NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Hari yang dinanti akhirnya tiba.

Setelah beberapa hari menjalani perawatan dan pemulihan, kondisi Adera sudah dinyatakan sangat baik dan stabil. Dokter akhirnya memberikan izin resmi untuk dia pulang ke rumah.

Wajah gadis itu berseri-seri. Senyumnya kembali tulus dan cerah, jauh berbeda dengan Adera yang dulu murung dan dingin karena sakit hati.

“Akhirnya boleh pulang juga,” ucap Adera sambil membetulkan posisi duduknya di kursi roda yang didorong oleh mamanya.

“Iya sayang, di rumah kan lebih nyaman dan tenang. Bisa istirahat total,” sahut Mama lembut. “Sayang sekali Denial tidak bisa mengantar, katanya ada operasi mendadak yang harus dia tangani segera.”

Adera mengangguk mengerti. “Iya Ma, gak apa-apa. Adera ngerti kok Kakak sibuk.”

Papa Adera berjalan di depan membawa tas dan barang-barang bawaan, sementara Mama mendorong kursi roda Adera menuju lobi utama untuk keluar dari rumah sakit.

Mereka berjalan menuju lift.

Saat pintu lift terbuka, mereka masuk. Di dalam sana, sudah ada seorang pria yang berdiri membelakangi mereka, tepat di sudut paling dalam.

Pria itu sangat tinggi. Tubuhnya tegap dan berotot terbalut seragam dokter putih yang rapi dan mahal. Namun yang menarik perhatian Adera adalah... pria itu memakai masker medis hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya, sehingga hanya terlihat sepasang matanya yang tajam, teduh, dan hidung yang mancung sempurna.

Adera tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Tapi...

Seketika saat pintu lift tertutup dan mereka bergerak turun, sebuah aroma menyeruak masuk ke penciuman Adera.

Cklek.

Jantung Adera seakan berhenti berdetak sesaat.

Wangi.

Sangat wangi. Aroma parfum yang sangat maskulin, kalem, dan classy. Campuran aroma kayu cendana yang hangat bercampur dengan sentuhan citrus yang segar, membuat aroma itu terasa sangat mahal, tenang, dan... sangat menenangkan jiwa.

Adera secara tidak sadar menarik napas panjang, menikmati setiap helai wangi itu.

“Astaga... wangi banget sampai bikin tenang begini...” batin Adera takjub.

Gadis itu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Biasanya dia tidak terlalu peka atau suka dengan parfum pria, apalagi sampai merasa nyaman begini. Tapi aroma dari pria di depannya ini... entah kenapa membuat hatinya berdebar aneh. Rasanya damai. Rasanya aman.

Adera diam-diam melirik dari bawah ke atas.

Pria itu berdiri sangat tegap, tangannya saling bertaut di depan perut, posturnya memancarkan wibawa yang luar biasa kuat. Matanya menatap lurus ke depan menatap pantulan cermin di dinding lift, tanpa sedikit pun menoleh ke arah mereka. Terlihat sangat dingin, misterius, dan fokus.

“Dia dokter bagian apa ya? Kok aku baru lihat sosok seberwibawa ini?” batin Adera bertanya-tanya.

Adera bahkan berharap perjalanan lift ini berjalan lebih lama saja, supaya dia bisa lebih lama menghirup aroma yang menenangkan itu.

Pria itu tidak bersuara sama sekali. Kehadirannya mendominasi ruangan sempit itu dengan auranya yang kuat namun sunyi.

Ding.

Lift sampai di lantai dasar.

Pintu terbuka perlahan.

Pria itu berjalan keluar lebih dulu dengan langkah panjang, lebar, dan cepat, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Dia langsung berbelok koridor dan menghilang di tikungan dengan cepat, meninggalkan Adera yang masih terpaku di kursi rodanya.

“Sayang? Kenapa diam saja?” tanya Sang Mama menyadari putrinya terdiam menatap pintu lift kosong.

Adera tersentak, lalu buru-buru menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu.

“E-eh... enggak kok Ma. Adera cuma... tadi liat dokter yang wanginya bikin tenang banget,” jawab Adera jujur dengan nada malu-malu.

Papa dan Mama tertawa kecil melihat tingkah polos putrinya.

Adera hanya tersenyum kecil, tapi pikirannya masih melayang-layang mengingat aroma itu dan sosok tinggi misterius tadi.

Di balik koridor yang sepi...

Pria tadi berhenti sejenak di balik tembok yang tinggi. Dia menurunkan tangannya yang tadi memegang lengan bajunya rapat-rapat.

Jika Adera melihat wajahnya sekarang... dia akan terkejut setengah mati.

Itu adalah Damar.

Dia melepas maskernya perlahan, menampakkan wajah dingin dan tampan yang penuh wibawa itu. Rahangnya tegas, kulitnya bersih, dan matanya tajam namun teduh. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, membentuk senyum kecil yang sulit ditangkap mata.

“Jadi itu dia...” gumam Damar pelan, suaranya berat, dalam, dan berwibawa. “Adera...”

Dia tersenyum tipis, mengingat gadis yang tadi duduk di kursi roda, yang diam-diam mengendus aroma parfumnya dengan wajah memerah dan tatap takjub.

Damar memakai masker bukan karena sakit, tapi karena dia memang tidak ingin dikenali orang sembarangan. Dan pertemuan tadi... adalah cara diam-diamnya melihat calon istrinya untuk pertama kalinya.

Sesampainya di rumah, suasana yang tenang justru membuat pikiran Adera melayang kemana-mana. Dia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke jendela.

Damar...

Nama itu terus terbayang di kepalanya.

“Aku dijodohin sama Dokter Damar...” gumamnya pelan. “Kenapa harus dokter lagi sih...”

Adera menghela napas panjang, merasa sedikit kesal dan menyesal dalam hati.

“Padahal kan aku udah berjanji sama diri sendiri, setelah kejadian sama Ezra kemarin, aku gak mau lagi berurusan sama rumah sakit, gak mau lagi dekat-dekat dokter, dan mau jauh-jauh dari dunia medis yang bikin sakit hati. Tapi kenapa Tuhan malah mempertemukanku sama calon suami yang juga dokter?” gerutu Adera pada nasibnya sendiri.

“Dasar nasib... mau lari kemana pun ujungnya balik lagi ke sini,” gerutunya kesal sendiri.

Tapi rasa kesal itu perlahan berganti dengan rasa penasaran yang besar dan menggelitik.

Karena tidak tahan, Adera akhirnya mengambil ponselnya dan mulai mencari informasi tentang pria bernama Damar itu. Dia membuka website resmi rumah sakit, berita-berita lokal, sampai profil perusahaan.

Dan apa yang dia temukan...

Mata Adera membelalak lebar, tak percaya.

Di profil RS Adisakti terpampang jelas nama besar: Dr. Damar - Direktur Utama.

“Gila... dia Direktur utamanya?!” seru Adera kaget setengah mati.

Bukan cuma sekadar dokter biasa atau kepala divisi. Pria itu memegang kendali penuh atas seluruh rumah sakit megah itu. Namun anehnya, foto wajahnya sangat minim sekali. Hampir semua foto yang ada menampakkan dia memakai masker, topi, atau diambil dari jarak jauh sehingga wajahnya tidak pernah jelas terlihat.

Orang-orang di kolom komentar banyak yang membicarakannya:

'Dokter Damar itu Direktur termuda dan tersukses, tapi dingin banget. Jarang ketemu orang.'

'Legend banget sih dia, gak pernah muncul di acara kantor atau rapat terbuka.'

'Katanya sih ganteng parah, tapi setengah wajahnya selalu tertutup. Keren banget auranya.'

Semakin banyak Adera baca, semakin besar rasa penasarannya meledak.

“Wajahnya kayak apa ya sebenernya? Galak banget kah?” batin Adera bertanya-tanya.

Dan tanpa sadar, ingatannya melayang kembali ke sosok pria tinggi di lift tadi. Pria misterius dengan aroma parfum yang bikin nyaman dan aman.

Sore harinya...

Adera dan Nindy sedang duduk santai di halaman rumah, menikmati angin sore sambil ngobrol santai.

“Jadi lo beneran gak mau terima?” tanya Nindy sambil memakan keripik dengan lahap.

“Bukan gak mau terima sih...” jawab Adera sambil memainkan rumput dengan jari-jarinya. “Cuma... agak berat aja menerima kenyataan kalau calon suamiku itu dokter. Trauma gitu lho, gara-gara Ezra yang nyakitin hati.”

“Halah, Ezra mah Ezra. Damar mah Damar! Levelnya beda jauh banget kali!” celetuk Nindy tak terima. “Lagipula kan dia bos besar, Direktur lho! Pasti royal, protektif, dan sayang banget sama istri nanti.”

Tiba-tiba...

“Permisi!”

Mereka berdua menoleh serentak. Terlihat seorang kurir berdiri di depan pagar membawa sebuah buket bunga yang sangat besar dan mewah. Bunganya tidak biasa, campuran antara bunga putih bersih dan tanaman hijau aromatik yang terlihat sangat eksklusif dan mahal.

“Ini atas nama Adera kan?” tanya Kurir itu ramah.

“Iya betul,” jawab Adera bingung sambil menerima buket itu dengan hati-hati. “Dari siapa ya Pak?”

“Pengirimnya gak kasih nama, Non. Cuma bilang ini hadiah selamat datang di rumah dan sembuh total,” kata Kurir tersebut sebelum pamit pergi.

Setelah kurir pergi, Adera dan Nindy langsung mengamati buket itu dengan takjub.

“Wah... mewah banget! Mewah pol!” seru Nindy melongo. “Siapa yang kirim Der? Mantan lo?”

Adera tidak menjawab. Dia perlahan mendekatkan buket itu ke hidungnya, menarik napas perlahan untuk mencium wanginya yang alami.

Dan saat aroma itu masuk ke penciumannya...

JLEB!!!

Mata Adera membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika.

“Wanginya? Aroma bunga ini... PERSIS SAMA dengan aroma parfum pria misterius di lift tadi!” batin Adera berteriak panik.

Campuran aroma kayu cendana yang hangat, segar, dan menenangkan itu sama persis! Bahkan nuansa wanginya sangat identik, mahal, dan memberikan rasa damai yang sama persis.

“Eh Der? Lo kenapa? Kok diam aja? Wajah lo jadi pucat gitu?” tanya Nindy kaget melihat sahabatnya terpaku seperti patung.

Adera menelan ludah susah payah. Tangannya memegang buket itu erat-erat, jantungnya berdegup kencang tak karuan.

“Adera!” teriak Nindy mengguncang bahu temannya.

“Astaga, Nindy! Gue gak budeg tau!” sentak Adera kaget.

“Ya Lo sih dari tadi diam tanpa kata, bikin penasaran aja! Siapa sih yang ngirim bunganya?” tanya Nindy makin penasaran dan tidak sabar.

“Kurir ngomong tadi masih kurang jelas ya?! Hadah Nindy Nindyyy!” kesal Adera sambil memeluk buket itu erat-erat, wajahnya memerah padam.

“Hehehe, ya kali aja Lo tau siapa pengirimnya,” goda Nindy sambil terkekeh jahil.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!