Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur seranjang
Hai hai, author kembali
jangan lupa like sebelum baca.
________________________
Malam semakin larut. Erwin telah selesai bercerita, ia juga sudah merasa mengantuk. Erwin meminta Tia membawanya ke kamar.
"Ti, kamu mengerti, kan, kenapa aku berpura-pura lumpuh seperti ini?"
"Supaya pamannya Mas Erwin tidak mencelakakan Mas lagi. Aku benar, kan?"
"Benar. Jadi, kamu tidak boleh mengatakan hal ini pada siapa pun. Awas saja kalau bicara pada orang lain!" ancam Erwin.
Ancaman Erwin kali ini tidak terdengar menakutkan seperti biasanya. Tia tersenyum dan mengangguk, menanggapi ancaman itu dengan santai. Tia mendorong kursi roda dan membuka pintu, lalu menutup kembali pintunya setelah Erwin di luar ruang baca.
Dari sudut ruang tamu, mata-mata itu mengintip. Ia memotret Erwin dan Tia yang naik menuju kamar. Ia lupa mematikan suara kamera.
Cekrek!
Tia dan Erwin mendengarnya. Saat Tia hendak menoleh, Erwin melarangnya. Mereka berpura-pura tidak mendengar dan masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu.
"Mas!" bisik Tia.
"Apa?" Erwin menjawab pelan.
"Tadi ... kenapa aku tidak boleh menoleh?"
"Dia mata-mata yang disewa pamanku. Kalau kamu menoleh, dia akan tahu dan rencanaku hancur. Aku sengaja berpura-pura tidak tahu selama ini. Selama ini, itu berhasil membuat Paman Rudi percaya kalau aku memang sakit parah. Jadi, kamu juga harus ikut berpura-pura, oke," terang Erwin.
"Oh. Oke, Mas."
Erwin bangun dan melipat kursi rodanya. Ia menarik tangannya ke atas tinggi-tinggi untuk melakukan peregangan. Tubuhnya terasa kaku dan pegal-pegal.
Tia mengedarkan pandangannya. Tadi siang, Tia tidak merasa khawatir saat tidur dalam satu kamar. Namun, sekarang Tia tahu kalau Erwin tidak sakit dan baik-baik saja. Ia merasa cemas kalau harus tidur sekamar dengannya. Apalagi, sejak tadi Erwin selalu mengucapkan kata-kata manis. Terlihat sekali kalau Erwin sudah biasa merayu wanita.
"Kenapa? Kamu selalu melamun, membuatku heran saja. Apa yang kamu pikirkan sekarang?" Erwin melangkah dan berhenti dua langkah di depan Tia.
"Itu ... Mas. Bisakah aku tidur di kamar lain saja," pinta Tia.
"Nanti ketahuan, dong, kalau kamu tidur terpisah. Lagipula, kita, kan, sepasang kekasih. Apa kamu tidak senang melihatku setiap waktu?"
"Hah, ke-kekasih? Sejak kapan?" Tia melebarkan matanya. Menatap manik hazel mata Erwin yang tidak lepas memandangi dirinya.
"Aku sudah mengatakan semua isi hatiku padamu. Aku dan kamu juga sudah berciuman, lalu kenapa kamu masih tidak mengerti juga," gerutu Erwin.
"Mas."
"Apa lagi?"
"Cinta itu penyakit mematikan, ya?"
Erwin tersenyum geli. Jika gadis lain yang bertanya seperti itu, Erwin akan menganggapnya pembohong. Tapi, Tia ... gadis itu benar-benar masih polos. Erwin tahu, pertanyaan itu serius.
"Selama kamu sekolah ... apa kamu tidak melihat teman-teman kamu pacaran?"
"Aku sekolah di sekolah khusus wanita. Semuanya wanita, mana ada yang pacaran. Lagipula, kenapa ditanya malah balik bertanya. Aneh," sungut Tia.
"Bu Esih sepertinya sangat melindungimu dari para lelaki. Apa kamu punya ponsel?"
"Tidak."
"Baguslah. Berarti kamu memang gadis polos. Karena yang sudah memegang ponsel, biasanya mereka sudah pintar dan banyak mengerti hal yang menjurus ke sana." Erwin menarik tangan Tia dan membawanya duduk di tepi tempat tidur.
"Jadi, jawabannya apa?"
