Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Setelah kesibukan yang amat sangat terasa dengan waktu yang sepertinya singkat, kini gatra tersenyum keluar ruangan dengan sidang yang selesai memuaskan. ia bahkan tak percaya dengan dirinya sendiri, apalagi bu tania benar-benar membantu nya walau sedikit.
"Sayang..." wanda bergelayut manja ditangan gatra sambil tersenyum lebar
"Lo tau gak?" tanya gatra sambil menaikan alisnya "sidang gue lancar" sambungnya dengan bangga
"Wah sama dong kita" jawab wanda semakin bermanja-manja di tangan gatra
Padahal mereka sedang berdiri didalam kelas yang sepi tapi, pintu terbuka lebar. beberapa orang lalu lalang menatap kearah keduanya seperti mengomentari tapi gatra dan wanda acuh saja.
"Haris sama raka mana?" tanya wanda
"Haris sama raka beda jadwal" jawabnya enteng
Wanda menganggukkan kepalanya pelan sambil mengelus dada bidang gatra, gatra tersenyum menarik pinggang wanda dan mencium leher wanda dengan lembut dan wanda seperti menerima saja perlakuan dari gatra.
Namun seketika jeritan salah satu mahasiswa membuat keduanya memberhentikan aktivitas tak baik itu sambil menatap bingung ke arah pintu.
Wanda segera melepaskan tangannya yang sedari tadi mengelus punggung gatra ketika melihat pak rangga berdiri dihadapan keduanya.
Pak rangga dengan wajah murka menghampiri keduanya, wanda segera berlari ke belakang sambil menundukkan kepalanya.
Kejadian itu pun serontak menjadi pusat perhatian para mahasiswa lainnya, tak lama suara langkah kaki berjalan kasar "ada apa ini?" tanya salah seorang dosen lelaki
"Ngapain kalian?" teriak pak rangga dengan suara kesalnya terlihat wajahnya memerah menahan amarah, bagaimana tidak? secara tidak langsung ia memberikan jalan pada seorang lelaki bajing*n ini untuk wanita yang sangat ia cintai.
"Santai" gatra memundurkan langkahnya sambil mengarahkan kedua telapak tangannya seolah berucap "jangan mendekat"
Karena suara ricuh terlihat beberapa dosen pun ikut datang, termasuk bu tania.
"Kenapa?" tanya bu tania pada mahasiswa yang sudah berdiri sejak awal disana, dadanya serasa terbakar setelah mendengar jawaban dari mahasiswa nya ini.
"Sini!!!!" teriak pak rangga "kamu gak punya malu apa gak punya otak hah?" sambungnya dengan nada sinis
Gatra tersenyum pias sambil melepaskan tas yang tersangkut di bahunya "sini lo" ucapnya menantang pak rangga dengan sorot mata tajam
Pergulatan pun terjadi, gatra tiada ampun menendang berkali-kali perut pak rangga seolah ia tau kelemahan lelaki berotot dihadapan nya.
Sama dengan gatra, pak rangga pun mendaratkan pukulan yang cukup keras ke wajahnya hingga mengeluarkan darah segar dimana-mana.
Setelah beberapa orang membantu memisahkan keduanya, barulah mereka selesai dengan wajah sudah babak belur tak karuan.
