Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Dante datang untuk makan malam, rutinitas yang, menjadi kebiasaan setiap kali Mentari datang, yang artinya setiap hari. Setelah makan malam, ketika Mentari membawa Lingga ke kamar kerjanya, Jenaka memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara empat mata dengan Dante.
Mereka menuju taman dan duduk di salah satu bangku kayu yang terdapat di sana. Jenaka mendongak ke arah taburan bintang yang tampak jelas di bentangan langit malam yang cerah. “Aku kesulitan menghadapi Tari,” ucap Jenaka tanpa basa-basi.
Dante mengembuskan napas. “Aku tahu. Aku juga menemukan kesulitan menghadapinya sejak Lingga mengalami kecelakaan. Aku mengerti perasaan Tari, tapi tetap saja kelakuannya membuatku gila.”
“Hari ini Lingga menyinggung sedikit mengenai dia membesarkan Tari.”
“Bisa dikatakan begitu. Saat Tari berumur tiga belas, ibu mereka meninggal, dan itu membuatnya terguncang hebat. Butuh berminggu-minggu baru Tari bisa tenang kalau Lingga hilang dari pandangan. Pasti rasanya seolah semua orang yang dia sayang meninggal. Pertama ayahnya, setelah itu ibunya. Tari sangat dekat dengan ibunya. Aku tahu dia takut hal buruk akan menimpa Lingga, tapi pada saat yang sama aku membenci situasi ini.”
"Janji untuk setia sehidup semati kakak beradik," ucap Jenaka, sedikit sedih.
“Tepat sekali. Sungguh aku menginginkan istriku kembali.”
“Kata Lingga, kau tidak memperhatikan Tari, kau terlalu larut dalam pekerjaanmu.”
Dante mengusap tengkuk dengan jemarinya yang resah. “Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, dengan kondisi Lingga seperti ini semua beban tanggung jawab perusahaan dengan 10.000 karyawan ada di pundakku. Demi Tuhan apa pun rela kuberikan demi mendapatkan sedikit saja perhatian dan kasih sayang lembut yang Tari curahkan untuk Lingga setiap hari saat aku pulang.”
“Aku sudah berbicara pada Rani tentang penggantian kunci rumah, tapi makin kupikirkan, aku makin merasa ide itu tidak terlalu bagus,” ucap Jenaka jujur. “Lingga akan gusar kalau adiknya tidak bisa masuk rumah. Masalahnya, aku tidak bisa membuat Lingga mematuhi jadwal terapi kalau Tari terus mengganggu.”
“Kita lihat saja apa yang bisa kulakukan,” ucap Dante sangsi.
"Aku mengandalkanmu untuk memikirkan sesuatu yang bisa menyibukkan Tari.”
“Andai aku bisa, pasti sudah kulakukan sejak lama,” ucap Dantedengan muak. “Selain menculik Tari, aku tidak bisa memikirkan gagasan lain yang akan berhasil.”
“Kalau begitu, mengapa tidak kaulakukan?” tanya Jenaka.
“Apa?” Dante terkejut.
“Menculik istrimu sendiri kemudian membawanya menikmati bulan madu kedua."
“Bulan madu kedua? Kedengarannya ide bagus,” Dante mengakui. “Tapi tidak mungkin aku lakukan, sebab aku tidak punya waktu luang hingga Lingga bisa bekerja lagi dan mengambil alih urusan bisnis. Ada ide lain?”
Jenaka menggeleng. "Aku tidak mengenal Tari sebaik kau mengenalnya, tapi yang jelas aku butuh privasi untuk melatih Lingga.”
“Kalau begitu, kau akan mendapatkan privasi itu,” Dante berjanji setelah berpikir sesaat. “Aku tidak tahu harus melakukan apa, tapi aku akan menjauhkan istriku sebisa mungkin. Kecuali Lingga benar-benar meninggal, seharusnya dia tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa dia lebih memilih kau dari pada adik yang mencerewetinya.”
Jenaka melihat pada dirinya, Lingga adalah pasiennya, tidak mungkin orang seperti Lingga mau dengan dirinya. Ini bukan soal bertentangan dengan etika profesional, tapi hal itu mustahil bagi Jenaka.
“Jenaka?” Dante memanggil, suaranya rendah dan terdengar bingung. “Apa ada yang tidak beres?” Dante menyentuh lengan Jenaka, hal ini membuat Jenaka tersenyak, seolah ia tersengat aliran listrik. "Jenaka?"
Jenaka menggeleng. "Tidak ada, aku harus istirahat. Selamat malam,” ucapnya sembari cepat-cepat, lalu beranjak meninggalkan Dante.
Jenaka masuk ke rumah dan hampir menabrak Mentari, yang pada saat bersamaan melangkah keluar ke halaman.
“Ternyata kau di sini,” ucap Mentari. “Kakakku sudah tidur. Dia kelelahan.”
“Ya, aku sudah menduga dia akan kelelahan,” ucap Jenaka, merespons Mentari dengan suara datar. Tiba-tiba ia juga merasa lelah dan tak mampu menahan menguap. “Maaf,” katanya. “Hari ini melelahkan.”
Mentari menatap heran. “Kalau begitu, aku dan Dante akan pulang. Aku tidak ingin membuatmu terjaga lebih lama. Aku akan menengok kakakku lagi besok.”
