Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Aminah akhirnya pulang ke kontrakan miliknya dengan perasaan gelisah, entah mengapa dia merasakan ada yang mengikutinya sejak tadi, dia yakin itu adalah Fadil yang tidak terima dia putuskan seperti itu.
Sedangkan Fadil yang merasa tidak terima keputusan Aminah itu langsung menelpon kedua orang tua Aminah agar mereka membuat perhitungan kepadanya, dia akan mengikuti Aminah hingga mendapatkan tempat tinggalnya
"Hallo, aku sudah mendapatkan alamat Aminah tinggal kalian bisa kesana besok". Ucapnya tanpa basa basi saat panggilan telpon itu terhubung.
" Kamu tahu darimana alamatnya nak?". Tanya wanita diseberang.
"Maaf tidak usah banyak bertanya, cukup berikan perempuan kurang ajar itu pelajaran besok, dia sudah mempermalukan aku hari ini, jika bukan ancaman temannya aku akan menghajarnya".
" Loh apa yang terjadi?, memang apa yang bisa dilakukan anak itu sampai bisa mempermalukan kamu?".
"Tante diam saja, jika bukan karena uang Aminah yang bisa saya manfaatkan ogah saya berpacaran dengan gembel sekelas kalian, setelah ini jangan hubungi saya, saya tidak mau berurusan dengan orang miskin seperti kalian".
"Dasar menyebalkan". Sungut Fadil dengan kesal.
Sedangkan diseberang telpon Halimah mengepalkan tangannya, bisa-bisanya Fadil menghina mereka seperti itu padahal dia berencana untuk membuat lelaki itu bersama Lisa sang anak kedua tapi mendengar itu dia mengurungkannya.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun, katanya punya gaji bagus tapi malah memanfaatkan Aminah saat berpacaran, memalukan sekali".
Lisa yang melihat ibunya mengomel tidak jelas seperti itu langsung bertanya.
"Ibu kenapa, kok kayak orang kesal seperti itu?". Tanyanya dengan penasaran.
Halimah hanya mendengus kasar menatap anaknya dengan jengkel.
"Itu tuh laki-laki idamanmu, kurang ajar sekali pada orang tua, tadi dia menghina kita dengan sebutan orang miskin, padahal dia sendiri memanfaatkan kakak kamu karena tidak mau keluar uang padahal dia laki-laki, apa coba diharapkan lelaki pelit seperti itu, yang ada nanti dia memeras mu kalau kalian bersama".
Halimah mengangkat bahunya karena tidak suka pada lelaki seperti itu.
"Yang benar Bu, ih aku juga tidak mau jika lelaki pelit, percuma kerja bagus dan gaji tinggi kalau pelit minta ampun".
"Untung bukan kamu yang dia temani berpacaran, bisa tekkor ibu nanti".
"Iya Bu, apa ibu sudah tahu dimana kak Aminah tinggal, kita harus mencari dia memberikan pelajaran, aku tidak akan biarkan dia menginjak-injak kita, dia harus tetap berbakti pada ibu dan memberikan gajinya kalau tidak bagaimana dengan kuliahku dan uang jajanku".
Dia merengek kepada sang ibu, dia tahu ibunya tidak akan membiarkan semua ini, ibunya sangat menyayanginya maka dari itu dia harus bisa membuat ibunya jengkel kepada kakak agar ibunya bertindak
"Kamu tenang saja, ibu akan kerumah Aminah besok, ibu sudah tahu dimana dia tinggal, ibu tidak akan beri dia ampun, dia harus kembali memberikan gajinya karena hari ini dia gajian".
"Betul itu Bu, kak Aminah harus diberi pelajaran, enak saja dia mau menikmati gajinya sendiri padahal ibu sudah susah payah melahirkan dan membesarkan nya". Sungutnya dengan kesal.
Mereka berdua kembali kekamarnya karena ini sudah sangat malam dan mereka harus melabrak Aminah sebelum dia berangkat bekerja.
