NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Kuliner Para Kultivator

Setelah meninggalkan reruntuhan Desa Awan Timur, Cang Xuan akhirnya memulai perjalanan pertamanya menuju dunia yang selama ini hanya ada dalam bayangannya. Tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di tempat yang telah kehilangan seluruh kehidupan itu. Dengan membawa pedang, beberapa perbekalan, dan tekad yang semakin kuat, ia melangkah meninggalkan masa lalunya.

Pagi itu, ia berjalan berdampingan dengan lelaki tua misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai Tuan Xin. Keduanya menyusuri sebuah jalan setapak yang membelah hutan lebat, mengikuti jalur yang belum pernah dilalui Cang Xuan sebelumnya. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela dedaunan dan membentuk bercak-bercak cahaya di atas tanah, sementara suara burung yang berkicau dari atas pepohonan membuat suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari terakhir yang dilaluinya.

Angin sejuk berembus perlahan melewati hutan, menggerakkan ujung pakaian mereka saat keduanya terus melangkah ke depan. Di sepanjang perjalanan, Cang Xuan beberapa kali mengamati sosok Tuan Xin dari samping. Hingga sekarang, ia masih merasa sulit mempercayai bahwa lelaki tua berpakaian lusuh yang gemar membawa kendi arak itu berasal dari Dunia Atas.

Setelah berjalan cukup lama menyusuri jalan setapak yang membelah hutan, rasa penasaran yang sejak tadi ditahan Cang Xuan akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Ia menoleh ke arah lelaki tua yang berjalan santai di sampingnya sambil sesekali meneguk arak dari kendi kecil miliknya.

"Tuan Xin."

"Hm?" sahut lelaki tua itu tanpa menghentikan langkah.

Cang Xuan berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Jika kau benar-benar berasal dari Dunia Atas, berarti kau pasti orang hebat, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin justru tertawa kecil. Ekspresinya terlihat santai, seolah pertanyaan tersebut sama sekali tidak istimewa baginya. "Haha, tidak juga. Memang benar aku berasal dari Dunia Atas, tapi di sana aku hanyalah orang biasa."

Jawaban itu membuat Cang Xuan langsung menoleh penuh keterkejutan.

"Orang biasa?"

Tuan Xin mengangguk santai. "Benar. Aku bukan kultivator hebat seperti yang kau bayangkan. Aku juga bukan penguasa sekte, jenderal, atau kaisar. Aku hanya seorang pelayan yang bekerja untuk seorang Kaisar."

Mata Cang Xuan berkedip beberapa kali.

"Jadi... kau bukan orang hebat?"

"Tepat sekali," jawab Tuan Xin tanpa sedikit pun rasa malu. Bahkan nada suaranya terdengar bangga karena bisa mengatakannya dengan begitu terus terang.

Cang Xuan langsung terdiam.

Sejak mengetahui bahwa lelaki tua ini berasal dari Dunia Atas, ia tanpa sadar menganggap Tuan Xin sebagai sosok yang sangat kuat dan berpengaruh. Namun sekarang, orang yang selama ini ia kira sebagai ahli tersembunyi justru mengaku hanya seorang pelayan biasa.

Untuk sesaat, Cang Xuan tidak tahu harus berkata apa.

Semua bayangan tentang seorang guru kuat yang akan membimbingnya menuju Dunia Atas perlahan mulai retak. Ia bahkan merasa sebagian harapannya runtuh begitu saja di tengah perjalanan.

Melihat ekspresi Cang Xuan yang masih sedikit murung, Tuan Xin kembali membuka mulutnya. "Meski begitu, aku masih mengetahui banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku juga akan membantumu mencapai Dunia Tengah terlebih dahulu." Ia kemudian meneguk sedikit arak sebelum melanjutkan dengan nada santai, "Sedangkan aku sendiri akan tetap tinggal di Dunia Bawah. Aku sudah cukup nyaman hidup sebagai pengembara tua."

Mendengar itu, Cang Xuan mengangguk pelan. Setidaknya meskipun Tuan Xin bukan seorang ahli hebat seperti yang dibayangkannya, lelaki tua itu masih mengetahui banyak hal tentang dunia luar yang sama sekali asing baginya.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi, sebuah pertanyaan lain tiba-tiba muncul di benaknya.

"Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya namamu?"

Tuan Xin tampak berpikir sejenak. Kerutan kecil muncul di wajahnya sebelum akhirnya ia tersenyum dan melambaikan tangan dengan santai. "Panggil saja aku Tuan Xin. Itu lebih mudah diingat."

Cang Xuan tidak mempermasalahkannya. "Baiklah, aku akan tetap memanggilmu Tuan Xin."

"Bagus," jawab lelaki tua itu sambil mengangguk puas, seolah masalah besar baru saja terselesaikan.

Percakapan mereka kembali terhenti, sementara langkah kaki terus membawa keduanya semakin jauh dari Desa Awan Timur. Namun kali ini pikiran Cang Xuan tidak lagi memikirkan kehancuran desa ataupun perjalanan yang ada di depan mata.

Tatapannya tanpa sadar beralih kepada Tuan Xin.

Lelaki tua itu berasal dari Dunia Atas.

Pemikiran itu terus berputar di benaknya.

Jika benar demikian, ada kemungkinan Tuan Xin pernah bertemu dengan ayahnya. Dunia Atas memang terdengar sangat luas, tetapi setidaknya peluang itu tetap ada. Sayangnya, harapan yang baru saja muncul segera memudar.

Cang Xuan menyadari satu masalah yang cukup memalukan.

Ia bahkan tidak mengetahui nama ayahnya sendiri.

Ibunya hanya pernah mengatakan bahwa ayahnya berada di Dunia Atas, tetapi tidak pernah menceritakan identitasnya secara rinci. Tanpa nama, tanpa wajah, dan tanpa petunjuk lain, bahkan jika Tuan Xin pernah bertemu ayahnya sekalipun, tidak ada pertanyaan yang bisa diajukan.

Memikirkan hal itu membuat Cang Xuan hanya bisa menghela napas pelan.

Di sampingnya, Tuan Xin masih berjalan santai sambil sesekali meneguk araknya, sama sekali tidak menyadari bahwa pemuda di sebelahnya sedang memikirkan sosok yang belum pernah ditemuinya seumur hidup.

Beberapa jam kemudian, pemandangan di sekitar mereka mulai berubah. Hutan yang sebelumnya membentang tanpa ujung perlahan menipis, sementara jalan setapak yang mereka lalui berubah menjadi jalur yang lebih lebar dan lebih sering dilalui orang. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas tanda-tanda kehidupan manusia terlihat di sekitar mereka.

Tidak lama kemudian, sebuah desa besar muncul di hadapan keduanya.

Langkah Cang Xuan tanpa sadar melambat.

Matanya membesar saat memandangi pemandangan di depan sana.

Puluhan rumah berdiri berjajar dengan rapi di sepanjang jalan utama. Orang-orang berlalu-lalang sambil membawa barang dagangan, berbincang dengan tetangga, atau sekadar berjalan menuju tujuan masing-masing. Suasana yang hidup dan ramai itu sangat berbeda dengan apa yang selama ini dikenalnya.

"Ramai sekali..." gumamnya tanpa sadar.

Tuan Xin yang berjalan di sampingnya langsung tersenyum melihat reaksi tersebut. "Bagaimana? Ini pertama kalinya kau melihat desa lain?"

Cang Xuan mengangguk tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Iya. Desa ini jauh lebih besar dibandingkan desaku."

Mendengar jawaban itu, Tuan Xin hanya tertawa kecil lalu melanjutkan langkahnya menuju gerbang desa. Bagi dirinya, tempat seperti ini mungkin tidak ada yang istimewa, tetapi bagi Cang Xuan yang selama enam belas tahun hidup di Desa Awan Timur, semuanya terasa berbeda.

Begitu memasuki desa, rasa penasaran di dalam dirinya semakin sulit ditahan. Tatapannya terus bergerak ke berbagai arah, memperhatikan setiap hal yang dilihatnya. Ada toko-toko yang menjual berbagai barang, gerobak dagangan yang berjejer di pinggir jalan, serta penduduk yang tampak sibuk menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Segala sesuatu terasa baru baginya.

Untuk pertama kalinya, Cang Xuan benar-benar merasakan bahwa dunia di luar Desa Awan Timur jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan. Dan ini hanyalah sebuah desa biasa, bukan Dunia Tengah ataupun Dunia Atas yang selama ini diceritakan oleh Tuan Xin. Pemikiran itu membuat rasa penasarannya terhadap dunia luar semakin besar, sementara langkahnya tanpa sadar menjadi lebih ringan saat mengikuti Tuan Xin menyusuri jalan yang ramai tersebut.

Saat berjalan menyusuri jalan utama desa, Cang Xuan terus memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Melihat penduduk yang beraktivitas dengan tenang dan anak-anak yang berlarian di pinggir jalan, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya. Ia pun menoleh ke arah Tuan Xin yang masih berjalan santai di sampingnya.

"Tuan Xin, apakah desa ini juga memiliki pelindung seperti Desa Awan Timur?"

"Hm?" Tuan Xin meliriknya sesaat sebelum menganggukkan kepala. "Tentu saja. Kalau tidak ada pelindung, desa ini pasti sudah lama dihancurkan Monster Abyss. Nasibnya tidak akan berbeda dengan desamu."

Jawaban itu membuat langkah Cang Xuan sedikit melambat.

Tanpa sadar, bayangan malam ketika Desa Awan Timur hancur kembali muncul di benaknya. Ia masih bisa mengingat kobaran api yang menerangi langit malam, jeritan para penduduk yang berusaha melarikan diri, dan Monster Abyss yang datang dari segala arah setelah pelindung desa runtuh. Semua kenangan itu masih terasa begitu jelas seolah baru terjadi kemarin.