“Besok aku berencana meningkatkan latihannya,” Jenaka memberitahu Mentari, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memberitahunya bahwa kehadiran Mentari hanya akan mengganggu. “Akan lebih baik kalau kau menunggu hingga agak sore, mungkin selewat pukul empat," lanjut Jenaka.
“Tapi itu terlalu berat!” Mentari terkesiap. “Kondisi kakakku belum cukup kuat.”
“Hingga saat ini, masih aku yang lebih banyak melakukan gerakan,” Jenaka mencoba menenangkan Mentari. “Aku akan berhati-hati dan tidak membiarkan dia melakukan latihan terlalu berat.”
Mentari hanya mengangguk. “Aku mengerti,” ucapnya dengan dingin. “Baiklah. Aku akan menengok kakakku pukul empat besok.” ia berlalu meninggalkan Jenaka, dan Jenaka pun masuk ke rumah.
'Ini sungguh keajaiban, batin Jenaka saat ia menaiki tangga. Ia hanya perlu mengatakan bahwa Lingga akan sibuk, dan meskipun Mentari tidak senang dengan situasi itu, dia setuju.
Setelah berganti pakaian untuk tidur, Jenaka mengetuk pelan pintu kamar Lingga, ia tidak mendengar jawaban. Jenaka membuka pintu untuk mengintip, Lingga tidur pulas, posisinya telentang, kepala menempel di bahu. Dengan penerangan yang minim Lingga kelihatan lebih muda, garis-garis penderitaannya sekarang tidak kelihatan.
Pelan-pelan Jenaka menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Ia amat sangat kelelahan sehingga kakinya pegal, tapi setelah berbaring di ranjang, ia tahu kantuknya takkan datang.
Jenaka hanya berbaring menatap langit-langit, sadar malam ini ia tak akan bisa tidur… karena sesuatu yang bodoh dan sepele… hanya karena tadi Dante menyentuhnya.
Mungkin sebagian orang akan menganggap hal itu sepele tapi bagi Jenaka itu bukan hal sepele. Ia boleh saja berhasil mengenyahkan mimpi buruknya jauh-jauh, ia boleh saja sudah membangun ulang hidupnya dengan utuh, tapi masa lalu tetap menjadi bagian hidupnya, dan itu bukan hal sepele.
Pemerkos*an bukan masalah sepele. Sejak malam itu Jenaka tidak tahan disentuh siapa pun. Ia berhasil melakukan kompromi dan mengendalikan dirinya, dengan sentuhan saat melatih pasien, tapi di luar itu ia tidak bisa.
Dari luar, Jenaka tampak sudah pulih seutuhnya. Ia membangun tembok antara siapa dirinya sekarang dan dirinya dulu, tidak pernah lagi terpuruk meratapi yang sudah terjadi, benar-benar memaksa diri mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hidupnya yang hancur dan dengan konsentrasi dan tekad baja akhirnya ia berhasil menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi material yang lebih kokoh.
Ia bisa tertawa dan menikmati hidup. Dan yang lebih penting, ia belajar cara menghormati diri sendiri, dan itu tugas terberat dari semuanya.
Tetapi, Jenaka tetap belum sanggup menerima sentuhan pria.
Kejadian malam itu mencegah Jenaka dari keinginan menikah lagi dan memiliki keluarga. Jenaka tidak pernah meratapi nasibnya, ia memilih untuk berkelana dan membantu orang lain.
Saat menangani kasus, ia membina hubungan akrab yang penuh cinta dan kasih sayang tanpa dibayangi hasrat fisik. Jenaka menyayangi pasien-pasiennya dan, tak terhindarkan, mereka juga sayang padanya… hingga kurun waktu tertentu. Mereka menjadi keluarganya, hingga sesi terapi selesai dan Jenaka meninggalkan mereka dengan senyum di wajah, siap melanjutkan perjalanan menemui pasien berikutnya dan “keluarga” yang lain lagi.
Jenaka sempat bertanya-tanya saat memulai latihannya sebagai terapis, apakah ia bisa melatih pasien pria. Masalah itu mengganggunya hingga ia memutuskan, kalau tidak bisa mengatasinya, ia akan membelenggu kariernya sendiri, maka ia membulatkan tekad untuk melakukan hal yang penting.
Pertama kali menangani pasien pria, Jenaka harus mengertakkan gigi dan mengerahkan tekad yang sangat besar agar bisa menyentuh pria itu, tapi setelah beberapa menit ia sadar, pria yang butuh terapi jelas tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk menyerangnya. Para pasiennya hanya manusia biasa yang butuh pertolongan, seperti orang lain.
Meskipun begitu, Jenaka lebih suka menangani anak-anak. Anak-anak menyayangi dengan sepenuh hati, sentuhan anak-anak menjadi satu-satunya yang bisa Jenaka toleransi. Ia belajar menikmati perasaannya ketika sepasang tangan mungil mengalungi lehernya untuk memberikan pelukan riang.
Kalau ada satu penyesalan yang tak pernah sirna, itu adalah penyesalan karena ia takkan pernah memiliki anak. Rasa penyesalan itu ia salurkan dengan wujud pengabdian lebih banyak saat mencurahkan kemampuannya untuk pasien anak-anak, tapi jauh di lubuk hatinya Jenaka ingin memiliki anak sendiri, anak yang ia miliki dan memiliki dirinya, menjadi bagian dirinya.
Tiba-tiba perhatian Jenaka terusik saat mendengar suara teredam. Ia mengangkat kepala dari bantal, menunggu apakah suara itu terdengar lagi. Lingga? Apakah dia memanggil?