Aura tiba-tiba harus menikah dengan laki-laki yang selama ini dia cintai dalam diam. Namun sayangnya pernikahan itu hanya dianggap sebagai ajang pembalasan dendam oleh Arga lelaki yang terpaksa menjadikan Aura sebagai pengantin pengganti, karena kepergian Sheila calon istrinya sekaligus sahabat Aura yang memilih pergi bersama cinta pertamanya dan meninggalkan Arga tepat dihari pernikahannya, sehingga Arga terpaksa memilih Aura untuk menggantikannya.
Penasaran dengan ceritanya langsung aja kita baca ...
Yuk ramaikan....
Update setiap hari...
Sebelum lanjut membaca jangan lupa follow, subscribe, like, gift ,vote and komen ya...
Buat yang sudah baca , lanjut terus. Jangan nunggu tamat dulu baru lanjut, dan buat yang belum ayo buruan merapat dan langsung aja ke cerita nya, bacanya yang beruntun ya, jangan loncat atau skip bab....
Selamat membaca ....
Semoga kalian suka dengan cerita nya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Hari ini adalah hari pertama Aura bekerja dan status nya berubah menjadi seorang istri, banyak hal yang harus dihadapi Aura di perusahaan. Meskipun di lingkungan kerjanya tidak ada seorangpun yang membahas tentang pernikahannya dengan Arga yang terkesan mendadak dan dipaksakan , namun dia yakin jika mereka masih ada yang membicarakan nya di belakang.
Inginnya tetap bersikap profesional dan bekerja seperti biasa. Namun, rekan kerjanya menunjukkan sikap sungkan dan lebih formal dari sebelumnya. Dia tidak tahu apakah itu hanya perasaannya saja atau memang demikian adanya , demi menjaga kepercayaan suaminya sudah mengizinkannya untuk tetap bekerja, Aura pun berusaha untuk mengabaikan semua itu.
Hanya Irma , teman sekaligus rekan satu divisi yang tidak berubah dan masih bersikap apa adanya. Selain Sheila yang merupakan teman masa kecilnya di Panti Asuhan, Irma adalah teman dekat yang dimiliki Aura sejak pertama kali dia diterima bekerja.
"Hai, Aura! Apa kabar? cepat sekali kamu masuk kembali bekerja." Irma menyapa Aura di ruang kerja mereka yang luas dan menyatu dengan beberapa rekan satu divisi lainnya. Kecuali kepala Divisi yang memiliki ruangan yang terpisah, tapi masih berada di tempat yang sama.
"Hai, Irma!" Aura pun membalas disertai dengan senyuman khasnya yang penuh keramahan , meja mereka bersebelahan sehingga bisa bekerja sambil sesekali berbincang dengan suara yang dipelankan.
Sambil menyalakan komputer kerja dan memeriksa berkas berkas tugas yang menumpuk di mejanya karena dia memang tidak berencana mengajukan cuti. Aura pun mendengarkan Irma yang masih terus berbicara. Sementara rekan yang lain sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. padahal biasanya mereka juga ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Aku fikir kamu akan mengundurkan diri selama menjadi istri Arga , ternyata, malah secepat ini kamu sudah kembali bekerja . Begitu pula dengan suamimu, dan suara kali ini, Irma benar-benar berbisik yang suaranya hanya bisa didengar oleh Aura.
Irma ingin bercerita tentang banyak hal pada Aura . Namun, dia harus mencari waktu yang tepat dan tidak mengganggu tanggung jawab pekerjaan mereka . Dia berencana untuk mengatakan nya saat jam istirahat makan siang nanti , tapi sayangnya Aura menolak dengan rasa bersalah yang ditunjukkan sangat jelas.
"Aku minta maaf , nanti siang aku harus menemani Pak Arga makan siang di ruangannya. Mungkin lain waktu kita bisa beristirahat bersama lagi." Aura pun tidak bisa membantah perintah suaminya , meski harus menanggung rasa sungkan dan tidak enak hati terhadap temannya.
"Oh oke, tidak masalah . Kewajibanmu harus tetap menjadi nomor satu." Irma pun mengacungkan jempol untuk menunjukkan sikap baik-baik saja.
Setelah itu, mereka pun kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sesekali berlangsung diskusi di ruangan itu, untuk membahas satu atau beberapa acara yang hendak dilaksanakan di perusahaan tersebut. Aura lebih banyak diam dan mencatat pokok bahasan dan hasil kesepakatan tim karena tugasnya memang bukan sebagai pelaksana di lokasi .