Melihat perubahan ekspresinya, Tuan Xin tidak mengatakan apa pun. Lelaki tua itu hanya terus berjalan sambil membiarkan Cang Xuan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Cang Xuan mengembuskan napas pelan dan mengalihkan pandangannya kembali ke jalan di depan. Ia tidak ingin terus terjebak dalam kenangan masa lalu. Apa yang telah terjadi tidak dapat diubah, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah terus melangkah maju.

Setelah berjalan beberapa saat menyusuri jalan utama desa, perhatian Tuan Xin tiba-tiba tertuju pada sebuah bangunan besar yang berada tidak jauh dari persimpangan jalan. Begitu melihat papan kayu yang tergantung di depan bangunan tersebut, mata lelaki tua itu langsung berbinar seperti menemukan harta karun.

"Kedai makan!" serunya dengan semangat. Tanpa menunggu tanggapan Cang Xuan, ia langsung mempercepat langkahnya. "Ayo kita masuk."

Cang Xuan hanya bisa mengikuti dari belakang sambil menggelengkan kepala pelan.

Begitu memasuki bangunan itu, aroma berbagai masakan langsung menyambut mereka. Bau daging panggang, sup hangat, dan berbagai bumbu yang belum pernah dicium Cang Xuan sebelumnya memenuhi seluruh ruangan. Kedai tersebut jauh lebih besar dibandingkan bangunan mana pun yang pernah ia lihat di Desa Awan Timur. Meja dan kursi kayu tersusun rapi, sementara para pengunjung memenuhi hampir setiap sudut ruangan sambil menikmati makanan dan berbincang dengan teman-teman mereka.

Tatapan Cang Xuan menyapu seluruh ruangan sebelum ia tanpa sadar bergumam, "Tempat ini besar sekali."

Mendengar itu, Tuan Xin hanya tertawa kecil sambil mencari tempat duduk yang kosong. "Kalau dibandingkan dengan restoran di Dunia Tengah atau Dunia Atas, tempat seperti ini sebenarnya biasa saja. Tapi untuk Dunia Bawah, tempat ini memang sudah cukup bagus."

Setelah keduanya duduk, seorang pelayan segera menghampiri dan meletakkan sebuah daftar menu di atas meja. "Silakan memilih makanan yang diinginkan."

Cang Xuan langsung mengambil menu tersebut dan mulai membacanya dengan penuh rasa ingin tahu. Namun semakin lama ia membaca, semakin aneh ekspresi di wajahnya.

Di sana tertulis berbagai nama yang sama sekali asing baginya.

Nasi Roh Seribu Aroma.

Daging Serigala Abyss Panggang.

Sup Tulang Naga Bumi.

Ayam Api Ekor Merah.

Ikan Sungai Roh Giok.

Dan masih banyak lagi.

Setelah membaca beberapa saat, ia akhirnya mengangkat kepala dan menatap Tuan Xin dengan wajah bingung. "Apa ini semua? Kenapa aku belum pernah mendengar nama makanan seperti ini?"

Tuan Xin mengambil menu tersebut lalu melirik isinya sekilas. Tak lama kemudian, ekspresi terkejut muncul di wajahnya.

"Oh?"

Ia kembali melihat beberapa baris menu sebelum tersenyum.

"Ternyata restoran kecil seperti ini menjual makanan kultivator."

"Makanan kultivator?" ulang Cang Xuan penasaran.

Tuan Xin mengangguk. "Kebanyakan bahan makanan di sini berasal dari hewan atau tumbuhan yang mengandung energi spiritual. Selain mengenyangkan, makanan seperti ini juga memiliki manfaat tertentu bagi tubuh seorang kultivator."

Sambil berbicara, jarinya menunjuk salah satu nama di daftar menu.

"Kalau aku jadi kau, aku akan memilih Daging Serigala Abyss Panggang. Makanan itu cukup terkenal. Dagingnya memang agak keras, tetapi kaya akan energi darah dan cukup disukai para kultivator."

Mendengar rekomendasi tersebut, Cang Xuan langsung mengangguk tanpa ragu. Bagaimanapun juga, Tuan Xin jauh lebih berpengalaman dalam hal-hal seperti ini.

"Kalau begitu aku pesan itu."

Pelayan yang masih berdiri di samping meja segera mencatat pesanan mereka.

"Daging Serigala Abyss Panggang satu porsi."

Tuan Xin kemudian mengangkat tangannya sambil tersenyum. "Aku juga sama."

"Baik." Pelayan itu mengangguk sopan sambil menuliskan pesanan kedua. "Silakan menunggu sebentar."

Setelah itu, ia membawa buku catatannya dan berjalan menuju dapur.

Sementara menunggu makanan datang, Cang Xuan kembali memperhatikan suasana di dalam kedai. Segala sesuatu yang dilihatnya hari itu terasa baru. Mulai dari desa yang ramai hingga makanan kultivator yang bahkan belum pernah didengarnya sebelumnya. Tanpa disadari, dunia yang selama ini hanya terbatas pada Desa Awan Timur perlahan mulai terbuka di hadapannya.

End Chapter 11

1
asri_hamdani
Sepertinya terulang dari Bab sebelumnya
.: oh iya benar terima kasih koreksinya
total 1 replies
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!