"Pak rangga stop" teriak bu heny lantang
"Gatra kamu ini mahasiswa ngapain kalian ciuman di kampus hah?" teriak pak rangga masih tak terima
"Jangan ngarang deh lo, lo nya aja yang iri an!!! lo tuh norak" maki gatra dengan kesal
"Apa kamu bilang? norak? kamu pikir kita gak bisa nuntut kamu supaya nikahin wanda hah?" tanya lagi pak rangga dengan berapi-api
"Hahahaha" gatra tertawa kencang membuat gema "apa? menikah? lo pikir gue bego? gue bahkan gak sampe ngehamilin dia"
"Kalo seandainya pintunya tertutup dan gak ada yang liat kamu, apa masih bisa di jamin?" tanya pak rangga mengibaskan lengannya yang sedari tadi di pegangi beberapa mahasiswa
"Ya seterah gue dong, mau jadi mau enggak. apa urusan lo? jangan mentang-mentang lo disini dosen terus banyak gaya!!! apa lo gak mikir gue bisa aja nyuruh orangtua gue beli nih kampus" jawab gatra dengan sombongnya
"Cukup gatra!!!" bentak bu tania dengan tegas
"Kok ibu bela-in dia sih?" tanya gatra naik darah
"Saya gak bela-in siapa-siapa disini, saya cuma mau kamu juga tetap jaga tata krama dan ucapan kamu sama pak rangga. bagaimana pun di dosen disini" jawab bu tania dengan tegas "dan pak rangga saya mohon, jaga attitude bapak juga. ini kampus bukan ajang bela diri" sambungnya
"Kalau dia gak nyolot, gue gak bakal tuh ikut ke bawa emosi" kata gatra membela diri
"Kalau kamu gak ngelakuin hal tercela saya juga gak akan nyolot" tangkis pak rangga
"Awas aja kalo sampe orangtua gue beli nih kampus, liatin aja" ancamnya dengan tegas menatap pak rangga
"Cukup gatra" bu tania melipat kedua tangannya didada menatap tajam ke arah gatra "emangnya siapa sih kamu? tanpa nama orang tua dibelakang kamu itu?"
Pertanyaan bu tania seolah mencabik-cabik rasa kesalnya, membuat gatra seolah emosi namun tak bisa menjawab nya dengan kalimat apapun.
Bu tania segera melangkahkan kakinya keluar menuju ruangannya, rasanya begitu sakit mendengar calon suami kita sendiri berbuat hal tak pantas pada perempuan lain.
"Baru mau menikah, apa aku yakin gatra tak seburuk yang ada dipikiran ku?" tanya bu tania pada diri sendiri sambil menggelengkan kepalanya serasa berat sekali melihat kenyataan bahwasanya gatra memang lelaki nakal.
Kini semua dosen beserta dua mahasiswa yaitu gatra dan wanda sedang duduk membicarakan kejadian tadi di ruang tamu kampus.
"Kamu mengakui itu wanda? gatra?" tanya bu heny dengan penuh penekanan
Wanda hanya bisa menahan ketakutannya sambil menundukkan kepalanya tapi, gatra seolah bersikap tidak ada yang terjadi dan biasa saja.
"Iya" jawab gatra yang langsung membuat para dosen serasa tidak percaya "tapi gak sejauh itu, saya dan wanda cuma pelukan" sambungnya
"Pak rangga melihat mereka berciuman?" tanya bu heny pada pak rangga
Pak rangga terdiam dan menggelengkan kepalanya karena dia memang melihat saat gatra dan wanda berpelukan saja.
"Gatra, wanda. kalian tau kan ini kampus? masa di kampus pelukan" kata bu heny dengan halus mencoba meredakan amarah gatra yang benar-benar seperti terbakar melihat bu tania mengobati luka pak rangga
"Jadi gimana? masih mau di perpanjang?" tanya gatra bangun dari duduknya
"Saya rasa tidak perlu, disini kedua belah pihak salah. tapi saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi" jawab bu tania
"Okeh" jawab gatra langsung pergi meninggalkan ruangan itu, di susul oleh wanda yang segera berlari ke arah gatra "sayang"
"Stop panggil gue sayang deh" omel gatra
"Tapi kan tadi lo mau ngelakuin itu sama gue?" tanya wanda bingung, karena pikirannya bahwa gatra bisa menerima dirinya
"Lo pikir kalau gue ngelakuin itu tandanya gue suka sama lo? sayang? cinta?" tanya gatra menaikan kedua alisnya tanpa rasa ragu wanda mengangguk-kan kepalanya
"Lo nya aja yang bego" makinya "gak ada harga dirinya banget jadi cewek, mau aja gue gituin. lo boleh suka sama orang, tapi kalo cara dapetin lo dengan ngerendahin harga diri lu sendiri seharusnya lo tau. dia mau sama lo karena tubuh lo, bukan hati!!!" kata gatra dengan penuh penekanan dan langsung berlalu pergi masuk ke dalam mobil
Tinggal-lah wanda sendiri dengan rasa kekecewaan teramat dalam, karena ucapan gatra seolah bilang bahwa dia tidak akan pernah suka dirinya karena murahan.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek