Novel yang mengisahkan tentang seorang pria yang masih menduduki bangku SMA. Ketampananannya membuat seorang wanita yang berusia 25 tahun itu jatuh cinta begitu dalam.
Wanita yang memiliki sebuah perusahaan terbilang besar dan terkenal.
Indi Maharani mencintai pria bernama Veric yang usianya jauh lebih muda, berpikir akan mampu membuat sang suami dewasa setelah pernikahan.
Nyatanya sikpa Veric yang masih labil terus membuatnya semakin sakit. Akankah Indi mampu mendapatkan cinta Veric setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Ulang Tahun
Pagi yang padat di perjalanan tak menyurutkan semangat Indi untuk mengais rejeki di perusahaan miliknya.
Matanya menatap kosong ke jalanan yang lumayan padat pagi itu. Ada perasaan lega melihat sang mertua sudah kembali ke rumah.
“Syukurlah Ibu sudah di rumah, semoga semuanya segera membaik.” ucapnya dalam hati.
Beberapa menit perjalanan dalam keadaan hening, tiba-tiba Indi di kejutkan dengan suara dering ponsel di tas mewahnya.
Segera tangan putih lentik berhias jam tangan mini warna hitam menggenggam ponsel pintar.
“Boby?” gumamnya.
“Halo,” sapa wanita cantik itu.
“Nyonya, Tuan Veric kembali ke rumah lagi. Apa perlu kami menghajarnya atau…” ucapan Boby yang menggebu-gebu membuat Indi menghela napas kasar.
“Bob, saya tidak menyuruh sedikit pun kalian menyentuh Veric! Biarkan dia mau melakukan apa pun. Yang jelas jangan berikan apa yang ia butuhkan. Saya mau lihat kemampuannya.” Mendengar ucapan Indi, Boby menelan salivahnya kasar.
Gawat jika Indi sampai melihat keadaan Veric kesakitan di dalam kamar.
“Ba-baik, Nyonya.” jawab Boby gugup.
Tak ada sahutan lagi dan Indi pun menutup panggilan sepihak. Ia merasa enggan memikirkan Veric lebih jauh lagi, bukan waktunya untuk mementingkan Veric di tengah persaingan perusahaan yang semakin kencang.
“Fokus, Indi. Nasib perusahaan ada di tanganmu.” gumamnya gigih.
Setiba di kantor, senyuman Indi merekah kala melihat pemandangan yang menakjubkan. Lapangan kantor yang luas, kini di sulap menjadi tempat berbaris para karyawan. Seragam kebanggaan mereka di perusahaan setelan berwarna navy serta jas yang menambah kesempurnaan. Terdapat logo perusahaan berwarna kuning di dada mereka.
“Selamat ulang tahun, Ibu Indi Maharani.” Begitu tulisan yang Indi lihat di setiap huruf dari beberapa orang karyawan, dan lainnya lagi tampak memberikan satu tangkai bunga setiap Indi berjalan melewati mereka yang membentuk formasi lorong menuju masuk ke loby.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday happy birthday
Happy birthday Ibu Indi.
Nyanyian ulang tahun menggema pagi itu dengan wajah berseri-seri seluruh karyawan yang memenuhi lapangan di depan gedung perusahaan besar.
Indi terharu bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Satu orang yang sebagai asisten Indi berada di depannya membawakan kue cake yang berbentuk wanita dengan pakaian formal sangat mirip dengan Indi yang asli. Kue cake berhias laptop dan tas kerja menggambarkan jika yang ulang tahun adalah seorang pekerja kantor.
“Selamat ulangtahun, Ibu.” Indi meniup lilin dengan derai air mata tanpa henti.
Suara tepukan tangan meriah tak berhenti membuat Indi takjub sampai di situ saja. Kini manik matanya terpesona lagi dengan gambar dirinya yang terpampang lebar di dinding kantor.
“Kalian luar biasa,” tutur Indi mengusap air mata bahagia pagi itu.
Tak pernah ia sangka hari ulangtahunnya kini mendapatkan suprise yang tak terduga dari orang-orang yang tak ia sangka pula.
“Terimakasih banyak kalian sudah mengingat hari bersejarah saya. Saya harap tali kekeluargaan kita akan semakin erat untuk bersama-sama membawa perusahaan kita semakin maju. Saya bahagia memiliki kalian semua, terimakasih. Terimakasih sekali untuk semuanya. Saya benar-benar bahagia hari ini.” Ungkapan singkat namun penuh rasa kebahagiaan membuat semua karyawan ikut puas dengan usaha mereka satu minggu ini.
“Selamat ulangtahun, Nyonya.” Beberapa bodyguard pun memberikan buket bunga pada Indi begitu pula Boby yang turut hadir di sana.
“Baiklah. Sebagai tanda bahagia saya bersama kalian, malam ini kita adakan dinner yah?” ucap Indi.
“Leo, persiapkan semuanya dengan baik untuk malam ini. Saya harus segera menyelesaikan pekerjaan.” titah Indi kembali tegas.
“Siap, Ibu.” jawab Leo.
Indi melangkah dengan wajah bahagia bercampur sedih.
Ini adalah tahun kedua ia ulang tahun tanpa sosok orangtua. Memiliki suami, tapi rasanya seperti belum memiliki.
Ada kekosongan di hatinya kala mengingat Veric yang begitu acuh.
“Sudahlah, aku tak punya banyak waktu untuk melamun seperti ini.” Lamunan Indi buyar mengingat dirinya sedang di buru waktu.
Tanpa ia tahu di rumah pagi ini, Veric terus mengaduh saat pelayan membantunya mengobati luka di perut yang memar.
“Argh! Sakit!” Teriaknya mengeluh.
Pukulan Boby sungguh tak main-main.
“Tahan, Tuan. Memang seperti ini kalau di obati.” ucap pelayan.
“Pelan-pelan, Bi.” keluh Veric menahan sakitnya.
“Indi benar-benar keterlaluan. Gara-gara dia aku harus bolos sekolah hari ini.” umpatnya geram.
Kekesalannya terhenti saat Veric dan pelayan di ruang tengah tepatnya di sofa mendengar klakson mobil.
“Sepertinya Nyonya sudah pulang, Tuan.” ucap sang Bibi hendak berlalu pergi.
“Bi, di sini saja. Saya tidak mau dia menyentuh badan saya. Najis!” kesal Veric salah paham.
Yang ia tahu, Boby adalah anak buah sang istri. Tanpa perduli siapa sebenarnya yang memerintah Boby untuk memberinya pelajaran.
“Loh? Maksud Tuan?” Pelayan sontak bingung mendengar ucapan Veric.
“Lelet banget sih! Sudah obatin lagi. Saya harus sembuh hari ini juga. Nggak betah gue lama-lama ngurung di sini. Malam gue harus dapat cara buat have fun.” gerutunya mengumpat nasib yang malang.
Di saat itu juga sang pelayan yang bersama Veric dan juga Veric menoleh ke arah pintu saat melihat sosok wanita cantik berdiri di ambang pintu.
“Lusi?” ucap Veric syok.
Sepertinya Lusi lebih liar lagi dari Iners. Sungguh, Veric sangat kaget wanita itu dengan seragam SMA masuk ke rumah megah sang istri.
“Lus? Ngapain Lu ke rumah gue?” Veric bangun dari sofa hendak membawa Lusi keluar rumah.
Bagaimana pun ia tau batasan. Tidak mungkin ia membawa wanita lain ke rumah yang bukan miliknya. Lebih tepatnya rumah sang istri. Bisa mengamuk sang ayah jika tahu hal ini.
“Ver, kita bolos bareng ternyata.” Senyuman Lusi merekah kala melihat keadaan rumah tampak sunyi hari itu.
Dengan penuh percaya diri, Lusi berjalan bak model papan bawah. Rok yang minim tak membuat Veric goyah.
MAKANYA LO RIC,, JGN SMPE LO DPISAHKN SAMA INDI, NYESAL LOO
INILH AKIBAT SALAH DIDIK, SALAH GAUL.. BOCAH MUSLIM SAJA BNYK YG KYK SETAN DAJJAL, APALAGI SI VERIC BOCAH KAFIR, MNA TAU MORAL & AHKLAK... TAUNYA HIDUP FOYA, PESTA2,,CLUBING2, BKN ISI WAKTU DGN HAL YG BRMANFAAT..
SUPAYA LO GK GENGSI SAMA INDI, HRSNYA LO GIAT2, BLAJAR..
begitu saja......
ngak ada kata pentup....
😁😁😁😁😁