Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Febian terkejut dan penasaran dengan suara gaduh di depan. Ia lalu keluar dari kamar menuju depan. Clara pun membututi suaminya dari belakang. Menunda masakannya di dapur.
"Ada apa, Pah?" tanya Febian.
"Justin, Feb! Justin ada dirumah sakit, ia kena luka tusuk di bagian perut. Pelakunya anak motor!" jelas Darmawan.
Febian sudah menduga anak motor itu adalah genk Badik. Musuh bebuyutan Justin.
"Biadab! Anak-anak itu harus di tangkap!" ucap Febian.
"Febian, ayo kita kerumah sakit! Kamu juga ikut, Jihan. Rumah ini biar istri kamu Clara yang nunggu," tegas Darmawan.
"Ayo, Pah. Sayang, kamu tunggu rumah, yah?" sahut Febian.
Clara mengangguk, ia pun ikut shock.
Sesampainya dirumah sakit, Justin belum tersadar, kondisinya semakin melemah karena Justin banyak darah. Darmawan, Febian dan juga duduk diruang tunggu. Jihan masih menangis pilu. Febian mendekati untuk coba menengkan nya.
Udah, Jihan. Kamu jangan nangis terus, doakan aja Justin supaya cepat sadar!"
"Iya, Kak."
Jihan menghapus air matanya. Darmawan juga mendekati Jihan, ia merasa tidak enak dengan keluarga Jihan takut mencarinya.
"Jihan, sebaiknya kamu pulang dulu, nanti orang tua kamu khawatit nyariin kamu. Ini, bapak kasih ongkos buat naik Taksi."
"Engga usah, Pak. Saya akan tetap nunggu Justin, sampe dia sadar, kalo boleh saya pinjam hp buat nelpon abi sama umi saya."
Dengan cekatan Darmawan lalu memberikan HP miliknya kepada Jihan.
"Ini. Kamu hafal kan nomer keluarga kamu?"
"Iya. Saya hafal."
Jihan menghubungi abi Akbar yang ikut kaget setelah mendengar kejadian itu dari Jihan. Abi Akbar mengizinkan Jihan menginap dirumah sakit.
Kedua mata Justin masih tertutup, selang trombosit melingkari bawah hidungnya. Layar komputer kecil masih bergaris zig-zag. Jihan terus mendampingi Justin duduk disamping, hati tak henti berdoa.
Kurang dari 24 jam para pelaku akhirnya berhasil diringkus polisi dari laporan Febian. Ia pun dalam penyergapan itu saat para genk Badik tengah berpesta miras di sebuah rumah kosong. Hingga mereka kalang kabut saat polisi datang. Tapi tidak ada yang berhasil lolos dari penyergapan itu. Amarah Febian tak tertahan, ia lalu memukul pentolan genk Badik yang sudah di borgol.
Puk!
"Bajingan lu semua! Gua ga terima adek sampe parah di aniaya sama lu pada!"
Salah seorang polisi melerai Febian.
"Udah! Biar hukum yang mengadilinya. Kamu jangan ikut anarkis!"
Malam itu, Jihan tertidur disamping Justin yang masih belum sadar dari komanya. Seperti biasa tiap pukul satu lebih Jihan selalu bangun untuk sholat tahajud. Jihan membuka matanya dan meluruskan kepalanya, Justin masih terpejam. Jihan lalu keluar sebentar untuk mengambil wudhu di kamar mandi rumah sakit. Darmawan tidur di ruang tunggu sedangkan Febian masih memproses para pelaku. Selesai berwudhu, Jihan lalu melaksanakan sholat tahajud di mushola rumah sakit yang sudah tersedia mukena. Selesai sholat, Jihan berdoa, karena doa adalah senjata ampuh umat muslim. Dengan diiringi deraian air mata, Jihan mengucapkan doa tulus itu kepada Allah swt.
"Ya Allah, yang maha berkuasa segalanya. Hamba pasrah dan coba ikhlas kalau memang ajal Justin sampai disini, meski berat hati. Tapi, kalau masih ada cerita dengan hamba, maka sadarkanlah dia, sembuhkanlah."
