NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Akhirnya Erwin pun mengarahkan

ke cafe langganannya seperti yang dimaksudkan. Erwin memarkirkan mobilnya di

dekat pintu masuk, yang kebetulan masih kosong. Erwin turun dari mobil dan

memutari untuk membukakan pintu bagi Renata.  Renata merasa tidak enak diperlakukan Erwin yang

notabene bos di kantor seperti itu.

“Awas... hati-hati Ren,

gak usah buru-buru...” kata Erwin penuh perhatian.

“Makasih pak... ee... mas...”

jawab Renata gugup.

Merekapun memasuki cafe

dan mencari tempat duduk yang dirasa nyaman. Suasana di cafe juga belum begitu

ramai.

“Makan apa Ren...?” tanya

Erwin setelah menerima daftar menu.

“Saya minum kopi saja,

sama roti bakar.”

“Gak makan...?”

“Gak usah.... masih sore.

Cukup itu saja.”

“Oke kalau begitu samain

saja ya. Tapi kopinya tanpa gula....”

Tak lama, merekapun menikmati

minuman  sambil diselingi ngobrol... yang

tak jauh dari urusan pekerjaan. Renata juga lama-lama tidak merasa canggung dengan

Erwin, karena di luar kantor ternyata Erwin orangnya enjoy dan senang ngobrol,

bahkan sepertinya senang bercanda juga.

Setelah menyelesaikan makan

dan minumnya, merekapun melanjutkan perjalanan untuk pulang.

 “Trims ya Ren sudah mau nemenin ngopi. Sebenernya

ada lagi tempat makan langganan yang enak, cuma harus pakai jalan agak jauh. Ntar

saja kapan-kapan kalau kakimu sudah sehat, kita kesana.” Kata Erwin sambil menjalankan

mobilnya keluar arena cafe.

 “Terus dimana alamat rumahmu Ren?” tanya Erwin

di jalan.

Renata menyebutkan alamat

rumahnya. Dan rupanya memang searah dengan rumah Erwin, meskipun tidak

berdekatan . Erwin merasa senang, berarti ada alasan, yaitu rumahnya satu arah.

“Ngomong-ngomong kamu

tinggal dengan siapa Ren..?” Erwin mencoba memecah suasana sepi, karena Renata

tidak bicara kalau tidak ditanya.

“Dengan pembantu, karena

kakak saya dan keluarganya pindah tugas ke Kalimantan.”

“Sudah lama tinggal di

situ.?”

“Yaaa... sejak saya

kerja.”

“Tidak mencari tempat

kost yang lebih deket ke kantor.?”

“Gak mas, saya lebih

nyaman tinggal di rumah sendiri dari pada di kos-kosan. Lagian pasti tidak diijinkan

oleh orang tua dan kakak saya kalau saya kost.”

“Waaahhhh... rupanya anak

mami ya....” Erwin mencoba bercanda.

“Yaaa... begitulah.

Pembantu aja pengasuh saya sejak kecil. Sudah ikut orang tua lebih dua puluh tahun.”

“Hhhmmm..... enak juga

ya...”

Kemudian sunyi, tidak ada

obrolan lagi.

Perjalanan kira-kira

memakan waktu hampir 45 menit karena sedikit macet. Setelah masuk ke komplek

perumahan yang ditunjukkan Renata, Erwin kembali bertanya.

“Arah mana rumahmu..?”

“Lurus aja, pagar hitam

depan sebelah kiri mas...”

Tak lama kemudian..

“Yaak depan dikit ..”

“Di sini..?” Erwin

menghentikan mobilnya di depan rumah dengan pagar hitam.

“Ya mas stop. Makasih mas

sudah repot-repot mengantar.” Kata Renata tanpa basa basi mengajak Erwin mampir

ke rumahnya.

“Oke sama-sama. Saya lanjut

ya...”

Rena turun dari mobil

kemudian menutup pintunya. Setelah Erwin berlalu dari hadapannya, Renata

membuka pagar dan masuk ke dalam rumah sambil menarik  nafas panjang.

Kira-kira jam delapan malam

saat Renata tiduran di kamarnya, tiba-tiba ponsel berbunyi ada chat masuk. Rupanya

dari Bram.

“Malam. Apa kabar Ren?

Bagaimana dengan kakinya, mudah-mudahan sudah baik ya.” Isi chat dari Bram. Renata

malas untuk membalas. Dia taruh kembali ponselnya di kasur. Tak lama kemudian,

kembali ada chat masuk. Rupanya dari Bram lagi.

“Kok cuma di read doank. Sudah

tidur Ren..?” Karena merasa tidak enak, maka Renata membalas chatingan Bram.

“Pagi mas. Kabar baik.

Udah lumayan, tadi juga udah mulai ngantor. Mas Bram sehat kan?”

“Puji Tuhan, sehat Ren.

Trus tadi naik apa ke kantor?”

“Taksi, pulang dianter

temen.” Renata tidak mau bilang kalau diantar Erwin. Bukannya mau berbohong,

tapi Renata merasa tidak enak dan tidak perlu untuk cerita pada Bram.

“Kalau begitu besok biar

diantar jemput sopir ya..?”

