NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kita Akan Tinggal Dengan Ayah

Di usia yang sangat muda, Haselyn Arfasya telah memulai langkah pertamanya sebagai seorang pengusaha muda. Jauh sebelum orang-orang seusianya memikirkan kesenangan masa remaja, Haselyn sudah sibuk merintis berbagai usaha demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi setiap mimpi-mimpinya.

Semuanya dimulai ketika ia masih duduk di bangku SMP.

Dari berjualan makanan ringan, menerima pesanan kerajinan, hingga menjalankan usaha kecil-kecilan lainnya, Haselyn melakukan apa pun yang bisa menghasilkan uang. Ia bekerja tanpa mengenal lelah, mengorbankan waktu bermain, waktu istirahat, bahkan masa remaja yang seharusnya ia nikmati seperti anak-anak lain.

Setiap rupiah yang ia kumpulkan bukan untuk membeli barang mewah atau memenuhi keinginan sesaat. Uang itu ia tabung dengan susah payah demi satu tujuan: membiayai pendidikannya sendiri dan masuk ke sekolah yang selama ini ia impikan.

Orang tuanya tidak pernah memberikan biaya sekolah maupun uang saku kepadanya.

Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka marah pada Haselyn. Ia dianggap anak yang keras kepala karena berani membantah keinginan keluarga yang memaksanya bersekolah di tempat yang biasa-biasa saja. Haselyn memiliki mimpi yang lebih besar, dan ia menolak menguburnya hanya demi memenuhi harapan orang lain.

Sejak saat itu, ia belajar bahwa tidak semua anak beruntung memiliki keluarga yang menjadi tempat bersandar. Ada yang harus menjadi penyelamat bagi dirinya sendiri. Dan Haselyn adalah salah satunya.

Ia membangun masa depannya dengan kedua tangannya sendiri, selangkah demi selangkah, tanpa bantuan siapa pun. Luka yang diberikan keluarganya tidak membuatnya menyerah. Justru dari luka itulah lahir tekad yang menjadikannya perempuan tangguh, mandiri, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Tidak mendapatkan uang dari orang tuanya, meskipun mereka tergolong keluarga berada, bukan berarti Haselyn menerima nasibnya begitu saja. Ia menolak menyerah pada keadaan. Di usianya yang masih sangat muda, Haselyn mulai memutar otak untuk mencari biaya sekolah dengan kemampuannya sendiri.

Ia sadar, satu-satunya orang yang bisa mengubah hidupnya adalah dirinya sendiri.

Usaha pertamanya dimulai dari hal-hal sederhana. Haselyn membuat kerajinan tangan, lalu menjualnya kepada teman-teman sekolah. Ia juga menyediakan berbagai perlengkapan sekolah seperti pulpen, pensil, penghapus, buku tulis, hingga alat tulis lain yang sering dibutuhkan secara mendadak.

Teman-temannya yang berasal dari keluarga mampu kerap lupa membawa perlengkapan sekolah. Kebiasaan itu justru menjadi peluang bagi Haselyn. Lambat laun, ia dikenal sebagai “toko berjalan” di sekolahnya. Keuntungan yang diperolehnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menambah uang saku dan tabungannya sedikit demi sedikit.

Tidak berhenti sampai di situ, Haselyn juga membantu ibu kantin di sekolah dengan mengantarkan pesanan makanan kepada guru maupun siswa. Dari pekerjaan sederhana itu, ia belajar tentang kecepatan, pelayanan, dan kepercayaan pelanggan.

Namun, titik balik hidupnya datang dari seorang nenek yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

Nenek itu pandai memasak, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memasarkan dagangannya. Haselyn melihat peluang yang tidak dilihat orang lain. Ia menawarkan diri untuk membantu menjual masakan sang nenek.

Dengan penuh semangat, Haselyn mempromosikan makanan itu kepada teman-teman sekolah, para guru, tetangga, hingga orang-orang di luar lingkungannya. Ia menerima pesanan, mengatur pengantaran, dan memastikan setiap pelanggan mendapatkan pelayanan terbaik.

Perlahan, masakan sang nenek mulai dikenal banyak orang. Dari mulut ke mulut, pelanggan semakin bertambah. Apa yang awalnya hanya usaha kecil berubah menjadi bisnis rumahan yang menghasilkan keuntungan jauh lebih besar daripada usaha-usaha sebelumnya.

