Selamat membaca!!!
Kisah Duda Kere[N] Vs Gadis Somplak™
Namanya Chika, gadis dengan hobi nyleneh dari gadis seusianya. Dia suka memancing bersama teman-temannya, bahkan sering ikut kontes dan selalu juara satu dengan hadiah jutaan rupiah.
Dia gadis yang anti dengan duda, apalagi duren alias duda keren. Menurutnya, duda adalah status yang menyeramkan baginya, statment Chika tentang duda adalah pria dewasa yang kurang belaian dari seorang wanita.
Tapi nasib berkata lain, Chika mendapatkan kesialan bertubi saat harus menerima perjodohan online yang sangat merugikan dirinya.
Kedua orang tuanya, telah menentukan nasibnya yang harus berjodoh dengan duren!
Astaga! kek mana tuh?
Apa Chika mau ya nikah sama duda? secara dia tuh anti gitu?
Penasaran?
Yuk baca novel baruku ini, jangan lupa like, komen, fav dan vote.
Mari ber-haha hihi dengan neng othor 😂😂😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat di loteng
Setelah ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, Suara serak-serak banjir memenuhi telinga ketiganya.
"Haduh ibu, kalau lagi karaokean pintunya tidak di tutup, kebiasaan! mendengarkan suara ibu, membuat jiwaku meronta-ronta." Chika menepuk jidatnya karena heran dengan tingkah sang ibu.
"Meronta-ronta ingin apa Chik?" tanya sang kakak.
"Meronta-ronta ingin pergi ke kamar mandi," celetuk Chika membuat Minho tertawa.
"Suara Nyonya Tiara bagus, hanya perlu di poles sedikit, jadilah penyanyi dengan suara khas." Pendapat Dante seolah-olah tidak di hiraukan oleh Chika dan Minho yang sibuk bergoyang karena alunan musik.
Dante masih berdiri sok cool, dia berjalan menghampiri calon ibu mertuanya yang sedang fokus bernyanyi.
"Mari berduet!" ajak Dante.
"Hey! calon menantuku, kapan datang?" Nyonya Tiara meletakkan mic di atas meja dan mengajak Dante keluar dari ruang karaoke.
"Baru saja ibu." Dante merangkul tubuh sang calon mertua, dia menatap kakak beradik yang sedang bergoyang asik tanpa melihat ada dirinya dan sang ibu.
"Kau lihat itu, kakak dan calon isterimu seperti orang sakaw!" bisik Nyonya Tiara.
"Aku suka Chika apa adanya." Ucapan Dante tak terdengar oleh Chika, jadi ia tetap santai.
"Bagus itu Dante, kau harus menyukai dan menyayangi anak ibu dengan sepenuh hati." Nyonya Tiara sangat bahagia mengetahui jika Dante juga mencintai Chika dengan sepenuh hati.
"Pastinya! oh ya ibu, aku ingin tahu dimana kolam pemancingan di daerah sini." Kata-kata kolam pemancingan mengundang Chika ikut berkomentar.
Dia menghentikan goyangannya dan menjawab pertanyaan Dante.
"Ada di dekat rumahnya Ferdin, teman satu kampusku. Mau apa kau bertanya hal itu?" Chika curiga jika Dante ingin membeli kolam pemancingan itu untuk mahar pernikahannya.
"Aku akan membelinya sebagai hadiah untukmu."
Kata hati Chika dengan pikiran Dante ternyata sinkron.
Antara percaya dan tidak, tetapi memang apa yang Dante ucapkan bukan sebuah bualan semata. Dia serius dengan apa yang ia katakan.
"Hadiah? sejenis mahar?" tanya Chika penasaran.
"Bukan mahar, itu hanya hadiah. Kau senang?" Dante tersenyum manis ke arah Chika, membuat gadis itu salah tingkah.
"Cie...Dante love Chika...cie!" goda Minho.
Minho menarik tangan Dante dan melingkarkannya di puncak Chika.
"Ibu, kita biarkan mereka berdua mengobrol, kita memasak saja untuk makan malam, sambil menunggu ayah pulang dari rumah paman Frans." Minho menggandeng tangan ibunya menuju dapur, sedangkan Dante mendekati Chika yang tak melepaskan pandangannya dari om duda.
"Aku ingin bercerita kepadamu, di loteng rumahmu," pinta Dante.
"Oke," jawab Chika.
Keduanya berjalan menaiki tangga menuju loteng rumah Chika. Sesampainya di sana Dante dan Chika duduk di kursi yang tertata rapi, biasanya di gunakan untuk tempat kongkow-kongkow keluarga.
"Duduk Dan," pinta Chika yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Mau bicara apa?" sambung Chika.
"Kau dengar Chik, aku harap kau tidak sakit hati." Dante memulai pembicaraan yang terkesan akan menyakiti Chika.
"Bicara saja," ujar Chika mempersilahkan Dante mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikirannya.
