azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan belas
Yohan tersenyum manis, menatap layar ponselnya lama. Nama kontak 'sicantik' ia sematkan setelah mereka bertukar nomor ponsel tadi.
Yohan menyadari kalau dirinya tertarik pada gadis itu, namun rasa ini, rasa yang mengganggunya ini berbeda dengan rasa yang pernah ia rasakan dari wanita lain, beruntungnya azalea hanya istri di atas kertas, paling tidak yohan merasa tenang mendekati gadis itu.
Sementara azalea masih berdiri di depan teras melepaskan yohan pergi, sampai pria itu dan mobilnya tak lagi tampak di mata.
Azalea berbalik, dan tersentak kaget. Di ambang pintu kiano berdiri dengan menyilangkan kaki menatap ke arahnya.
Sorot mata pria itu menatapnya lekat, dengan alisnya yang tertaut.
"dari mana, kok bisa bareng yohan?"
"beli susu rara" ujar azalea, seraya melepaskan rania yang melonjak-lonjak ingin ikut ayahnya.
"tadi pagi susu rara habis, takutnya mas kian pulang telat, rara nggak minum susu"
Kiano mendekap putrinya, menciumi pipi gempal itu gemas. Ia mengikuti langkah azalea menuju dapur.
Kiano sendiri belum mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah, hanya saja sudah melepas jas dan dasinya.
Matanya melirik jam dinding, baru jam 3 sore, benar sih, selama ini dia akan sampai rumah paling cepat setelah isya.
Tapi ucapan azalea barusan menyentil perasaannya. Harusnya azalea menunggunya, atau paling tidak meminta kepadanya untuk mengantarkan belanja.
"kamu kan bisa telpon aku ra, aku juga pulang cepatkan hari ini"
Azalea meletakkan susu bubuk itu ke atas meja, membuka kitchen set, mencari box susu rania.
"aku bisa sendiri kok mas, nggak enak ngerepotin mas kian"
Lagi-lagi kiano merasa disindir, sembari mendudukkan rania ke dalam baby walker. Ia mendekati azalea, meraih susu rania dari dalam tas belanjaan.
"rara juga putriku za, masa' iya aku repot belanja keperluannya.."
"tapi aku tadi belanja keperluanku juga mas" sahut azalea tanpa menghentikan kegiatannya sama sekali.
Kiano tersentak, tangannya sampai berhenti. Keningnya berkerut dengan raut wajah tak suka.
"apa maksudmu, za?"
Azalea menggeleng, ia masih sibuk merapikan semua belanjaannya tadi.
"bukankah aku tidak termasuk dalam prioritasmu mas, aku tidak ingin kamu repot dengan urusanku"
"zaa" panggil kiano, suaranya sedikit meninggi.
Azalea menghentikan gerakannya, memutar malas menghadap kiano. Mata gadis itu terlihat tidak antusias sama sekali.
"kamu masih marah padaku?"
"tidak" geleng azalea, gadis itu juga mengedikkan bahunya, "untuk apa aku marah?"
"aku kan sudah bilang ke kamu kalau kita keluarga za, gimanapun kamu itu adik iparku. Jadi jangan katakan kalau keperluanmu bukan urusanku"
"adik ipar" dengus azalea pelan, namun sudut bibirnya naik, menghasilkan senyum sinis yang dingin.
Kiano tidak mendengar, namun ia tersinggung melihat senyum gadis itu.
"karena itulah mas, aku kan cuman adik ipar. Jadi rasanya sungguh nggak etis kalau kamu sampai harus ijin pulang cepat hanya untuk keperluanku"
Azalea hendak berlalu, namun cekalan tangan kiano di pergelangan tangannya tiba-tiba menahannya.
"kamu sebenarnya kenapa sih?"
Azalea hendak menggeleng, namun kiano mengenggam pundaknya erat. Azalea sampai tersentak kaget, matanya membola indah.
"kalau kamu marah padaku ngomong za, jangan uring-uringan kayak gini"
"aku nggak mar—"
"kamu marah!" sergah kiano cepat, "kamu marah padaku, tapi aku nggak tahu kenapa"
"hhhhhhh" desah nafas azalea terdengar berat, mata indahnya menatap nanar pria yang masih menatapnya lekat itu.
Azalea kesal, apakah pria ini tak sadar kalau azalea menyukainya. Apapun yang ia lakukan tak bisa mengubah perasaan kiano padanya.
Pria itu tetap saja menganggapnya sebagai adik ipar, ciuman di kamar kiano beberapa bulan yang lalu, saat ayah dan ibunya datang berkunjung, sama sekali tak ada artinya bagi pria itu. Lantas azalea harus bagaimana, ia tak ingin dianggap wanita menyedihkan, mengharapkan cinta abang iparnya sendiri.
"kasih tahu aku, salahku apa za"
"mas kian nggak salah, aku cuman pms mas" jawab azalea pelan, ia tak mau kiano kebingungan melihatnya marah-marah nggak jelas seperti ini, padahal dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga hati.
Wajah kiano sesaat memerah, mendengar jawaban azalea. Ada rasa yang aneh selalu terjadi dengan hatinya jika gadis ini sejujur itu.
"mas kian jagain rara bentar yah aku ke toilet"
Tanpa menunggu jawaban pria itu azalea berlalu begitu saja, meninggalkan kiano yang masih termangu. Kiano memutar tubuhnya, ia tetap mengangguk walau kiano tahu azalea tidak lagi melihatnya.
**********
Wajah azalea terlihat sumringah, sembari jemarinya lincah membalas pesan. Terdengar suara tawa yang tertahan.
Kiano mengernyitkan keningnya heran, hal yang sangat langka. Sudah hampir 5 bulan gadis itu tidak pernah terlihat seceria itu.
Sudah 3 hari ini perubahan itu terlihat, kiano tidak tahu penyebabnya, namun jujur ia senang melihat wajah cantik gadis itu tak lagi murung.
Usia rania sudah setahun besok pagi dan ternyata pernikahannya dengan azalea sudah setahun juga. Kiano sebenarnya merasa sangat bersalah, bagaimana tidak, azalea dulu adalah gadis yang periang dan kini berubah sedikit pendiam.
Kiano tahu kalau dirinya yang menyebabkan perubahan itu.
Azalea tergelak lucu, namun tetap telaten bermain dengan rania. Sesekali terdengar celetukan dari bibirnya.
Kiano yang duduk di meja makan hanya bisa tersenyum dari jauh. Sudah beberapa bulan ini azalea menjaga jarak darinya, jadi agak gimana rasanya kalau dia mencoba mendekatkan diri lagi.
"ahhh raraa"
Kiano tersentak kaget, berdiri seketika. Azalea berdiri dengan bertepuk tangan riang, matanya berbinar menatap rania dan kiano bergantian.
"mas kian, rara bisa berjalan" serunya, azalea melambaikan tangan dan menunjuk rania yang melangkah tertatih.
Kiano segera berlari, senyum indah seketika merekah di wajah tampannya, dia berdiri di seberang menanti rania mendekatinya.
"ini langkah pertama rara, za?"
Azalea mengangguk, sorot matanya masih terlihat sangat bahagia.
"besok ulang tahun rara yang pertama mas"
Wajah cerah kiano seketika berubah, senyumnya juga menghilang begitu saja. Azalea tersadar,seharusnya dia tidak mengingatkan ulang tahun rania, karena ulang tahun bocah itu bersamaan dengan hari naima meninggal.
"maaf mas" pinta azalea tak enak hati, sembari meraih rania dari pelukan kiano," anggap aja mas kian nggak mendengar ucapanku barusan"
Kiano menatap kepergian azalea, sejujurnya dia kebingungan akan perasaannya saat ini. Dia memang masih sering merindukan naima, namun rasa sakit ketika hari kepergian naima disebut, tak lagi sesakit dulu.
Kiano tahu, pasti azalea ingin mereka merayakan hari ulang tahun pertama rania, wajah tampannya tersenyum manis, sebuah ide terlintas di kepalanya. Besok kiano akan pulang cepat, ia akan memberikan kejutan pada azalea dan rania.
Senyum indahnya semakin melebar, kiano yakin azalea pasti akan terharu. Kiano akan mempersiapkan sebuah pesta kecil untuk merayakan ulang tahun rania.
Kepalanya mengangguk yakin, "aku akan minta sarah membeli tart ulang tahun untuk rara, dan aku akan mengajak azalea makan malam" ujarnya penuh keyakinan.
Bersambung...
.