NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 Seragam Baru, Langkah Baru

"Ada kebahagiaan yang tidak pernah bisa diukur dengan harta. Kebahagiaan itu lahir dari perhatian sederhana seseorang yang dengan tulus mempersiapkan masa depan kita."

Beberapa minggu setelah pengumuman kelulusan sekolah dasar, suasana di rumah mulai terasa berbeda. Tahun ajaran baru sudah semakin dekat, dan itu berarti tidak lama lagi aku akan meninggalkan bangku sekolah dasar untuk memulai kehidupan sebagai siswa SMP. Sejak pagi, aku sudah membayangkan seperti apa seragam putih biru yang akan kupakai dan bagaimana rasanya belajar di sekolah yang baru.

Saat matahari mulai meninggi, Bapak memanggilku dan Kak Ucaluna dari ruang tengah. Beliau tersenyum sambil berkata, "Ucaluna, Hitas, ayo bersiap. Hari ini kita ke pasar membeli perlengkapan sekolah."

"Iya, Pak," jawab kami hampir bersamaan.

Tanpa membuang waktu, kami segera bersiap. Setelah semuanya selesai, kami bertiga berjalan menuju jalan besar di depan lorong rumah karena di sanalah biasanya ojek menunggu penumpang. Sepanjang perjalanan, beberapa ibu yang sedang duduk di depan rumah menyapa Bapak dengan ramah.

"Mau ke mana, Pak?"

"Bawa anak-anak ke pasar. Mau beli perlengkapan sekolah," jawab Bapak sambil tersenyum.

"Alhamdulillah, sudah mau masuk SMP, ya. Semoga sekolahnya lancar."

Bapak hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih atas doa mereka. Sapaan-sapaan sederhana itu membuat perjalanan kami terasa hangat. Aku hanya tersenyum sambil terus melangkah, membayangkan hari pertamaku nanti sebagai anak SMP.

Sesampainya di pangkalan ojek, aku dan Kak Ucaluna naik di satu motor, sedangkan Bapak mengikuti dari belakang dengan ojek yang lain. Pasar yang kami tuju memang cukup jauh dari rumah sehingga perjalanan harus ditempuh menggunakan kendaraan. Sepanjang jalan aku menikmati hembusan angin sambil melihat rumah-rumah dan pepohonan yang kami lewati. Entah mengapa, hari itu semuanya terasa lebih indah dari biasanya.

Begitu tiba di pasar, Bapak langsung mengajak kami menuju deretan toko pakaian. Hampir semua pemilik toko mengenal beliau. Mereka menyapa dengan ramah, menanyakan kabar, bahkan beberapa di antaranya bercanda seolah kami adalah keluarga yang sudah lama tidak bertemu.

Di tengah deretan toko itu, mataku tertuju pada sebuah toko yang memajang seragam sekolah dengan rapi. Tanpa berpikir panjang aku menarik pelan tangan Bapak.

"Pak, boleh lihat di toko itu?"

Bapak mengikuti arah pandanganku, lalu mengangguk sambil tersenyum.

"Kalau Hitas suka, kita masuk ke sana."

Pemilik toko langsung menyambut kami dengan hangat.

"Silakan masuk, Pak. Wah, ini sudah mau masuk SMP rupanya."

"Iya, Bu. Tolong carikan ukuran yang pas untuk mereka," jawab Bapak.

Ibu pemilik toko segera mengambil beberapa setel seragam, kemudian mempersilahkanku mencobanya.

Sementara itu, Bapak duduk di kursi yang telah disediakan sambil mempersilakan kami memilih dengan tenang.

"Pilih saja yang kalian suka. Nanti Bapak yang bayar."

Aku mengangguk pelan. Bersama Kak Ucaluna, aku mulai mencoba beberapa ukuran seragam. Sesekali Kakakku membetulkan letak kerah bajuku atau memperhatikan apakah panjang rok yang kupakai sudah sesuai. Kami beberapa kali keluar masuk ruang ganti hingga akhirnya menemukan seragam yang benar-benar pas.

