NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Keluarga besar Wiratama datang seperti rombongan juri.

Ada Om, Tante, sepupu jauh, pemegang saham yang masih punya hubungan darah, dan beberapa orang tua yang lebih sibuk menghitung siapa duduk di sebelah siapa daripada benar-benar peduli pada masalah keluarga. Mereka memenuhi ruang tengah dengan aroma parfum, suara gelang emas, dan bisikan yang sengaja tidak terlalu pelan.

"Itu Alya?"

"Cantik juga."

"Sayang dibesarkan di kampung."

"Katanya semalam mempermalukan keluarga Santoso."

"Kasihan Maya. Sudah membesarkan Dinda baik-baik, sekarang harus menghadapi anak kandung yang keras."

Alya mendengar semuanya.

Ia turun perlahan dari tangga. Rafi berdiri di sisi koridor, tidak masuk ruang tengah, tetapi cukup terlihat untuk membuat beberapa paman mengerutkan kening.

Maya segera menghampiri Alya. Wajahnya lembut, matanya agak merah, seperti perempuan yang semalaman menangis karena dikhianati anak baru pulang.

"Alya, ayo salam dulu. Ini keluarga besar."

Alya mengikuti. Ia mencium tangan beberapa orang tua, menyapa dengan sopan, duduk di kursi yang disediakan. Tidak ada perlawanan, tidak ada wajah marah.

Itu membuat Maya sedikit gelisah.

Baskara membuka pembicaraan. "Terima kasih sudah datang mendadak. Ada beberapa hal yang perlu kami luruskan sebelum menjadi kabar liar."

Seorang tante bertubuh gemuk langsung berkata, "Kami dengar Alya menolak keluarga Santoso. Benar?"

Baskara menahan napas. "Ada salah paham."

Maya menatap Alya penuh kasih palsu. "Alya baru pulang. Dia masih menyesuaikan diri. Tekanannya besar. Mungkin karena itu reaksinya agak berlebihan."

Dinda duduk di samping Maya, menunduk. Hari ini ia tidak banyak bicara.

Alya meliriknya. Dinda menghindar.

Bagus. Setidaknya ia belum mengkhianati informasi semalam.

Tante lain berkata, "Kalau begitu harus dibimbing. Anak muda kalau terlalu lama jauh dari keluarga memang sulit diatur."

Raka berdiri di belakang sofa, wajahnya mengeras.

Baskara memberi isyarat pada seorang pria berjas abu-abu yang duduk dekat pintu. "Kami juga mengundang Dokter Adnan, psikolog keluarga yang biasa membantu beberapa kerabat. Bukan untuk menghakimi, hanya supaya Alya bisa menyesuaikan diri."

Dokter Adnan tersenyum profesional.

Alya menatapnya. "Psikolog keluarga?"

"Betul, Alya," jawabnya lembut. "Kadang perubahan besar membuat seseorang merasa terancam. Itu wajar. Kita bisa bicara pelan-pelan."

"Sebelum atau sesudah Anda membuat pernyataan bahwa aku tidak stabil?"

Ruang tengah mendadak sunyi.

Maya menggenggam tangan. "Alya, kenapa kamu bicara begitu?"

"Karena Tante sudah menyiapkan kata-kata itu."

Beberapa kerabat saling pandang.

Baskara membentak, "Cukup."

Alya berdiri. "Belum, Pa. Kita bahkan belum mulai."

Ia memberi isyarat pada Rafi. Rafi masuk membawa laptop kecil dan menghubungkannya ke televisi ruang tengah. Beberapa paman langsung ribut.

"Apa-apaan ini?"

"Anak ini mau bikin drama?"

Alya menekan tombol putar.

Di layar muncul rekaman kamar Alya. Waktu tertera pukul dua dini hari. Pintu terbuka perlahan. Mbak Sari masuk sambil melihat ke koridor, membuka laci meja rias, lalu memasukkan botol kecil.

Maya langsung berdiri.

Wajah Mbak Sari yang berdiri di dekat dapur pucat seperti kertas.

Alya menghentikan video. "Botol itu ditemukan di laci saya pagi ini."

Seorang paman bertanya, "Obat apa?"

Alya mengeluarkan botol dari tas. Labelnya berbunyi vitamin tidur ringan, tetapi ia telah menempelkan label baru di atasnya: barang bukti.

"Obat penenang. Kalau saya marah hari ini, botol ini akan ditemukan. Lalu Dokter Adnan akan bilang saya tertekan dan tidak stabil. Benar, Dok?"

Dokter Adnan langsung kehilangan senyum. "Saya tidak tahu soal obat itu."

"Tapi Anda tahu Anda diminta datang untuk mengamati saya, bukan?"

"Saya diminta membantu keluarga."

"Membantu siapa?"

Tidak ada jawaban.

Baskara menatap Maya. "Apa ini?"

Maya menangis. "Aku tidak tahu. Mbak Sari, kenapa kamu melakukan itu?"

Mbak Sari hampir jatuh berlutut. "Bu... saya..."

"Jawab!" Baskara membentak.

Mbak Sari menangis. "Saya disuruh Bu Maya."

Maya langsung berdiri. "Kamu bohong!"

Mbak Sari terisak. "Bu bilang cuma untuk jaga-jaga. Kalau Non Alya mengamuk, obat itu jadi bukti bahwa Non memang perlu bantuan."

Bisikan meledak di ruang tengah.

Dinda memejamkan mata.

Raka menatap Maya dengan rasa jijik yang tidak ia sembunyikan lagi.

Maya mencoba mendekati Baskara. "Mas, dengarkan aku. Aku hanya takut. Anak itu datang dan langsung menghancurkan semuanya."

Alya bertanya pelan, "Semuanya apa, Tante?"

Maya menoleh.

"Kebohongan yang Tante bangun?"

Wajah Maya berubah tajam. Untuk sesaat, topengnya retak. Namun ia cepat menangis lagi.

"Aku menerima kamu di rumah ini. Aku menyiapkan pakaian, kamar, makanan. Tapi kamu terus menyerangku."

Alya mengangguk. "Tante menyiapkan kamar belakang, gaun bekas, susu obat tidur, dan obat penenang di laci. Perhatian Tante memang banyak."

Ruang tengah kembali hening.

Seorang nenek dari pihak Baskara berdeham. "Baskara, ini memalukan."

Baskara tampak seperti ditampar.

Selama ini ia bisa mengabaikan Alya ketika hanya Alya yang terluka. Tetapi ketika keluarga besar melihat Maya mempermalukannya, ia tidak bisa menutup mata.

"Maya," katanya pelan, "kamu keterlaluan."

Maya menangis semakin keras. "Aku melakukan ini demi keluarga."

"Demi Dinda," kata Raka dingin.

Dinda mengangkat wajah, matanya basah. "Mas Raka, aku tidak tahu soal obat itu."

Alya menatapnya.

Dinda menatap balik. Kali ini ia tidak menunduk.

Mungkin itu caranya berkata bahwa ia memang tidak ikut dalam bagian ini.

Baskara memutuskan rapat keluarga berakhir sebelum semuanya lebih buruk. Kerabat pergi dengan wajah puas karena mendapat bahan gosip berbulan-bulan. Dokter Adnan pamit secepat mungkin. Mbak Sari dibawa ke ruang belakang untuk ditanyai.

Setelah ruang tengah kosong, Baskara menatap Alya.

"Kamu puas mempermalukan keluarga?"

Alya tidak terkejut.

Bagi ayahnya, kesalahan bukan pada pelaku. Kesalahan selalu pada orang yang membuat pelaku terlihat.

"Tidak, Pa," jawab Alya. "Aku hanya bertahan."

"Dengan cara menghancurkan rumah ini?"

"Rumah yang hancur karena satu rekaman berarti sudah rapuh sejak lama."

Baskara hendak menjawab, tetapi ponselnya berbunyi. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.

Pak Hendra Santoso.

Baskara mengangkat dengan nada tertahan. "Pak Hendra."

Suara dari seberang cukup keras sampai Alya mendengar sebagian.

"Baskara, rekaman Kevin sampai ke akun gosip lagi. Kali ini ada suara. Apa anakmu yang menyebarkan?"

Baskara menatap Alya.

Alya mengangkat alis.

Ia belum menyebarkan apa pun.

Berarti ada pemain lain.

Dan pemain itu ingin api menyala lebih besar.

Alya memandang layar ponsel Baskara yang masih menyala. Nama Pak Hendra sudah hilang, tetapi tekanan yang ditinggalkannya masih memenuhi ruangan. Orang yang menyebarkan rekaman itu tahu timing yang tepat: setelah Maya jatuh di depan keluarga besar, sebelum Wiratama sempat mengatur narasi baru.

Rafi berdiri di dekat pintu, matanya bertanya.

Alya memberi isyarat kecil. Cari sumbernya.

Rafi mengangguk hampir tak terlihat.

Maya masih menangis, Baskara masih marah, dan para pelayan masih pura-pura tidak mendengar. Namun Alya tahu, di luar rumah ini ada tangan lain yang mulai mengaduk air. Ia belum tahu tangan itu milik lawan atau calon sekutu.

Yang jelas, orang itu tidak bodoh.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!