Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu
Langit tak seperti malam sebelumnya yang gelap gulita dan menumpahkan hujan, kali ini terang berhias bulan purnama dan bintang-bintang yang berkelip. Safana yang duduk ditepi kolam memainkan kakinya ke air, sesekali mengarahkan pandang ke angkasa.
“Pizzamu sudah datang,“ dari arah belakang Prapta menghampirinya, duduk tak jauh disebelahnya dan meletakkan pizza diantara Mereka.
“Trims“ Safana membukanya dan mengambil sepotong, lalu mulai menyantapnya.
Prapta mengikuti, mengambil sepotong pizza dan menemani Safana makan
“Mas anak tunggal, apa tak kesepian kalau sedang berada di rumah sendirian ?” Safana iseng bertanya untuk memecah sunyi diantara Mereka.
“Terlalu banyak pekerjaan kantor yang Kubawa ke rumah dan harus Ku kerjakan sampai larut malam sehingga tak sempat membuatku memikirkan hal lain,”
Safana mengangguk paham, Ia telah selesai menghabiskan pizza ditangannya dan mulai mengambil potongan baru.
“Kau cepat sekali makannya“ baru saja Prapta berkomentar bunyi ponsel disaku celananya terdengar. Prapta mengeluarkan ponsel-nya untuk melihat pesan yang masuk.
Safana tersenyum sambil melirik Prapta yang tengah membaca pesan whatsapp-nya.
“Heidy rupanya“ Prapta menggumam sambil tersenyum simpul.
“Tolong Kau balas ya“ Prapta meletakkan smartphone-nya dipangkuan Safana.
Safana terkejut, melirik smartphone dipangkuannya sekilas lalu menoleh pada Prapta yang tengah berdiri.
“Aku mau ambil minum dulu“ seperti tak merasa bersalah Prapta pergi.
Safana mengerutkan alis, iseng membaca pesan yang tertulis dilayar smartphone.
‘Kau kemana ?, kenapa hari ini tak masuk kantor ?, padahal Aku mau menagih janjimu.’
Foto Heidy terpampang di profil whatsapp yang dikirimnya, Safana mengenali wajahnya. Ia enggan membalasnya walaupun Prapta yang meminta, bukan apa –apa Ia tak terbiasa mengutak atik pesan yang dikirimkan ke ponsel orang lain.
“Sudah Kau balas ?” Prapta membuyarkan lamunannya.
Pria itu sudah berdiri dibelakang punggungnya, membawa dua kaleng soft drink yang salah satunya diberikan padanya.
“Belum“ baru selesai Safana menjawab kembali terdengar bunyi WA masuk.
‘Prapta, kenapa Kau belum menjawab pesanku ?, Aku mau mengajakmu ke tempat karaoke malam ini.’
Safana tak sengaja membaca, Ia meraih smartphone dipangkuannya dan menyodorkan pada Prapta.
“Aku sedang minum. Kau balas saja“ Prapta membuka kaleng softdrink dan menegaknya.
Safana manyun.
“Karyawanmu itu butuh jawabanmu, bukan jawabanku“ Safana menekankan nada bicaranya.
“Bilang saja Aku sedang berduaan denganmu“ Prapta berjongkok dibelakang punggung Safana, menunggu gadis itu membalas pesan di WA-nya.
Safana diam tak bergeming, malah meletakkan kembali smartphone Prapta dipangkuannya dan menegak kaleng softdrink yang tadi dibawakan Prapta.
“Kau ini malas sekali“ Prapta meletakkan kaleng minumannya dan juga kaleng minuman di tangan Safana. Meraih tangan gadis itu dan memaksanya mengenggam ponsel, prapta kemudian menuntun jemari Safana memencet tombol papan ketik yang ada.
‘Aku sedang bersama Safana. Lain kali saja kita ke tempat karaoke.’
Baru sedetik pesan terkirim muncul balasan iconic wajah yang masam, Safana menoleh pada Prapta yang hanya senyam senyum.
“Dasar playboy, jelas-jelas tidak suka masih saja tebar pesona“ Safana menarik jemarinya dari genggaman Prapta.
“Sengaja, untuk membuatmu cemburu“ Prapta meraih smartphonenya dan memasukkan ke saku baju.
Dua bola mata Safana membulat lebar, tawanya meledak “Yang model Mas gini banyak dikampusku, bagus tapi terlalu pasaran buat dikoleksi“ Safana mengejek.
Prapta seperti tertohok, sebelumnya tak ada satupun gadis yang rela menolaknya. Apalagi dengan alasan yang sungguh-sungguh rasional. Tak Safana karang sesaat tapi dengan logika berpikir yang cerdas yang jarang Ia temui pada Heidy atau model-model busana batiknya. Prapta jadi merasa kecil dihadapan Safana, tapi di sisi lain Ia jadi berhasrat ingin memiliki gadis itu. Perempuan cantik dengan pemikirannya yang langka dan pembawaannya yang menyenangkan.
“Menikahlah denganku“ Prapta merengkuh wajah Safana.
Safana mengerutkan alis, tak percaya dengan kata-kata Prapta. Ia menyentuh pergelangan tangan pria itu dan berusaha menurunkan tangan Prapta dari wajahnya. Tapi tangan itu kuat mencengkram wajahnya.
“Safana, dengar Aku. Kita dua orang yang punya banyak kecocokan, pasti akan menyenangkan kalau Kita menikah dan menjalani hidup bersama,“
Safana menatap Prapta dalam-dalam, ada keseriusan yang terpancar dari sepasang bola matanya. Tapi Safana tetap tak yakin dengan kalimat yang diucapkan Prapta.
“Hoaaa….sudah malam. Aku ngantuk“ Safana menepuk-nepuk mulutnya, pura-pura mengantuk.
“Sudah ya, Aku mau tidur“ Safana hendak bangkit dari duduknya, namun Prapta masih saja memegangi wajahnya.
“Kalau Mas tak lepaskan tangan Mas, besok Aku akan ikut orang tuaku balik ke Madura. Ngeri disini jadi mangsa Mas” Safana mengancam.
Prapta akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dan membiarkan gadis itu pergi.
Safana melangkah tenang meninggalkan Prapta, Ia sengaja tak menoleh karena tak ingin Prapta tahu kalau Ia tengah mencoba menahan debur perasaannya yang bergolak.
Dulu semasa kuliah Ia bisa saja menghindari playboy-playboy yang biasa tebar pesona seperti Prapta. Tak sulit menjauhi Mereka, cukup tak menjawab panggilan telephone Mereka dan pindah-pindah tempat kost agar Mereka tak meneror datang.
Tapi kini tak mudah melakukannya, beberapa hari Mereka kenal dengan frekuensi pertemuan yang begitu intens dan perhatian Prapta yang over padanya. Sekuat hati Ia meyakinkan hatinya kalau Prapta tak ubahnya seperti Ardi kakaknya, sekuat tenaga juga Prapta mengobrak abrik perasaannya.
Ia tak tahu itu permainan atau bukan. Yang jelas Ia tak ingin terlibat masalah hati dengan anak teman Ayahnya, Ia tak ingin salah satu dari Mereka terluka dan merenggangkan hubungan pertemanan orang tua Mereka. Sudah sewajarnya Ia sebagai perempuan yang berhati-hati demi menjaga kehormatan orang tuanya.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya