Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Menemani Si Kecil
Dalam perjalanan pulang mereka hanya diam saja. Selain sudah lelah bekerja seharian, mereka tidak mau membuat keributan yang menyebabkan Ardha terbangun. Hingga ketika Maya hendak meletakkan bocah itu di ranjang, Ardha terbangun dan menangis.
"Mau sama Tante, boboknya ...," rengek bocah itu.
"Ardha!" teriak Raka kesal.
"Sudah, Pak. Tidak apa-apa. Biar Saya temani saja dia tidur, Pak." Maya bicara dengan suara setengah berbisik takut mengagetkan Ardha sekaligus menenangkan pria itu.
"Tapi nanti kamu ketularan pilek."
"Tidak apa-apa, Pak. Besok 'kan libur. Saya bisa sekalian minum obat sambil istirahat."
Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan pria itu. Kenapa Alika tidak bisa berkorban pada anaknya sendiri seperti ibu-ibu lainnya? Sementara ia sendiri menyangsikan ketulusan Maya. "Terserah kamu saja." Raka kemudian keluar dari kamar itu.
Setelah membujuk bocah itu minum obat, Maya kemudian naik ke atas ranjang setelah melepas sepatu. Ia kemudian berbaring dan Ardha tidur dengan berbantalkan lengannya. Bocah itu begitu senang sambil memeluk tubuh Maya.
Hidung Ardha sedikit memerah tapi wajahnya tak sepucat tadi. Ia begitu damai tertidur di samping Maya.
Di kamar sebelah terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang bertengkar. Pria dan wanita dan Maya tak bisa mencegah karena mereka adalah majikannya. Ia hanya bisa mengusap dahi bocah itu yang tertidur dengan keringat yang mulai membasahi wajah. Untung bocah itu tak terganggu karena sudah terlelap tidur karena minum obat.
+++
Entah sudah berapa lama Maya tertidur, ia terbangun dengan tubuh yang lumayan ringan. Pagi tadi ia terbangun dengan hidung tersumbat. Setelah sholat Subuh dan melihat wajah Ardha nampak kemerahan, ia mempercayakan bocah itu pada pembantu baru yang tampak gesit bekerja. Ia sendiri minum obat dan tidur kembali di kamarnya.
Hari ini tak ada yang perlu ia lakukan. Tuannya pasti mengerti, kalau ia tak muncul berarti ia tengah istirahat karena tertular pilek dan batuk dari Ardha.
Di perhatikan lagi ruangan itu. Ruangan kamarnya cukup besar dan mewah. Bahkan kamarnya yang dulu bersama sang mantan suami, tidak sebagus kamar ini. Kamar ini adalah kamar yang diperuntukan untuk tamu.
Tiba-tiba Maya terbatuk sedikit dan sesuatu terjadi. Ada sesuatu bergerak di dalam perutnya! Aneh, ia yakin seperti ada yang bergerak tadi hingga ia terduduk di atas tempat tidur karena terkejut. Ia sangat yakin, karena merasakannya.
'Apa tadi itu ... ah tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi.' Maya mengusap perutnya pelan. 'Apa aku hamil? Tapi ... apa itu mungkin? Itu tidak mungkin. Aku 'kan tidak bisa punya anak!'
Ia bimbang, dan teringat lagi pernah membeli alat tes kehamilan tapi ia belum pernah memakainya. Segera Maya mengambil dari laci meja yang ada di seberang ranjang. Wanita itu melihat lagi kotak yang pernah dibelinya dulu, kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Setelah mencelupkan lembarannya, Maya menunggu di kloset duduk. Tak butuh waktu lama garis yang ditunggu keluar, tapi garis itu tak sendirian. Dua garis itu membuat matanya terbelalak. 'Tidak mungkin ... Aku hamil? Tapi bagaimana bisa?'
Maya teringat, sebelum sang suami mengucapkan kata cerai, malamnya mereka sempat bercinta setelah lama absen. Ia pikir suaminya telah kembali padanya tapi ternyata, itu adalah permainan terakhir mereka bersama. Karena itu Maya sangat terguncang ketika sang suami menjatuhkan talak karena pria itu sudah punya calon istri yang ingin dinikahinya. Maya benar-benar terpukul.
Kini pun ia syok! Wanita itu tak percaya ia telah hamil, hingga tak tahu harus berbuat apa. Ia panik hingga tangannya bergetar. 'Ya Allah, bagaimana ini?'
