Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Fatimah masih duduk di lantai, menunduk agar bisa meluluhkan hati Suaminya, ia akan terus berusaha agar Abdullah memaaf kan Indah. Dan Indah kembali dekat dengannya agar Indah menceritakan keadaan rumah tangganya, ia ingin tau apakah Putrinya benar-benar bahagia atau tidak.
Abdullah yang melihat kesedihan di hati Istrinya mulai melemah, ia mulai luluh, hatinya juga membenarkan ucapan Istrinya, ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak menetes.
"Indah memang salah Yah, dan aku yang membuat Indah seperti ini, aku yang salah mendidiknya " kata Fatimah dengan suara yang gemetar dan pelan namun masih bisa di dengar oleh Abdullah.
Deeg!. Hati Abdlulah benar-benar tercabik mendengar ucapan Istrinya, bagai mana bisa Fatimah menyalahkan dirinya sendiri, sementara Abdullah juga Ayahnya, seorang Ayah juga bertanggung jawab dalam mendidik anaknya, bukan hanya Ibu saja yang punya kewajiban dalam hal mendidik anak-anaknya tapi seorang Ayah juga, Batin Abdullah.
Clek!.Tiba-Tiba suara pintu terbuka, Abdullah melihat ke arah pintu, begitu juga dengan Fatimah mereka melihat siapa yang datang di saat tidak tepat, bahkan tidak mengetuk pintu, asisten rumah tangga pun tidak ada yang menampakan dirinya, mungkin mereka bersembunyi di kamarnya karna takut melihat keributan majikannya yang sedang bertengkar di ruang tamu itu.
Terlihat dua orang yang berdiri di depan pintu yang terbuka, Farimah berdiri dari duduknya ia tidak mampu lagi melangkah tubuhnya terasa bergetar dan berat ia hanya berdiri di hadapan Abdullah.
Abdullah yang berada di belakang Fatimah juga tampak terkejut dengan kedatangan suami istri itu, hatinya luluh melihat si wanita itu dan ingin segere memeluk Putrinya itu, ya itu Indah dan Andra yang datang menemui mereka.
Tap tap tap..
Dengan langkah yang berat dan gemetar Indah masuk kerumah Abdullah, mendekati Ayah dan Ibunya yang sedang memandang ke arahnya, sementara Andra hanya berdiam di tengah-tengah pintu yang terbuka itu ia tidak berani mendekati Mertuanya itu, ia membiarkan Indah dulu yang birbicara kepada orang tuanya, karena ia tau ia masih di anggap orang luar oleh Mertuanya itu.
Indah masih terus mendekat pada Ibu dan Ayahnya, air mata kerinduan masih meluncur bebas di pipinya, rasa bersalah dan rasa cinta, rasa benci, dan rasa sayang semua ada di hatinya saat ini.
"Ayah Ibu Hiks hiks " Indah mendekat dan duduk di depan kaki Ibunya.
"Maaf " hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya, ia tidak mampu lagi melanjut kata maaf yang sebelumnya ingin ia ucapkan pada kedua orang tuanya.
Hati Fatimah luluh ia memegang bahu Putrinya menuntunnya untuk berdiri, kini kedua wanita itu berdiri saling berhadapan dengan tangan Fatimah berada di masing-masing kedua bahu Putrinya itu, keduanya saling berpandanga terlihat begitu banyak dan besar kerinduan di hati mereka.
Fatimah membawa Putrinya kedalam pelukannya, ia memeluk Putrinya dengan erat meluapkan segala kerinduan nya, ia melepas pelukan pada tubuh Indah agar bisa melihat wajah Indah.Fatimah menciumi kening, pipi, hidung dan kedua mata Putrinya, lalu kembali memeluk Indah, kerinduannya sangat besar pada Putrinya begitu juga Indah ia memeluk erat tubuh yang tampak tua termakan usia wanita yang melahirkannya itu,.
Indah juga merindukan pelukan hangat Ibunya yang selalu ia dapatkan namun sudah satu tahun ia tidak merasakan lagi pelukan itu dan kini ia kembali merasa pelukan itu sungguh kebahagian yang tidak bisa di ungkap kannya dengan kata-kata.
