Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-benar Putus
''Aku mau kita putus sekarang juga, silahkan jalani pernikahan bahagia kamu, dan lanjutin peran kamu sebagai suami pengganti,'' ketus Milan berdiri dan hendak pergi.
''Tunggu, Mil. Dengerin penjelasan aku dulu.'
Afgan meraih pergelangan tangan Milan, hingga tubuh langsing itu kembali duduk dan seketika itu juga Milan menepis tangan pria yang telah menorehkan luka di hatinya itu.
''Lepasin ... Apa lagi yang mau dijelasin, heuh ... jelas-jelas kamu sudah jadi suami wanita itu, mengabaikan aku yang telah menunggumu selama tiga tahun ini,'' lirih Milan, dengan berurai air mata.
''Aku sudah bilang, aku terpaksa menikah dengan dia, dan aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Aku terpaksa, Milan.''
''TERPAKSA ...? terus kamu terpaksa juga melakukan hubungan i*tim sama dia ...? Nggak 'kan?'' Milan penuh penekanan.
Afgan terdiam menunduk.
''Kenapa diam aja? gak bisa jawab? kalau kamu terpaksa menikah dengan dia, dan kalau mencintai aku seperti yang kamu katakan tadi, seharusnya kamu tidak menyentuh dia, istrimu. Dan maaf, aku bukan wanita hina yang akan mengejar-ngejar suami orang, apalagi menjadi seorang pelakor,'' tegas Milan, lalu benar-benar berdiri dan berlalu meninggalkan Afgan.
Afgan yang masih belum terima dan tidak ingin memutuskan tali Percintaan yang telah dia jalini selama lebih dari tiga tahun lamanya, ikut berdiri dan mengejar wanita bernama Milan itu.
''Mil ... Tunggu ...!'' Teriak Afgan.
Milan mengabaikan panggilan mantan kekasihnya itu, dia semakin mempercepat langkah kakinya, namun, karena kaki kecilnya tidak seimbang dengan langkah kaki panjang Afgan, pria itu bisa dengan mudah mengejar dan meraih pergelangan tangan Milan, hingga dia pun seketika terpaksa menghentikan langkahnya dan menepis kasar tangan Afgan.
''Apa lagi, lepasin ...'' teriak Milan memutar badan.
''Aku gak mau kita putus. Aku janji akan berpisah dengan dia setelah satu tahun.''
''Jadi kamu menyuruh aku menunggu selama satu tahun, hah ...? brengsek kamu, gan ...''
''Eu ... Tapi Mil-''
''Cukup ...!'' terdengar suara bas seorang pria.
Sontak, Afgan menoleh ke arah sumber suara begitupun dengan Milan, yang terlihat pucat dengan mata yang memerah.
''Apa kamu tidak dengar dia ngomong apa tadi? dia bilang dia gak mau lagi sama kamu. Lagian kamu jadi cowok jangan serakah, ya. Udah punya istri masih aja ingin mempertahankan dia. Dasar Maruk ...'' Zergo yang sedari tadi memang mengikuti Milan berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Milan.
''Kamu ...? Heuh ... jangan ikut campur sama urusan kita, ya.'' Tegas Afgan kesal.
''Tentu saja aku harus ikut campur, aku tidak bisa diam saja, di saat wanita yang aku sukai diperlakukan kasar seperti ini.''
''WANITA YANG KAMU SUKAI ...?'' Afgan membulatkan bola matanya.
''Iya, kenapa? cemburu? Hey ...! gimana perasaan dia yang harus ditinggal nikah sama kamu, hah ...?''
Afgan terdiam.
''Ayo, sayang. Kita pulang ...'' Zergo meraih pergelangan tangan Milan dan menariknya untuk berjalan bersama keluar dari dalam Restoran.
🍀🍀
Afgan pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal, perpisahan dirinya dengan wanita yang bernama Milan itu benar-benar membuatnya merasa terpukul.
Betapa selama ini dia sangat mencintai gadis itu, dan betapa selama tiga tahun ini Afgan sudah sangat tidak sabar ingin segera menikah dengan wanita itu, dan sekarang impiannya itu benar-benar pupus karena dirinya harus menikah dengan wanita yang bernama Alisya.
Pemuda berpostur tubuh tinggi dan gagah itu nampak menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di ruang tamu, dia pun mencoba memejamkan mata dan mengingat kembali setiap momen dirinya dengan wanita yang kini telah menjadi mantan kekasihnya itu.
Lama larut dalam lamunan, sampai akhirnya lamunannya seketika buyar, saat dia mencium aroma makanan yang tercium begitu sedap menusuk hidung mancung Afgan. Dia pun seketika membuka mata, mendengus'kan hidungnya mencari sumber bau.
''Hmm ... wangi apa ini? apa ada yang sedang masak?'' ucap Afgan berbicara sendiri.
''Alisya ...? apa dia lagi masak?'' Afgan pun berdiri lalu berjalan ke arah dapur.
Ternyata memang benar, istri mungilnya terlihat sedang berdiri di depan kompor, lengkap dengan celemek yang melingkar di pinggangnya, membuat wanita itu terlihat lucu di mata Afgan.
Entah sadar atau tidak, Afgan menatap Alisya tanpa berkedip, senyum tipis mengembang kecil di kedua sisi bibirnya kini, apalagi saat istrinya kini terlihat sedang mencicipi masakan yang di masaknya dengan menyeruput spatula panas dengan meniupnya terlebih dahulu, setelah itu Alisya terlihat tersenyum senang, karena masakan yang dia masak sepertinya sesuai dengan yang dia harapkan.
Menyaksikan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir Alisya yang terlihat begitu manisnya, membuat senyum Afgan semakin mengembang lebar, hingga akhirnya dia pun mulai tersadar, dan menyudahi tatapan matanya dengan mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
''Kamu lagi masak, Al? gak usah repot-repot, aku udah makan di luar tadi,'' ucap Afgan berjalan mendekat.
''Siapa bilang masakan ini buat kamu? Aku masak buat diri aku sendiri,'' ketus Al tanpa menoleh.
''Oh ... Aku kira kamu sengaja masak buat aku,'' ucapnya lagi, duduk di kursi meja makan.
''Percaya diri banget si jadi cowok? heuh ...'' ketus Al.
Afgan nampak menatap meja makan yang memang sudah terdapat beberapa macam lauk yang sudah di tata dengan begitu rapi, membuatnya berfikir. Mana mungkin makanan sebanyak ini hanya untuk dia sendiri?
Matanya pun nampak kembali menatap tubuh sang istri yang kini berjalan dengan membawa masakan terakhir lalu meletakkannya di atas meja.
''Kamu yakin bisa makan makanan sebanyak ini?'' tanya Afgan menunjuk meja makan.
''Kenapa ...? kamu gak percaya?'' jawab Al datar, lalu duduk dan mulai mengisi piring miliknya dengan nasi lengkap dengan lauk-pauk yang tadi di masak sendiri.
''Hmm ...'' Al bergumam sendiri saat, dia memasukkan satu suap nasi ke dalam mulutnya.
Afgan yang memang sebenarnya belum makan apapun dari siang, hanya bisa menelan ludah kasar, merasa tergiur dengan ekspresi wajah istrinya itu yang seolah begitu menikmati makanan yang sedang dia makan.
Sampai akhirnya, Afgan pun sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar, dan dengan sedikit malu sebenarnya, dia mengisi piringnya dengan nasi sama seperti yang tadi dilakukan oleh Alisya.
''Katanya gak lapar?'' ledek Al sedikit terkekeh.
''Hmm ... Aku hanya kasian sama kamu, udah capek-capek masak masa gak aku cicipi sedikitpun,'' jawab Afgan beralasan, mengisi penuh piring miliknya.
''Noh, gak lapar tapi piringnya penuh banget? tuh nasi nasi sama lauknya sampe saling berdesakan gitu?'' ledek Al, membuat Afgan sedikit terkekeh malu.
''Ya gara-gara kamu sih, masaknya kebanyakan, sayang 'kan kalau di buang, lebih baik habisin sekalian.''
Afgan menjawab dengan tangan yang mulai memasukan satu suap nasi ke dalam mulutnya, dan dia pun tersenyum seketika.
'Masakan dia enak juga.' ( Batin Afgan )
Sebenarnya Alisya memang sengaja masak agar mereka bisa makan bersama, namun, dia tidak ingin terlalu menunjukkan perhatiannya kepada suaminya itu mengingat bahwa, di dalam hati Afgan masih tersimpan satu nama, yaitu Milannita.
Alisya berdiri lalu mengisi satu gelas kosong dengan air putih, setelah itu dia pun meletakkannya tepat di depan piring suaminya.
''Makasih, Mil ...'' ucap Afgan refleks, membuat Al terhenyak seketika.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