Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara di Kamar Terlarang
Langit di atas Pesantren Al-Fatih mendadak berubah muram, seolah alam turut merasakan gejolak api yang membakar dada Gus Malik. Suara derit ban mobil yang mengerem kasar di halaman rumah utama mengejutkan para santri yang tengah beraktivitas. Malik turun dengan gerakan kaku, menggendong Arkan yang wajahnya tampak ketakutan dan bingung.
Langkah kaki Malik menghantam lantai kayu teras dengan irama yang menakutkan. Di dalam rumah, Najwa yang sedang duduk di kursi roda bersama Ibu mertuanya sontak menoleh.
"Mas? Kenapa pulang secepat ini?" tanya Najwa heran. Ia melihat rahang suaminya mengeras, matanya merah padam, dan urat-urat di pelipisnya menegang hebat.
Malik tidak menjawab. Ia menyerahkan Arkan kepada Mbak pengasuh dengan gerakan cepat. "Bawa Arkan ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar sampai saya suruh," perintahnya dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.
"Mas Malik, ada apa? Kenapa mukanya seperti itu? Kamu sakit?" Ibu mertuanya ikut bertanya dengan nada cemas.
Malik masih bungkam. Ia tidak sanggup menatap wajah Najwa. Rasa bersalah karena telah membiarkan adiknya mengkhianati kehormatan keluarga membuat Malik merasa gagal total. Ia hanya memalingkan wajah, lalu tanpa sepatah kata pun, ia melangkah lebar menuju kamar tamu—kamar Lea.
*Brak!*
Pintu kamar Lea dibuka paksa. Malik masuk, lalu duduk di kursi kayu di sudut ruangan yang gelap. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan hanya sedikit cahaya sore yang masuk dari celah gorden. Ia duduk di sana, dalam kesunyian yang mencekam, menunggu sang pemilik kamar pulang dari "pesta maksiat"-nya.
Satu jam kemudian, Lea melangkah masuk ke rumah dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. Pertemuannya dengan Tom benar-benar menjadi oase di tengah padang pasir pesantren yang kering. Ia merasa berani, ia merasa dicintai.
"Lea? Kamu baru pulang?" tanya Najwa yang masih menunggu di ruang tengah dengan cemas. "Mas Malik marah besar, Lea. Dia sekarang ada di kamarmu. Kakak nggak tahu apa yang terjadi..."
Senyum Lea memudar. Jantungnya berdegup kencang. *Marah? Apa dia melihat gue?* batinnya mulai waswas. Namun, ego London-nya tetap berteriak bahwa ia tidak melakukan kesalahan.
"Paling dia mau ceramah lagi, Kak. Tenang aja," jawab Lea mencoba santai, meski tangannya dingin.
Lea melangkah menuju kamarnya. Begitu ia membuka pintu, suasana gelap menyambutnya. Ia meraba dinding untuk mencari saklar lampu, namun sebelum jarinya menyentuh saklar, sebuah suara dingin yang menusuk tulang terdengar dari kegelapan.
"Kunci pintunya, Kalea."
Lea tersentak. "Gus? Ngapain lo di kamar gue gelap-gelapan? Keluar!"
*Klik.*
Malik menyalakan lampu kecil di sudut meja. Cahaya temaram itu menunjukkan wajah Malik yang tampak sangat mengerikan. Ia berdiri, lalu berjalan mendekati pintu. Sebelum Lea sempat bereaksi, Malik meraih kunci pintu dan memutarnya dua kali.
"Apa-apaan lo! Buka pintunya!" teriak Lea panik.
Malik tidak menggubris. Ia berbalik, menatap Lea dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin menembus jantung gadis itu. "Kamu pikir saya buta? Kamu pikir Tuhan tidak punya cara untuk menunjukkan kebusukan yang kamu lakukan di belakang istri saya?"
Lea terkesiap. "Lo... lo lihat gue?"
"Saya melihat semuanya!" bentak Malik. Suaranya tidak keras, namun menggelegar penuh amarah. "Saya melihat kamu menginjak-injak akad suci kita. Saya melihat kamu memamerkan auratmu dan membiarkan pria asing itu menyentuh apa yang seharusnya menjadi kehormatan suami!"
"Gue nggak pernah anggap lo suami gue!" balas Lea lantang. "Tom itu kekasih gue! Dia yang gue cintai, bukan lo!"
"Tapi di atas kertas dan di hadapan Allah, kamu adalah milik saya!" Malik melangkah maju, memangkas jarak. Auranya yang biasanya tenang kini berubah menjadi predator yang terluka. "Kamu telah membawa najis ke dalam keluarga ini. Kamu mencoreng wajah Najwa yang sedang berjuang melawan maut!"
Malik mulai melontarkan kalimat-kalimat tajam, menceramahi Lea tentang adab, dosa, dan pengkhianatan. Lea mencoba menutup telinganya, namun Malik terus memaksanya mendengarkan betapa rendah tindakannya tadi di taman kota.
"Lo pikir dengan ceramah begini gue bakal tobat?" tantang Lea dengan air mata amarah. "Ciuman itu... itu yang gue mau! Bukan hidup di sangkar ini!"
Mendengar kata "ciuman" keluar dari bibir Lea, kemarahan Malik mencapai puncaknya. Ia tidak bisa membiarkan sisa-sisa pria lain ada pada wanita yang secara sah adalah tanggung jawabnya.
"Jika kamu merasa ciuman itu adalah milikmu, maka saya akan menghapusnya sekarang juga," desis Malik.
Sebelum Lea sempat menghindar, Malik meraih bahu Lea dengan kuat. Tanpa ada kelembutan, tanpa ada cinta, Malik menundukkan wajahnya. Ia mencium bibir Lea dengan kasar dan penuh emosi—sebuah tindakan yang dilakukan bukan karena gairah, melainkan sebagai bentuk klaim kekuasaan dan penghapusan jejak pengkhianatan yang baru saja ia saksikan.
Lea memberontak, tangannya memukul dada Malik, namun pria itu tidak bergeming. Ciuman itu terasa pahit, penuh dengan amarah dan harga diri yang terluka. Malik melakukannya seolah-olah ia sedang membersihkan sebuah noda dengan cara yang paling ekstrem.
Beberapa saat kemudian, Malik melepaskan Lea dengan kasar hingga gadis itu terduduk di tepi ranjang, terengah-engah dengan bibir yang bergetar.
"Jangan pernah berpikir untuk membawa pria itu ke dalam pikiranmu lagi selama kamu masih membawa nama saya," ucap Malik dengan nada dingin yang mematikan. "Itu hukuman pertamamu. Mulai besok, kamu tidak diizinkan keluar dari gerbang pesantren tanpa izin saya. Kamu akan belajar menjadi seorang istri, atau kamu akan membusuk di kamar ini."
Malik berbalik, membuka kunci pintu, dan keluar meninggalkan Lea yang luruh dalam tangis histeris. Di luar, Najwa dan Ibu mertuanya hanya bisa terpaku melihat Malik keluar dari kamar Lea dengan wajah yang sekeras baja, sementara suara isakan Lea menembus dinding-dinding kayu rumah yang kini terasa seperti penjara.