Aminah yang tahu hari ini akan tiba mendengar suara keributan diluar yang sudah dia duga, dia yakin semalam Fadil pasti mengikutinya entah bagaimana caranya.
kamarnya diketuk dan digedor keras sambil memanggil namanya, dia hanya bisa menghela nafas karena tahu siapa pemilik suara diluar itu.
"Aminah buka pintu sekarang, dasar anak durhaka dan tidak tahu diri". Teriak sang ibu dari luar kamarnya.
Aminah hanya bisa menahan diri agar tidak membuat keributan karena ibu dan adiknya saja sudah membuat malu dirinya setengah mati.
Dia menghubungi sahabatnya yang merupakan pemilik kos agar menindak keluarganya dan membantunya nanti menghadapi mereka.
Dengan langkah malas, dia keluar dari kamarnya untuk menemui mereka.
"Apa sih Bu, berisik banget pagi-pagi?". Sungut Aminah begitu membuka pintu.
Tapi dia langsung memegang pipinya karena mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang ibu .
Dia hanya bisa mengelus pipinya yang terasa nyeri karena tamparan itu begitu keras dan membuat kepalanya sakit.
"Dasar anak kurang ajar, kamu sudah mempermalukan ibu dan adikmu kemaren sekarang ibu akan membalas semua kelakuanmu". Bentak sang ibu dengan penuh emosi.
Halimah langsung ingin menjambak rambut sang anak tapi tangannya langsung ditepis Aminah dengan kasar.
Kedua mata mereka langsung melotot melihat Aminah berani melawan sang ibu bahkan menghempaskannya seperti itu.
"Maaf Bu, aku ini manusia, punya hati dan perasaan juga, ibu sendiri datang kekantor ku membuat keributan, ibu selalu mengatai aku sebagai anak tidak berguna dan tidak punya masa depan tapi kalian terus menerus datang kesini meminta gajiku, apa itu tidak memalukan?".
Aminah menghela nafas lelah menatap ibunya Dnegan tatapan frustasi yang nyata, entah bagaimana dia menjelaskan pada ibunya jika dia keluar dari rumah itu untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.
"Aku tidak tahu apa salahku, jika aku bisa memilih aku tidak mau ibu lahirkan, untuk apa aku punya orangtua kalau hanya luka yang diberi setiap hari, hanya caci maki yang selalu kuterima padahal semua sudah kulakukan untuk membalas budi kalian terus kenapa ibu tidak melakukan hal yang sama pada Lisa dan yang lainnya?".
Halimah mendengus mendengar jeritan hati sang anak, dia tidak peduli sama sekali, baginya Aminah harus tunduk dan patuh serta memberikan semua uangnya padanya karena dia ibu yang melahirkan dan membesarkannya.
"Tidak usah beromong kosong Aminah, berikan gajimu seperti biasa pada ibu, ibu tidak mau dengar keluhanmu itu". Sungutnya menadahkan tangannya meminta apa yang menurutnya menjadi haknya.
"Maaf Bu, mulai sekarang aku tidak akan memberi gajiku padamu, silahkan ibu lakukan apapun yang ibu inginkan karena aku sudah tidak peduli, jika ibu membuat keributan disini ada CCTV dan itu akan membuat kalian kesulitan nanti".
Halimah mengepalkan tangannya dengan geram, dia tidak menyangka Aminah akan melawannya seperti ini.
"Kurang ajar, kamu mau menjadi manusia tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih". Bentaknya d dengan suara menggelegar.
"Terserah ibu mau berkata apa, yang jelas aku sudah menyetop semuanya, jika aku sudah berlapang baru aku kirim, aku mau masuk silahkan pulang".
Halimah langsung menendang pintu itu sekuat tenaga sehingga membuat suara gaduh .
Aminah yang tidak siap akhirnya tersungkur karena tendangan itu.
"Apa yang terjadi disini?, kenapa kalian membuat keributan di kos saya". Teriakan seseorang menggema membuat keduanya menoleh.
Keduanya hanya mendengus melihat sahabat anaknya itu datang menghampiri mereka.
"Pergi sekarang juga, saya sudah melaporkan perbuatan kalian kepolisian".