Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Sang Penguasa
Talitha menyentak wajah Sonya hingga terhempas ke lantai. Ia berdiri, lalu menoleh pada Jenna. "Di mana toilet umum untuk para pelayan rendahan di lantai ini?"
"Di sebelah sana, Nona Talitha. Di koridor belakang dekat gudang," jawab Jenna dengan semangat, menunjuk ke arah lorong yang remang-remang.
"Bagus. Seret dia ke sana!" perintah Talitha.
Jenna dengan senang hati membantu Talitha. Bersama-sama, mereka menarik paksa tubuh Sonya yang lemas menuju ke dalam toilet umum pelayan yang sempit dan dingin. Di dalam toilet, Talitha mengambil sebuah ember besar yang berisi air dingin bekas bersihan lantai. Tanpa ragu, ia mengguyurkan seluruh isi air dingin itu ke atas tubuh Sonya yang sedang terduduk lemas di lantai toilet.
Byurr!
"Uhuk! Uhuk!" Sonya menggigil hebat. Air dingin itu seketika membuat pakaiannya basah kuyup dan melekat di tubuhnya yang kurus. Bibirnya mulai berubah warna menjadi kebiruan, dan giginya gemerutuk menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Kepalanya terasa semakin berat, seolah-olah kesadarannya siap meredup kapan saja.
"Sekarang, ambil sikat itu dan bersihkan seluruh toilet ini sampai mengkilap dengan tanganmu sendiri! Jangan coba-coba berhenti sebelum aku mengizinkannya!" bentak Talitha, melemparkan sikat lantai plastik ke dada Sonya.
"LANCANG!!!"
Sebuah suara bariton yang teramat berat, keras, dan sarat akan aura membunuh yang pekat mendadak menggelegar dari arah pintu masuk lorong toilet, memotong tawa kemenangan Talitha dan Jenna. Suara itu begitu menggelegar hingga getarannya seolah meruntuhkan dinding-dinding beton di sekitar mereka.
Tubuh Talitha seketika tersentak hebat. Seluruh ototnya menegang kaku, dan warna wajahnya yang semula kemerahan karena puas kini mendadak pudar menjadi pucat pasi. Ia mengenali suara itu, suara Jevan Romano, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Batara yang terkenal sebagai mesin pembunuh berdarah dingin tanpa ampun.
Jenna yang berdiri tak jauh di dekat wastafel langsung melebarkan matanya karena panik yang luar biasa. Ketakutan menguasai dirinya sepenuhnya. Tanpa membuang waktu atau memikirkan kesetiaannya pada Talitha, Jenna langsung bergerak mundur dengan cepat, menyelinap di balik lemari penyimpanan alat pembersih yang besar di sudut lorong, mencoba menyembunyikan keberadaannya dari pandangan mata maut yang baru saja tiba.
Dari balik kegelapan lorong, melangkah masuk Jevan Romano bersama dua orang anak buah inti klan The Inferno yang bertubuh raksasa dan bersenjata lengkap. Mata Jevan yang biasanya kosong tanpa emosi, kini berkilat memancarkan kemarahan yang sangat mengerikan saat melihat kondisi Sonya yang basah kuyup dan menggigil di lantai toilet.
Jevan melangkah maju dengan kecepatan yang luar biasa. Sebelum Talitha sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, tangan kekar Jevan sudah bergerak melayang di udara.
Plakk!!!
Suara tamparan yang luar biasa keras bergema di dalam toilet yang sempit. Telapak tangan Jevan mendarat dengan telak dan penuh kekuatan di pipi kanan Talitha. Tamparan itu begitu kuat hingga tubuh Talitha terlempar ke samping, menghantam dinding ubin toilet sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai dengan sangat tidak terhormat.
Bibir Talitha seketika sobek, mengeluarkan darah segar yang mengalir deras membasahi dagunya. Rambutnya yang semula rapi kini acak-acakan, dan matanya membelalak tidak percaya bahwa seorang kacung berani menyentuhnya.
"Beraninya kamu menyakiti dan menyentuh Nyonya Moretti dengan tangan kotormu, Jalang!" desis Jevan dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman kematian yang nyata. Aura membunuhnya menyelimuti seluruh ruangan, membuat pasokan oksigen terasa lenyap.
Tepat di belakang Jevan, sosok tinggi tegap yang paling ditakuti di seluruh Wilayah Maldav akhirnya melangkah masuk. Batara Moretti. Pria itu baru saja tiba dari Kota Qislan lebih cepat dari perkiraan karena firasat buruk yang mengusiknya sepanjang jalan. Wajah tampan Batara saat ini tampak begitu gelap, laksana iblis yang merangkak keluar dari neraka terdalam. Matanya yang sehitam malam menatap lurus ke arah Sonya yang terkapar di lantai toilet dalam kondisi yang sangat menyedihkan.
Melihat kondisi istrinya, rahang Batara mengatup begitu rapat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol tegang. Kemarahan yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya kini bergejolak hebat di dalam dada sang mafia.
