Buat para readers, sebelum memberi komentar jelek, sebaiknya baca hingga akhir Bab supaya tahu cerita yang sebenarnya.
Season 1
Arzio Roland, Seorang pria berusia 38 tahun terpaksa menikahi seorang gadis ingusan berusia 18 tahun, Mayra. Pernikahan itu terpaksa ia lakukan hanya untuk mengubah imej dirinya yang sering disebut perjaka tua menjadi pria beristri.
Beda halnya dengan Mayra, ia terpaksa menyetujui pernikahan ini demi adiknya, Rio yang masih berusia 3 tahun. Ia ingin adiknya mendapatkan pendidikan yang bagus sama seperti perjanjian yang dilontarkan oleh Tuan Arzio Roland kepadanya.
Season 2
Arash Ibrahim yang mendadak menjadi suaminya Zaira Roland, anak gadis Arzio Roland dan Nyonya Humayra, ditinggalkan oleh calon suaminya dihari pernikahan mereka.
Arash sudah lima kali menikah namun masih perjaka di usianya yang sudah 38 tahun. Akan kah Arash dan Zaira bisa bersatu untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil???
Akhirnya Dokter itupun tiba,
"Dokter, cepat periksa keadaan istri kecilku!" kata Zio dengan wajah cemas
"Sebentar..." Saat Dokter itu ingin membuka selimut yang menutupi tubuh Mayra, Zio langsung menyambarnya.
"Jangan Dokter, dia sedang tidak berpakaian." ucap Zio sambil menahan malu.
Dokter itu sepertinya mengerti dengan yang baru saja terjadi karena ia begitu mengenal lelaki disampingnya itu.
Dokter itu melirik kearah Zio sambil tersenyum simpul.
"Dia kelelahan karena bergulat dengan mu, kan? kata Dokter itu diselingi dengan tawa yang begitu menyebalkan bagi Zio
"Sudah, Kevin periksa saja!!!" ucapnya kesal pada Dokter yang bernama Kevin itu.
"Baik, baik Tuan pemarah! Aku akan memeriksa istri mu ini." ucapnya sambil terkekeh
Dokter kevin memeriksa Mayra dengan sangat teliti. kening Dokter kevin terlihat mengkerut dan wajahnya mendadak serius.
"Sepertinya dia hamil, Zio! tapi untuk lebih jelasnya lagi, sebaiknya kamu periksakan langsung ke Dokter kandungan." ucap Dokter kevin sambil menatap tajam ke mata Zio.
"Apa, dia hamil?!" ucap Zio setengah tidak percaya
Dokter Kevin mengangguk pelan.
Tuan Zio mengusap wajahnya dengan kasar dan duduk di tepi tempat tidur.
"Apa kau sudah membuka hatimu untuk istri kecil mu ini? tanya Dokter Kevin
"Entahlah, aku tidak tahu." ucap Zio
"Tapi kamu tidak pernah mencemaskan keadaan seorang wanita selama ini, selain Rachel." Dokter Kevin
"Aku masih belum bisa melupakan Rachel. Semalam aku mencari keberadaannya dan entah mengapa ia menghilang bagai ditelan bumi." kata Zio
"Bagaimana dengan Mayra?" tanya Dokter kevin sambil menjatuhkan diri ke sofa di depan tempat tidur.
"Mayra?!" seketika Zio melirik ke arah Mayra yang tidak sadarkan diri.
"Sebenarnya aku selalu iba padanya. Aku tidak tega menyakitinya. Namun wanita ini kadang membuatku kesal. Dia tidak bisa menjaga adiknya yang nakal itu ditambah dia juga senang sekali mencari perhatian lelaki lain. Aku cemburu! Aku tidak ingin dia melirik orang lain." ucap Zio sambil mendengus kesal.
"Itu artinya kau telah membuka hatimu padanya kan?!" kata Dokter Kevin sambil terkekeh
"Tidak mungkin!" ucap Zio sambil menatap tajam Dokter itu.
"Hatimu sedang dalam dilema besar, Zio. Kau mulai membuka hatimu kepada istri kecilmu ini namun kau juga yang selalu menepisnya dan tidak terima jika ada seseorang yang menggantikan posisi Rachel dalam hatimu." kata Dokter Kevin.
Seketika Zio terdiam. Mungkin apa yang dikatakan oleh Dokter Kevin itu ada benarnya.
"Apa menurut mu seperti itu?!" tanya Zio
"Sudahlah, Zio! Aku sangat mengenalmu. Sebaiknya lupakan Rachel dan mulai kehidupan baru bersama istri mu ini!" ucap Dokter Kevin.