Di saat seperti itu, Aura dituntut berkonsentrasi maksimal guna memastikan seluruh acara terselenggara tanpa ada kesalahan dan kekurangan. Sesekali dia juga akan memeriksa langsung ke masing-masing lokasi di lantai yang berbeda , untuk menyusun laporan yang akan di olah ke kepala divisi dan akan diteruskan kepada manajer perusahaan yang selanjutnya akan menyerahkan laporan bulanan kepada Arga selaku pemilik sekaligus pemegang saham atau kekuasaan tertinggi di sana.
Beberapa jam berkutat dengan pekerjaan yang masih menumpuk handphone Aura pun berdering .Lalu dia mengambilnya dan mengangkatnya , setelah melihat nama kontak . *SUAMI* yang tertera sebagai pemanggil. Dia pun menggeser tombol hijau lalu menempelkan benda itu di telinganya.
"Iya? Selamat siang Pak? ada yang bisa saya bantu?"
Sesuai permintaan Arga, Aura harus tetap bersikap profesional selama masih berada di lingkungan kerja. Beberapa pasang mata pun melihat ke arahnya secara diam-diam, seolah tahu siapa yang menghubungi dirinya.
"Keruanganku sekarang!" terdengar suara tegas di dalam panggilan telepon.
" Baik, Pak! saya akan segera menghadap !"
Karena ini sudah mendekati jam istirahat Aura pun membereskan pekerjaan dan menutup perangkat kerjanya. Kemudian Aura pun berpamitan pada Irma kemudian berjalan menuju ke ruangan kepala divisi.
Meskipun yang memanggilnya adalah Arga, dia tetap harus meminta izin pada atasannya karena harus pergi sebelum waktu nya. Seolah sudah mengerti dan memaklumi, Akhir nya sang pimpinan langsung mengabulkan dan mempersilahkan dia meninggal kan ruangan.
Dengan perasaan was was dan jantung yang sudah berdegup kencang Aura pun memasuki lift yang akan membawa nya naik ke lantai paling atas di lantai atas tersebut selain terdapat kamar khusus untuk Arga, juga terdapat ruang kerja .
Selebih nya, pada separuh lantai yang dibatasi dengan larangan private yang tidak boleh dilanggar tersebut, di guna kan sebagai ruang pertemuan yang biasa di guna kan untuk melakukan pertemuan bisnis atau meeting lain yang melibatkan kehadiran Arga secara langsung.
Beberapa menit kemudian, Aura pun keluar dari lift khusus yang langsung terhubung dengan lantai paling atas. Meski pun jarang menginjak kan kaki di sana karena bukan pemegang jabatan apa pun yang biasa mengikuti pertemuan, Aura pun sudah hafal dengan denah lantai tersebut dan keseluruhan 30 lantai yang ada di perusahaan megah milik suami nya itu.
"Aura!"
Wanita itu pun urung menyentuh handle pintu saat mendengar nama nya di panggil oleh seseorang yang tanpa disadari, mengikuti diri nya diam-diam menggunakan tangga manual , dia menoleh ke sumber suara itu dan seketika itu pula wajah nya berubah pucat dan panik.
"Pak Reza?" ucap Aura yang langsung teringat akan ancaman suami nya yang meminta nya untuk menjauhi adik nya yang kini sudah menjadi ipar nya.
Reza pun berjalan cepat ke arah wanita yang masih membuat dirinya cemas dan mengkhawatirkan keadaan nya. Sebaliknya Aura ingin menghindar sebisa mungkin.
"Tunggu, Aura! Aku hanya ingin bicara, sebentar saja!" ucap Reza mencegah Aura pergi dengan suara nya yang lebih keras, saat melihat tangan Aura sudah terulur ke arah pintu.
Dengan nafas yang berpacu cepat karena terburu-buru menaiki tangga setengah berlari untuk mengejar Aura, akhir nya Reza pun sampai di hadapan sang pujaan hati . Aura mundur untuk menjaga jarak, karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman baik di antara mereka atau di mata suami nya jika sampai ada yang mengetahui nya.
"Maaf Pak Reza! saya harus masuk . Pak Arga sudah menunggu di dalam."
"Sebentar saja, Aura!" pinta Reza yang sebenar nya memahami ketakutan wanita itu.
" Jawab pertanyaan ku dan setelah itu aku akan pergi dari sini. "
Terpaksa Aura pun mengangguk karena bagaimana pun juga dia harus tetap menaruh hormat pada lelaki itu.
****************