"Akan aku jelaskan sejelas-jelasnya padamu malam ini. Cinta itu bukanlah sebuah penyakit. Cinta adalah rasa yang menyatukan dua hati manusia. Perasaan cinta itu yang membuat kedua orang tuamu bersatu. Menikah, saling menyayangi, dan membawa kamu ke dunia.
"Perasaan yang tumbuh tanpa tahu kapan dan pada siapa cinta itu terjatuh. Baru dua hari kamu berada di sisiku, tapi aku sudah merasa nyaman. Aku baru menyadari kalau perasaan nyaman itu semakin lama semakin jelas. Aku merasa nyaman karena aku jatuh cinta padamu." Erwin menangkup wajah Tia. Menengadahkan pandangan Tia agar menatapnya.
"Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku, Mas? Kamu dan aku belum lama saling kenal. Itu ... aneh," celetuk Tia.
Pletak!
"Aww! Mas! Sakit, tau. Kebiasaan, deh, suka menyentil keningku," ketus Tia. Ia mengusap keningnya.
"Aku, kan, sudah menjelaskan tadi. Cinta itu tidak bisa diduga-duga, kapan dan pada siapa. Masih bertanya lagi," jawab Erwin sambil mengusap kening Tia.
"Sekarang aku ingin bertanya serius. Apa kamu menyukaiku?"
"Em, itu ... aku tidak tahu, Mas."
"Kok, tidak tahu? Perasaan kamu saat di dekat aku itu seperti apa?" Erwin menjadi bingung mengartikannya.
"Bagaimana, ya? Aku benar-benar tidak tahu," ucap Tia, murung.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya mulai sekarang, kamu ... pacar aku, kekasih aku, mengerti!" tegas Erwin. "Tapi, jangan sampai orang lain tahu. Karena itu berbahaya untukmu. Aku tidak mau ... kalau kamu sampai berada dalam bahaya." Erwin mengambil kasur lantai dan menaruhnya berdiri di dekat jendela.
"Lho, Mas. Kenapa dibawa ke sana?" tanya Tia heran.
"Tidur di ranjang saja. Di bawah dingin." Erwin membuka bajunya.
"Tidak mau. Kata Mama, tidak boleh tidur dengan laki-laki." Tia berbalik membelakangi Erwin saat pria itu membuka baju.
Erwin tidak terbiasa tidur memakai baju. Ia lebih suka tubuh bagian atasnya polos tanpa baju. Itu lebih nyaman bagi Erwin.
Ia menghampiri Tia yang berdiri menghadap pintu kamar. Tanpa izin, Erwin menggendong Tia dan membaringkan tubuhnya di tengah ranjang. Erwin segera berbaring disampingnya dan memeluk Tia dari belakang.
"Tidak akan ada apapun kalau kamu diam dan tidur sekarang. Aku sangat mengantuk." Erwin memeluk pinggang Tia erat.
Bagaimana aku bisa tidur? Suara detak jantungku terdengar bertalu. Tubuhku juga terasa sesak karena pelukannya. Tapi, aku merasa bahagia. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Benarkah aku jatuh cinta padanya?
Napas Erwin terdengar mengembus teratur. Ia sudah terbang ke alam mimpi, meninggalkan Tia yang masih belum bisa terlelap. Ia masih memikirkan perkataan Erwin tentang apa yang dinamakan cinta. Ada rasa lega saat mengingat bahwa cinta bukanlah suatu penyakit. Namun, ia menjadi penasaran. Seperti apa tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta.
Erwin menanyakan bagaimana perasaannya, tapi Tia tidak dapat menjawab. Tia tidak tahu perasaan hatinya sendiri karena ia sungguh belum pernah merasakan jatuh cinta. Haruskah ia tanyakan hal itu juga pada Erwin? tanya Tia dalam hati.
Sekarang aku harus tidur. Aku sangat mengantuk, tapi tidak bisa tidur kalau begini.
Tia melepaskan satu persatu tangan yang memeluk pinggangnya dengan hati-hati. Ia tidak mau membangunkan Erwin. Setelah terlepas dari pelukan Erwin, Tia mengambil kasur lantai itu dan berbaring dengan nyaman di atasnya. Tidak berapa lama, ia pun terlelap.
***
Jam satu dini hari, Erwin terbangun. Ia mengangkat tubuh Tia perlahan lalu membaringkannya kembali di ranjang. Erwin kembali memeluknya. Pelukannya tidak seperti tadi, ia sedikit melonggarkan pelukannya. Erwin mengecup kening Tia dan memejamkan matanya untuk tidur lagi.
BERSAMBUNG
_______________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers tersayang.
love love....