Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shakeel Sakit
Situasinya kini berbeda, Maya harus bisa menyimpan kenangan pahit di sudut hatinya yang terdalam. Ia harus fokus pada sang putra yang kini tengah dalam kondisi sakit.
Maya menekan bel beberapa kali, sampai pintu rumah tersebut dibuka oleh seorang pelayan setengah baya.
"Maaf, Nona mencari siapa ya?" Tanya pelayan yang terlihat kebingungan, tak pernah ia melihat wanita di depannya ini.
"Saya Maya Ibunda dari Shakeel, saya datang untuk menemui putra saya. Mas Adhi bilang Shakeel jatuh sakit" jelas Maya memperkenalkan dirinya dalam kondisi cemas yang tak bisa di sembunyikan.
Sontak pelayan itu terbelalak tak percaya, selama satu tahun ia mengenal putra dari majikannya, tak pernah sekalipun ia melihat Ibu dari bocah kecil tersebut. Rupanya ini mantan istri Adhi.
"Ya Tuhan, maafkan saya tidak mengenali nona. Silahkan masuk Non, Tuan ada di kamarnya" merasa tak enak pelayan itu langsung membuka pintu selebar-lebarnya, memberikan Maya akses masuk.
"Terimakasih"
"Biar saya antar, Nona" wanita tersebut pun memberitahu dimana majikannya berada, ia mengantar Maya sampai ke depan pintu kamar.
Ternyata kamarnya masih berada di lantai dua, kamar yang dulu ia gunakan untuk beristirahat bersama dengan Adhi, sang mantan suami.
Tok Tok Tok
"Permisi Tuan, Nona Maya sudah datang" ucapnya setelah mengetuk pintu kamar.
"Masuk saja, tidak aku kunci pintunya" sahutan dari dalam sana terdengar jelas, mendengar perintah Tuannya pelayan pun lantas memutar handel pintu.
"Silahkan, Nona"
Ketika pintu terbuka pandangan Maya langsung tertuju pada Shakeel yang sedang terbaring di atas ranjang dengan handuk kompres di dahinya.
Maya spontan berlari mendekat, hatinya berdenyut nyeri ketika melihat keadaan putra semata wayangnya, wajah Shakeel memerah dan suhu tubuhnya sangat panas ketika menyentuh kulit bocah berusia lima tahun itu.
"Sayang... Ini mami nak.... Shakeel bisa dengar mami?" Kekhawatiran mengelilingi Maya saat ini, ia menyentuh kedua pipi Shakeel, membuat sang empu perlahan membuka mata.
"Mami....." Lirih Shakeel.
"Mami disini sayang.... "
"Sakit miii........" Rengek Shakeel mengadu pada perempuan di depannya, tetapi ia tak punya tenaga untuk menangis.
"Sebentar lagi dokter akan datang sayang, tahan sebentar ya. Jangan risau..." Maya mencoba menenangkan Shakeel yang gusar akibat menahan panasnya suhu tubuh. Ketika demam Shakeel memang cenderung banyak mengigau serta merengek tentang sakitnya membuat Maya ikut panik sebagai seorang Ibu.
"Sudah berapa lama mas, Shakeel demam?" Kini Maya beralih pada Adhi yang berdiri di tepi ranjang.
"Sudah tiga jam, padahal tadi pagi dia baik-baik saja bahkan kami berenang bersama. Aku bingung, ini pertama kalinya aku melihat Shakeel demam"
Selama lima tahun baru kali ini ia melihat anaknya sakit, dulu ketika masih bayi biasanya Shakeel hanya akan demam ketika di imunisasi. Tapi kini berbeda, kondisinya drop secara tiba-tiba membuat Adhi bingung sampai menelpon Maya di siang hari.
"Maaf membuat kamu harus datang kesini, jika bukan karena aku yang tidak becus menjaga Shakeel mungkin dia akan baik-baik sekarang" sesal Adhi, ia menyalahkan dirinya sendiri walaupun pada kenyataannya ia selalu berada disamping sang putra selama Shakeel menginap.
Adhi siap jika Maya memarahinya saat ini juga, ia sudah membuat Maya kecewa, mengurus anaknya saja Adhi tidak becus.
"Maafkan aku...." Lirihnya lagi.