"Aku masih mencintai Julian, entah kapan aku bisa melupakannya, karena dia sudah terlalu dalam menyakitiku, tetapi aku terlalu dalam mencintainya. Meskipun pernikahan kita tanpa cinta, setidaknya aku tidak membuatmu sakit hati." Penjelasan yang masuk akal dari Dante.
"Cih! kau yang bilang, jika ingin mempersatukan aku dan Gio. Mengapa kau masih memikirkan perasaanku? Wah baper nih pasti," celetuk Chika membuat Dante tersenyum tipis.
"Hanya mengatakan apa yang ada di hatiku, keluarga kita sangat berharap jika kita berjodoh, tetapi nyatanya hati kita sudah menjadi milik orang lain." Dante menatap langit senja yang mulai gelap, kelap-kelip lampu di sekitar rumah Chika mulai menyala. Angin malam yang dingin merasuk ke dalam tulang. Suasana hening kembali hadir.
Chika yang memahami ucapan Dante hanya mampu menunduk dan tersenyum kecut.
"Tidak perlu memikirkan hal sampai sejauh itu. Pernikahan belum di selenggarakan tetapi kau susah memikirkan banyak hal." Chika berharap jika Dante tidak menjadikan kisah perjodohan menjadi beban, meskipun pada akhirnya keduanya tidak akan pernah bersatu.
"Kau benar juga, tetapi kau mau kan membantuku mendekati Gio?" Harapan Chika, dia ingin sekali bersama Gio.
"Bisa ku pikirkan, tetapi apa kau benar-benar ingin bersama bocah badboy itu?" Dante menatap wajah Chika yang mengharap bantuan darinya.
Sang gadis memasang mata kucing di hadapan Dante, berharap si om mau membantunya.
"Cih! wajahmu menyebalkan sekali. sok imut, ya kan sudah ku bilang, aku ingin tahu seberapa badboynya dia, jika berlebihan, mungkin aku akan mengubahnya lebih baik." sambung Dante.
"Huft! ya terserah kau saja, intinya aku dan dia bersama sajalah." Chika berdiri membelakangi Dante, posisinya melipat kedua tangannya dan menatap langit yang luas.
Dante yang memahami kesedihan Chika, mencoba membantunya.
"Apa keluh kesahmu? cerita saja. Aku tidak akan baper," jelas om duda.
"Dia pernah membantuku di saat masih Maba dulu, aku adalah adik satu tingkatnya. Awalnya aku tidak tahu jika dia badboy, aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya. Sampai sekarang dia masih baik, tetapi hanya saja jarang sekali bertemu. Sekali bertemu pasti saat dia bersama gadis lain. Rasa hati sakit, aku memutuskan untuk mengubah diriku menjadi gadis cuek anak segalanya. Bahkan penampilan ala kadarnya. Aku tidak bisa jauh darinya Dan. Meskipun hanya mampu mencintainya dalam diam." Chika benar-benar sosok gadis yang memegang teguh cinta dan kesetiaan, membuat Dante kagum.
"Ya, aku memahami masalahmu. Setelah ini, aku akan mencoba mencari tahu tentang dia. Aku pastikan kau bisa bersamanya." Dante ikut berdiri, selangkah lebih dekat dengan Chika.
Saking bahagianya, Chika berbalik, niatnya ingin memeluk om duda, alhasil hanya nabrak dadanya saja.
"Aw! dinding gedung apartemen kah ini? keras sekali." Saat Chika membuka mata, Dante telah merengkuh tubuhnya. Chika berada di pelukan om tampan.
Suasana menjadi sangat canggung saat degup jantung Chika berdebar begitu kuat. Dia merasa sangat gugup di peluk Dante.
"Anggap saja pelukan hangat antara adik dan kakak, usiaku 35 tahun. Mungkin kau sekitar 18-19 tahun. Jarak usia hampir 16 tahun, tapi wajahku lebih tampan dari usiaku." Dante membelai rambut Chika lembut.
Sang gadis tenggelam dalam pelukan hangat itu. Entah apa yang Chika rasakan, dia merasa nyaman di pelukan Dante.
"Cukup, kau lepas sekarang." Ucapan Dante tak ia gubris, dia masih memeluk Dante erat.
Dante membiarkannya, dia bahkan membalas pelukan itu.
Curhat di loteng yang berakhir romantis, tetapi entah saat Chika sadar, dia akan mengomel atau tidak.
Saat keduanya berpelukan, ternyata ada Minho yang tidak sengaja melihatnya.
"Sial! kapan aku menikah? melihat mereka berdua, aku tiba-tiba ingin memiliki kekasih," celetuk Minho yang juga berwajah tampan, tetapi masih enggan menikah sebelum membuat bisnis pemancingan untuk sang adik yang masih setengah jalan. Dia ingin memberikan kebahagiaan kepada Chika.