Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Cicilan dan Susu Formula
Dua minggu kemudian, tiga amplop tagihan menunggu di meja dapur.
Biaya rumah sakit yang belum seluruhnya tertutup, cicilan rumah, dan kebutuhan bayi membuat angka di buku keuangan memerah. Nara masih cuti dan belum kembali menerima pekerjaan jahit kecil yang biasa membantunya.
Kirana tidur di keranjang dekat dapur. Nara duduk di depan mesin jahit lama yang tertutup kain.
Salma, sepupunya, membuka buku catatan. “Kalau hanya mengandalkan gaji Mas Raka bulan ini, kita harus mengurangi sesuatu.”
“Bukan susu dan kontrol.”
“Tentu bukan.”
Raka pulang membawa daftar belanja. Ia mendengar percakapan mereka lalu meletakkan dompet di meja.
“Kita hitung bersama.”
Nara menatapnya. “Aku bisa mulai menerima jahitan lagi.”
“Boleh, kalau tubuhmu siap.”
“Aku tidak minta izin untuk bekerja.”
“Aku juga tidak sedang melarang.”
Raka menarik kursi. Ia menuliskan pendapatan tetap, cicilan, biaya sekolah Bima dan Bayu, kebutuhan Kirana, serta uang darurat. Tidak ada angka yang disembunyikan.
“Kalau aku mengambil lembur, ada tambahan,” katanya.
“Lalu siapa membantu malam hari?”
Raka berhenti menulis.
Nara menyentuh sampul mesin jahit. “Aku tidak mau kita menyelesaikan uang dengan menghabiskan tubuhmu.”
Salma membuka kain penutup. Mesin itu masih berfungsi, meski catnya terkelupas.
“Aku punya tiga kenalan yang butuh seragam anak diperbaiki,” katanya. “Bukan pesanan besar.”
“Aku juga bisa mengubah mukena lama agar ukurannya pas,” ujar Nara. “Dan membuat beberapa contoh sederhana.”
Salma menaruh kain, benang, listrik, dan waktu kerja dalam kolom berbeda. Harga pertama yang disebut Nara terlalu rendah.
“Kalau jarummu patah, siapa membayar?”
“Aku.”
“Kalau pelanggan minta revisi?”
“Aku.”
“Kalau begitu biaya itu masuk harga.”
Nara menghitung ulang. Ia tidak menaikkan harga agar terlihat mewah, tetapi berhenti menganggap tenaganya sendiri gratis.
Raka menambahkan ongkos perjalanan mengambil bahan. “Motor tetap butuh bensin meski dipakai keluarga.”
Raka melihat jadwal kontrol di kulkas. “Kerja hanya saat ada orang dewasa lain bersama Kirana. Tidak menjahit sampai pagi.”
“Kamu membuat aturan lagi?”
“Aku mengajukan pembagian.”
Nara menatap wajah lelah suaminya. “Baik. Kamu pegang catatan dan belanja. Aku menjahit maksimal dua jam sekali duduk.”
“Aku urus Kirana setelah pulang.”
Salma mengetuk meja dengan pena. “Bagus. Sekarang kita bicara harga. Jangan mentang-mentang tetangga lalu semua boleh bayar nanti.”
Mereka memilih tiga pekerjaan awal: memperbaiki dua seragam sekolah, mengubah satu mukena, dan membuat satu contoh set pakaian ibu-anak tanpa wajah model.
Nara membersihkan mesin jahit. Bau minyak mesin dan kain lama mengisi sudut dapur. Ketika pedal bergerak, suara yang muncul membawa kembali bagian dirinya yang selama ini tenggelam di bawah ketakutan.
Setelah empat puluh menit, bekas persalinan mulai nyeri. Nara ingin menyelesaikan satu jahitan lagi, tetapi Raka mematikan sakelar.
“Dua jam belum lewat,” protesnya.
“Tubuhmu memberi batas lebih cepat.”
Salma menunjuk sofa. “Istirahat. Aku potong pola.”
Nara kesal sesaat, lalu mengakui tangannya mulai gemetar. Ia berbaring sambil tetap membahas ukuran. Bekerja tidak harus berarti mengabaikan pemulihan.
Ia masih seorang ibu yang menjaga bayi.
Ia juga perempuan yang bisa membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.
Kirana terbangun saat jahitan pertama selesai. Raka mengangkat bayi itu sebelum tangisnya membesar.
“Lanjutkan,” katanya. “Aku ganti popok.”
Nara tersenyum. “Pastikan bagian belakangnya benar.”
“Aku punya tiga anak.”
“Dua yang pertama sering dipakaikan baju terbalik.”
“Itu fitnah lama.”
Salma tertawa sambil memotret tiga contoh pakaian yang sudah selesai. Ia tidak menampilkan Kirana atau bagian rumah yang mudah dikenali.
Sebelum mengunggah, mereka menuliskan uang muka, ukuran tertulis, satu kali revisi, dan jadwal yang realistis. Nara menolak janji cepat hanya demi menarik perhatian.
“Kalau pesanan pertama terlambat, nama kita selesai sebelum dimulai.”
Salma mengangguk. “Sedikit tapi rapi.”
“Aku unggah ke forum ibu-ibu Semarang,” katanya.
“Tulis harga jelas,” pesan Nara. “Tidak menerima utang.”
“Siap, Bu Bos.”
Tiga pelanggan pertama mengirim ukuran hampir bersamaan. Nara tidak langsung menerima semuanya. Ia meminta Salma memeriksa lokasi, tenggat, dan kebutuhan bahan, sedangkan Raka membuat papan kecil berisi urutan pesanan.
Satu calon pelanggan meminta hasil selesai besok tanpa uang muka. Nara menolaknya dengan sopan. Pelanggan kedua bersedia membayar setengah di awal dan mengambil sendiri. Pelanggan ketiga meminta dua mukena anak untuk bulan depan.
“Yang dua ini bisa kita kerjakan,” kata Nara. “Yang pertama akan membuat kita mulai dengan janji palsu.”
Salma meneruskan jawaban itu tanpa mengubah harga. Raka mencatat uang muka sebagai uang usaha, bukan tambahan belanja rumah.
Nara juga menetapkan batas empat pesanan untuk minggu pertama. Jika hasilnya rapi dan tubuhnya tidak kembali sakit, barulah kapasitas ditambah. Keputusan itu terasa lebih sulit daripada menerima semua pujian, tetapi ia ingin pekerjaan ini bertahan lebih lama daripada kegembiraan satu malam.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Raka menunjukkan buku keuangan. Pesanan kecil belum menyelesaikan semua tagihan, tetapi mereka punya rencana yang tidak bergantung pada pinjaman keluarga.
Nara menyandarkan kepala di bahu suaminya.
“Aku takut uang membuat kita saling menyembunyikan.”
“Kalau ada angka buruk, kita lihat bersama.”
“Kalau aku gagal?”
“Kita ubah caranya. Bukan menyalahkan orangnya.”
Ponsel Salma berbunyi dari atas meja.
Ia membuka forum, lalu matanya membesar.
“Nara.”
“Kenapa?”
“Baru setengah jam.”
Salma memutar layar. Di bawah foto tiga contoh pakaian, ada empat puluh pertanyaan tentang harga dan pesanan.