Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andra kecewa
Malam mulai larut, namun Mala masih belum bisa memejamkan matanya. Dia teringat anaknya, Gala. Jika seandainya dia sudah memiliki banyak uang, dia pasti akan membawa Gala tinggal bersamanya.
Mala memandangi foto anaknya yang sedang tersenyum. " Maafkan ibu Gala" hanya kata itu yang saat ini bisa dia ucapkan.
Mala mencoba memejamkan matanya sambil memeluk foto Gala.
***
Sementara itu Gala berlarian di pesisir pantai bersama Bara. Mereka nampak akrab sekali. Bara mengejar Gala dan mencoba menangkap bocah kecil itu.
Namun tiba-tiba Gala berhenti berlari dan tertegun melihat tempat yang biasa dia kunjungi bersama ibunya. Mereka sering menghabiskan senja bersama ditempat ini sambil memandang laut. Gala ingat ibunya.
Bara mendekati Gala yang tampak sedih.
" Ingat ibu?" tanya Bara sambil memeluk tubuh kecil Gala dari belakang.
" Ayah, kapan Gala bisa bertemu ibu? Gala kangen ibu," kata Gala sambil meneteskan air mata.
" Gala jangan sedih. Apa Gala mau bertemu ibu?" tanya Bara.
" Tentu ayah."
" Tunggu sampai ayah dapat panggilan kerja, ayah akan bawa Gala bertemu ibu. Okey , jangan nangis lagi. Anak laki pantang menangis."
Gala mengusap airmatanya dengan ujung jarinya yang mungil. Janji ayah Bara sanggup membuat Gala penuh harapan. Bara memeluk Gala dengan penuh kasih sayang. Anak dari wanita yang dia cintai selama ini. Wanita yang membuatnya sanggup menunggu tanpa batas.
Ayah Bara berusaha membuat Bara tetap tinggal dan meneruskan usaha keluarga. Sebuah tempat pelelangan ikan terbesar di pesisir utara pulau jawa, tepatnya didaerah J. Menawarinya sebuah pernikahan dan melupakan Mala yang pernah menolak perjodohan dengannya.
Namun Bara lebih memilih mencari pekerjaan di kota tempat Mala kuliah. Selain agar bisa menjaga Mala dia juga berharap bisa mengejar cinta Mala kembali.
***
Di kampus, Mala dikejutkan dengan gosip tentang dirinya. Semua mata tertuju padanya dengan berbagai sindiran. Mala menemui Wina dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Wina, sebenarnya ada apa? Kenapa mereka bersikap seperti itu. Aku merasa agak risih denan pandangan mereka padaku?!" tanya Mala pada satu-satunya sahabatnya di kampus ini.
" Ayo ikut aku. Aku akan tunjukkan sesuatu padamu."
Wina menarik tangan Mala dan membawanya ke sebuah papan pengumuman. Mala menatap papan pengumuman itu dengan seksama.
Disitu terpampang dengan jelas foto dirinya dengan Gala. Dan tertulis dengan jelas pula bahwa Mala sudah memiliki anak dan tidak tahu siapa ayahnya.
Mala sempat syok dan marah dengan semua itu. Matanya berkaca-kaca dan dia hampir menangis. Namun hati kecilnya melarangnya menangis karena mungkin itu tujuan dari orang itu, ingin membuatnya menderita.
Mala lalu tersenyum karena gosip itu memang benar walaupun mereka tidak tahu bahwa dia sebenarnya sudah menikah.
Namun Mala tidak menyangka jika kebenaran tentang dirinya itu membuat Andra sangat marah padanya.
Andra meminta Mala menemuinya disebuah cafe didekat kampus. Andra menatap Mala dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Andra, ada apa, kenapa kamu memintaku untuk datang menemuimu disini?" tanya Mala.
" Aku ...aku hanya ingin tahu tentang gosip itu. Aku akan membantumu menemukan orang yang sudah memfitnahmu," kata Andra menawarkan bantuan.
" Tidak perlu."
" Tapi, semua itu akan dapat mempengaruhi reputasimu di kampus ini," kata Andra lagi.
" Karena semua itu benar adanya," kata Mala membuat Andra kaget.
" Apa...jadi kamu benar sudah memiliki seorang anak?! Tanpa suami?!" tanya Andra dengan suara gemetar.
Andra bagaikan berdiri di atas api yang membara. Tubuhnya seolah terbakar dan penuh dengan luka. Sangat perih dan sakit.
" Benar. Aku sudah memiliki seorang anak tapi anak itu bukan anak haram. Dia lahir dari sebuah pernikahan resmi."
" Kalau begitu saat ini kamu sudah punya suami dan anak?! Mengapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?! tanya Andra marah.
" Selama ini kamu tidak pernah bertanya, lalu untuk apa aku menjelaskan statusku padamu. Bukankah katamu kita hanya teman?!" kata Mala tidak disalahkan Andra.
Andra tampak kacau. Dia jijik dengan dirinya sendiri. Kenapa dia harus jatuh cinta dengan wanita yang sudah memiliki anak dan suami? Usahanya untuk mendekati Mala selama ini bukankah menjadi hal paling konyol yang dia lakukan.
" Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Pelayan..." kata Andra sambil mengeluarkan uang untuk membayar dan diletakkan diatas meja.
Andrapun bergegas pergi meninggalkan Mala yang masih tidak mengerti dengan semua sikap Andra. Mala hanya bisa menarik nafas berat.
Mala memang penasaran dengan siapa orang yang sengaja menebarkan informasi tentang dirinya di depan publik. Hanya orang-orang kantor yang tahu kalau Mala sudah menikah. Bagaimana bisa sampai ke kampusnya.
***
Andra memacu sepeda motornya dengan kencang dijalanan yang agak sepi. Pikiran kacau dan dia butuh pelampiasan.
Andra menuju kesebuah Arena balap motor yang dulu sering dia datangi. Setahun yang lalu dia memutuskan untuk tidak lagi melakukan balap motor atas permintaan terakhir Rasty kekasihnya yang meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya.
Kini saat hatinya terluka, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuatnya melupakan Mala. Andra bersiap dengan pakaian lengkap pembalap yang dengan cepat memacu sepeda motornya di arena balapan. Setelah beberapa putaran, Andra menghentikan motornya. Dia melepaskan helm yang dipakainya dan berteriak dengan keras melepaskan rasa sesak didadanya.
" Akh...akh...akhkhkh..."
Rupanya, apa yang dilakukannya hari ini tidak bisa sepenuhnya membuatnya melupakan Mala. Wajah wanita itu seperti candu dimatanya. Dia ada dimana-mana. Saat dia naik motor balap, Mala seolah berdiri dan tersenyum di jalanan yang dilaluinya.
Bagaimana cara menghilangkan candu yang sudah terlanjur masuk kedalam tubuhnya?
Andra kembali memacu sepeda motornya diarena balap, beberapa putaran lagi mungkin wajah Mala tidak akan terlintas lagi. Sebelum ia bisa melupakan wajah Mala, Andra tidak akan berhenti.
Namun hingga bahan bakar motornya habis, wajah Mala masih saja berkeliaran di benaknya. Andra turun dari motor yang sudah tidak ada bahan bakarnya lagi. Dia duduk dipinggir arena dengan wajah dingin.
Tidak lama sebuah mobil derek datang yang membuat Andra terkejut. Rupanya Radit dan teman-temannya datang membantunya mengambil motornya yang kehabisan bahan bakar. Radit membantu Andra berdiri dan mengajaknya naik motor dan kembali.
Radit menunggu Andra ganti pakaian dan sampai Andra agak tenang baru mulai bertanya tentang kondisinya.
" Bos, bagaimana perasaan bos hari ini? Apa perlu teman bicara. Aku siap jika bos membutuhkan aku," kata Radit pelan.
" Aku hanya ingin sendirian. Kalian pulanglah lebih dulu," kata Andra.
" Baiklah jika begitu. Tapi bos jangan terlalu lama disini sebaiknya bos pulang dan istirahat."
" Kamu tenang saja, memangnya aku kenapa harus kamu khawatirkan seperti itu," kata Andra mendengar perkataan Radit.
" Maaf bos, sebaiknya kami segera pergi saja, ayo...," jawab Radit sambil mengajak yang lain untuk pulang.
Andra merenung untuk waktu yang cukup lama sebelum dia memutuskan untuk pulang kerumahnya.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