Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reno menyukai Nala
Reno tersenyum menoleh ke arah Nala, Nala yang memang anak yang baik, dia membalas senyuman Reno. "Jadi sekarang kamu panggil saja aku Mas Reno."
"Iya, Mas Reno."
"Ren, menyetirlah dengan baik, lihat jalannya!" Seru Akira kesal.
"Aku ingin tau, berapa hutang kamu pada pria brengsek itu?"
"Untuk apa?" tanya Nala cepat.
"Aku akan melunasinya, kalau perlu aku juga akan membeli toko miliknya. Pria brengsek seperti dia harus di beri pelajaran."
"Tidak perlu, Akira. Aku tidak mau membawa kamu dalam masalah ini, aku bisa melunasinya sendiri."
"Diam!" jari telunjuk Akira menutup pada bibirnya. Nala yang melihatnya terdiam. Dia melihat Akira yang menatapnya tajam.
"Bos sudah sampai, di depan sana adalah cafe di mana kamu bekerja, Kan?" Tanya Reno.
"Iya, itu tempat kerja aku, terima kasih, Ya. Aku mau pergi ketempat kerja aku dulu." saat akan keluar dari mobil, Akira memegang tangan Nala. Sontak gadis cantik itu menoleh ke arah Akira .
"Kamu belum mengucapkan salam denganku."
"Salam? salam apa?" gadis cantik itu bingung, tidak bisa mencerna maksud Akira.
Tangan Akira lembut menelungsup ke arah pipi, kemudian dia menarik lebih dekat wajah Nala dan mengecup dahi Nala dengan lembut. Pipi Nala merona merah karena malu, apalagi di sana ada Reno. Reno yang melihat hal itu seketika membulatkan matanya lebar, dia tidak menyangka, bosnya yang terkenal tidak mempunyai perasaan bisa sehangat itu sama gadis yang baru dia temui.
"Akira, aku pergi dulu." Nala langsung keluar dari dalam mobil itu dan berlari kecil di trotoar, dia ingin menyebrang jalan.
Tertarik senyuman pada sudut bibir pria tampan dengan wajah tenang itu, dia menyukai tingkah Nala yang polos dan apa adanya.
"Akira, apa kamu jatuh cinta pada gadis itu? kamu lupa dengan rencana awal kamu?" Tanya Reno dengan nada ketus.
"Aku ingat."
"Lalu? itu tadi apa? kamu bilang hanya memanfaatkan dia, tanpa berbuat yang lebih sama dia, dan nanti sewaktu kalian sudah menikah, kamu tidak boleh menyentuhnya."
"Kenapa? apa hal itu menggangu kamu?" salah satu alis mata itu menarik ke atas.
"Tentu saja, melihat Nala lebih dekat, kenapa aku merasa kita tidak seharunya berbuat hal seperti ini terhadap gadis itu."
"Hidup Nala akan aku pastikan akan bahagia setelah ini, dia tidak akan kekurangan lagi. Dia tidak akan bersedih."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin." Mata Akira menatap pada Reno. "Aku pastikan tidak akan ada lagi yang bisa menghinanya."
"Aku percaya sama kamu, Bos. Aku juga akan membuat dia untuk melupakan sakit hatinya sama kamu nantinya. Gadis yang hatinya tersakiti, akan lebih mudah jika ada seseorang yang mengobatinya."
"Kamu menyukai, Nala?"
"Iya, aku melihat gadis itu hari ini, kenapa rasanya hatiku seolah menemukan sesuatu yang lama aku cari, gadis itu sangat cantik dan lembut, dia juga kelihatannya memiliki sifat yang baik."
"Tapi dia akan menjadi istriku, Ren. Jangan kamu lupakan hal itu."
"Hanya status, Bos. Bukan suami istri seperti sewajarnya."
"Terserah kamu. Ya sudah, kita jalan dan antarkan aku ke tempat di mana Nala dulu bekerja, ada hal yang harus aku selesaikan."
"Kamu mau ke sana?"
"Iya, aku mau menyelesaikan masalah Nala dan memberi pelajaran dengan pria brengsek itu, dia harus meminta maaf pada Nala. Kalau perlu aku akan membuat dia sujud di kaki Nala."
Reno dengan senang hati mengantar Akira ke sana, dia juga ingin melihat wajah pria brengsek itu, kalau perlu dia ingin menonjok muka pria brengsek kurang ajar itu.
Di dalam cafe, Nala yang sudah mengganti baju seragamnya, dia di tempat kerja menyimpan satu lagi seragam kerjanya. Dia segera mengambil buku menu dan menuju keluar membantu Tata membersihkan meja.
"Nala," bisik Tata tepat di sebelah Nala yang sibuk mengelap meja.
"Ada apa?"
"Aku kemarin pulang bekerja diantar oleh mas Radit. Aku senang sekali mas Radit mau mengantar aku pulang."
"Oh, Ya? bagus kalau begitu, mas Radit kan memang orang yang baik."
"Iya, dia orang yang baik dan tampan, aku menyukai saat dia sedang tersenyum saat--," Tata menghentikan ucapannya.
"Saat apa, Ta?" Nala melihat aneh pada Tata. "Saat apa? kamu itu bicara tidak sampai selesai." Nala menggoyangkan tubuh Tata.
Tata tidak meneruskan ucapanya karena melihatas Radit berjalan ke arah mereka. "Na, kamu hari ini tidak bawa motor, Ya? motor kamu kemana? apa rusak lagi?" Mas Radit bertanya karena tadi tidak melihat motor Nala di taruh di parkiran depan cafe.
"I-iya, motor aku mogok, Mas Radit. Dan sekarang ada di bengkel sedang diperbaiki." Nala sendiri tidak tau motornya nasibnya bagaimana? tapi nanti dia pasti akan menanyakan pada Akira.
Kakak yang caem, jangan lupa like ya. Aku harap novelku kali ini banyak yang baca, biar aku semangat buat nulisnya. Kalau pembacanya banyak aku up 2 bab deh. Makasi semoga sehat selalu.
lanjuut
lanjuutt