"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 11 kedatangan ibu kandung Kiara
Ballroom salah satu hotel bintang lima di pusat Kota Jakarta malam itu berubah menjadi lautan cahaya.
Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ruangan, memantulkan kilauan hangat ke seluruh sudut ballroom.
Rangkaian bunga mawar putih dan baby's breath menghiasi pelaminan. Setiap detail dekorasi dibuat persis seperti keinginan Kiara beberapa minggu lalu.
Tak ada yang berubah. Susunan bunga, latar pelaminan, musik, rangkaian acara, semuanya sama. Hanya... mempelai perempuannya yang berbeda.
Kaia duduk anggun di atas pelaminan. Gaun putih panjang yang melekat di tubuhnya sebenarnya dirancang khusus untuk Kiara.
Beberapa bagian memang sudah dirombak agar pas dengan ukuran tubuh Kaia. Namun setiap kali matanya jatuh pada renda-renda putih yang menghiasi rok gaunnya...
Dadanya kembali terasa sesak. Harusnya sang kakak yang duduk di sini.
Ia menundukkan wajah.Berusaha menyembunyikan mata yang mulai memanas.
Di sampingnya, Elio duduk tegak. Jas hitam yang dikenakannya membuatnya tampak gagah. Namun tatapannya kosong. Tak sekali pun senyum benar-benar muncul di wajah pria itu.
Kilatan kamera terus menyala. Suara MC mengalun lembut mempersilakan tamu bergantian naik ke atas pelaminan.
Satu per satu tamu datang.Sebagian mengucapkan selamat.Sebagian lagi lebih dulu menyampaikan belasungkawa atas kepergian Kiara. Ucapan yang terdengar bertolak belakang.
"Turut berduka ya..."
"Selamat menempuh hidup baru ya..."
Kalimat-kalimat itu terus bergantian memenuhi telinga Kaia. Membuat kepalanya semakin berat.
Di tengah antrean tamu, seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan khas Jepang melangkah naik ke atas pelaminan.
Begitu melihat Elio, pria itu langsung memeluknya erat. Ia adalah Neo sepupu sekaligus sahabat lama Elio yang menetap di Utrecht meneruskan perusahaan sang kakek.
"Bro..." Tangannya menepuk pelan punggung Elio. "Aku udah dengar semuanya dari Aunty Maika." Ia menghela napas.
"Jujur... aku bingung harus bilang turut berduka atau selamat. Tapi apa pun itu..." Ia menatap Elio tulus. "...aku yakin kamu bisa melewati semua ini."
Elio membalas pelukan singkat itu. "Thanks, ya." Nada suaranya pelan. "Kamu rela jauh-jauh pulang dari Utrecht."
Neo hanya tersenyum."Kamu itu saudara sekaligus sahabatku. Bagaimana mungkin aku nggak datang."
Baru kemudian matanya beralih kepada Kaia. Perempuan itu sejak tadi lebih banyak menunduk. Tak sekali pun ia melihat senyum tulus di wajah pengantin perempuan tersebut.
Neo mengulurkan tangan. "Hai. Aku Neo, sepupunya Elio, salam kenal."
Kaia menyambut uluran tangan itu dengan sopan. "Salam kenal." Senyumnya sangat tipis.
Nyaris tak terlihat.Neo memperhatikannya beberapa detik. Lalu sedikit mendekat ke arah Elio. Suaranya dipelankan. "Dia kelihatannya juga sama sedihnya. Bukan cuma kamu yang kehilangan."
Kalimat itu membuat Elio diam sesaat. Matanya sempat melirik Kaia. Hanya sepersekian detik. Sebelum kembali mengalihkan pandangan.
Neo menepuk bahu Elio pelan. "Udah. Foto dulu, mumpung aku lagi balik ke Indonesia."
Elio mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Baru saja hendak membuka kamera depan, Neo langsung menahan tangannya.
"Eh. Istri kamu harus ikut." Ia menoleh ke arah Kaia. "Kaia. Ayo sini, ikut foto."
Kaia melirik sejenak ke arah Elio, pria itu hanya memberi tatapan tajam. Ia lantas menggeleng. "Nggak usah. Kalian aja."
"Ayo." Neo tersenyum ramah. "Kapan lagi aku bisa foto sama pengantin."
Dengan ragu Kaia akhirnya berdiri. Awalnya Neo berada di tengah, lalu mereka bertukar posisi. Kini Kaia berdiri di antara kedua pria itu.
Tak ada pilihan. Ia harus sedikit merapat ke arah Elio agar masuk ke dalam bingkai kamera. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Kaia bisa mencium samar aroma parfum woody milik suaminya. Sementara Elio berdiri kaku. Tak bergerak sedikit pun.
Klik.
Klik.
Klik.
"Nah." Neo melihat hasil fotonya sambil tersenyum puas. "Gini kan bagus." Ia mengembalikan ponsel itu kepada Elio. "Nanti kirim ya. Aku turun dulu. Kangen makanan Indonesia."
Neo melambaikan tangan kecil sebelum akhirnya turun dari pelaminan. Giliran tamu lain kembali berdatangan.
Hingga... Seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang masih tampak lebih muda dari usianya melangkah naik.
Gaun hitam elegan membalut tubuhnya.
Langkahnya anggun, namun sorot matanya terasa begitu dingin.Kaia yang semula sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. Seketika tubuhnya menegang.
Rosmalia, ibu kandung Kiara. Perempuan yang sejak dulu tak pernah benar-benar menyukai keberadaannya.
Rosmalia menghentikan langkah tepat di depan Kaia. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun senyum itu sama sekali tidak membawa kehangatan. Lebih menyerupai sebuah peringatan.
"Kaia..." Suara lembut itu justru membuat bulu kuduk Kaia berdiri. Ia tahu kedatangan Rosmalia malam ini... bukan sekadar untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ya." Rosmalia tersenyum tipis. Senyum yang tidak ada ketulusan di dalamnya. Tatapannya lurus menembus Kaia.
"Akhirnya..." Ia berhenti sejenak, sengaja menggantung kalimatnya. "...kamu berhasil mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milik Kiara."
Deg.
Napas Kaia seketika terasa berat. Jantungnya seperti dipukul keras. Ia tahu wanita itu tidak pernah menyukainya.
Namun ia tidak menyangka ucapan setajam itu akan dilontarkan tepat di atas pelaminan. Beruntung lantunan musik dan suara para tamu membuat percakapan mereka tidak terdengar ke mana-mana. Kaia menarik napas pelan, berusaha tetap tenang.
"Saya tidak pernah menginginkan semua ini, Tante." Ia memberanikan diri menatap langsung ke mata Rosmalia.
Tatapan itu malah membuat Rosmalia terkekeh lirih. "Kamu persis ibumu." Senyumnya semakin tipis. "Sama-sama pandai mengambil milik perempuan lain. Bahkan sekarang..." Matanya bergeser sedikit sekilas ke arah Elio. "... Kamu mengambil calon suami anakku."
Kalimat itu seolah menghantam dada Kaia keras.Dadanya naik turun menahan sesak. Tangannya mengepal kuat di balik lipatan gaun.
Ia ingin membela ibunya.Ingin berteriak bahwa mendiang Ivanka bukan perempuan seperti yang dituduhkan.
Namun sorot puluhan kamera dan tamu yang lalu-lalang membuatnya memaksa diri tetap diam.
Air mata memenuhi pelupuk matanya. Tetapi ia menahannya agar tidak jatuh. Hingga suara langkah kaki mendadak terdengar.
"Rosmalia." Nada berat itu membuat Elio, Kaia dan Rosmalia menoleh.
Fadlan berdiri di samping pelaminan. Sorot matanya tajam. "Siapa yang mengundangmu ke sini?"
