Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Autor POV
Alarm ponsel Rena berdering, berkali-kali. Tak ada yang berubah dari posisi tidur sepasang suami-istri yang masih terbuai di alam bawah sadar mereka.
Saling berpelukan, menghangatkan satu sama lainnya di bawah selimut bulu yang tebal. Hingga salah satu dari mereka mendengar sayup-sayup suara alarm dan mulai mengejapkan matanya.
Rena menggapai ponselnya yang berada di atas nakas, kemudian menekan tanda X agar suara alarm berhenti berbunyi.
Sepersekian detik Rena menutup matanya kembali, dan seketika tersadar untuk melihat jam di ponselnya. Ia teringat bahwa sekarang hari senin. Hari sibuk bagi semuanya.
Dirinya langsung terlonjak kaget, mana kala melihat jam di ponselnya sudah menunjukan pukul 06.35 menit.
ajigileee
"Mas..masss..maaasssss!" Rena membangunkan Banu dengan lembut. "Hampir jam 7, Mas!" imbuhnya
Namun naas, sang suami malah membawanya kedalam pelukannya.
Rena mencoba meronta, sayang pelukannya begitu erat.
Rena mencoba membisikan kata dengan selembut mungkin "Sayangku, sekarang pukul 7." Dan benar saja seketika Banu melepaskan tangannya, kesempatan bagi Rena untuk berlari ke kamar mandi
apakah aku bermimpi tentang panggilan sayangnya
Banu beranjak ke dapur, mencuci muka dan meminum air putih, kemudian membuat 2 cangkir teh panas.
mengambil telur di kulkas dan membuat olemet kesukaan sang istri.
Rena keluar kamar menggunakan baju biru dongkernya, memakai jilbab biru langit untuk mempercerah penampilannya.
" Masak apa?" Rena bertanya sambil melirik jam yang ada di dinding, kemudian duduk di meja makan.
"Omelet, sarapan dulu biar ada tenaga buat teriak-teriak nanti!" meletakan piring didepan mejanya. " Tehnya habiskan sekalian, nanti aku pulang malam ya, jadwal closing hari ini," imbuhnya
"Iya, Hati-hati nanti di jalan ya! kalo gitu Ibu berangkat dulu." Menyalami suaminya dan menerima kecupan lama sang suami.
"Maafin aku ya Bu? "
"Ko Maaf si? " Rena menghadap sang suami
"Jadi bikin Ibu telat soalnya." Banu tersenyum lembut.
huft
"Ya sudah asalamualaikum."
Rena mengeluarkan sepeda mininya dan mengayuhnya sampai ke sekolah
Sekolah sudah terlihat lengah, sudah tak ada wali murid yang menunggu di depan kelas.
tumben sunyi senyap gini
"Asalamualaikum!" Rena memasuki ruang kelas dan anak-anak berhamburan menuju ke arahnya untuk berebut salam. Sudah wajar hal seperti itu diperebutkan di lingkungan sekolah.
"Tumben sepi Bu Genti?" dengan mengangkat dagu Rena bertanya
" Si jeger gak berangkat, jadi gak banyak drama," tertawa kecil.
Ya, Jeger itu adalah anak broken home, setiap berangkat pasti selalu bikin rusuh, membuat masalah kepada temannya. Ada saja yang dilakukannya untuk mengusili temannya sehingga banyak yang takut dengan Jeger.
Sebetulnya dia anak yang baik, mudah untuk diarahkan. Harus sabar menghadapi anak model dia. Jeger hanya kurang kasih sayang, kurangnya perhatian dari keluarga. Menjadikan dia mencari perhatian di luar rumah, dengan keisengan yang menyebabkan dia semakin dicap tak baik oleh teman-temannya.
Akhirnya seperti biasa di Senin pagi, anak-anak membaca iqro. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran seperti biasanya.
Di sela-sela pembelajaran, ketika anak-anak sedang sibuk mewarnai dan melingkari gambar yang boleh di contoh dengan indikator Sosial Emosional anak, hampir selesai, ponsel Rena berbunyi. Bu Genti yang berada di sebelahnya memberi kode untuk diangkat.
Rena keluar dari kelas, mencari tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak.
"Asalamualaikum, iya pak gimana? " Ternyata suaminya yang telpon
tumben
"Bapak motornya mogok nih, sedang di bengkel, tapi dompetnya ketinggalan. Bisa minta disusulin gak? sekalian dompet Bapak di ambilin di atas meja makan sepertinya."
"Sekarang banget nih pak?"
"Iya, ini lagi di kerjain motornya."
"Ya sudah nanti disusul deh, Ibu pinjem motor wali murid. Posisi Bapak dimana? "
"Bengkel SR sebelah Masjid Agung pertigaan pasar." Banu menjelaskan
"Iya hati-hati ya, Bu," imbuhnya.
Rena menutup telponnya, meminta ijin ke Bu Genti untuk mengantar dompet suaminya, Kebetulan tadi Rena melihat ada wali murid yang datang menjemput lebih awal dari biasanya.
ternyata kalau rejeki gak kemana
Rena berjalan sedikit tergesa,
Setelah diijinkan untuk meminjam motor, Rena bergegas ke rumah untuk mengambil dompet sang suami dan mengantarkannya ke alamat yang suaminya berikan.
