Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Masakan Ibu 2
Sudah hampir tiga tahun, Zarlin tidak pernah merasakan masakan ibu kesayangannya.
Di saat dia baru saja menyuap sendok terakhir dari semur daging buatan ibunya, Amelia tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap Zarlin.
"Oh ya, Zarlin... Ibu hampir lupa bertanya," ujar Amelia.
"Bagaimana kabar Theo? Kenapa akhir-akhir ini dia jarang sekali menghubungimu saat kamu sedang berada di kantor Ayah? Apa hubungan kalian baik-baik saja?"
...Uhuk! Uhuk!...
Pertanyaan yang teramat tiba-tiba itu membuat Zarlin tersedak. Tenggorokannya terasa perih dan wajahnya seketika memerah padam, bukan hanya karena tersedak makanan, melainkan karena rasa panik.
Rahasia tentang KDRT dan kehancuran rumah tangganya hampir saja ketahuan. Sebelum Bramasta dan Amelia sempat bergerak karena terkejut, Tristan yang duduk di samping Zarlin sudah bertindak lebih dulu dengan kecepatan kilat.
Tristan langsung meraih gelas berisi air putih hangat yang sudah dia siapkan tadi, lalu mengulurkannya ke bibir Zarlin. Tangan kiri Tristan bergerak naik, menepuk-nepuk punggung Zarlin untuk membantu wanita itu meredakan rasa tersedaknya.
"Minum dulu perlahan, Zarlin," bisik Tristan, suaranya terdengar begitu tenang dan menenangkan.
Zarlin meneguk air itu, mencoba menetralkan rasa perih di tenggorokan sekaligus menata debaran jantungnya yang menggila.
Sentuhan tangan Tristan di punggungnya, terasa kehangatan dan kekuatan yang luar biasa, membuat Zarlin perlahan bisa menguasai dirinya kembali.
Tristan dengan peka langsung menatap Amelia dan Bramasta, mengulas senyum tipis yang tampak begitu natural untuk mengalihkan perhatian.
"Sepertinya Zarlin terlalu bersemangat makan masakan Ibu Amelia sampai kurang hati-hati. Padahal draf kontrak pelabuhan ini juga tidak akan lari ke mana-mana." ujar Tristan
Amelia terkekeh melihat reaksi Tristan yang begitu perhatian, kecurigaannya langsung terasa begitu saja.
"Kamu ini, Zarlin... sudah jadi istri orang kok makannya masih seperti anak kecil." ujar ibunya.
Zarlin menarik napas dalam-dalam, menurunkan lengan kemejanya yang sempat agak terangkat agar memarnya tidak terlihat. Dia memaksakan sebuah senyuman manis yang terlihat sangat tulus di wajah cantiknya.
"I-iya, Ibu... aku baik-baik saja, Theo juga baik-baik saja di kantornya," bohong Zarlin dengan terpaksa, suaranya diusahakan sestabil mungkin agar kedua orang tuanya tidak melihat gelagat aneh.
"Theo sedang fokus bekerja keras mengurus beberapa proyek internal Falcon Corp, makanya dia agak sibuk dan belum sempat berkunjung ke sini. Hubungan kami tidak ada masalah apa-apa, Ibu."
Amelia mengembuskan napas lega dan mengangguk-angguk.
"Syukurlah kalau begitu, sayang. Sebagai orang tua, Ibu dan Ayah hanya bisa mendoakan agar rumah tangga kalian selalu harmonis dan diberkati. Jika Theo sedang kesulitan, kamu sebagai istri harus setia mendampinginya dari bawah, ya?"
"Iya, Ibu... aku mengerti," jawab Zarlin lirih.
Dada Zarlin terasa begitu sesak bagai dihantam batu besar. Berbohong kepada ibunya yang begitu tulus adalah hal paling menyakitkan yang harus dia lakukan hari ini.
Yang mereka tidak tahu, suami Zarlin bahkan telah gagal sebagai kepala rumah tangga. Zarlin sudah menemani sang suami dari bawah hingga dia sukses. Tetapi ucapan ibunya sedikit terasa menyakitkan.
