Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Lily : Dating Again
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Mas Dante akan menciumku. Aku kaget dan gelagapan. Tidak tahu harus berbuat apa tapi sungguh aku menginginkannya.
Saat Mas Dante menyiumku rasanya seluruh buku kudukku meremang, ada sensasi aneh di perutku yang membuatku sulit untuk berkata-kata.
Aku ingin membalas ciumannya, tapi aku bingung harus bagaimana. Itu adalah ciuman pertamaku, aku tidak pernah berciuman sebelumnya, aku juga belum mempersiapkan ancang-ancang karena memang Mas Dante menciumku setiba-tiba itu.
Parahnya, kami kepergok Mamanya Mas Dante.
Aku malu sekali. Rasanya aku ingin menyusup ke kolong ranjang dan bersembunyi di sana.
Tapi apa yang harus kumalu kan? Toh kami suami istri, kan? Ciuman itu wajar kan bagi suami istri?
Ah sudahlah aku bingung sekali.
***
Kami sudah tiba di rumah kami beberapa jam Yang lalu. Seperti Yang kuduga, mas Dante memandangi seisi rumah dengan ekspresi bingungnya.
Hari menjelang sore saat kami tiba di rumah. Aku langsung mengantar mas Dante ke kamarnya--kamar utama rumah ini yang ada di lantai satu. Ah ya, sebagai Informasi, untuk sementara Mas Dante harus menggunakan kursi roda untuk beberapa waktu, samai kakinya kuat Dan siap untuk berjalan lagi. Aku juga menyewa seorang fisioterapis untuk Mas Dante.
"Mas istirahat dulu," kataku sesaat membantu Mas dante duduk ke Tempat tidurnya--tempat tidur kami yang tidak pernah ditidurinya.
"Kau menemaniku?" godanya seraya menggenggam tanganku.
Aku tersenyum canggung, "aku harus membantu Mama di dapur."
"Kau ingin memasak?" tanyanya lagi.
"Iya, aku, ibu dan bi Aluh akan memasak makan spesial untuk Mas Dante."
"Jadi aku sendirian?" Tanyanya dengan wajah memelas Yang menggemaskan.
Aku tidak bis menyembunyikan senyumku ketika menatapnya begitu.
"Mas bisa memanggilku, jika perlu sesuatu," ucapku akhirnya.
"Baiklah," balasnya singkat.
Aku memberinya senyuman sebelum berbalik untuk melangkah.
"Lily." Suara segakigus pegangan tangan Mas Dante menghentikan kakiku yang sudah siap untuk melangkah.
Aku berbalik lagi kearahnya.
"Ya? Kenapa Mas?" tanyaku.
Cuup ... Dia mendaratkan kecupan di punggung tanganku dan seketika sekujur tubuhku membeku.
"Masak yang enak, ya, Istriku."
Aku masih membeku, mematung ditempatku berdiri dengan tatapan kosong kearahnya. Ku rasa mukutku juga sedikit terbuka. Aku tidak pernah menyangka hanya dalam hitungan jam Mas Dante yang baru--haruskah ku sebut begini?--benar-benar membuat badai salju besar dalam diriku. Iya, badai salju yang dingin dan membekukan, sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya dan aku menyukai sensasi ini.
"Kau ingin tetap di sini atau bergabung dengan yang lain di dapur?" Suara Mas Dante memecah kebekuanku.
"Ah ya! Hehee ...." Aku cengengesan tidak keruan. "Aku ke dapur dulu ya, Mas. Mas istirahat."
***
Suara hentakan pisau yang membentur talenan, suara minyak panas yang berdesis, suara gesekan piring, gelas dan sendok, serta suara khas dapur lainnya mengisi seluruh ruang dapur besar dengan nuansa putih ini, namun lucunya yang aku dengar, yang ada di kepalaku hanya suara Mas Dante. Aku tidak bisa menghilangkannya, suara Mas dante terus terngiang.
"Lily! Jarikamu berdarah!" Suara ibu mertuaku membuyarkan lamunanku.
"Hah? Apa Mah?"
"Jari kamu berdarah!"
"Jari?" tanyaku seperti orang bodoh.
Bi Aluh berlari ke arahku sambil membawa sepotong serbet lalu membalutkannya ke jari telunjukku. Saat itu aku baru tersadar kalau jariku terkena pisau saat aku sedang mengiris bawang bombay sambil melamun dan saat itu juga aku merasakan sakitnya.
"Aaaawwhh ...." Aku meringis.
Bi Aluh membantuku membersihkan lukaku, tapi aku menolak, aku bukan anak kecil lagi, kan? Aku bisa kok mengurusnya sendiri.
"Biar saya saja Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi," ucapku sambil mengambil alih serbet dari tangan Bi Aluh.
Bi Aluh kembali ke pekerjaannya, aku sibuk membersihkan dan mengobati jariku sementara Ibu mertuaku memandangiku dengan tatapan yang sulit di tebak.
"Kenapa, Ma?" tanyaku seusai merekatkan plester di lukaku.
"Tidak ada, Mama hanya tidak biasa melihatmu melamun seperti itu," kata Ibu mertuaku dengan ekspresi dan nada bicara yang sulit ku artikan.
"Maaf," sahutku. Setidaknya itu kata yang paling aman.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Mama tidak marah.mama hanya tidak terbiasa saja melihatmu begitu," lanjut beliau.
Aku tidak tahu ingin berkata apa lagi,entah mengapa aku merasa jadi salah tingkah dan kikuk. Aku hanya tersenyum-mungkin cengiran aneh lebih tepatnya.
***
Waktu makan malam telah tiba, Kedua mertuaku juga sudah duduk di meja makan, Dan Mas Dante juga tentubsaja ada di sana.
Rasanya sudah Lama sekali kami tidak makan malam begini, seingatku terakhir kami makan malam bersama adalah saat awal-awal pernikahan kami, saat itu kami di undang kerumah mertuaku untuk makan malam bersama keluarga besar Mas Dante, suasananya begitu riuh namun aku merasa kosong dan dingin. Mas Dante sama sekali tidak berbicara atau bahkan menatapku. Dia diam saja seperti patung Yang terpaksa dipajang di tengah keriuhan itu.
Malam ini, suasana tidak riuh San seramai saat terkajir kali kami makan malam bersama. Hnya suara kelentingan sendok, garpu Dan pisau Yang menghujam piring Yang terdengar merdu mengisi kekosongan. Namun, entah mengapa aku merasa suasananya begitu hangat Dan menenangkan.
Mas Dante makan dengan lahap di sebelahku. Seakan begitubmenikmati semua sajian Yang ada di meja makan ini.
"Rasanya sudah Lama sekali aku tidak makan enak begini, bahkan akublupan kapan terkahir kali aku memakannya," kata Mas Dante sambil masih mengunyah steak Yang baru saja ia masukkn kemulutnya.
"Kamu harus berterima kasih pada Lily, dia memasak ini semua untukmu. Bahkan samai jarinya teriris pisau," sahut ibu mertuaku.
"Ma ...," ucapku mendayu sebagai isyarat bahwa seharusnya beliau tidak menceritakan itu.
"Benarkah?" Tanya Mas Dante
"Hanya sedikit luka gores," ucapku seraya memperlihtkan jariku yang sudah terbalut plester luka.
Mas Dante memegang jariku menariknya untuk mendekatkan jariku kearah matanya, lalu dia diam memperhatikan jariku dalam beberapa detik sebelum akhirnya dia menghela nafas berat dan berkata, "lain kali lebih hati-hati ya."
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Namun tanpa kusangka Mas Dante mengecup jariku dan seketika membuatku bergidik.
Suasana tiba-tiba menjadi hening suara gesekan dari peralatan makan tiba-tiba tak terdengar. Aku melirik pelan kearah ayah dan ibu mertuaku di sisi lain meja makan. Dapat kulihat jelas mereka mengulum senyum, menahan agar suara tawa mereka tak keluar.
Apapun yang mereka lakukan, tetap saja aku merasa grpgi dan agak canggung.
~Bersambung~