Tuan Zio terdiam,
"Sudahlah, sebaiknya aku pulang! dan ingat transfer bayaran ku dua kali lipat!" ucapnya
"Tidak bisa begitu, kau bahkan tidak memberinya resep atau obat?!" Zio kesal
"Memang kau ingin aku memberinya obat apa? obat kuat atau obat perangs*ng?" goda Dokter Kevin
"Dasar Dokter sialan!" Zio mendengus kesal
"Tidak lama lagi dia pasti sadar. Dia hanya kelelahan akibat pertarungan mu yang terlalu menggebu-gebu. Kalau masalah kehamilannya, sebaiknya kau periksakan dulu ke Dokter kandungan." kata Dokter Kevin sambil berjalan kearah pintu.
"Terimakasih, Kevin!" ucap Tuan Zio
Sepeninggal Dokter Kevin, Zio segera menghampiri Mayra yang masih tergolek. Ia mengelus perut Mayra,
"Ternyata Tuhan kembali menitipkan seorang bayi untukku." gumam nya
Zio meraih foto dirinya bersama Rachel, buliran bening itu kembali meluncur dari sudut matanya. Ia begitu mencintai wanita itu namun dengan tega wanita itu membohonginya hanya untuk sebuah materi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hatiku masih milik Rachel dan Mayra sudah mulai memasuki hatiku sedikit demi sedikit." Zio kembali mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba ada pergerakan di tempat tidur. Mayra mulai menggerakan kaki dan tangannya. Zio segera mengembalikan foto kenangannya kedalam laci dan menghampiri Mayra yang mulai sadar.
"Mayra," Tuan Zio mulai mendekati istri kecilnya itu,
"Tidak, jangan sentuh aku! Menjauh dariku..."
Mayra duduk dan meringkukan bandannya sambil terisak. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Mayra!" Zio mengulurkan tangannya namun segera ditepis oleh Mayra.
"Jangan sentuh aku... Aku jijik!" kata Mayra sambil terisak-isak.
Mayra bangkit dan keluar dari kamar itu dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh polos nya. Mayra berlari dengan selimut itu tanpa ia sadari, ia berpapasan dengan Aditya.
Aditya memperhatikan Mayra yang terlihat sangat berantakan dan menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Mayra..." ucapnya lirih.
Mayra kembali ke kamarnya, ia melihat Rio tengah tidur bersama Bi Inah yang menemaninya. Bi Inah bangun ketika mendengar pintu kamar itu dibuka.
Alangkah terkejutnya Bi Inah melihat kondisi Mayra yang terlihat berantakan dan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Mayra?!" Bi Inah segera membawa Mayra menjauhi kamarnya agar Rio tidak terbangun.
"Ada apa, Nak!" tanya Bi Inah cemas
"Tuan Zio itu jahat, dia sangat jahat!" Mayra menagis tersedu-sedu dipelukan Bi Inah
"Apa maksudmu, Nak?" tanyanya lagi
"Aku benci Tuan Zio! Aku sangat benci!" ucap Mayra masih dengan tangisnya.
"Aku akan pergi dari sini! Aku akan meninggalkannya. Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi sikapnya yang semena-mena terhadapku. Mentang-mentang aku miskin, dia berbuat semaunya kepadaku!?" ucap Mayra lagi.
Dari kejauhan, Tuan Zio memperhatikan Mayra. Ia tidak percaya istri kecilnya itu akan berpikir seperti itu.
"Aku akan cari cara supaya dia tidak bisa keluar dari rumah ini! Apapun caranya, walau dia harus membenci diriku sekalipun." batin Zio
Tuan Zio melangkah pergi dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Bi Inah terus berusaha meyakinkan Mayra agar tidak pergi dari rumah itu.
"Mayra, jangan pergi! Ibu sangat menyayangi kalian seperti anak Ibu sendiri. Ibu mohon Mayra, tetaplah disini. Temani Ibu." pinta Bi Inah dengan airmata yang mengalir di wajah tua nya.
Mayra semakin mempererat pelukannya. Ia juga menyayangi Bi Inah seperti ia menyayangi ibunya namun prilaku Tuan Zio yang semena-mena terhadapnya, membuat ia tidak tahan berlama-lama lagi tinggal dirumah itu lagi.
Bi Inah segera mengajak Mayra memasuki kamarnya, ketika tangisnya sudah mereda.
"Sebaiknya kamu istirahat saja ya, Nak!" ucap Bi Inah
Mayra pun mengangguk pelan dan menutup pintunya. Mayra berbaring di kasurnya dan segera memejamkan matanya.
Ketika pagi menjelang ia merasa ada seuatu yang melingkar di tubuhnya. Setelah ia lihat ternyata tangan Tuan Zio yang melingkar tepat di pinggangnya. Dia bahkan rela tidur berdesakan dikasur sempit itu.
"Tuan Zio!!!" Mayra kaget dan segera bangkit namun ditahan olehnya.
Rio yang ikutan terbangun langsung menyerang Tuan Zio dengan pukulan kecilnya ditangan lelaki itu. Tuan Zio hanya diam dan merasakan pukulan itu sambil tersenyum manis menatap wajah Mayra yang cemberut.
...----------------...