Alih-alih menegur atau marah, Maya malah meraih satu lengan Adhi dan menggenggamnya dengan erat, membuat si pemilik lengan mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, mas. Tidak ada yang akan sehat selalu begitupula dengan Shakeel. Dokter akan segera memeriksanya, aku yakin setelah itu Shakeel akan cepat sembuh. Sekarang yang terpenting kita harus merawat Shakeel dengan baik, sebagai orang tua kita harus melakukan apa saja supaya Shakeel kembali pulih seperti sedia kala" tutur Maya pengertian.
Adhi dibuat tak bergeming, ia tak menyangka jika Maya akan mengerti posisi Adhi. Lelaki itu memandang Maya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Maya tak pernah berubah, Maya selalu menjadi wanita yang memiliki hati selembut sutra, Adhi malah makin bersalah jadinya.
Ibu jari Maya mengusap lembut punggung tangannya, sangat menenangkan dan menimbulkan rasa hangat tersendiri.
Adhi menarik sudut bibirnya sambil menganggukkan kepala.
***
"Pasien hanya terlalu kelelahan, badannya drop dan harus istirahat sejenak. Saya sudah tulis resep obatnya, anda bisa tebus di apotik. Setelah minum obat maka panasnya akan segera turun" dokter menuturkan penyebab Shakeel demam, pria berjas putih tersebut membereskan peralatan medisnya setelah mengecek kondisi Shakeel.
"Apakah tidak perlu di bawa ke rumah sakit, dok?" Rupanya Adhi masih belum bisa tenang meski sudah dijelaskan oleh dokter.
"Untuk saat ini tidak perlu, cukup lihat perkembangannya saja. Jika sudah tiga hari demam belum juga turun segera di bawa ke UGD" cakap dokter memberitahu.
Adhi manggut-manggut paham, tapi ia berharap Shakeel bisa sembuh secepatnya dan tak perlu masuk ke rumah sakit.
"Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" Seru dokter.
Adhi dan Maya saling melempar pandangan satu sama lain.
"Kami rasa cukup, terimakasih sudah datang kesini dok"
"Sama-sama Tuan, sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter, semoga putra kalian cepat sembuh. Kalau begitu saya pamit undur diri" dokter pun berlalu meninggalkan kediaman Adhi.
Sepeninggalan dokter Adhi menyuruh pelayan di rumahnya untuk pergi ke apotik guna menebus resep obat. Adhi kembali lagi ke kamarnya, disana ia melihat Maya ikut berbaring di sisi Shakeel memeluk putra kecil mereka.
Adhi menghampiri dan menyentuh pipi Shakeel yang masih terasa menyengat. Adhi tertunduk lesu, ia kasihan melihat keadaan putranya.
"Jangan panik, mas. Kita harus menghadapinya dengan tenang, lagipula dokter sudah bilang kalau Shakeel cuma kelelahan saja" lagi-lagi Maya menenangkan mantan suaminya itu, ia tahu Adhi belum terbiasa menyikapi hal ini.
Dan lagi, Maya harus bersikap lemah lembut. Ia harus menunjukkan sikap manis, Maya tak ingin terlihat buruk sedikitpun di depan pria itu. Demi melancarkan misinya.
"Shakeel akan baik-baik saja, kan?" Lirih Adhi menatap sendu.
"Kita doakan saja, mas. Biarkan Shakeel istirahat dulu dengan tenang. Sebentar lagi sore, mas sudah mandi? Sebaiknya mas mandi dulu" titah Maya memberi saran.
Adhi tampak ragu, ia ingin terus menemani Shakeel meski hanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Biar aku yang menjaga Shakeel, aku juga ingin ke air. Sebaiknya kita gantian menjaga Shakeel" Tak bisa menolak, Adhi akhirnya menuruti perintah Maya.
Ia mengambil pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Setelah punggung Adhi benar-benar menghilang dari balik pintu kamar mandi, Maya mulai mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar.
Kamar itu tampak kosong, tak banyak peralatan dan pernak-pernik yang dulu Maya panjang untuk menghiasi ruangan agar terkesan indah.
Meja rias pun hanya sekitar lima benda yang tertata rapi di atas sana, tak seperti dulu yang di dominasi oleh alat kecantikan milik Maya.
Kini kamar itu terasa dingin seolah ditinggal lama oleh si pemilik ruangan.
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,