Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arah Angin
Keesokan paginya...
"Pagi Zain," sapaku ketika Zain selesai berbenah diri menghampiri meja makan.
"Anita, sepertinya rumah ini berhantu ya?"
"Ha?"
"Ada yang membangunkanku tengah malam tadi. Dalam gelap ada anak kecil berdiri menatapku di samping kasur terus memandangi."
"Oh itu, dia adikku," singkatku menggoreng telur.
"Ah, aku lebih suka kalau kuning telur di hancurkan," lanjut Zain.
Ayah yang baru berbenah juga ikut bergabung di meja makan.
"Pagi paman."
"Pagi." Terduduk langsung mengambil lembaran koran.
"Kalau dilihat-lihat, paman gak mirip sama Anita ya."
"Hem? Kenapa sikapmu bisa sok akrab begitu sih?" pekik ayah.
Setibanya di sekolah..
"Yang benar saja, masak iya remedial lagi."
"Sulit sekali jika terus mengulang."
"Hancur sudah harapan bangsa."
Suara siswa dan siswi bersaut-sautan di mading sekolah melihat pengumuman hasil ujian UTS.
Peringkat kelas tertinggi, 3 besar.
1. Zain Azril.
2. Anita Sheila.
3. Putri aulia.
Setelah melihat papan pengumuman tersebut, berjalan lesu menuju ruangan kelas.
"Zain peringkat pertama? Yang benar saja!" lirihku masih gak percaya menundukkan kepala di atas meja.
"Sudah pasti itu mukjizat, aku harus belajar lebih giat di liburan musim depan nanti," lanjutku masih menggumam.
Dibanding diriku yang frustasi, Zain justru disampingku dengan santainya duduk mengoyangkan kaki di atas meja mengayun kursi.
"Sudah, sudah, semangat dong Anita, 689 itu nilai yang bagus kok," ujar Alea yang duduk di kursi depan mejaku.
Mendengar hal itu, aku sekilas mendongak kemudian menunduk kembali.
"Coba liat aku, meski sudah belajar semaksimal mungkin, nilaiku tetap aja di bawah 300 dan aku harus remedial lagi. Tapi, aku gak menyerah dan tetap semangat!" lanjut Alea begitu antusias memberikan semangat.
"Liburan musim depan ngapain ya?" gerutu Zain sedang melamun membayangkan sesuatu.
"Ah, Aku suka bikini!" jelas Zain menganguk sembari menopang dagu dengan tangan kanannya.
"Zain, kamu blak-blakan banget," sahut Alea tersipu malu.
"Aku gak tau apa isi otakmu! Pokoknya aku gak bakal mau ke pantai!" singkatku pada Zain lalu bangkit berdiri.
"Woi kalian!" salam Azi menghentikanku.
"Buruan daftar buat jadi peserta pekan olahraga nanti," lanjut Azi membawa selembar kertas.
"Kirain apa," gumamku lanjut berjalan menuju luar ruangan.
"Eh Anita, kamu mau kemana?" tanya Alea.
"Aku mau protes ke bu guru tentang nilaiku," pungkasku meninggalkan mereka dalam ruangan.
"Harusnya dia lebih menikmati acara-acara sekolah kan ya? Padahal aku temannya ada disini," ujar Alea kembali.
"Mungkin dia menggangap kamu bukan temannya," balas Azi menjahili.
Setibanya di ruang guru...
"Kenapa ibu malah memberi tanda segitiga?" ucapku meletakkan lembar hasil nilai di meja bu Dewi.
"Ibu sedang lelah, sekarang ibu gak mau di ganggu dengan hal semacam itu."
"Sekarang masih jam sekolah. Mohon kerjakan tugas, Bu."
Bu Dewi yang sedang menundukkan kepala di atas meja, menoleh ke arahku kemudian melihat lembaran nilai di mejanya.
"Ah yang itu, jawabanmu tidak salah, tapi juga gak benar."
"Kenapa?"
"Karena jawaban itu sama sekali tidak menggambarkan sakitnya patah hati!" Bentak bu Dewi.
Bu Dewi sontak langsung berdiri memberikan contoh kalimat sembari memperagakan dengan gestur tubuh bersedih, "Kepedihan tiada akhir, patah hati, selamat tinggal duhai cintaku."
"Ternyata dia pernah di campakkan ya? Tapi itu cuma pendapat ibu saja, aku tetep gak terima," ketusku.
"Iya iya ibu ngerti kok, kamu pantang menyerah," lirih bu Dewi kembali duduk mengambil pulpen dan lembar nilaiku.
"Serius, Bu?"
"Kamu gak ngerti pahitnya cinta yang kandas, Anita." Bu dewi memberikan kembali kertas nilai padaku.
"Bener juga, aku sudah di tolak Zain," batinku kembali berjalan meninggalkan ruang bu Dewi.
"Bagaimana caranya agar dia menyukaiku? Lagian, kenapa juga aku sampai menyukai Zain?"
Terus berjalan melewati halaman taman sekolah.
"Yo, Anita, nilaimu sudah di perbaiki?" ucap Zain berdiri di belakangku.
Aku berbalik arah berjalan mendekati Zain menekuk alisku memperhatikan wajahnya.
Tiba-tiba.....
BLEKK...(Bola kaki nyasar mengenai lengan Zain).
"Ah......gawat, kena Zain!" ucap seorang siswi yang sedang bermain di halaman sekolah.
Zain memperhatikan bola tersebut, kemudian menoleh ke sisi kanan lengkap dengan mata melototnya.
"Ma-ma-maaf," lirih gadis tersebut mendekati mengambil bola langsung pergi berlari.
"Kamu harus berhenti melototi orang, Zain," pekikku.
"Apa? Aku gak melotot kok," balas Zain menoleh kembali menatapku.
"Menurutku, itulah alasan kenapa orang-orang menjauhimu. Karena tampangmu menakutkan, mereka jadi pada ketakutan. Padahal aku suka saat waktu kamu tersenyum loh. Terserah lah, dah," jelasku berbalik arah berjalan kembali meninggalkan Zain.
Zain terdiam berdiri melamun sendiri, kemudian ia pergi kebawah jendela ruang kelas lainnya terduduk sembari memeluk rahul.
"Udang pedas....asik nih makan udang pedas..." ujar seorang siswi menepuk-nepukkan kedua penghapus kapur papan tulis membersihkan di luar jendela.
Berselang beberapa detik, gadis tersebut baru menyadari jika Zain sedang terduduk di bawah jendela tersebut dengan rambut berlumuran serbuk putih kapur.
"Za-za-zain?"
Zain terus berdiam masih memikirkan sesuatu, saat itu ia terus memikirkan ucapan sebelumnya dariku.
"Padahal aku suka waktu kamu tersenyum."
"Ma-ma-maaf," lirih gadis tersebut.
Zain mulai bangkit berdiri berbalik arah memandang sang gadis, perlahan tapi pasti ia mulai tersenyum, "Gak apa-apa kok."
Di kantin sekolah...
"Kamu menontonya gak semalam?"
"Iya seru tau, apalagi tiap episodenya makin buat deg-deg an."
"Permisi, ada yang jatuh ini," ucap Zain memberikan kunci motor pada kedua siswi di depannya.
"Te-ter-terimakasih."
"Sama-sama," balas Zain tersenyum.
Benar saja, setelah apa yang aku ucapkan padanya, Zain mulai membiasakan diri tersenyum pada siapapun terus berusaha keras meninggalkan kepribadiannya yang dulu.
Dengan merubah sikap, ia berharap tak ada siapapun lagi yang takut atau menjauhi dirinya.
Semua hal baik seperti membantu seluruh siswa yang sedang kesulitan Zain lakukan tanpa pamrih.
Hal yang ia lakukan sontak membuat beberapa siswa panik, heran, bingung bercampur aduk.
Masalahnya, Zain yang mereka kenal selama ini mulai terbiasa bersikap ramah sopan dan santun sekaligus mudah tersenyum.
"Sini serahin samaku, biar aku aja yang bawa," ujar Zain ketika berselisih dengan seketaris sekolah yang sedang kesulitan membawa buku paket begitu banyak.
"Sebenarnya, kalau di lihat-lihat, dia gak begitu menakutkan lagi."
"Iya sih, kelihatannya begitu."
"Tapi kalau di pikir-pikir, dia ganteng juga!"
Beberapa siswi menggosip bisik-bisik memperhatikan Zain berjalan melewati para gadis sembari menggendong ayamnya.
"Ini ayam jagoku, namanya Rahul."
Dalam sekejap Zain terlihat begitu populer, berjalan di dampingi 6 orang siswi, berjalan dari perpus ke kantin maupun ke ruangan kelas.
****
Sampai sini dulu bibik, om tante, berhubung udah jam siang tengah hari begini, otor rehat dulu mau makan siang, lapar juga.. Nanti bakal kita lanjut lagi kok, sankyu gais......
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa