NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pekerjaan melelahkan

"Yang Mulia... gadis ini...?" bisik Bibi Lin dengan suara gemetar, tatapannya tak lepas dari wajah Airyn.

"Bibi Lin, perkenalkan... Putri Mahkota Tidebay, Airyn. Keponakanku," jelas Kaelen seraya merangkul hangat kedua pundak Airyn dari belakang.

Air mata Bibi Lin meleleh seketika. "Anda masih hidup, Tuan Putri... Ya Tuhan, ini adalah karunia yang sangat besar bagi kami semua!"

Airyn sedikit canggung. Tak terbiasa dipanggil dengan sebutan kehormatan seperti itu, ia hanya tersenyum tipis seraya melirik Kaelen di sampingnya.

"Kenapa Bibi bisa terkurung di sel ini?" tanya Kaelen prihatin.

"Setelah Yang Mulia Ratu Lylian, Pangeran Liam, dan Putri Ariel terbunuh... para pelayan dan prajurit yang menolak tunduk pada si busuk itu dijebloskan ke dalam sel ini," Terang Bibi Lin seraya menunjuk murka ke arah Grance di hadapannya.

"Kami bertahan sebisanya, Pangeran. Namun beberapa dari kami terserang penyakit dan meninggal satu per satu... Hanya sedikit yang tersisa."

Tanpa membuang waktu, Airyn memutar kunci pada gembok jeruji besi Bibi Lin.

Klik!

Pintu sel terbuka lebar. "Bibi, cepat keluar. Mari selamatkan yang lainnya," ujar Airyn penuh kehangatan.

Begitu melangkah keluar, Bibi Lin langsung berhambur dan memeluk Airyn erat-erat.

"Terima kasih, Tuan Putri... Dulu aku dikurung bersama sepuluh orang lainnya, tetapi mereka meninggal dan jasadnya dilempar begitu saja ke dasar air terjun..." tangis Bibi Lin pecah.

Airyn mengelus lembut punggung wanita tua itu untuk menangkannya.

"Si tua busuk ini pantas membusuk di dalam sel!" Seru Bibi Lin yang mendadak begitu emosi saat menatap Grance. Dengan penuh amarah, ia menyeret penguasa palsu itu dan menguncinya di dalam sel yang selama belasan tahun menjadi tempat penyiksaannya sendiri.

Airyn dan Kaelen hanya memperhatikan dari luar saat Bibi Lin mendaratkan satu tamparan keras ke pipi Grance, membalas seluruh penderitaan masa lalu sebelum mengunci rapat pintu jeruji tersebut.

"Yang Mulia, masih banyak prajurit setia kita yang dikurung di lorong dalam!" Jelas Bibi Lin kembali serius.

Mereka melangkah menelusuri lorong penjara yang kian gelap dan lembap, hanya diterangi pendar beberapa batang lilin di dinding batu.

"Bangun semuanya! Penguasa sejati Tidebay telah kembali!" Seru Bibi Lin menggemakan suaranya.

Satu per satu sosok bertubuh kurus mulai bangkit berdirian di balik jeruji. Saat Bibi Lin mengangkat lilin tinggi-tinggi, pendar cahayanya menyinari surai biru murni milik Kaelen.

Seketika, sorak-sorai haru membuncah di sepanjang koridor. "Pangeran Kaelen!"

Bibi Lin membuka satu per satu pintu sel tahanan. Begitu bebas, para prajurit veteran itu secara refleks merapat membentuk barisan militer tegap, lalu berlutut di atas lantai batu yang dingin.

"Berdirilah. Mereka yang menjaga kesetiaan tak pantas berlutut di tempat seperti ini," Tegas Kaelen. Airyn tersenyum bangga memperhatikan dari belakang.

Seorang pria bertubuh kekar di barisan terdepan melangkah mendekat. Rambut dan janggutnya yang memutih tampak kusam, namun sorot matanya memancarkan keteguhan.

Kaelen mengenali wajah itu seketika.

"Edgard!" Serunya, langsung berhambur memeluk sosok ksatria tersebut.

"P-Pangeran... aku kira Anda sudah gugur..." Bisik Edgard dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.

"Aku pikir aku akan membusuk di sel ini selamanya..."

"Maafkan aku karena baru kembali sekarang, Sahabatku," balas Kaelen menepuk-nepuk punggung pengawal setianya itu, tak peduli pada jubah kusam Edgard.

Saat melepaskan pelukan, pandangan Edgard mendadak terkunci pada sosok Airyn di belakang Kaelen. Pria berbadan besar itu terperanjat hebat, melangkah mundur seolah melihat hantu.

"Yang Mulia Liam?! K-kenapa Anda berubah menjadi seorang gadis muda?!" Tanya Edgard penuh kebingungan, membuat Airyn tak sanggup menahan tawa renyahnya.

"Edgard, dia bukan Kak Liam. Ini Airyn, keponakanku, putri kandung Kak Liam dan Kak Ariel," Kaelen meluruskan.

Edgard seketika berlutut di hadapan Airyn, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tuan Putri... Anda selamat... hamba sangat bersyukur..."

Airyn melangkah maju, memegang kedua lengan Edgard untuk membimbing ksatria tua itu bangkit, lalu memberikan sebuah pelukan hangat. Edgard yang bertubuh raksasa itu justru makin terisak haru saat dipeluk oleh sang putri mahkota.

"Sudah, sudah! Badan saja yang besar bagai benteng, dipeluk sedikit saja menangis sesenggukan!" goda Bibi Lin terkekeh, meminta Airyn melepaskan pelukannya.

Airyn tertawa kecil, merasakan kehangatan keluarga dan kesetiaan sejati yang memenuhi penjara remang tersebut.

Malam itu, keruntuhan rezim kejam Grance menandai tumbuhnya lembaran baru bagi seluruh rakyat pesisir. Samudra Tidebay di luar dinding istana bertiup jauh lebih tenang dan damai.

"Kau mau ke mana, Airyn?" tanya Kaelen saat mendapati keponakannya berjalan menuju pintu gerbang luar istana, meski malam sudah larut.

"Pulang ke pesisir," jawab Airyn polos.

"Aku sedang menunggu Paman, siapa tahu ada kereta yang bisa kutumpangi kembali ke penginapan."

Kaelen mendekati keponakannya seraya tersenyum geli. "Airyn... ini rumah kita. Di sinilah tempat tinggalmu sekarang."

Airyn menengadah menatap megahnya pilar-pilar batu di sekelilingnya. "Istana raksasa ini?"

Kaelen mengangguk hangat.

"Lalu bagaimana dengan Paman Marco? Beliau hidup sendirian di kedai, aku sangat mengkhawatirkannya," bisik Airyn cemas.

"Paman Marco punya kehidupannya sendiri, Airyn. Jangan khawatir, aku akan mengutus beberapa pengawal kepercayaan untuk membantunya di kedai dan memastikan keamanannya," Kaelan menenangkannya.

"Lalu di sini aku harus bekerja apa? Bagaimana kita menghasilkan uang?" tanya Airyn polos.

Kaelen tertawa lepas. "Ya... sekarang kan aku rajanya. Bagaimana kalau kita tarik pajak setinggi-tingginya dari rakyat?" gerak-gerik sang paman bergurau.

Namun Airyn menanggapi ucapan itu dengan tatapan sinis dan tajam. "Awas saja kalau Paman sampai melakukannya. Akan kulemparkan Paman ke sel yang sama dengan Grance!"

"Bercanda, Airyn, bercanda!" cetus Kaelen tertawa canggung.

"Kau ingat karung-karung berat yang diangkut prajurit di dermaga waktu itu? Itu adalah harta keluarga kita yang dicuri Grance. Aku sudah memerintahkan prajurit untuk mengamankan seluruh aset kerajaan. Harta itu lebih dari cukup untuk menopang kehidupan tujuh turunan."

Mata emas Airyn membelalak. "Kita... sekaya itu?"

"Tentu saja. Jadi sekarang, kau hanya perlu bersantai dan menikmati harimu sebagai seorang Putri Mahkota," terang Kaelen menepuk pelan kepala keponakannya.

"Kehidupan seorang Putri Mahkota?!"

---

Airyn membenamkan wajahnya ke dalam bantal empuk di atas ranjang raksasanya yang sangat mewah, meloloskan erangan frustrasi. "Kembalikan kehidupan lamaku!"

Kamar barunya yang bernuansa biru serenity berukuran sepuluh kali lebih besar daripada kamar panti asuhan. Dilengkapi meja rias pualam, jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke laut, serta ruang ganti khusus berisi ratusan gaun dan perhiasan berkilau.

Hampir seminggu Airyn menetap di istana, dan rutinitas barunya sungguh jauh dari bayangan santai yang ia harapkan.

Setiap pagi sebelum fajar, ia tetap menjalani latihan fisik dan penguasaan Aether bersama Kaelen, ditambah latihan ilmu pedang dasar bersama Edgard. Kaelan memutuskan untuk tetap melatih fisik Airyn agar kekuatannya lebih stabil. Rutinitas tempur ini justru sangat Airyn nikmati.

Namun penderitaannya baru dimulai setelah latihan pagi usai. Bibi Lin bersama rombongan dayang akan menjemputnya, membawanya mandi berendam air mawar, lalu mendandaninya dengan gaun berlapis tebal, heels tinggi, dan riasan wajah lengkap. Airyn bahkan membutuhkan waktu dua hari penuh hanya untuk belajar berjalan lurus menggunakan heels tanpa tersandung gaunnya sendiri.

Setelahnya, ia harus mengikuti pelajaran akademis, membaca geografis, hitungan dagang, dan sejarah benua. Bagian ini masih bisa ia nikmati. Namun yang paling ia benci adalah pelajaran etika bangsawan.

Cara menyeduh teh, cara tersenyum yang anggun, tatacara makan, cara berjalan, bahkan volume suara saat tertawa... semuanya diatur ketat oleh Bibi Lin!

Belum lagi korset ketat yang membebat pinggangnya, membuat napasnya terasa sesak.

"Memanggang roti dan mengepel lantai jauh lebih bebas daripada menjadi putri!" gerutunya terlentang di ranjang.

Tok! Tok!

Airyn seketika menegakkan posisinya, merapikan gaunnya secara refleks.

"Siapa?"

"Airyn, Paman boleh masuk?" suara Kaelen terdengar dari balik pintu.

"Silakan, Paman!"

Pintu terbuka. Kaelen melangkah masuk dengan penampilan yang telah berubah total. Surai birunya tertata rapi, mengenakan jubah kebesaran raja bernuansa emas-biru, lengkap dengan selempang agung dan sepatu kulit mengkilap.

Kaelen duduk di tepi ranjang Airyn.

"Ada keperluan apa kemari paman... maksudku Yang Mulia Raja?" ucap Airyn kaku, memperagakan gestur etika bangsawan yang baru dipelajarinya.

Kaelen menahan tawa melihat keponakannya yang berusaha keras bersikap formal.

"Besok tepat satu minggu sejak kita kembali. Aku ingin mengadakan upacara peringatan resmi di area air terjun... untuk mengenang seluruh anggota keluarga dan prajurit kita yang gugur di masa lalu."

Airyn terdiam. Manik emasnya menatap Kaelen dalam-dalam sebelum ia menunduk, memainkan jemarinya di atas gaun. Kaelen merangkul bahu Airyn dengan hangat.

"Paman... aku belum pernah melihat wujud atau lukisan orang tua kandungku. Apakah Paman punya foto atau potret mereka?" bisik Airyn pelan.

Kaelen menghela napas prihatin. "Aku rasa Grance telah membakar seluruh arsip dan lukisan keluarga kita tanpa sisa saat malam itu."

Airyn menyembunyikan rasa kecewanya dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa... Lagipula aku rasa aku sudah cukup mengenal paras mereka lewat mimpi-mimpiku beberapa bulan terakhir."

"Mau Paman ceritakan bagaimana sosok mereka yang sebenarnya?" tawar Kaelen lembut.

"Tentu saja!" binar mata Airyn kembali cerah.

"Rebahan dulu," bisik Kaelen. Airyn menurut, merebahkan kepalanya di atas bantal empuk sementara Kaelen duduk menjaga di sampingnya.

"Ayahmu, Liam... adalah pria yang sangat berani dan hangat. Rambutnya berwarna putih keperakan yang berkilau, dan manik mata emasnya persis seperti milikmu sangat indah dan bersinar," kenang Kaelen dengan tatapan menerawang.

"Sementara ibumu, Ariel... kau adalah jiplakan sempurna darinya. Cantik, lembut, namun menyimpan keteguhan yang luar biasa. Surai birunya sedikit lebih gelap dari milik kita, dan ia memiliki sepasang manik mata biru samudra yang sangat menawan..."

Suara Kaelen yang tenang dan hangat beradu dengan deru air terjun di luar jendela. Rasa kantuk perlahan menguasai tubuh Airyn yang lelah. Pandangannya mulai mengabur, melarut dalam alam bawah sadar... hingga sebuah pendar cahaya putih yang begitu terang mendadak membawanya berdiri di sebuah tempat asing yang tak bertepi.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!