Dengan wajah penuh semangat aku menghampiri Bapak.

"Pak, yang ini sudah pas."

Bapak yang sejak tadi menunggu sambil memejamkan mata langsung tersenyum kecil.

"Oh, sudah selesai? Syukurlah."

Beliau kemudian menghampiri meja kasir untuk membayar semua belanjaan kami. Karena pemilik toko sudah lama mengenal Bapak dan masih memiliki hubungan keluarga, beliau memberikan potongan harga.

"Ini saya kasih diskon sedikit, Pak."

Bapak tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Terima kasih, Bu. Maaf anak-anak lama memilih."

Ibu itu tertawa kecil.

"Tidak apa-apa. Namanya juga anak-anak mau sekolah. Wajar kalau ingin memilih yang paling cocok."

Setelah membeli seragam, kami melanjutkan perjalanan ke toko sepatu, toko buku, dan beberapa toko lainnya untuk membeli tas, alat tulis, serta perlengkapan sekolah yang masih kurang. Matahari mulai terasa sangat terik ketika semua kebutuhan akhirnya selesai dibeli. Karena hari semakin siang, kami memutuskan untuk segera pulang.

Sesampainya di rumah, Mama sudah menunggu di ruang tengah. Beliau langsung menghampiri kami dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu.

"Sudah selesai belanjanya? Coba Mama lihat."

Aku dan Kak Ucaluna mengeluarkan satu per satu barang yang baru kami beli. Mama memperhatikannya dengan senyum bangga, lalu menatapku sambil berkata, "Hitas, coba pakai seragamnya. Mama mau lihat."

Aku segera berlari ke kamar sambil membawa seragam putih biru yang masih terlipat rapi. Dengan hati-hati aku mengenakannya, lalu berdiri di depan cermin beberapa saat sebelum keluar menemui Mama. Sesampainya di ruang tengah, aku berputar perlahan sambil tersenyum malu.

Mama memandangku beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Wah, seragamnya pas sekali. Hitas sudah seperti anak SMP sungguhan."

Aku hanya tersenyum. Mendengar ucapan itu membuat rasa tidak sabarku semakin besar untuk segera mengenakan seragam tersebut di hari pertama sekolah.

Malam harinya, sebelum tidur, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan tentang kehidupan di SMP. Aku terus bertanya kepada Kak Ucaluna hingga beliau hanya tersenyum melihat rasa penasaranku.

"Kak, pelajaran di SMP susah, ya?"

"Sebenarnya hampir sama seperti di SD, hanya saja nanti pelajarannya lebih dalam. Selama Hitas rajin belajar, semuanya akan terasa mudah."

"Kalau teman-temannya banyak?"

"Banyak sekali. Muridnya berasal dari berbagai sekolah, jadi nanti Hitas akan punya banyak teman baru."

Aku kembali bertanya dengan ragu, "Kalau nanti Hitas tidak punya teman bagaimana?"

Kak Ucaluna tertawa kecil.

"Itu tidak mungkin. Dulu Kakak juga berpikir begitu. Nyatanya, di hari pertama saja sudah banyak yang mengajak berkenalan."

Beliau kemudian menambahkan sambil tersenyum, "Di sana juga banyak kantin. Pokoknya nanti Hitas pasti betah."

Aku mengangguk pelan. Jawaban-jawaban itu sedikit menenangkan hatiku, meskipun rasa gugup masih belum sepenuhnya hilang. Malam itu, sebelum memejamkan mata, aku kembali memandangi seragam putih biru yang tergantung rapi di sudut kamar. Dalam hati aku membayangkan hari pertama sekolah, teman-teman baru, dan ruang kelas yang belum pernah kulihat. Aku tidak pernah menyangka bahwa di sekolah baru itulah akan dimulai kisah-kisah yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!