Oleh orang tuaku, aku di jadikan sebagai pelunas utang dan menikahkan ku dengan seorang pria kaya. Tidak ada cinta di antara kami. Suatu malam, tanpa sengaja, aku melakukan one night stand dengan bos ku hingga aku harus mengakhiri rumah tangga ku yang masih berumur jagung.
Ternyata, kejadian malam itu adalah jebakan. Jebakan balas dendam yang membuatku terluka dan trauma.
Lima tahun berlalu, aku bertemu lagi dengannya, bertemu dengan pria yang malam itu membuatku tak berdaya karena sentuhannya. Pria yang sangat aku benci dan ingin aku lupakan.
Tapi pertemuan itu kembali membuatku terseret oleh pesonanya.
Mampukah aku tetap membenci atau justru aku malah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Jujur
Emilia POV
Aku terkulai lemas.
Tidak banyak yang aku harapkan darinya, hanya saja aku sangat syok dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Aku sudah pernah mengambil keputusan untuk tidak pernah memberitahu keadaanku sekarang ini, apalagi aku tidak tau, apakah dia sudah punya seorang istri atau tidak. Sekedar menjaga adalah hal yang paling aman.
Apalah artinya aku ini. Aku ibarat wanita jalang yang setelah di tiduri di tinggal begitu saja. Aku merasa tidak punya harga diri.
" Sejak kapan pak Gerrard pergi?" Kataku lemah.
" Seminggu lalu. Tepat saat kau mengambil cuti sakit."
Aku seperti dejavu, beberapa bulan lalu juga hal ini sempat terjadi, di mana aku masuk kembali bekerja setelah seminggu keberadaannya. Bedanya, kini dia sudah tidak menjadi bos diktator ku lagi. Jujur, aku sedih. Entahlah, kenapa aku bisa seperti ini.
Hari hari ku lalui dengan semangat yang mengendap, tidak muncul ke permukaan, tidak sama ketika ia masih ada di sini. Ku akui, meski dia menyiksaku dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, tapi aku merasa kesepian saat tidak melihatnya lagi di sekeliling ku. Asing... Begitulah yang ku rasakan.
Hari ini, aku memilih pulang telat, berjalan jalan di sekitar taman kota sedikit banyak membuat pikiran dan tubuhku lebih tenang.
Aku duduk di kursi, menatap berbagai macam bunga yang nampak indah di sinari cahaya mentari sore.
Ku buka ponselku, tak ada satupun fotonya yang aku simpan, bahkan nomor ponselnya pun aku tidak punya. Dia pernah menghubungi sekali, dan sialnya, aku lupa menyimpan nomornya.
Aku menghela nafas berat. Ku tatap lurus ke depan. Di mana seorang pria sedang menggendong gadis kecil di temani wanita cantik yang berjalan di sampingnya, mereka tampak bahagia.
Aku menangis. Akhir akhir ini, air mataku yang ku anggap paling berharga karena aku jarang mengeluarkannya, kini terasa sangat murah. Terkadang, hanya duduk termenung, cairan itu kembali datang menyapa.
Membayangkan memiliki keluarga utuh seperti yang baru saja aku lihat adalah sesuatu yang terasa mustahil bagiku.
Aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai, dan aku mengandung benih pria arogan dengan sikapnya yang tak bisa ku tebak, aku belum terlalu mengenalnya dan lagi, dia tidak mencintaiku, begitupun denganku.
Lalu apa yang harus aku harapkan?
Aku beranjak setelah cukup lama berada di taman tersebut, apalagi malam sudah hadir menggantikan siang, aku harus bergegas untuk pulang.
Tiba di rumah, aku cukup kaget dengan keberadaan mobil yang aku kenal, mobil yang mengantarku pulang beberapa waktu lalu, lebih tepatnya di hari pertama aku bekerja setelah mengambil cuti pernikahan ku.
Aku kenal baik dengan pemiliknya, tapi apa hubungannya dengan Ludwig?
Aku melangkah masuk, sepi.
Ku pindai seluruh ruangan, namun tak ku temukan satupun makhluk bernafas di sana. Aku memilih ke kamarku. Hari ini aku sangat lelah, berjumpa atau menyapa siapapun itu, rasanya aku sudah tidak sanggup.
Namun, sayup sayup ku dengar dua orang sedang berbicara di salah satu ruangan yang aku tau kalau itu adalah ruang kerja Ludwig.
Aku jadi penasaran, ku dekati ruangan tersebut. Pintunya sedikit terbuka, dan aku bisa melihat jika uncle Wyn dan Ludwig sedang berada dalam pembicaraan yang sangat serius.
Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Menyerah, aku pun meninggalkan keduanya.
" Lalu, kapan kau akan menceraikannya?"
Langkah kakiku terhenti. Kalimat itu sangat jelas aku dengar.
" Cerai? Siapa yang mereka bicarakan?"