...****************...
Sementara itu, di Falcon Crop sudah menunjukkan pukul empat sore. Di dalam ruangan, suasana terasa begitu mencekam.
Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Theo untuk memo pencairan dana fiktif sebesar lima puluh juta rupiah dengan alasan keperluan darurat vendor, Bianca langsung pamit pulang lebih dulu. Alasannya tetap sama, kepalanya terasa pusing dan butuh istirahat di apartemen.
Theo yang bodoh dan telanjur percaya hanya bisa mengizinkannya dengan nada khawatir, tanpa tahu bahwa begitu keluar dari gedung kantor, Bianca langsung meluncur ke sebuah butik mewah untuk membelikan Reno jam tangan branded menggunakan uang kas yang baru saja dia cairkan.
Tepat setelah kepergian Bianca, pintu ruangan Theo diketuk. Siska, bendahara senior Falcon Corp, berjalan masuk dengan raut wajah yang panik dan pucat pasi. Dia membawa sebundel berkas laporan darurat.
"Tuan Theo! Kita menghadapi masalah besar!" ujar Siska dengan suara yang bergetar.
Theo yang sedang memijat pelipisnya yang pening langsung mendongak dengan tatapan tajam.
"Ada apa lagi, Siska?! Jangan menambah sakit kepalaku!"
"Pihak manajer utama dari Vendor Logistik Utama proyek pelabuhan baru saja mengirimkan surat peringatan resmi, Tuan," lapor Siska, meletakkan berkas itu di atas meja Theo.
"Mereka menyatakan bahwa jika jaminan dana operasional sebesar dua puluh miliar tidak masuk ke rekening mereka besok pagi pukul sembilan, mereka akan menarik seluruh armada kapal dan material mereka secara total dari area pelabuhan!"
"Apa?!" Theo langsung berdiri dari kursi kebesarannya, matanya membelalak syok.
"Bukankah Bianca tadi bilang dia sudah mengurus urusan vendor logistik itu?! Kenapa mereka malah mengancam menarik diri?!"
Siska menunduk takut.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi pihak vendor mengatakan bahwa Nona Bianca selama dua hari ini hanya memberikan janji-janji tanpa ada kejelasan hitam di atas putih. Mereka merasa Falcon Corp sedang mempermainkan mereka karena rumor kebangkrutan kita sudah mulai menyebar di kalangan pengusaha bawah."
Tubuh Theo seketika melemas, dia jatuh terduduk kembali ke kursi kerjanya dengan tatapan kosong. Kepalanya serasa ingin pecah dihantam badai bertubi-tubi.
Proyek pelabuhan itu adalah sisa napas terakhir perusahaannya. Jika vendor logistik menarik diri besok pagi, maka proyek itu resmi bangkrut, dan Falcon Corp harus membayar denda penalti ratusan miliar yang akan langsung menyeret mereka ke dalam hutang.
Theo buru-buru meraih ponselnya, mencoba menelpon nomor Bianca untuk meminta penjelasan. Namun, suara operator yang dingin justru menjawabnya
..."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."...
"Sialan! Bianca, di mana kamu di saat seperti ini?!" ujar Theo frustrasi, membanting ponselnya ke atas meja mewah.
Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, bayangan Zarlin kembali melintas di benak Theo.
Dulu, jika ada vendor yang mengamuk atau ada masalah administrasi yang rumit, Zarlin dengan bimbingan rahasianya selalu bisa memberikan solusi yang tenang dan tak terduga dari rumah.
Zarlin selalu menjadi penenang di setiap badai kariernya. Namun sekarang, wanita karier terhormat yang dia agung-agungkan justru menghilang di saat krisis dan mematikan ponselnya, meninggalkan Theo sendirian menghadapi puing-puing kehancuran yang mulai runtuh menimpa kepalanya.
Penyesalan itu kini tidak lagi merayap perlahan, melainkan mulai mencengkeram jantung Theo Falcon dengan begitu erat dan menyakitkan.
"Zarlin... dimana kau sebenarnya?" batinnya.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!