Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bara keluar dari ruangannya, lalu kembali membawa beberapa makanan yang disusun rapi diatas meja. Bara menatap wajahku dengan senyum manisnya.
"Makanlah sayang!"
"Aku tidak lapar."
"Tapi aku memaksa, " senyum Bara sambil menyuapi makanan ke mulutku.
Terdengar suara seseorang diluar ruangan Bara, lalu dia masuk kedalam mendekat kearah kami. Laki-laki cukup tua dengan senyum ramah diwajahnya, terlihat keriput dibeberapa bagian wajahnya.
"Cucuku sayang!" kata laki-laki itu sambil memeluk Bara.
"Kakek, kau datang! Kenapa kau tidak beritahu aku jika akan datang? Aku pasti akan menjemputmu dibandara," kata Bara sambil mencium tangan kakeknya.
Kakek Bara tersenyum menatapku, lalu duduk disamping Bara.
"Siapa dia nak?" tanya Kakek.
"Dia istriku, namanya Chika."
Kakek Bara langsung mendekat kearah ku, matanya berbinar menatap tajam kearah ku.
"Cantik sekali. " Kakek masih menatapku penuh dengan rasa takjub.
"Sayang, kenalkan ini kakekku. Dia orang tua dari Ayahku yang sudah lama meninggal," senyum Bara.
Orang tua Ayah Bara yang sudah meninggal? Bukankah Pak Arman masih hidup? Lalu Ayah mana yang dimaksud Bara?
Aku hanya bersalaman dengan kakek Bara, masih diam memikirkan ucapan Bara yang cukup membuatku bingung.
"Kenapa sayang? Apa yang kau lamun kan?" tanya Bara sambil memegang tanganku.
"Ayah Arman?"
"Bukan sayang, Ayah Arman itu Ayah dari adik-adikku. Tapi bukan Ayah kandungku, dia suami baru Ibuku setelah Ayah kandungku meninggal," ucap Bara.
Aku terkejut bukan main, bagaimana bisa aku tidak tahu hal besar seperti ini? Jadi Pak Arman itu Ayah tiri Bara?
"Lalu Ardi, Cindy dan Marcell?" Aku menatap kearah Bara penasaran.
"Mereka semua adik tiriku, tapi aku menyayangi mereka seperti adik kandungku." Bara tersenyum mengusap lembut wajahku.
Apa? Aku benar-benar kaget! Kalau Pak Arman bukan Ayah Bara dan dia Ayah kandung Ardi, kenapa dia menjodohkan aku dengan Bara? Lalu menghancurkan hidup anak kandungnya sendiri? Aku seperti disambar petir, ada banyak hal yang tidak diketahui olehku ternyata.
"Kenapa bengong? Sudah jangan dipikirkan," tawa Bara.
"Dulu waktu Ayah Bara menikah dengan Hana, Kakek tidak merestui mereka. Sampai Hana memberi tahu pada Kakek bahwa Ayah Bara meninggal dunia. Kakek mengusir Hana yang saat itu sedang mengandung Bara diperutnya. Aku baru tahu bahwa Bara cucuku setelah Hana menjelaskan semuanya padaku, lalu dia menikah dengan Arman," kata Kakek.
"Kehidupan mereka dulu sangat miskin, mereka tetap memaksakan diri untuk mengurus Bara dalam keadaan yang sangat sulit. Aku pernah menawarkan diri untuk mengurus cucuku, tapi Arman menolak. Dia bilang, dia sudah menganggap Bara seperti putra kandungnya." Kakek tersenyum menatap kearah ku.
"Memang benar Kakek, aku sendiri mengira kalau Mas Bara ini anak kandung Pak Arman," kataku.
"Iya, Arman itu orang baik nak! Itu yang membuatku menyerahkan sedikit kekayaanku pada mereka. Kau tahu, setiap tahun Hana dan Arman mengunjungi makam anakku untuk mengirimkan doa. Jujur, aku terharu dengan sikap mereka!" senyum Kakek.
"Sudahlah Kakek, mari makan!" kata Bara sambil menyuapi makanan ke mulut Kakeknya.
Kakek hanya tersenyum dalam air yang masih membasahi pipinya. Aku ikut terharu mendengar kisah yang diceritakan Kakek. Pak Arman itu Ayah tiri dengan versi baik, tapi Ibu tiri dan Ayah tiriku versi jahatnya. Jelas disini, tidak semua Ayah atau Ibu tiri itu jahat, seperti yang dari dulu selalu aku pikirkan. Trauma kekejaman Ibu tiriku, membuatku menganggap semua orang tua sambung itu jahat. Tapi Pak Arman, bukan salah satu diantaranya!
Setelah selesai makan, Kakek beralih membicarakan tentang pekerjaan. Mereka membahas beberapa hal kantor yang tidak aku pahami. Aku hanya duduk di tengah-tengah mereka tanpa mengerti apa yang mereka bahas.
Bara tersenyum, menatap kearah ku sambil mengusap lembut wajahku.
"Kau ngantuk ya? Maaf, aku harus mengajakmu ke kantor. Aku benar-benar mengkhawatirkan mu," ucap Bara.