Ku tunggu selama beberapa menit, tapi tak ada kelanjutan dari kalimat yang menggantung itu.
Aku akhirnya memilih kembali ke kamarku.
*
*
" Pelankan suaramu, dia ada di luar." Ludwig mengingatkan.
Wyn menghela nafas. " Sudah lama kau bersama dengannya Ludwig, sudah saatnya kau melepasnya."
" Aku butuh waktu yang tepat. Tidak semudah itu menceraikannya di saat aku tidak punya masalah atau apapun dengannya. Tidak ada alasan Wyn."
" Kau mengaku mandul kan?"
" Iya, sesuai perintahmu." Ludwig menatap kesal pada Wyn yang sedang duduk di kursi kerjanya.
" Kau pakai alasan itu dan ceraikan dia."
" Tidak bisa Wyn."
" Kenapa? Kau menyukainya?"
Ludwig terdiam.
" Kau tidak lupa dengan perjanjian kita kan?"
Ludwig mengepalkan kedua tangannya.
Beberapa bulan lalu, perusahaan Ludwig di ambang kehancuran, sebagai generasi kedua dari W Grup, itu adalah hal yang sangat memalukan. Wyn Weber, kakak kandung Ludwig sekaligus presiden utama W Grup memberikan bantuan pada adiknya dengan syarat, dia harus menikahi putri tunggal dari keluarga Smith dengan cara membantu perusahaan Smith yang hampir gulung tikar.
Tentu semua ada maksud di dalamnya, tidak hanya sekedar membuat Ludwig menjadi korban keserakahan.
" Tunggu sedikit lagi, aku akan mengurus semuanya." Ucap Ludwig pasrah. Dia mulai mengutuk dirinya dengan kejadian beberapa bulan lalu yang tanpa pikir panjang mengiyakan permintaan Wyn, padahal dia tau betul sepak terjang kakaknya.
*
*
Keesokan harinya.
" Semalam, kamu ada tamu kan ?"
Ludwig mengangguk menanggapi pertanyaan Emilia.
" Siapa?"
" Bukan siapa siapa. Habiskan saja makanan mu." Katanya terdengar ketus.
Emilia diam. Kalimat barusan adalah kalimat yang mengharuskannya untuk berhenti bicara ataupun bertanya.
Emilia menatap Ludwig yang masih fokus dengan sarapannya. Agak aneh melihat raut wajahnya yang super dingin. Tidak seperti biasa, meski terkesan cuek, tapi Emilia masih bisa melihat jika ada kehangatan di sana.
" Bagaimana sakit kepalamu?"
Emilia terkesiap, tiba tiba saja Ludwig menanyakan tentang kesehatannya.
" Agak mendingan."
" Sudah ke dokter?"
Emilia mengangguk, kemudian tertunduk dalam.
" Jangan terlalu lelah, perhatikan juga kesehatanmu." Tambah Ludwig.
Emilia semakin tercengang, benarkah yang duduk di depannya ini adalah Ludwig? Sedikit aneh dan tidak biasa menurut nya.
" Terima kasih." Emilia mengeluarkan sebuah kata yang terdengar cukup canggung.
Ludwig kembali melanjutkan sarapannya.
Untuk beberapa saat, Emilia mengumpulkan keberaniannya, mengatakan yang sejujurnya mungkin akan lebih baik daripada harus menyimpan ini terlalu lama. Dengan mengungkapkannya, Emilia mungkin akan lebih tenang.
" Ludwig." Panggil Emilia.
Ludwig mengangkat kepala.
" Kenapa?"
" Ada yang ingin aku katakan."
" Katakan saja."
Emilia mengaduk sereal di mangkuk yang mulai dingin. Ia nampak ragu.
Ludwig menunggu, berhenti menyendok sereal yang sama yang di konsumsi Emilia. Lalu memposisikan kedua tangannya di bawah dagu.
" Apa itu hal penting? Jika tidak, nanti saja. Aku sedang buru buru Emil..."
" Aku hamil."
Hening. Perkataan menggantung Ludwig kini sudah terbawa angin.
Netra hitam pekatnya menatap Emilia tajam.
Tidak ada pergerakan, bahkan posisi Ludwig masih sama dalam keheningan yang sudah berlangsung cukup lama.
Ludwig berdiri sembari mendorong kursinya ke belakang.
" Habiskan sarapanmu, aku berangkat."
Hanya itu, respon Ludwig sungguh tak terduga.
" Apa ini? Bukan seperti itu yang harusnya ia lakukan, harapanku jauh berbeda dari apa yang aku hadapi. Aku semakin serba salah, andai ia datang dan memberiku sedikit pelajaran, mungkin aku akan merasa lebih lega."
Emilia tak mampu berkata kata, ia hanya menatap kepergian Ludwig dengan perasaan berkecamuk.
...****************...
ayo doong... tamatin..
semangat🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