Dari sanalah Haselyn belajar bahwa uang bukan hanya diperoleh dari bekerja keras, tetapi juga dari kemampuan melihat peluang dan menciptakan nilai bagi orang lain.

Keuntungan dari usaha makanan itu menjadi modal pertamanya. Sedikit demi sedikit, tabungannya bertambah hingga akhirnya ia mampu membuka sebuah toko kecil. Toko itu bukan sekadar tempat berjualan, melainkan simbol dari perjuangan seorang gadis yang membangun masa depannya dengan kerja keras, kecerdasan, dan keberanian untuk tidak menyerah pada keadaan.

*

*

*

Haselyn menggenggam tangan Mario erat-erat, sementara tangan lainnya menarik dua koper yang berisi sisa-sisa kehidupan yang ia pilih untuk bawa.

Langkahnya sempat terhenti tepat di depan pintu utama.

Ia menoleh perlahan ke arah kakak tertuanya. Tatapannya tenang, tetapi menyimpan kelelahan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

“Aku sudah berusaha semampuku membantu keluarga ini selama lima tahun, Kak,” ucapnya pelan. “Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan. Sekarang… giliran Kakak yang mengurus keluarga ini.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Yang tersisa hanyalah ketulusan seseorang yang akhirnya memilih melepaskan beban yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.

Haselyn memandang rumah itu untuk terakhir kalinya. Dinding-dinding yang pernah menjadi saksi setiap pengorbanan, air mata, dan kerja kerasnya kini terasa begitu asing.

Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah.

Menggandeng tangan Mario, menarik kedua koper itu, dan meninggalkan rumah yang selama ini bukan hanya menjadi tempat tinggalnya, tetapi juga penjara yang membelenggu kebebasan dan kebahagiaannya.

Kali ini, ia tidak menoleh lagi.

Karena ia tahu, jika sekali saja ia menoleh ke belakang, mungkin ia akan kembali mengorbankan dirinya untuk orang-orang yang tidak pernah benar-benar memilihnya.

Mario masih belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Sejak keluar dari rumah, kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan, tetapi ia memilih diam. Ada rasa takut untuk bertanya. Ia khawatir pertanyaannya justru akan membuat mamanya semakin sedih.

Haselyn dapat menangkap kebingungan itu dengan mudah. Raut wajah putranya terlalu jujur untuk disembunyikan.

“Ayo, masuk ke mobil,” ucap Haselyn lembut.

“Iya, Ma,” jawab Mario pelan.

Anak itu segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang depan. Beberapa detik kemudian, Haselyn menyusul dan menempati kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil, tetapi belum langsung menjalankan kendaraannya.

Pandangan Haselyn tertuju pada rear-view mirror. Dari pantulan cermin itu, ia bisa melihat wajah Mario yang masih dipenuhi kebingungan. Bibir putranya tampak beberapa kali bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi kembali mengurungkannya.

Senyum tipis terukir di wajah Haselyn.

“Apa ada yang ingin kamu tanyakan kepada Mama?” tanyanya dengan suara yang begitu lembut, berusaha memberi ruang agar Mario tidak merasa takut mengungkapkan isi hatinya.

Mario mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan pantulan mata Haselyn di cermin, masih dipenuhi keraguan dan rasa ingin tahu yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

Mario mengembuskan napas pelan, berusaha mengumpulkan keberanian. Setelah mamanya memberinya izin untuk bertanya, ia akhirnya membuka suara.

“Ma…” panggilnya lirih.

“Iya, Sayang?”

“Sekarang… apa kita akan tinggal dengan Ayah?”

Pertanyaan itu meluncur hati-hati, seolah Mario sedang berjalan di atas kaca yang rapuh. Ia sengaja memilih pertanyaan itu daripada menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah tadi. Dalam pikirannya, pertanyaan tentang rumah mungkin akan membuat mamanya semakin sedih.

Haselyn terdiam.

Jemarinya yang semula menggenggam kemudi sedikit mengencang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa nama itu akan kembali disebut setelah sekian lama.

Perlahan, Haselyn mengurangi kecepatan mobil, lalu menepikannya ke sisi jalan. Ia memutuskan berhenti sejenak agar bisa mengendalikan dirinya tanpa membahayakan pengguna jalan lain.

Suasana di dalam mobil mendadak sunyi.

Haselyn menoleh ke arah Mario, menatap wajah putranya yang masih begitu polos.

“Kenapa kamu berpikir kita akan tinggal dengan Ayahmu?” tanyanya lembut.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!