Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Andre Tukang Bully
Bayangan masa lalu itu membuat Andre gelisah. Pria itu terkadang tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya. Saat ini, dia sedang mengendarai mobil menuju rumah. Sepanjang perjalanan, suasana terasa sunyi dan dingin. Andre mencoba tetap tenang dengan merilekskan pikiran, mendengarkan musik atau radio.
Tiba-tiba, sosok bayangan melintas di depan mobilnya. Andre terkejut dan mengerem mendadak. Hampir saja mobilnya terjungkal jika mobil itu tidak memiliki keseimbangan.
Pria itu menghela napas lalu keluar dari mobil. Dia membersihkan keringat dinginnya yang tidak sengaja keluar. Matanya memicing melihat saksama apa yang baru saja terjadi.
"Aneh, tidak ada apa-apa," gumam Andre, dia mengerutkan kening saat tidak ada siapapun di sana. Hanya ada pepohonan kosong, kesunyian, dan malam yang semakin gelap.
Andre mengusap wajahnya kasar. Dia menghela napas. "Apa aku sudah lelah sampai berhalusinasi?" Pria itu menampar pelan pipinya sambil mengedipkan mata, mencoba menyadarkan diri.
Arloji yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 23:30. Waktu yang hampir tengah malam, membuat dunia di sekitarnya hening seketika. Sesekali kendaraan melewati jalanan yang ada di sana tapi tidak menghilangkan kesunyian yang ada.
Di balik pohon rindang, sosok tak kasat mata melirik Andre dengan tatapan sinis. Gaun putihnya sedikit berlumur darah. Hawa dingin makin berembus kencang saat dia berbisik memanggil nama pria itu.
Andre tidak mendengar suara sosok itu secara langsung. Namun, bulu kuduknya merinding secara tiba-tiba. Merasa tidak nyaman, Andre pun masuk kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
***
Di sekolah, Andre merupakan guru yang tidak sabaran. Dia hanya ramah di hari pengambilan rapor atau even besar demi pencitraan, selebihnya pria itu senang memperlakukan murid dengan sesuka hati. Terkadang, dia memperlakukan murid yang terlihat miskin dengan kasar dan acuh tak acuh. Sementara anak orang kaya bahkan pejabat dia perlakukan dengan baik.
Sikap Andre tidak jauh beda dengan dirinya saat muda. Hanya saja saat dewasa, pria itu berusaha menutupi aibnya dengan baik. Saat istirahat, Satria iseng pergi ke ruang guru, membawakan beberapa buku siswa dengan alasan menyerahkan tugas pada guru tersebut.
"Aku harus bisa melihat kejadian sebenarnya di masa lalu," gumam Satria sebelum masuk ke dalam.
Saat Satria masuk, Andre sedang bersantai. Lelaki itu masuk sambil tersenyum lembut menatap guru itu. "Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan tugas yang bapak berikan," ujarnya sambil menaruh kumpulan buku itu di atas meja.
Andre tersenyum sinis. "Ya taruh saja, terimakasih." Pria itu melirik ruangan sekilas, tidak ada siapa-siapa di sini. Dengan sengaja, dia menjatuhkan sebotol air yang ada di meja hingga membuat lantai menjadi kotor.
"Satria, boleh saya minta tolong kamu buat bersihkan lantai?" perintah Andre sambil menunjuk lantai yang kotor karena ulahnya. Dia menatap Satria ramah tapi ada kelicikan di baliknya. Suaranya lembut, sedikit menekan tanpa sadar.
Satria mengangguk tanpa membantah. Dia segera mengambil lap untuk membersihkan air yang ada di lantai. Kemudian, dia mengepel secara pelan-pelan. Saat Andre sibuk mengerjakan pekerjaannya, Satria diam-diam memperhatikan pria tersebut. Lelaki itu berhati-hati menyentuh bahu gurunya sambil memejamkan mata.
Seketika bayangan masalalu Andre semuanya terlihat semakin jelas. Dari yang tadi hanya samar sekarang menjadi nyata. Tentang masa muda pria itu, kenakalan yang dilakukan. Bahkan sampai kejadian yang membuat dia tidak sengaja membunuh seorang gadis.
Dari bayangan atau sudut pandang Satria, gadis itu merupakan siswi yang satu sekolah dengan gurunya. Wajah gadis itu berbeda dengan Naja.