Jihan kembali keruangan pasien, Jihan duduk dibawah dengan beralas sajadah. Tanpa sepengetahuannya, layar komputer sudah bergaris lurus pertanda jantung Justin sudah tak lagi berdetak. Karena Jihan tidak memperhatikan garis dikompoter itu. Jihan masih tidak bisa tidur kembali, mendadak terbesit di hatinya ingin membaca al-quran. Jihan lalu melantunkannya. Ia membaca beberapa ayat dengan nada merdu dan indah, karena Jihan sudah hafal beberapa juz al-quran. Keajaiban terjadi, garis yang ada di layar komputer yang sudah lurus tanpa suara berubah zig-zag kembali. Perlahan-lahan kedua mata Justin terbuka. Wajahnya menoleh kesamping, melihat Jihan sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-quran yang memang di wabil khususkan untuk Justin. Dengan suara pelan Justin memanggilnya
"Jihan ..."
Gadis bercadar itu menoleh kearah Justin yang tersenyum melihatnya. Sontak Jihan gembira sekali.
"Subhanallah ... Allahu akbar ... Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Justin!"
Jihan mendekati Justin sambil menangis haru di hiasi senyum di balik cadarnya.
"Jus, akhirnya kamu sadar juga..hiks.."
"Jihan ..."
"Justin ..."
"Jihan ... aku sayang kamu, aku masih hidup Jihan ... aku hidup buat kamu, buat bahagiain kamu" tutur Justin yang juga meneteskan air mata.
"Ya, aku juga sayang kamu. Aku belum ikhlas kamu pergi, karena aku selalu butuh kamu," tutur Jihan.
Keduanya hening sejenak, dan Justin kembali berkata.
"Jihan ... setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mengkhitbah kamu. Aku ingin melihat wajah kamu," ucap Justin.
"Dengan senang hati, aku tunggu khitbah dari kamu." Sahut Jihan merdu.
Darmawan dan Febrian pun masuk kamar pasien, menghampiri Justin dan memeluk Justin dengan tangis haru. Mereka pun larut dalam tangis kasih sayang.
Beberapa hari telah berlalu, akhirnya Justin sudah di perbolehkan pulang, karena keadaan nya udah membaik, hampir 90% keadaan nya sudah pulih kembali. Selama drumah sakit Jihan selalu menemani Justin, dan tak mau jauh dari nya. Justin dangat bersyukur akan itu.
Pagi yang cerah ini Justin memutuskan untuk pergi kerumah jihan dan mengajak Jihan keliling taman. Dengan izin abi Akbar dan umi Linda mereka pun pergi ketaman.
Sepanjang perjalanan mereka asik bercanda gurau menikmati indah nya pepohonan dipinggir jalan sana, karena taman dari rumah Jihan tidak terlalu jauh. Sesampai ditaman mereka menikmati sejuk nya udara disana, melihat bunga bunga yang bermekaran dan tak lupa dengan kupu kupu yang berterbangan. Mereka berdua duduk di bangku yang sudah disedia kan disana dan mulai berbica.
"Jihan, nanti malam aku akan bicarakan soal mengkhitabah kan kamu sama papah, dan besok insyaallah aku akan datang mengkhitbah kamu" ucap Justin
Jihan tersenyum dibalik cadarnya "aku tunggu kedatangan mu besok Jus"
"Iya, tunggu aku yah.."
"Iya.."
Malam telah tiba Justin sudah membicarakan soal pengkhitbahan itu kepada keluarganya, dan mereka setuju bahkan mendukung. Khitbah adalah sebuah cara ikatan sepasang insan secara islam. Justin semakin rajin mengaji, al-hasil bacaannya qur'annya, dah cukup lumayan. Dan dia sudah hafal beberapa ayat, karena Justin sudah memiliki rasa tanggung jawab, akan mengimami perempuan seperti Jihan.
Kabar buruk terjadi pada Cici, dia di ciduk oleh polisi di kost bersama teman-temannya saat menggunakan barang-barang perusak generasi muda. Sekarang, Cici harus ditahan karena penyalahgunaan narkoba. Darmawan sempat menjenguknya, karena Cici masih ada ikatan darah dengannya.
"Ini pelajaran buat kamu, setelah keluar, bertobatlah dan jangan menggunakan barang haram itu lagi " ujar Darmawan.
"Iya. Maafin saya, Om!" sahut Cici terisak.