Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
"Sebaiknya kamu fikirkan dulu nak, Ibu dan Bapak tidak memaksa kamu. Jika memang kamu sudah memiliki seseorang yang mengisi hati kamu, Ibu dan Bapak akan mendukung semua keputusan kamu. Karena bagi Ibu dan Bapak, kebahagiaan kamu paling utama" ucap Ibu Nining sangat bijaksana.
'Bagaimana aku bisa menolaknya Bu? Jika Ibu mengatakan seperti ini? Aku juga tidak mungkin menyakiti perasaan Ibu dan Bapak karena penolakan aku. Tapi, aku juga tidak mungkin menyakiti perasaan Fania. Dia pasti akan sangat kecewa dan bahkan membenci aku. Ya Allah, tunjukilah jalan terbaik untuk hamba Mu ini Ya Allah' ucap Adji dalam hati yang merasa dilema akan semua keputusan tersulit dalam hidupnya ini.
"Kenapa diam nak? Jangan membuat ini semua menjadi beban dalam hidup kamu. Kami hanya menyampaikan nya saja, jadi semua keputusan ada padamu kamu dan Bapak dan Ibu tidak ingin memaksakan juga membuat kamu diam seperti ini" ucap Pak Budi yang menepuk bahu Adji.
"Aku akan memikirkan nya dulu Pak, Bu. Mungkin besok aku juga akan membicarakan ini kepada Nona Clarissa nya langsung. Karena ini semua juga menyangkut padanya, maka aku ingin berbicara dulu" ucap Adji yang menunduk dan beberapa kali menghela nafasnya.
Perasaan nya berkecamuk, disuatu sisi merasa bersalah pada Fania jika dia mau menerima perjodohan ini. Tapi dia juga tidak ingin menjadi anak durhaka yang tidak mau menuruti keinginan kedua orang tuanya.
Walau mereka berdua tidak memaksakan nya, tapi tetap saja. Jika dia dalam dilema, dilema yang mungkin akan membuatnya semakin tersiksa akan keputusan yang dia ambil nantinya.
"Ya sudah nak, kamu istirahatlah. Sebaiknya memang harus berbicara langsung dengan Nona Clarissa. Supaya bisa saling diskusi" ucap Ibu Nining sambil mengusap lengan Adji.
"Baiklah Bu, Pak. Adji kekamar dulu" ucap Adji yang segera bangkit dari duduknya menuju kamarnya.
"Ya Allah, apa yang harus aku perbuat? Ini sangat membuat aku bingung, disuatu sisi aku sangat mencintai Fania. Dilain sisi ada Ibu dan Bapak yang sangat aku cintai lebih dari segalanya. Apa yang harus aku pilih dan aku ambil? Kenapa harus seperti ini Ya Allah?" gumam Adji yang sudah merebahkan dirinya diatas ranjang sambil menutup matanya menggunakan lengan nya sendiri.
"Tunjukilah jalan yang mudah untuk hamba Ya Allah. Hamba benar-benar berada dalam dilema yang sangat berat" ucapnya sambil memejamkan matanya.
.
Sedangkan tidak jauh berbeda dengan Adji. Clarissa juga sedang didalam kamarnya sedang marah-marah dan melemparkan semua barang-barang yang ada didalam kamarnya.
'Sial-sial... Sial-sial!!! Kenapa harus seperti ini. Apa tidak ada cara lain lagi selain hanya menikah dengan nya? Kenapa Tuhan... Kenapa aku harus seperti ini? Aku tidak mungkin menerimanya, apa lagi dia itu sangat aku benci. Aku sangat membencinya!' teriak batin Clarissa yang sangat marah dan akan membenci Adji.
'Jika seperti ini aku harus membuat perjanjian dulu sebelum adanya pernikahan' fikir Clarissa yang akan langsung membuat surat perjanjian. Entah perjanjian seperti apa.
Semalaman ini Clarissa tidak bisa tidur dengan tenang. Apa lagi jika sudah seperti ini dia selalu mengingat kejadian kelam saat dia sedang diculik dulu.
Flashback On...
"Mama dan Papa akan kemana? Kenapa Ica nggak boleh ikut?" tanya Clarissa kecil dulu.
"Mama dan Papa harus pergi sebentar dan hanya perjalanan bisnis saja. Ica disini dengan bibik ya, Mama dan Papa sebentar kok" ucap Mama Dania saat Clarissa kecil merengek ingin ikut dengan mereka.
"Tapi Ica mau ikut. Ica nggak mau sama bibik disini, apa lagi sang anak bisu itu" ucap Clarissa sambil menunjuk anak laki-laki yang hanya diam saja.
"Ica! Jaga bicara kamu. Papa tidak suka kamu bicara seperti itu, itu tidak sopan" ucap Papa Nadi dengan tegas dan dia menaikan suaranya.
"Aku benci Papa! Aku benci kalian semua" teriak Clarissa kecil sambil berlari pergi dari rumah.
"Ica, kamu mau kemana nak? Jangan pergi" ucap Mama Dania dan Papa Nadi saat mengejar Clarissa kecil.
"Aku mau pergi! Aku benci Mama dan Papa! Mama dan Papa tidak sayang lagi sama Ica" teriak Clarissa kecil sambil terus berlari.
"Mama sama Papa sangat menyayangi Ica, mana mungkin kami tidak sayang. Kamu adalah segalanya bagi Mama dan Papa sayang" teriak Mama Dania lagi sambil terus berlari mengejar Clarissa kecil.
"Aku tidak percaya" teriak Clarissa kecil yang semakin jauh dan semakin tidak terlihat lagi oleh kedua orang tuanya.
"Pa, Clarissa kemana? Kenapa dia tidak terlihat lagi" tanya Mama Dania yang melihat ke berbagai arah tidak ada.
"Papa juga tidak tahu Ma. Dia sudah tidak terlihat lagi, kita cari berpencar saja Ma" jawab Papa Nadi yang meminta Mama Dania berpencar.
"Baiklah Pa, Mama tidak mau jika Clarissa kenapa-kenapa. Mama tidak mau, jika tahu begini, tadi kita ajak saja Clarissa bersama dengan kita" ucap Mama Dania yang menangis dan segera pergi mencari Clarissa kecil.
.
Sedangkan Clarissa kecil bingung dia berada dimana. Dia melihat-lihat jalan yang dia lewati sama, bahkan dia mulai menangis dan ketakutan.
"Mama, Papa... Ica dimana?" gumam Clarissa kecil sambil terus berjalan tidak tentu arah.
Clarissa kecil terus berjalan hingga semakin jauh dan jauh lagi. Dia sudah kelaparan dan bahkan kehausan.
"Mama, Papa... Aku takut, aku mau pulang" ucap Clarissa kecil yang sedang duduk ditepi hutan.
Hingga tiba-tiba ada beberapa orang yang datang menghampiri Clarissa kecil dan mengajaknya untuk ikut dengan mereka.
Karena memang sudah sangat lemas dan juga lapar. Clarissa kecil mau ikut bersama mereka tanpa adanya perlawanan, dia ikut dengan mereka dan langsung menuju tempat yang entah tempat apa sebenarnya.
"Apa kau lapar anak kecil?" tanya pria bertubuh besar itu pada Clarissa kecil.
"Iya Om, aku sangat lapar dan haus" jawab Clarissa kecil dengan lemas dan juga sangat pasrah.
"Baiklah, ini. Kau makanlah" ucap pria tersebut pada Clarissa kecil.
"Ini makanan apaan Om? Ini bukan makanan! Aku tidak mau makan makanan seperti ini! Aku ingin ayam dan daging" ucap Clarissa melemparkan makanan yang hanya berlauk kan tahu dan tempe.
"Kau! Jika kau tidak mau makan, seharusnya kau jangan membuang-buang makanan! Karena kau sudah membuangnya. Maka, jangan berharap bisa mendapatkan makanan lagi setelah ini" ucap pria bertubuh besar tersebut sambil mencengkram kedua pipi Clarissa kecil.
"Lepaskan aku! Aku mau pulang! Om adalah orang jahat. Aku mau pulang" teriak Clarissa sambil terus menangis dan memukul-mukul pria bertubuh besar tersebut.
"Diam! Diam! Jangan berteriak dan jangan membantah. Jika kau masih ingin hidup. Maka, diamlah!" ucap pria besar tersebut sambil menghempaskan tubuh kecil Clarisa yang sedang menangis sesegukan sambil teriak-teriak.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu