Kehidupan dia insang yang saling mencintai baru saja di mulai. Delia dan Dafa sangat bahagia dengan pernikahan tersebut. Delia memutuskan untuk menerima Risa, adiknya agar bisa tinggal bersamanya. Namun, keputusan tersebut adalah sebuah kutukan yang mampu menghancurkan kehidupan barunya...
Apa yang terjadi pada pernikahan mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shangrai Hark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah dicoba?
Hari di mana keberangkatan Dafa dan Risa untuk perjalanan dinas mereka. Delia memasak begitu banyak menu makanan, ia menyiapkan semuanya dari subuh.
Senyuman terurai di wajahnya. Entah apa yang merasuki Delia kala itu. Namun, bagaimana pun itu Dafa merasa sangat lega ketika senyuman Delia menghiasi paginya.
Delia memanggil ibu mertuanya untuk mengikuti sarapan. Berteriak memanggil ibu mertuanya dengan sangat antusias. Terlihat tidak sopan. Tapi, dari sudut pandang Delia semua itu terasa menghangatkan.
“Berteriak seperti anak kecil. Di mana sopan santunmu,” Untuk sekian kalinya Yessi bertanya tentang etika Delia.
Namun kali ini Delia tidak menghiraukannya, Delia hanya berkata maaf seraya tersenyum.
Sejujurnya Yessi benar benar tidak menyukai sifat Delia yang menurutnya amat sangat kekanak-kanakakan.
Yessi duduk dengan kesal, sementara Dafa dan Risa secara kebetulan duduk bersampingan. Itu membuat Dafa tidak nyaman dan hendak pindah dari tempatnya. Tapi, Delia tetiba saja menyajikan sepiring nasi beserta lauk pauk di depannya.
Dafa tidak bisa berpindah dan pada akhirnya tetap duduk di samping risa.meja mereka begitu luar, terlebih dengan beberapa kursi yang kosong membuat meja makan terlihat sunyi.
Namun ketika Delia yang melihatnya, bibir wanita itu terangkat, memperlihatkan senyum bahagia ke beberapa kursi tersebut. Seolah tengah menunggu sesuatu yang sangat membahagiakan.
Saat semua menyelesaikan makan mereka. Kini lima penghuni rumah berada di pintu utama untuk mengantar Risa dan Dafa keluar rumah.
Dengan lembut Dafa menciumi dahi Delia, lalu melambaikan tangannya seraya berjalan menuju mobil, tentunya semua dilakukan di hadapan Yessi.
Tentunya Risa tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menumpang. Seperti yang biasa Risa lakukan, kini dilakukan lagi untuk kesekian kalinya.
Mendekati Dafa dengan inisiatifnya. Risa bldengan sengaja berpura pura kesusahan saat memasang sabuk pengamannya.
Dan hal itu berakhir pada Dafa yang membantu. Sedangkan mereka masih berada di depan rumah.
“Terimakasih telah membantu, kakak ipar.” Ucap Risa dengan mendapat senyuman sebagai balasan.
Wanita itu menyadarinya. Semenjak Delia sakit, Dafa sedikit mengabaikan dirinya. Risa tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Maka dari itu, ia akan memulainya lagi.
Sesampainya di restoran dekat tempat kerja Risa. Dafa menghentikan mobilnya. “Kamu ingat untuk meminum obat itu bukan? ” Pertanyaan Dafa tentu mengarah pada kejadian malam itu.
Tanpa menjawab, Risa menggigit bibirnya dan membuat Dafa memperhatikan bibir merahnya yang sexy. Sementara itu, tangan Risa dengan pelan membuka kancing kemejanya sendiri satu persatu.
Mata Dafa juga mengikuti tangan Risa yang bergerak menyentuh dirinya sendiri. Dafa mengepalkan tangannya dan menahan hasratnya agar tidak menyentuh Risa lagi.
Bibirnya mulai kering ketika menahan semua itu. Dafa menjilati bibirnya sendiri, bertujuan untuk membasahinya. Namun, itu malah menambah-nambahkan hasratnya dan mulai berimajinasi. Memandangi leher dan belahan dada yang telah terbuka.
Memulai pagi dengan hal yang amat panas, haruskan dicoba? Hanya itu yang mampu Dafa pikirkan.
Sudah merasa sangat tidak tahan Dafa mulai mencium rakus bibir Risa. Tangannya bahkan terus saja menjelajahi tubuh wanita itu.
Membuka pakaian Risa dengan cepat hingga ke kancing-kancingnya yang putus karena tenaga yang berlebihan. Risa merasa sedikit geli sekaligus nikmat ketika lehernya sendiri dicium dan dijilati. Sesekali Risa tidak bisa menahan erangannya dan berakhir dengan *******.
Baru saja ingin melepas pengait yang menutupi buah dada Risa. Ponsel Dafa tetiba saja berbunyi dengan nyaring dan keras.
Tentunya Dafa dengan cepat melepaskan ciuman tersebut. Dafa melihat betapa berantakannya Risa karena ulahnya seraya terengah-engah mengatur nafasnya. Sempatnya mereka tidak bisa bernafas karena tindakan Dafa yang sedikit kasar.
Bukan panggilan masuk melainkan hanya sebuah alarm pengingat, jika dirinya harus dengan cepat sampai ke kantor sebelum alarm pengingat berikutnya berbunyi.
Risa mengerti hal itu dan mengganti pakaiannya. Seolah sudah direncanakan, Risa mengambil pakaian kemeja lainnya di tas kecil yang ia pakai.
Tentunya Dafa tidak menyadari hal itu. Pikirannya lagi lagi kembali buncah, memikirkan perilakunya yang buruk dan tidak bisa diatur.
Risa merapikan kembali pakaiannya dan memperbaiki juga riasan wajahnya yang acak acakan. Beberapa menit berlalu, setelahnya Risa keluar dan berkata maaf setelah kesunyian yang panjang dalam mobil itu.
Kesunyian? Yang benar saja. Dafa menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat.
😡😡😡
aku maraton sampai disini.
masa suami udah gak peduli lagi...
😭😭
😡😡😡
Tak hbis pikir sama iblis...
bisa kamu gencet terus nyonya
Aku punya banyak stok..
🔪🔪🔪
..