“Gak usah mas. Gak papa

naik taksi kok. Minggu depan juga udah bisa naik bis lagi”

“Ya kan minggu depan,

biar minggu ini diantar jemput dulu, sambil biar pulih dulu kakinya.”

“Mas... tolong dech gak

usah dibahas lagi...”

“Oke... oke. Aku cuma

kuatir karena kakimu belum sembuh bener. Masih perlu diurut lagi gak?’

“Kayaknya gak perlu mas.

Bengkak juga dah berkurang kok.”

“Syukurlah klo begitu. Oke

ya... aku mau siap-siap kerja. Di sini pagi nih. Selamat tidur ya... Miss you”

“Ya mas, trims”

“Daa.....”

Kemudian Renata

meletakkan ponselnya di kasur, tidak membalas lagi. Bram masih saja sangat

perhatian. Dan lagi-lagi setiap Renata mengingat Bram, yang ada hatinya menjadi

nyeri, karena selain bayangan Bram yang muncul, juga bayangan Aditya.  Ahhh... kenapa bayangan dua laki-laki itu selalu

muncul bersamaan? Kenapa waktu tidak mau membuang bayangan Aditya dan kenapa waktu

juga tidak mau menutup hati yang terluka? Mau sampai kapan?

Lama-lama Renata terdidur

dengan membawa luka hatinya

Pagi hari ketika Renata

sedang minum coklat hangatnya sebelum berangkat ke kantor, mbok Jum  yang sedang bersih-bersih ruang tamu,

tiba-tiba muncul.

“Jeng ada tamu laki-laki,

katanya teman kantor, mau jemput jeng Rena..”

“Siapa ya mbok,

sepertinya gak ada janjian tuh..” Renata heran

“Orangnya ganteng juga

jeng, masih nunggu di teras, gak mau masuk.”

Pagi hari ketika Renata

sedang minum coklat hangatnya sebelum berangkat ke kantor, mbok Jum  yang sedang bersih-bersih ruang tamu,

tiba-tiba muncul.

“Jeng ada tamu laki-laki,

katanya teman kantor, mau jemput jeng Rena..”

“Siapa ya mbok, sepertinya

gak ada janjian tuh..” Renata heran

“Orangnya ganteng juga

jeng, masih nunggu di teras, gak mau masuk.”

Karena penasaran, Renata

keluar, ternyata Erwin yang duduk di kursi teras depan. Renata terkejut, kenapa

pagi-pagi Erwin sudah muncul di depan rumahnya.

“Pagi pak... kok sudah

sampai di sisni..?” Renata tidak tahu apa yang mesti diucapkan dengan kemunculan

laki-laki itu.

“Eh... pagi Renata, sory

gak kasih tahu, sengaja jemput kamu, karena kita searah. Gak papa kan..?”

“Mestinya bapak gak usah

repot-repot, saya kan bisa naik taksi  pak..” Renata merasa tidak enak dengan

kedatangaan Erwin. Belum selesai dengan Bram, sekarang ada satu lagi laki-laki

yang mesti dihadapi.

“Kan gak tiap hari Ren,

lagian kakimu juga belum sembuh benar. Jam berapa kita berangkat?”

Renata kehabisan akal

menolak Erwin. Yaaa... biarlah sekali ini gak papa. Kata Renata dalam hati.

“Sebentar pak saya ambil

tas dulu. Atau bapak mau ngopi dulu..?” kata Renata basa basi.

“Gak usah, trims tadi

sudah ngopi di rumah..”

Renata melangkah ke dalam

untuk mengambil tas dan pamit dengan mbok Jum

“Hati-hati jeng, jangan

lupa bekal makan siangnya..” Renata sengaja membawa bekal makan karena dia tidak

mau lagi diajak makan Erwin, jadi punya alasan kalau dia sudah membawa bekal.

“Ya mbok trimakasih ya...

Rena jalan dulu..”

Mbok Jum mengikuti di

belakang Renata. Setelah Renata masuk mobil Erwin dan mobil berjalan

meninggalkan halaman rumah dengan mbok Jum yang masih terheran-heran. Kemaren-kemaren

den Bram, sekarang siapa lagi ya laki-laki ganteng ini? Ahhh... entahlah, siapapun

pilihan jeng Rena, yang penting orangnya baik dan jeng Rena bahagia. Kata mbok

Jum dalam hati.

“Itu tadi pembantu kamu

ya...” Tanya Erwin setelah di jalan.

“Iya pak. Kenapa...?”

Renata balik tanya.

“Gak papa. Enak kalau ada

teman, apalagi sudah usia seperti itu. Jadi serasa sama orang tua..”

“Iya pak. Mbok Jum sejak

muda sudah ikut ibu saya...”

Kemudian suasana sepi.

Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Erwin merasa, dengan kondisi

kaki Renata yang sakit, menjadi jalan untuk lebih dekat dengan Renata. Dan dia

akan terus berjuang agar lebih dekat lagi dengan Renata.

Sampai di kantor, untung

Tia belum datang, jadi Renata selamat dari pertanyaan-pertanyaan Tia yang kadang

menyebalkan.

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!