Rosmalia menoleh santai, seolah tidak merasa sedang membuat keributan. "Aku hanya datang menghadiri pernikahan putriku."
Ia tersenyum sinis. "Meski ternyata... yang duduk di pelaminan sekarang justru anak perempuan simpananmu."
Rahang Fadlan mengeras.Otot di pelipisnya terlihat menegang. "Cukup!" Suaranya rendah.
Namun penuh tekanan."Jangan membuat keributan di sini."
Rosmalia hanya mengangkat bahu. "Aku hanya mengatakan kenyataan, Mas Fadlan. Harusnya malam ini Kiara yang menjadi pengantin.Bukan anak Ivanka."
Fadlan mengepalkan kedua tangannya. Amarah yang selama ini ia tahan perlahan mulai naik. "Keluar."
Rosmalia tertawa kecil."Kenapa? Aku datang atas undangan mantan calon menantuku." Ia menoleh ke arah Elio. "Bukankah benar begitu?"
Kini semua mata beralih kepada Elio. Pria itu tetap duduk tenang dengan ekspresinya datar. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka suara.
"Saya memang mengundang Tante Rosmalia. Bagi saya... Tante Rosmalia tetap ibu kandung Kiara."
Kaia menoleh perlahan. Dadanya semakin sesak. Bukan karena Elio membela Rosmalia. Tetapi karena... Suaminya sama sekali tidak menyangkal ketika ibunya dihina. Ia bahkan tidak sekali pun melihat ke arahnya.
Mungkinkah, ucapan menyakitkan Elio tadi siang tentang ibunya adalah hasutan dari Rosmalia?
Fadlan menarik napas panjang. Ia tahu Elio tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Namun tetap saja... Ucapan itu membuat emosinya semakin sulit dikendalikan.
"Ros." Nada suaranya berubah jauh lebih dingin. "Ini peringatan terakhir. Pergi sekarang atau..." Ia menatap lurus mantan istrinya. "...aku buka semua bukti penyebab perceraian kita dulu yang selama ini aku tutupi."
Senyum Rosmalia perlahan memudar, wajah perempuan itu berubah. Matanya berkedip pelan.
Ia tahu persis bukti apa yang dimiliki Fadlan. Pria itu menyimpan rahasia itu hanya demi Kiara dan nama keluarga.
Dan bila semua itu sampai terbongkar... Bukan hanya nama baik yang hancur. Harga dirinya di hadapan keluarga barunya pun akan ikut runtuh.
Beberapa detik mereka saling menatap. Tak satu pun mau mengalah. Akhirnya Rosmalia mengembuskan napas pelan.
"Baik." Ia merapikan ujung gaunnya. "Lain kali kita lanjutkan." Tatapannya kembali berhenti pada Kaia. Senyum tipis penuh kelicikan itu muncul kembali "Sampai jumpa... Nak."
Lalu ia berbalik meninggalkan ballroom. Fadlan masih berdiri di tempatnya beberapa saat. Dadanya naik turun. Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya ikut turun dari pelaminan.
Resepsi kembali berjalan.Namun bagi Kaia... Ucapan Rosmalia barusan terus terngiang di kepalanya.
Hingga ballroom perlahan mulai lengang. Musik yang semula riuh kini berganti alunan piano lembut. Para tamu satu per satu berpamitan. Beberapa pelayan mulai membereskan meja dan kursi.
Elio lantas berdiri. Ia membuka kancing jasnya, lalu melepaskannya begitu saja dan menyampir kannya di lengan. Tanpa menoleh, ia melangkah turun dari pelaminan.
"Kak El... Mau kemana?"
Langkah pria itu berhenti. Elio hanya menoleh sekilas. Di sudut sana masih ada keluarga besarnya.
"Kamu masuk kamar dulu. Aku menyusul." Setelah itu ia kembali melangkah pergi.
Dan Kaia hanya memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