Moza Remon seorang gadis cantik yang harus menderita setelah kepergian kedua orang tuanya..
Suatu malam dia di usir oleh Pamannya dalam cuaca hujan deras menyusuri jalanan jalanan dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya..
Namun tiba tiba dia bertemu dengan seorang laki laki tampan di saat bersamaan tubuhnya terasa lemah dan jatuh pingsan.
Bagaimana kelanjutan hidup Moza setelah bertemu dengannya, apa dia akan kembali menderita atau bahkan menjadi bahagia.. ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Encha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon Hartarajasa
Moza dan Valen sudah selesai kelas hari ini dan mereka berjala keluar, Valen masih belum menyangka dengan sikap Moza saat di kantin dan selama ini Moza merupakan gadis kalem dan dia sama sekali tidak pernah bisa marah namun nyatanya dia bisa berbuat seperti itu kepada Felice juga Rio.
" Valen,, Kamu kenapa sih dari liatin aku terus"
" Gue masih gak nyangka Za Loe bisa seberani kayak tadi, tapi bagus deh jadi mereka gak seenaknya lagi sama Loe "
Moza tersenyum,,
Dia sudah sangat lelah dengan semua yang sudah mereka lakukan kepadanya sudah cukup mereka membuat menderita hingga semua harta keluarganya diambil alih ke tangan mereka.
" Oya Loe pulang naik Apa, bareng gue "
" Gak usah,, Aku sudah di jemput " Ucap Moza menatap sebuah Mobil yang berhenti tepat di depannya dan terlihat Agus langsung keluar dan membuka pintu mobilnya.
" Ya Udah Aku duluan ya, Kamu hati hati di jalan bye "
" Bye Moza "
Valen terus menatap Moza hingga mobilnya sudah jalan, rasa tenang di rasakan olehnya karena sekarang Moza menemukan orang yang sangat baik dengannya dan memang sudah sepantasnya Moza mendapatkan semua itu.
Valen lantas menuju mobilnya dan melajukan nya meninggalkan kampus.
-
Sementara dalam perjalanan Moza teringat jika dirinya akan ke Kantor Leon .
" Pak Agus, Kita bisa ke Kantor Leon "
" Baik Nona "
" Terima kasih "
Moza akan membicarakan tentang kuliahnya, mungkin Moza akan minta bekerja di kantornya untuk bisa membiayai kuliahnya karena tidak mungkin jika Leon yang membayar semuanya.
Setelah perjalan sekitar 30 menit mobil mereka sampai di depan Gedung Tinggi dan terlihat sangat ketat.
" Silahkan Nona " Ucap Agus membuka pintu mobilnya
Moza berdiri menatapnya, Leon memang benar benar bukan orang sembarangan pantas saja rumah nya begitu besar dan banyak penjagaan di sana.
Di saat Moza berjalan dia menatap semua Plang Hartaraharja Grup nama yang begitu familiar dengannya.
Namun Moza kembali berjalan masuk dan menuju resepsionis.
" Selamat siang, Ada yang bisa saya bantu "
" Siang Mba, Apa Leon em Maksud saya Tuan Leon ada di dalam " Ucap Moza sopan
" Apa sebelumnya sudah membuat janji "
Moza terdiam namun dia menggeleng..
" Harus membuat janji lebih dulu Nona sebelum bertemu Tuan Leon "
" Ya Sudah Mba, Terima kasih " Ucap Moza
" Leon memang orang sibuk, mending aku balik aja deh di rumah saja aku bicara dengannya "
Moza akan berjalan keluar namun tiba tiba seseorang memanggilnya.
" Moza,, " Ucap laki laki yang berjalan menghampirinya
Moza menoleh namun dia sama sekali tidak mengenal dengannya,,
" Kamu Moza kan " Ulang laki laki tersebut
" Iya Saya Moza, Anda siapa ya " Ucap Moza
" Saya Samuel teman Leon, Saat itu Saya memeriksa kamu di rumah Leon "
Moza terlihat mengingat namun sama sekali tidak bisa mengingat siapa dia, Samuel tersenyum..
" Saat itu kamu pingsan pasti kamu tidak mengenaliku "
" Oh pantas saya sama sekali tidak ingat "
" Kamu ke sini mau ketemu Leon "
" Ya, tapi sepertinya Leon sibuk dan aku belum membuat janji dengannya "
" Janji " Ulang Samuel
" Tadi aku sudah menanyakan keberadaan Leon namun resepsionis bilang aku suruh buat janji dulu "
Samuel menoleh, dia pun mengajak Moza masuk ke dalam
" Kamu ikut saya, kita ke ruangan Leon " Ucap Samuel dan Moza mengangguk.
Moza mengikutinya namun Samuel berhenti di meja resepsionis dia pun berbisik..
" Lihat wanita di belakang saya, langsung ijinkan dia masuk jika kalian tidak ingin di pecat Leon " Ucap Samuel dan wajah kedua resepsionis langsung mengangguk
" Yuk Masuk " Ucap Samuel dan Moza kembali mengikutinya.
-
Sedangkan Leon,,
Dia sedang sibuk dengan berkas, tiada hari tanpa kesibukan bagi Leon membuatnya menjadi Pengusaha sukses se Asia.
Tiba tiba pintunya terbuka,,
" Kenapa kembali " Ucap Leon menoleh dan matanya menatap Moza yang berdiri di depan pintu bersama Samuel
" Astaga,, galak banget loe jadi cowok " Ucap Samuel
" Moza " Ucap Leon berdiri
" Apa aku mengganggu, Ya Udah aku balik aja deh " Ucap Moza membalikan tubuhnya namun Leon menahan tangannya hingga Moza terjatuh dalam pelukannya.
Mata mereka saling pandang dengan wajah yang sangat berdekatan bahkan Leon terus memeluk pinggang Moza.
" Ehem,, ehem,, " Deheman Samuel membuat mereka melepaskan tangan masing masing
" Bisa kan bermesraan nya di rumah aja gak lihat ada gue di sini " Ulang Samuel dan membuat Leon juga Moza salah tingkah
" Sudah lah,, gue balik dulu ke Rumah Sakit.. Moza duluan ya "
" Ya,, Makasih " Ucap Moza tersenyum dan Samuel mengangguk.
" Kamu ngapain ke sini dan kenapa bersama samuel " Ucap Leon
Moza menatapnya,,
" Tadi ketemu di depan " Ucap Moza dan Leon mengangguk..
" kita duduk di sana "
Moza mengikuti Leon dan menatap ruangan yang begitu Luas, perusahaan yang besar bahkan Moza membaca di depan pintu Loen yang bertuliskan ruangan CEO berarti Leon adalah pemilik Hartarajasa Grup.
" Astaga Moza,, Jadi selama ini Kamu tinggal bersama CEO Hartaraharja Leon Hartaraharja yang terkenal sangat dingin "
Moza menggeleng gelengkan kepalanya, dia benar bener sama sekali tidak menyadari semuanya.
" Moza,, Kenapa apa kamu sakit " Ucap Leon khawatir
" Tidak " Ucap Moza menggeleng
" Terus kenapa kamu "
" Aku hanya baru tau jika Kamu ternyata Leon Hartarajasa,, kenapa kamu tidak memberi tahuku "
" Memangnya buat apa saya memberitahu identitas Saya "
" Iya juga sih "
" Terus kamu ngapain ke kantor dan kenapa tidak memberitahu Saya "
" Bagaimana bisa, Aku saja gak punya nomor kamu "
Leon mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Moza.
Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Moza.
Moza terlihat mengambil ponselnya di dalam tas dan terlihat nama Leon di layar ponselnya.
Moza tersenyum kikuk menatap Leon yang juga menatapnya.
" Oya, Aku ke sini mau bicara sama kamu apa kamu sibuk "
" Tidak "
" Aku mau kerja " Ucap Moza dan langsung membuat Leon menatapnya tajam
" Maksud kamu "
" Aku sekarang Kuliah dan aku harus membayarnya jadi aku mau kerja untuk membiayainya "
" Tidak" Ucap Leon beranjak
" Terus aku harus membayarnya pakai apa Leon kalau Aku gak kerja, aku saja sudah tinggal di rumah kamu "
Leon menghela napasnya dan kembali duduk bahkan dia memegang kedua bahu Moza membuat Moza kaget.
" Dengar semua yang kamu butuhkan akan menjadi tanggung jawab Say Moza Remon "
" Ta- tapi,, Kita bukan siapa siap "
" Saya tidak akan mengijinkan kamu kerja " Ucap Leon melepaskan tangannya
" Kamu sudah terlalu baik denganku Leon, dan aku gak mau terus terusan merepotkan kamu "
" Karena kamu berharga untuk saya Moza Remon " Ucap Leon tanpa sadar dan membuat Moza bingung.
" Lupakan " Ucap Leon beranjak menuju kursi kerjanya
Moza menatapnya, dia jelas mendengar ucapan Leon namun dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Leon.
" Apa yang sebenarnya Leon katakan, apa maksudnya jika aku berharga untuknya" gumam Moza terus menatap Leon yang kini sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.