"Tidak apa."
"Kau bisa tidur disini, aku dan Kakek akan mengerjakan beberapa tugas kantor dulu," ucap Bara diiringi senyum, lalu berjalan meninggalkan ku sendiri diruang kerjanya.
Aku memejamkan mataku yang sudah sangat mengantuk, rasanya aku lelah sekali. Cukup lama aku terpejam dalam tidur, sampai percikan air membasahi wajahku. Ku tatap wanita itu datang sambil memegang segelas air ditangannya.
"Enaknya, apa kau sangat mengantuk? Ini kantor, bukan kamarmu! Dasar kampungan!" senyum sinis Raina.
Aku mengambil tisu di meja, lalu mengusap wajahku yang basah oleh ulahnya. Aku menatap kearah wanita itu, terlihat jelas wajah tidak sukanya menatap kehadiranku di kantor. Sebenarnya, apa hubungan Raina dengan Bara? Kenapa dia sampai sebenci ini padaku?
"Kau lihat aku? Apa kurangnya aku? Aku cantik, pintar, modis, sexi tapi Bara tidak memilihku, dia malah memilih wanita kampungan seperti dirimu."
Jelas, kata-katanya benar-benar membuatku ingin menangis. Apa masalahnya jika aku bersama Bara? Apa aku tidak pantas? Apa aku terlihat begitu kampungan? Rasanya aku ingin menampar wajah gadis bernama Raina itu.
"Kenapa diam? Kau lihat foto ini! Bara itu mantan pacarku dulu, dia sangat mencintaiku sama seperti dia mencintaimu saat ini. " Raina memperlihatkan fotonya bersama Bara, terlihat jelas jika mereka pernah punya hubungan khusus.
Aku tersenyum menatap foto itu, lalu kembali duduk di sofa untuk mengendalikan hatiku yang cukup terkejut dengan foto yang diperlihatkan Raina padaku. Aku mulai mengatur nafasku, lalu kembali menatap kearah Raina.
"Itu hanya foto masa lalumu bersama Bara, kalian hanya pacaran kan? Sementara aku ini istrinya, jadi lupakan suamiku!" Aku kaget dengan ucapan yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirku.
"Apa? Beraninya kau!" teriak Raina sambil menarik tanganku dengan kasar.
"Kenapa kau marah? Bukankah ucapanku ini benar?" kataku melepaskan tangan Raina yang menarik ku.
"Dengarkan aku! Bara itu milikku, hanya akan menjadi milikku. Kau lihat saja, sebentar lagi kau dan Bara akan berpisah. Aku akan melakukan berbagai cara untuk bisa bersama dengannya," teriak Raina lalu pergi meninggalkan ku.
Aku sudah dapat banyak kejutan hati ini, dari Pak Arman sampai Raina. Apa yang ku tahu tentang Bara? Tidak, tidak ada satupun yang ku tahu tentang dia. Apalagi yang tidak ku tahu tentang dia? Apa?
Cukup lama aku berada di ruangan Bara, sampai Bara datang sambil menggendong Alesha. Alesha tersenyum menatapku, dia membawa bunga mawar dan boneka ditangannya.
"Kak Chika, aku datang!" teriak Alesha.
Bara menurunkan Alesha tepat disampingku, lalu dia tersenyum menatapku sambil mencubit pipiku.
"Kejutan! " teriak Bara sambil tersenyum.
"Ini untuk Kak Chika, dari suamimu yang sangat mencintaimu," ucap Alesha sambil memberikan bunga mawar dan boneka ditangannya.
"Terimakasih." Aku tersenyum senang menerimanya, rasanya aku lupa bahwa tadi aku sedang marah.
"Kak, ada satu kejutan lagi untukmu," ucap Adik kecilku.
"Apa?"
"Kak Bara akan membiayai operasi kakiku, agar aku bisa berjalan lagi. Tadi aku habis diperiksa oleh dokter, katanya ada kemungkinan aku akan sembuh." Alesha memelukku erat.
"Kakak, aku akan kembali bisa berjalan!" ucap Alesha diiringi air mata.
Aku menatap kearah Bara, air mataku tak terbendung lagi. Aku menangis cukup keras, rasanya aku benar-benar mendapatkan suami yang sangat baik dan perduli pada Adik kecilku. Bara tersenyum menatapku, dia mengusap lembut wajahku yang dipenuhi air mata.
"Terimakasih, " ucapku sambil menangis.
"Iya sayang. Kau kini sudah menjadi istriku, jadi mulai sekarang Alesha ini adikku juga," kata Bara sambil menggendong Alesha dalam pangkuannya.
Rasanya aku benar-benar terharu, kenapa dia bisa punya hati sebaik itu sih? Dia selalu saja membuatku semakin memuja kebaikannya dan semakin mencintainya.
Tetap ditunggu lanjutannya, beri dukungan untuk author sebanyak-banyaknya. Jangan lupa Komen positif, Like atau Jempol, Vote juga agar karya ini tetap dilanjutkan.🙏
Terimakasih ❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