"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Pukul empat dini hari aku selesai melaksanakan sholat malam. Kulihat santri yang menemaniku ke rumah sakit tadi sudah tertidur. Sepertinya baru kali ini ia bisa benar-benar terlelap setelah sepanjang malam menemani Firda.
Aku tidak tega membangunkannya. Setelah selesai berdzikir, aku mengambil mushaf dan menyempatkan diri untuk muraja'ah sambil menunggu adzan Subuh.
Suasana begitu sunyi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali suara langkah perawat yang melewati lorong. Di tengah suasana seperti itu, aku mencoba memusatkan perhatian pada ayat-ayat yang kubaca.
Ting...
Suara notifikasi dari ponselku memecah keheningan.
Aku meraihnya dan membuka pesan yang masuk. Ternyata dari Umi.
"Nanti ba'da Subuh, walinya Firda mau menyusul. Kalau walinya sudah datang, ustadzah bisa pulang."
Aku membaca pesan itu sekali lagi. Ada rasa lega, tetapi juga sedikit berat meninggalkan Firda dalam kondisi seperti ini.
"Baik, ustadzah."
Kukirim jawaban singkat itu.
Setelahnya, kembali kuletakkan ponsel di samping mushaf. Pandanganku beralih pada santri yang masih tertidur pulas.
Aku tersenyum tipis.
"Alhamdulillah... setidaknya ada yang bisa istirahat."
Aku kembali membaca. Namun kali ini pikiranku tidak sepenuhnya tertuju pada ayat yang sedang kubaca.
Aku masih memikirkan Firda.
Semoga setelah walinya datang nanti, kondisinya benar-benar membaik.
Dan semoga malam panjang ini segera berakhir dengan kabar yang menenangkan.
Pukul enam pagi, wali Firda akhirnya sampai di rumah sakit.
Aku menyerahkan berkas-berkas hasil pemeriksaan tadi malam kepada beliau. Setelah menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui, beliau mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Sama-sama, Pak. Semoga Firda segera membaik."
Setelah berpamitan, aku keluar bersama santri yang sejak semalam menemaniku.
"Mbak, kita sarapan dulu, ya," ajakku.
"Na'am, ustadzah."
Kulihat wajahnya masih tampak lelah. Wajar saja. Semalaman ia hampir tidak tidur dan harus menunggu di rumah sakit.
"Mau sarapan apa?" tawarku.
"Eh... terserah ustadzah saja," jawabnya canggung.
Aku tersenyum. Mungkin karena bersamaku sebagai ustadzah, ia masih merasa sungkan untuk memilih.
"Kalau begitu kita makan soto saja."
Ia mengangguk.
Kami pun berjalan menuju warung soto yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Pagi-pagi begini, semangkuk soto hangat memang terasa begitu menyegarkan. Apalagi setelah melewati malam yang panjang.
Kami makan dalam suasana yang cukup tenang. Sesekali aku bertanya apakah ia masih mengantuk atau merasa tidak enak badan.
"Kalau capek, nanti di mobil tidur saja," kataku.
"Na'am, ustadzah."
Di pertengahan makan, aku kembali teringat perjalanan pulang.
"Habis ini kita pesan Grab aja, ya..." kataku.
Santri itu hanya mengangguk.
Baru saja aku hendak melanjutkan makan, tiba-tiba—
Ting...
Notifikasi ponselku berbunyi.
Aku meraih ponsel dan membuka pesan yang masuk.
Ternyata dari Ustadz Alam.
"Ustadzah, kami habis ada perlu tidak jauh dari rumah sakit. Kata Umi, walinya Firda sudah datang. Bareng kami sekalian, ustadzah."
Aku membaca pesan itu sebentar, kemudian membalas.
"Baik, ustadz."
Kusimpan kembali ponselku.
"Ternyata Ustadz Alam mau ke sini," kataku kepada santri yang duduk di depanku.
Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan makannya.
Entah kenapa, setelah membaca pesan itu, ada sedikit rasa lega dalam diriku.
Mungkin karena akhirnya aku tidak perlu memikirkan perjalanan pulang.
Atau mungkin... karena setelah malam yang panjang ini, ada seseorang yang datang menjemput kami.
Aku segera mengabari Ustadz Alam bahwa kami berada di warung soto dekat rumah sakit.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan warung. Ustadz Alam turun bersama Ustadz Hammad.
Baru saja aku hendak berdiri menyambut mereka, tiba-tiba—
Duaar!
Suara benturan keras mengagetkan semua orang.
Aku spontan menoleh.
Sebuah kecelakaan terjadi tepat di depan mataku. Seorang laki-laki, kira-kira berusia empat puluh tahunan, terlempar dan jatuh hanya sekitar dua langkah di depanku.
"Ya Allah..."
Aku langsung berdiri dan mendekat.
Kakinya mengeluarkan banyak darah. Napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Wajahnya pucat.
Ustadz Hammad segera ikut mendekat. Ia memeriksa kondisi korban sekilas, lalu menoleh kepada Ustadz Alam.
"Ustadz Alam, segera diperiksa. Aku langsung ke rumah sakit memanggil medis dulu!"
Tanpa menunggu jawaban, Ustadz Hammad langsung berlari menuju rumah sakit.
Aku menoleh kepada Ustadz Alam.
Namun anehnya, beliau tidak bergerak sama sekali.
Tatapannya kosong.
Seolah-olah suara di sekitar kami tiba-tiba menghilang dari pendengarannya.
"Ustadz Alam..."
Tidak ada jawaban.
Aku menarik ujung kemejanya pelan.
"Ustadz Alam..."
Beliau masih diam.
Aku mulai panik. Korban di depan kami membutuhkan pertolongan secepatnya, sementara Ustadz Alam justru seperti kehilangan kesadaran sesaat.
Aku menarik kemejanya lebih keras.
"Ustadz Alam!"
Beliau akhirnya menoleh kepadaku.
Tatapannya seperti baru kembali dari tempat yang jauh.
Kemudian pandangannya beralih kepada korban.
Dan dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah.
"Pendarahannya keluar banyak."
Beliau langsung berjongkok di samping korban.
"Ada kain yang bisa digunakan?"
Aku segera membuka tas. Tanganku gemetar ketika mengambil jilbab di dalam tas ku.
"Ini, ustadz."
Ustadz Alam langsung mengambilnya. Tanpa ragu, beliau menyobek jilbab itu menjadi dua bagian.
Satu bagian ditekan kuat pada luka korban untuk menghentikan pendarahan.
Aku hanya bisa berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya.
Kemudian beliau melepas sabuk celananya dan menggunakannya untuk membantu menahan kain agar tetap berada di tempatnya.
"Tekan di sini," katanya kepadaku.
Aku mengikuti instruksinya.
Beberapa menit kemudian, bantuan medis akhirnya datang.
Petugas segera mengambil alih penanganan. Ustadz Alam ikut membantu mengangkat dan membawa korban menuju IGD. Aku mengikuti dari belakang bersama santri yang tadi menemaniku.
Sesampainya di IGD, Ustadz Alam menjelaskan kondisi korban kepada petugas medis. Aku tidak terlalu mendengar apa yang beliau katakan. Perhatianku hanya tertuju pada wajahnya.
Setelah semuanya selesai, beliau berjalan keluar dari area IGD.
Kemudian terduduk.
Diam.
Cukup lama.
Aku tidak tahu apa yang sedang beliau rasakan. Wajahnya terlihat begitu lelah. Seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang menguras seluruh tenaga dan pikirannya.
Aku mengambil botol air dari dalam tas.
"Minum dulu, ustadz."
Kuserahkan botol itu kepadanya.
Beliau menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Untuk beberapa saat, beliau hanya memandangi botol tersebut.
Aku duduk tidak jauh darinya.
Tidak ada yang kukatakan.
Mungkin untuk saat ini, beliau tidak membutuhkan banyak pertanyaan.
Beliau hanya perlu waktu untuk menenangkan diri.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