Indah melihat di hadapannya Abdullah berdiri memandang wajahnya, ia memandangi wajah Ayahnya, yang sudah setahun tidak ia pandangi wajah yang selalu memberinya senyum.Wajah itu yang selalu ada di saat Indah menangis, tertawa di masa kecilnya, tapi kini sudah tidak lagi semua berubah ketika ia mendapat kebahagian yang baru.
Bagai mana bisa ia memilih kebahagian yang ia dapatkan dan kebahagian yang baru ia temukan apa mungkin ia melupakan orang tua demi orang yang baru ia temui dan ia cintai, ia tidak bisa memilih salah satunya tapi ia juga tidak mampu melepas salah satunya.
"Ayah" Indah memanggil Ayahnya dan melepas pelukan dari Ibunya, ia berjalan mendekat pada Ayahnya dengan pipi yang basah karna air mata.
"Ayah " Indah duduk dan memeluk kaki Ayahnya ia siap apa pun yang akan ia terima dari Ayahnya.
Indah siap bila Ayahnya akan memukul atau membentaknya asal mendapat maaf dari Ayahnya dan merestui pernikannya dengan Andra.
"Indah " Abdullah bersuara ia pun merindukan Putri sematawayangnya itu, Indah bahagia ia berdiri karna mendengar Ayahnya menyebut namanya ia begitu bahagia bibirnya mulai tersenyum.
"Ayah memaafkanmu " ucapan Abdulah yang meluncur dari mulutnya itu membuat ke tiga orang yang mendengarnya di ruangan itu bahagia.
Indah langsung memeluk Ayahnya, ia memeluk dengan erat seakan tidak percaya ucapan Ayahnya yang memaafkannya, Fatimah juga tersenyum memandang ke dua orang yang sedang berpelukan itu, ia tidak percaya akan apa yang ia dengar tapi itulah kennyataanya Fatimah merasa kebahagiaan yang hilang akan kembali.
Kedua orang itu terus berpelukan tapi hanya Indah yang memeluk Ayahnya tidak dengan Abdullah, mata Abdullah menatap di mana Andra berada ia kembali melihat kebencian mengingat kata-kata yang dulu Andra ucapkan padanya.
"Tapi kamu harus meninggalkan laki-laki itu " ucap Abdullah.
Deeg!.Jantung Fatimah kembali berdetak begitu juga dengan Indah ia baru saja merasa bahagia, tapi dalam sekejap kebahagian yang ia dengar hilang.
Indah melepas pelukannya secara perlahan dari tubuh Ayahnya, melangkah mundur memdongkak menatap wajah Ayahnya, dan menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ayah aku mencintai Andra dan Ayah tau itu kan, aku juga mencintai Ayah dan Ibu bagai mana aku bisa memilih " Indah berkata dengan bibir yang bergetar, dan matanya yang tampak merah dan bengkak karna menangis.
"Ayah "Fatimah memanggil Suaminya karena Abdlullah hanya diam saja, tidak ada yang tau apa yang ada di pikirannya saat ini.
Abdullah inggin memaafkan Putrinya, tapi ia juga mengingat beberapa waktu lalu Dinda menemuinya yang mengatakan tentang Indah selama ini, dan ia ingin menerima Indah kembali ke pelukannya, tapi ingatan tentang perkataan Andra satu tahun lalu kembali meluncur bebas di kepala, ia sudah tidak kuat dengan semua masalah yang ia hadapi ia benci dirinya sendiri yang tidak bisa menerima maaf, dan menerima Andra untuk hidup bersama Putrinya.
"Ceepat keluar dari rumah ku "kata Abdullah membalikan badannya, ia tidak mampu melihat wajah anaknya yang memilih Andra dari pada ia Ayahnya sendiri.
"Ayah " Indah memanggil Ayahnya dengan air mata dan bibir bergetar.
"Kau memilih laki-laki itu dan kau harus tinggal kan kami dan keluar dari rumah ini!! " kata Adullah dengan tegas.
"KELUAR!! " Abdullah benar-benar emosi
Indah melangkah keluar dari rumah itu. Andra memeluk Istrinya dari samping, mereka berjalan dan keluar dari rumah Abdullah, ia terus menangis sampai akhirnya ia menghilang di balik pintu.