Namun pelan-pelan wanita itu tersadar. 'Astaghfirullah alazim, kenapa aku jadi begini?' Ia mengusap wajahnya pelan. 'Harusnya aku bersyukur. Biar bagaimanapun ini karunia. Orang berpikir aku takkan bisa punya anak tapi Tuhan berkehendak lain. Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu khilaf. Mulai sekarang Ibu akan menjagamu. Walaupun ayahmu tak mengakuimu, tapi kau takkan kekurangan kasih sayang Ibu. Percayalah, Nak. Cepatlah kamu keluar agar Ibu tidak sendirian di sini.'
Kembali Maya mengusap perut yang memang kelihatan sedikit buncit itu. Air matanya mulai jatuh. 'Ibu akan membesarkanmu dengan baik.'
Terdengar ketukan di pintu. "Maya ... Kamu masih lama gak? Ada tamu mencarimu." Itu suara Alika, sang majikan.
"Oh, iya sebentar." Cukup kebingungan karena Maya merasa tak mengundang siapa pun ke rumah. Setelah menghapus air mata, ia kemudian bergegas keluar. "Siapa, Kak?"
"Aku gak tahu, tapi dia lagi bicara sama Mas Raka."
"Mmh?" Maya mengerut dahi. 'Adikah?' Seharusnya bukan, karena pria itu sudah tak lagi menggodanya belakangan ini, karena ia tak merespon. Lalu siapa?
Saat mendatangi ruang tamu, barulah ia mengerti. Pria itu adalah dokter Tio, pria yang ditemuinya semalam. Pria itu ada di antara para dokter yang datang di acara simposium itu dan sempat bicara padanya tentang rumah sakit milik Raka. Maya hanya menjawab seputar rumah sakit dengan ramah dan pria itu hanya menunjukkan respon yang biasa. Kenapa tiba-tiba pria itu datang dan mencarinya? "Maaf, Pak dokter mencari Saya?" Maya dengan cepat ingin memastikan.
Pria muda itu merapikan kacamatanya dan tersenyum. Kulitnya yang putih bersih seperti Raka dengan lesung pipi di sebelah kiri membuat semua orang gampang mengingatnya. Memang tidak setampan suami Alika tapi cukup menarik. "Oh, iya. Aku dengar kamu ipar Pak Raka jadi sekalian saja aku datang ke rumah. Tidak mengganggu 'kan?" Ia melihat Maya yang sedang memakai daster yang sudah mulai pudar dengan jilbab instan yang panjang, sedikit tersenyum simpul.
Maya tersadar dan malu melihat dirinya masih berpakaian lusuh. "Eh, sebentar. Saya ganti baju dulu." Ia melangkah ke arah tangga.
"Eh, bagaimana kalau kita bicara di luar saja?"
"Eh, apa?" Wanita itu menghentikan langkahnya dan memutar wajah ke arah pria itu. "Apa ini masalah rumah sakit?" Ia melirik Raka yang duduk menghadap dokter Tio.
Suami Alika itu berdehem sebentar. "Eh, dokter Tio ingin pergi denganmu saja."
'Apa?' Maya melirik lagi ke arah dokter Tio. 'Maksudnya apa ini?'
"Eh, boleh aku mengajakmu keluar?" Dokter itu memberanikan diri untuk menyatakan maksudnya. Ia memberi senyum yang sedikit kaku karena menunggu jawaban dari Maya.
"Apa kamu tahu kalau dia janda?" Alika yang sudah menuruni tangga, ikut bicara.
Raka mulai tersenyum masam. Ia tahu, akan ada masalah besar kalau istrinya ikut-ikutan bicara. Ini sudah sering terjadi dan kepalanya mulai pening.
"Eh, i-iya," jawab dokter spesialis itu sedikit gugup melihat pembawaan Alika yang berani.
"Janda yang tak bisa memberikan keturunan?" Alika kembali dengan informasi yang menyakitkan.
Wajah Maya seketika memerah. Ia melirik kedua dokter itu.
"Alika!" Raka mengingatkan. Ia sangat geram karena istrinya terlalu ikut campur urusan orang lain.
"Lho, kenapa? Dia 'kan harus tahu sebelum nantinya kecewa," ucap istrinya berkeras.
Raka sempat memejamkan mata karena mulai menahan kesal. "Sudah, Alika. Kita tak perlu mengurusi persoalan seperti ini."
"Lho, nanti kalo mereka bermasalah, apa namamu tidak di bawa-bawa?"
"Ya sudah, terserah kamu saja." Pemilik rumah sakit itu tidak ingin mencari masalah dengan sang istri, walau ia merasa Alika terlampau berlebihan. Saat pergi berdua, bisa saja Maya mengatakannya pada dokter Tio tanpa harus mempermalukan Maya, seperti sekarang ini.
Bersambung ....