Jaraknya dari rumah ke pasar tak begitu jauh, kurang lebih 4 km.
Kondisi lalu lintas yang sudah mulai lengang memudahkan Rena dalam berkendara. Ya memang jam berangkat kerja sudah terlewat dari tadi. Dia melirik tangan kirinya, melihat jam. Ternyata sudah pukul 9.20
Kenapa jam segini dia orang masih di pasar
Sesampainya di lampu merah pertigaan pasar, Rena memfokuskan pandangannya ke arah bengkel SR, bengkel yang memang terkenal itu. Dan dia melihat suaminya. Dari kejauhan terlihat sang suami sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
Setelah menyeberang dan sampai di depan bengkel, Rena duduk di sebelah suaminya. Ternyata suaminya begitu fokus sampai tak sadar bahwa dia sudah berada di sampingnya.
Jiwa Rena kepo untuk melirik apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.
Dengan konsumen rupanya
"Menunggu siapa, Pak? " Rena berbisik ditelinga ke suaminya
"Subhanallah, Bu!" Banu terlonjak kaget
"Serius banget sii sampai Ibu datang gak tau!" Rena menyerahkan dompet suaminya, "Siapa si? penting banget kayaknya," lanjutnya
"Ini konsumen mau nitip angsuran suruh diambil," jelasnya.
"Apanya yang rusak? kok bisa mogok gitu? " Rena memandang Suprayitno yang tengah diperbaiki oleh sang montir.
"Remnya blong, Bu ternyata, untung bannya bocor jadi berhenti sendiri. Untung juga Bapak gak lagi ngebut," jelasnya
"Subahanallah.. Perasaan semalem waktu dipakai keluar normal-normal aja, Pak? hemm Rena mengambil nafas panjang "ya udah.. Ibu langsung ya, gak enak Bu Genti sendirian. Itu juga motor pinjem wali murid." Rena berdiri dari duduknya.
"Gak nemenin Bapak nih? " Goda Banu
"Genit amat minta di tungguin, Ya udah dadaah Asalamualaikum!" Rena meraih tangan suaminya dan langsung menaiki motor.
"Hati-hati, Bu!" Pak Banu berteriak dan hanya dibalas suara klakson oleh istrinya.
Rena menjalankan motornya arah pulang,
pulang ke sekolah. Tepat di pintu gerbang dia melihat beberapa anak dan ibunya yang sudah hendak pulang.
"Bu gulu Lena!" Kaira melambaikan tangannya dengan antusias.
Rena hanya tersenyum dan melambaikan tangan kirinya. Memarkirkan motor dan menghampiri Ibu Adit, yang dia pinjami motornya.
"Mama Adit, terimakasih ya. Maaf lama menunggu y? " Rena menyerahkan kunci
"Ah gak kok, Bu, kebetulan jadwal piket hari ini. Ini habis menyapu, tapi maaf kantor gak disapu, Bu Genti sedang menerima tamu." Ibu Adit menerima kunci dan meminta diri untuk pulang
" Ya gak papa, Mama. Terimakasih dan hati-hati dijalan, sampai jumpa besok lagi ya Mas Adit," Rena mengusap puncak kepala muridnya."
"Dadaah, Bu Rena"
Akhirnya Rena memasuki kelas,
Tamu sipa ya, akh paling sales buku
Rena mengambil buku penilaian di atas mejanya, Beserta RPPH tentunya.
Setelah kegiatan belajar mengajar berakhir, Guru tak serta merta ikut pulang, tapi guru menyiapkan pembelajaran yang akan dilakukan esok hari, membuat RPPH. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Harian. Jadi bisa disebut RPPH itu senjata guru, nyawanya guru. Semua kegiatan dalam satu hari tercatat disitu. Dari mulai kegiatan awal sampai akhir pembelajaran semua terangkum didalam RPPH.
Sedangkan penilaian itu adalah hasil akhir dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Jadi penilaian dan RPPH itu merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Di penilaian nanti guru merangkum, mancatat hasil pekerjaan anak. Apakah anak sudah bisa menerima pembelajaran dengan baik atau belum. Bila ternyata belum, dicarilah penyebabnya, apa itu terdapat di guru, atau terdapat di metode pembelajaran yang digunakan, atau dari anak itu sendiri. Semua terangkum dalam lembar refleksi.
Setelah dipikir lengkap apa yang dibutuhkan, Rena memasuki kantor yang satu ruangan dengan ruang tamu. Ada Bu Genti yang sedang bercakap-cakap membicarakan outing class bersama seorang lelaki yang wajahnya tak diketahui karena membelakangi pintu kantor.
"Wah kebetulan sekali Bu Rena telah kembali, Sebentar sini, Bu Rena, ini ada tamu dari CV Fun mengajukan proposal untuk outing class." Bu Genti melambaikan tangannya meminta Rena untuk mendekat.
Rena pun mendekat ke arah Bu Genti, duduk disebelahnya dan mengangkat wajahnya sembari menyunggingkan senyum manisnya kepada lelaki yang mengaku dari CV Fun.
Hatinya bergetar, manakala melihat siapa yang ada di depannya.
"Haii Re."
Ya Allah
🍂🍂🍂🍂🍂
Kira-kira siapa gaes??
ada yang bisa menebakkah?
jangan lupa tekan bintangnya ya
terimakasih 😘
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...