Tanpa memedulikan keberadaan Talitha yang sedang menangis memegangi pipinya di lantai, Batara melangkah mendekati Sonya. Ia melepaskan jas hitam mewahnya dengan satu gerakan cepat, lalu berlutut di samping tubuh mungil istrinya. Dengan gerakan yang teramat hati-hati, sebuah kontras yang luar biasa dari sifat kasarnya, Batara membungkus tubuh basah kuyup Sonya menggunakan jas hangat miliknya yang masih menyebarkan aroma parfum maskulin yang akrab di indra penciuman Sonya.
Tubuh Sonya bergetar hebat di dalam dekapan jas itu, bibirnya yang membiru bergetar menahan dingin yang teramat sangat. Matanya yang sayu terbuka sedikit, menatap wajah gelap suaminya melalui pandangan yang mulai buram karena air mata dan kesadaran yang menipis.
"Tu-Tuan... Anda... Anda sudah pulang..." ucap Sonya dengan suara yang teramat lemah, nyaris tidak terdengar seperti bisikan angin malam. Suaranya sarat akan penderitaan dan kepasrahan yang mendalam.
Batara tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia hanya mengangguk pelan sekali, namun tatapan matanya melembut sesaat hanya untuk wanita di pelukannya. Dengan satu gerakan yang kuat dan penuh dominasi, Batara mengangkat tubuh mungil Sonya ke dalam gendongan dekapannya, membawa gadis itu bangun dari lantai toilet yang kotor.
Melihat Batara hendak pergi membawa Sonya tanpa memedulikannya, rasa harga diri Talitha yang terluka mengalahkan rasa takutnya. Sambil menghapus darah di bibirnya, ia berteriak histeris dari atas lantai. "TUAN BATARA! AKU MAU PENJELASAN! Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini demi wanita sampah itu?! Aku ini calon istri yang direncanakan untukmu! Ayahku menjanjikan aku kepadamu sejak awal, kenapa kau justru mengambil kakak tiriku yang penyakitan ini?!"
Plakk!!!
Satu tamparan keras kembali mendarat di wajah Talitha, kali ini dari arah kiri. Jevan kembali menamparnya tanpa belas kasihan sedikit pun hingga kepala Talitha kembali terhentak ke lantai.
Talitha menjerit histeris, mencoba bangkit berdiri untuk mengejar langkah Batara yang sudah berjalan menjauh membawa Sonya keluar dari lorong. "Lepaskan aku! Batara! Lihat aku!" Namun, sebelum ia sempat melangkah, dua orang anak buah inti The Inferno yang bertubuh kekar langsung maju dan mencengkeram kedua tangan Talitha dengan sangat kuat, mengunci pergerakannya sepenuhnya di tempat.
"Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan saya sekarang juga!" teriak Talitha histeris, meronta-ronta seperti orang gila di dalam cengkeraman kedua pria raksasa itu. "Apakah kalian tidak tahu siapa saya, hah?! Saya adalah putri bungsu kesayangan keluarga Munic! Jika ayahku tahu kalian menyentuhku, kalian semua akan mati!"
Plakk!
Jevan maju selangkah, memberikan tamparan ketiga yang paling kuat tepat di mulut Talitha hingga wanita itu terdiam dengan kepala pusing dan pandangan berkunang-kunang.
"Diam, jalang!" bentak Jevan dengan suara baritonnya yang tegas dan tanpa kompromi. "Di rumah ini, satu-satunya hukum yang berlaku adalah perintah Tuan Batara Moretti. Statusmu sebagai anak bungsu kesayangan Munic tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan helai rambut Nyonya Moretti yang sudah kamu rusak hari ini!"
Jevan menoleh ke arah dua anak buahnya, memberikan perintah dengan nada dingin yang mutlak. "Bawa wanita ini ke ruang isolasi bawah tanah sekarang juga. Jangan biarkan dia keluar atau diberi makan sebelum Tuan Batara sendiri yang turun untuk mengeksekusinya."
"Siap, Tuan Jevan!" jawab kedua anak buah itu serentak. Mereka langsung menyeret tubuh Talitha yang mulai melemas secara paksa keluar dari toilet pelayan.
Talitha yang diseret seperti karung beras kembali berteriak histeris dengan sisa tenaga yang dimilikinya, air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari bibirnya yang robek parah. "Jevan! Jevan... brengsek! Awas kamu ya! Kamu hanya seorang kacung rendahan! Seorang anjing penjaga! Aku ini calon istri sah Tuan Batara yang sesungguhnya! Setelah ini... setelah ini pasti Batara akan sadar dan dia akan menghukum kamu dengan sangat kejam! Lepaskan aku!!!"
Suara teriakan histeris Talitha perlahan menjauh dan menghilang saat tubuhnya dibawa turun menuju ke ruang isolasi bawah tanah yang gelap dan pengap, menyisakan Jevan yang berdiri di tengah toilet dengan tangan yang masih mengepal kuat. Matanya melirik ke arah lemari penyimpanan di sudut ruangan, tahu betul ada seekor tikus kecil bernama Jenna yang sedang bersembunyi ketakutan di dalam sana, menunggu giliran untuk menerima penghakiman yang sama mengerikannya.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