Mengetahui hal itu, Satria segera melepaskan sentuhan di bahu gurunya. Dia menggeleng pelan sambil mengedipkan mata, mencoba fokus dengan apa yang dia kerjakan sekarang. Merasa ada yang tidak beres, Andre pun menoleh ke belakang.
"Kenapa kamu pegang bahu saya?" tanya Andre penasaran. Dia menatap lelaki itu dengan selidik, sedikit curiga. Sejenak, ia menundukkan kepala memperhatikan lantai yang sedang di lap oleh Satria.
Satria tersenyum kecil. "Tadi ada nyamuk nempel. Jadi, coba saya usir," jawab lelaki itu sederhana.
Andre mengangkat bahu tak acuh. Satria terus melanjutkan pekerjaannya. Dia melihat lantai itu sudah bersih. Lelaki itu menatap Andre sambil tersenyum dan mengelap keringatnya.
"Sudah saya bersihkan, Pak. Sekarang, saya izin kembali ke kelas ya," pinta Satria lembut.
Andre mengangguk, dia masih sibuk dengan pekerjaannya. "Ya sana, terima kasih," ucap pria itu datar.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya permisi," kata Satria lalu bergegas keluar dari ruang guru dan menuju ke kelasnya untuk melanjutkan pelajaran.
Selama kelas berlangsung, Satria masih merasa aneh dengan Andre. Dia tidak percaya guru salah satu sekolah elit ini memiliki masa lalu sangat suram. Bahkan sampai sekarang, sifat kasarnya masih terbawa saat ia mengajar para murid. Lelaki itu tak habis pikir, dia menunggu waktu pulang untuk bertemu Naja dan menceritakan ini semua.
***
Sore ini, di kafe yang cukup rame, Satria bertemu Naja. Mereka duduk berdua di meja ujung, dekat dengan lampu temaram. Daun monstera yang terletak di vas bunga, tepat sebelah tempat duduk Naja, membuat tempat itu terasa sejuk. Apalagi, di depan ada bunga-bunga hias yang tak kalah cantik.
Di sana, Satria menolehkan kepala ke samping. Dia memandang taman mini yang ada di sana. Langit jingga sore itu membuat hatinya merasa sedikit tenang walau sedikit cemas. Lelaki itu menghela napas dan menatap Naja dengan hati-hati.
"Aku sudah menyelidiki kasusnya guru itu. Namanya Pak Andre," ucap Satria pelan, membuat Naja menatapnya dengan rasa penasaran.
"Apa kasusnya? Aku rasa dia pasti melakukan dosa yang berat ‘kan?" tebak Naja, suaranya lembut tapi juga sedikit bertanya karena tidak ingin menuduh.
Satria mengangguk. "Iya, dia merupakan teman dari Pak Rehan. Kasusnya juga tidak kalah berat. Pak Andre suka menindas orang lemah," jelas lelaki itu sambil meminum segelas kopi capuccino yang dia pesan. Naja masih memperhatikan Satria.
"Pak Andre suka sekali membandingkan murid miskin dengan murid kaya. Dia suka memperlakukan kami secara berbeda."
Mendengar ucapan Satria, Naja menjadi kesal. Dia memukul meja pelan sambil membulatkan matanya. Alisnya bertaut dan kepalanya menggeleng pelan.
"Iyuh, najis. Ada ya guru seperti itu?" tanya Naja tak percaya.
Satria menghela napas, mengangkat bahu acuh. Dia menatap Naja cukup lekat.
"Iya, bahkan beliau punya masa lalu yang kelam, dia pernah membully temannya juga bahkan kasar pada perempuan," jawab Satria.
Naja mengepalkan tangannya. Matanya memicing dan wajahnya sedikit memerah. Dia seperti tidak bisa bernapas mendengar sikap pak Andre yang diceritakan oleh Satria.
"Dan dari masa lalu yang aku selidiki, Pak Andre tidak sengaja membunuh salah satu korban bully nya yang merupakan perempuan..," lanjut Satria.
Naja yang geram hanya bisa menghela napas sambil menatap ke sembarang arah. Dia mengepalkan tangan, tatapannya tajam.
"Kurang ajar! Aku akan memberikan dia ‘hadiah’ supaya dia bisa menjadi guru yang benar!" tegas Naja sambil menyeringai, sementara suaranya membuat bulu kuduk Satria sedikit merinding.