasa tak enak jika dia melukai hati Devian.
"Apa kau selalu mengatakan aku dan kamu sama dia?" Tanya Devian penasaran.
"Iya pak?"
"Berhentilah memanggilku sebutan pak di luar kantor. Mulai sekarang aku ingin menggunakan bahasa aku dan kamu buat kita." Kata Devian.
"Apa harus?"
"Bukankah kau ini istriku? Seharusnya tak ada kata " tidak" terucap dari mulut manismu." Kata Devian senang melihat Maora menuruti perintahnya.